Salah Gaul

Salah Gaul
sembilan


__ADS_3

Lyan's


Aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri. Kini aku tengah duduk bersila di depan muridku, menyaksikan mereka menari tapi pikiranku tidak ada di sini. Aku malah memikirkan hal lain, lebih tepatnya memikirkan seseorang.


Tidak peduli seberapa keras aku mencoba mengenyahkan bayangan itu tetap saja kejadian malam itu saat Rumi mengecupku masih amat sangat jelas terasa. Baru memikirkannya saja tubuhku mulai bereaksi. Wajahku memanas dan tenggorokanku mengering. Padahal aku tidak ada niat untuk membalasnya tapi ajakan Rumi dalam berperang bibir amat sangat menghanyutkan. He's a good kisser seperti yang dibacarakan para wanita.


Aroma nikotin yang tertinggal di bibirnya benar-benar candu. Bibirnya bagai obat yang semakin lama disesap semakin tidak rela untuk dilepaskan dan perlahan membuatku menggila. Padahal kemarin pertama kalinya kami bercumbu.


"Miss."


Aku tersentak mendengar seseorang memanggil. Fokusku telah kembali ke masa kini, dengan cepat aku beranjak dan mendekat ke arah bocah yang tengah terduduk dan menangis di tengah ruangan sambil memegang pergelangan kakinya. Aku semakin mempercepat langkahku. Kevin sudah dikelilingi anak-anak lainnya. Dengan lembut aku meminta mereka membuka jalan untukku memeriksa Kevin.


"Sakit Miss." Bocah itu melingkarkan tangannya di leherku saat aku memangkunya untuk melihat cidera di kakinya.


"Sayangnya Miss. Miss obatin ya biar cepat sembuh." Aku menggendong Kevin yang semakin menyembunyikan wajahnya di leherku. Membawanya ke ruang istirahat tempat dimana aku menyimpan kotak P3K sambil diikuti anak-anak lain yang penasaran dengan apa yang akan aku lakukan pada kaki Kevin. Menggemaskan.


Aku memberikan cokelat pada Kevin agar bocah itu tenang sebelum mulai untuk mengobati. Syukurlah pergelangan kakinya hanya terkilir bukan cidera besar yang sampai harus dibawa ke rumah sakit. Aku segera memijat pelan dan mengolesi balsem sebelum membalutnya dengan tensocrepe.


Kevin sudah kembali tersenyum meski jalannya masih pincang. Bocah itu sudah dapat tertawa kembali. Setelah mengucapkan terimakasih sambil memberiku sebuah pelukan, Kevin segera beranjak pergi kembali kepada teman-temannya untuk berbagi cokelat dengan bahagia.


Aku menyukai anak kecil, mereka menggemaskan dan memberi warna tersendiri di hidupku.


Kelas sudah berakhir. Aku masih menunggu di luar studio untuk melihat muridku yang satu-persatu mulai meninggalkan studio. Aku menutup pintu dan kembali melangkah masuk ke ruang istirahat. Euforia bahagia saat melihat senyum anak-anak membuat hatiku senang.


Hari ini adalah hari yang sudah kutunggu. Malam kompetisi tari.


Sudah semi final. Jika aku berhasil menang aku akan masuk final dan kesempatan untuk mendapatkan hadiah uang tunai semakin berada di depan mata.


Aku memandangi diriku di kaca mencoba menguatkan kepercayaan diriku. Khusus hari ini aku tidak boleh terganggu dengan hal-hal sepele yang dapat mengganggu konsentrasiku. Ponselku berdering menandakan adanya chat masuk. Nama Dimas menghiasi layar.

__ADS_1


Dim's


Hi. All the best for your compition tonight. Gue yakin lo bakal menang


Mau gue temanin? Itu pun kalau lo ngajak gue.


Aku mengabaikan dua pesan dari Dimas tanpa rasa bersalah. Aku masih marah karena dia masih tetap kekeh dengan keputusan sepihaknya. Bahkan penjelasanku yang panjang kali lebar tidak dia gubris. Aku tidak ingin berada satu tempat dengan Dimas si objek penghancur moodku. Aku membuka ponselku tapi hanya untuk menghubungi Mama.


Mama mengangkat telfonya sebelum deringan berakhir, "Lyn! Anak Mama, apa kabar? Mama kangen padahal kenapa baru telfon?"


Aku tertawa menerima rentetan pertanyaan khas Mama, "Lyn juga kangen Mama. Lyn baik-baik aja di sini tapi lumayan sibuk soalnya masih ngajar anak-anak. Mama kemana aja sih nggak inget jalan pulang apa?"


"Hu hu hu Mama juga pingin pulang," katanya jujur. Suara lelah bercampur bahagia tidak bisa disembunyikannya, "tapi orang-orang masih bergantung sama Mama buat hari special mereka."


Aku tersenyum senang mendengar kesibukan mama, "Berarti besok kalau Lyn nikah Mama yang bakal atur, kan?"


Aku tertawa terbahak-bahak, "Mama kayak nggak kenal Lyn aja."


Mama mendesah, "Nggak punya pasti. Lomba kamu malam ini kan, Nak?"


"Iya Ma. Do'ain ya biar Lyn menang."


"Kamu ikut lomba bukan karena hadiahnya uang kan sayang?"


Aku menelan ludah sebelum berbohong, "Ya nggak lha Mah. Lyn kan emang suka nari. Mama sendiri juga tahu."


"Beneran?" Mama terdengar tidak yakin dengan alasanku, "Mama tahu kamu juga ikut kesulitan sejak Papa pergi. Mama juga udah berusaha buat mencukupi semua kebutuhan kita. Kamu kan udah punya studio sendiri, maksud mama kalau emang kamu butuh tambahan Mama bakal usahain tapi kamu tetap harus tunggu."


"Mamaku sayang Lyn nggak kekurangan apapun kok. Hasil dari studio masih ada lebihnya. Lyn masih bisa nabung, Mama tenang aja ya." Aku tertawa mencoba menghilangkan rasa besalah dari Mama, "Lyn ikut karena Lyn suka, kalau emang menang uangnya kan bonus Mama. Lyn cuma mau buktiin ke Mama kalau Lyn bukan sekedar instruktur abal-abal."

__ADS_1


"Kamu kan jauh dari Mama. Mama cuma takut kamu kekurangan tapi nggak mau ngomong ke Mama. Soal lomba pasti Mama bakal selalu do'ain kamu tanpa kamu minta sayang. Mama percaya sama Lyn, kamu bukan abal-abal cuma belum terkenal aja."


Kami berdua tertawa dengan kalimat Mama, "Kamu pasti menang. Semangat sayangnya Mama. Kamu sama Dimas, kan?"


Biasanya aku tidak berbohong soal permasalahanku dan Dimas tapi kali ini aku sedang tidak ingin membahas Dimas diantara kami, "Iya Mama. Ya udah Lyn matiin ya udah mau telat ini."


"Iya. Love you sayang. Bye."


"Love you too. Can't wait to see you."


Aku menutup teleponku dan memutuskan untuk bersiap-siap. Sekitar satu jam kuhabiskan untuk menata rambut dengan gaya kepangan dilanjut dengan mengganti pakaian dan bermake up.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat dua puluh menit. Aku mulai panik. Lomba dimulai pukul sembilan dan aku masih harus mencari taksi untuk menuju ke tempat acara. Aku bergegas keluar dan mengunci studio. Senyum senang tidak hilang dari bibirku.


Aku amat antusias untuk lomba ini.


Aku menatap kagum pada orang-orang yang datang ke tempat lomba dan benar-benar terkejut saat melihat seseorang yang ku kenal ada disana.


"Rumi?"


Pria dengan seputung rokok yang terselip di bibirnya itu mendongak ke arahku. Dengan jaket kulit miliknya dia bersandar pada motor sport besar yang perkasa. Pandangan semua wanita-wanita yang ada di situ tidak beralih sedikit pun darinya.


Dia menatapku dan membuatku terdiam.


Hal pertama yang kutatap adalah bibir Rumi yang menggoda membuatku hampir terjatuh jika saja tidak ditahan olejh pria itu.


Dia menyeringai sebelum membiarkanku berdiri tegap sendiri, "Jangan sampe jatuh Lyn. Lo lomba bentar lagi. Gue mau lihat bareng sama lo, boleh nggak?"


Aku menatap Rumi tidak percaya, "Apa?"

__ADS_1


__ADS_2