
Lyan POV
Aku bangun saat matahari masih nyenyak terlelap di peraduannya. Jam 5.00 di mana semua masih gelap dan angin dingin juga berhembus kencang. Butuh beberapa waktu untukku sadar dan aku langsung menggeliat ketika sadar jika aku berada di kamarku.
Sudah menjadi kebiasaan jika menginap, Dimas akan tidur di kamarku. Aku memanjangkan lenganku untuk memeriksa apakah dia masih tertidur di lantai atau tidak. Aku memiringkan tubuhku karena tidak bisa melihatnya, dia di sana tertidur dengan mulut sedikit terbuka dan bantal yang sudah berada di dekapannya.
Aku tidak terlalu ingat bagaimana aku bisa kembali ke kamar. Pasti Dimas yang menggendongku karena aku tertidur begitu film baru berjalan dua puluh menit. Dia memilih film Sci-fi yang sangat tidak aku sukai tapi aku menyukai Dimas yang begitu.
Aku bangun dari tidurku dan menyalakan lampu kecil di atas nakas. Aku menarik lacinya dan mengeluarkan buku jurnal dan pena kesayanganku. Itu rutinitas yang selalu aku lakukan. Aku selalu bisa menulis hal-hal puitis ketika aku masih dalam kondisi setengah sadar setelah tertidur.
Ketika kulitnya membelai kulitku, aku merasakan betapa dia memperlakukanku secara istimewa. Aku terlena oleh sentuhannya dan seolah aku terbang karena kenikmatan itu....
Dia membantuku mengetahui apa yang paling kusukai lewat permainan tangannya. Dia menatapku tajam tapi penuh kelembutan di setiap sentuhannya. Dia berhasil menjatuhkanku dan membuatku selalu teringat semua permainanya....
Aku akui, kini aku sudah benar-benar terjatuh pada setiap perlakuannya....
Hasrat dan nafsu selalu menggebu setiap kali aku berada di dekatnya. Kerlingan nakal, kalimat dan umpatan yang kasar membuatku semakin bergairah...
Aku terus menulis kalimat-kalimat yang terlintas di kepalaku. Ini bukti jika aku sudah tertawan oleh Rumi. Kegiatanku berjalan cukup lama sampai akhirnya suara Mama terdengar memanggilku. Aku menutup jurnalku dan mengembalikannya ke tempat asalnya dan bergegas mandi. Kemudian aku berjalan ke dapur untuk menemui Mama.
"Morning, Mom."
Mama berbalik untuk menatapku dengan ekspresi geli, "Pagi naughty girl."
"Kok jahat!"
Mama memutar matanya malas dan kembali menyiapkan sarapan untuk kami.
"Kamu pasti mau ngadain pesta."
Aku benci mengakui jika seorang Ibu itu memiliki kekuatan magis untuk bisa membaca pikiran anaknya. Haruskah aku mengganti jurusanku untuk penelitian tentang kenapa bisa seorang Ibu membaca pikiran anaknya? Kedengarannya bagus tapi sayang jurusan seperti itu tidak ada.
__ADS_1
"Kan nanti Lyan menang Ma. Janji deh yang ditabung yang paling banyak," rengekku sambil meraih lengannya dan memohon seperti anak kecil.
"Ini bukaan soal uang Lyan." Dia berkata tanpa emosi, "Mama tahu pesta apa yang bakal kamu Adain dan Mama nggak mau terus-terusan beresin kekacauan kamu kayak yang Mama lakuin kemarin."
"Nggak usah berlebihan. Mama juga kaan jarang di rumah," kataku, Mama menatapku kesal dan mengancamku lewat tatapan tajamnya agar aku menarik kembali kata-kataku, "maaf-maaf. Lyan tahu yang kemarin itu berantakan tapi Mama nggak bisa nyalahin Lyan gitu aja dong. Mama harusnya nyalahin Rumi kan dia yang buat berantakan."
Aku berbalik dengan kesal dan mundur kembali ke meja untuk duduk di kursi meja makan dan ngambek seperti anak kecil. Mama langsung roti bakar cokelat favoritku di meja dan aku segera meniupnya karena masih panas. Meski marah aku masih harus makan untuk asupan energi.
"Mama nanti malam langsung pulang dan jam penerbangannya nanti malam." Dia kembali memulai percakapan dengan tenang dan bersikap seakan tingkahku tadi tidak berarti. Memang seperti itulah seorang Ibu, "kamu mau pulang dulu apa nggak?"
"Nanti Lyan pulang dululah," jawabku singkat.
Mama bersenandung senang benar-benar mengabaikan jika aku masih kesal.
"Mama bakal masakin makanan yang enak. Pastiin Dimas nanti buat makan, oke?"
"Mama tahu kan kalau aku masih marah?"
Aku diam.
"Kamu ada hubungan apa sama si Rumi?" tanyanya lagi. Ibu dan kekepoannya selalu menjadi satu.
Pertanyaan itu membuatku gugup dan membuatku langsung melupakan kekesalanku, "Apanya?"
Mama tersenyum puas sambil menyeruput kopinya, "Kamu pikir Mama bodoh? Mama ini mamanya kamu."
Aku meletakkan sendok makanku dan menatap Mama, "Maksud Mama apa? Emangnya si Rumi kenapa?" sangkalku mencoba untuk tidak terpancing, "kan Mama juga tahu kalau aku sama Rumi itu saling benci." Aku kembali memakan serealku dan mencoba untuk tidak terpengaruh.
Padahal resolusiku di tahun ini adalah untuk tidak berbohong, tapi nampaknya sulit.
Mama mengangkat salah satu alisnya, "Ah, jadi itu alasan kamu mainnin kaki kamu di celananya tadi malam?"
__ADS_1
Uhuk
Aku memuntahkan serealku.
"Udah Mama bilang kan jangan nganggap Mama kamu ini bodoh." Dia tersenyum penuh ejekan ke arahku.
"Apa-! Apa-gimana Mama- maksud aku..."
Mama mengangkat tangannya memberi isyarat agar aku diam.
"Tinggal bilang ke Mama apa susahnya sih? Mama kecewa lho kalau kamu banyak sembunyiin rahasia di belakang Mama."
Aku menyeka mulutku untuk mengulur waktu. Pipiku tiba-tiba menghangat karena malu yang menamparku, "Aku nggak sembunyiin apa-apa di belakang Mama," gumamku pelan. Cuma... Aku sama Rumi ehm.... Gimana bilangnya ya Ma. Kalau Lyan deket sama dia rasanya pikiran Lyan jadi kacau dan sekarang Lyan emang lagi nyaman aja jagil kayak gitu ke dia."
Aku mendesis kasar saat menyadari jika aku sudah banyak mengoceh seperti orang bodoh. Aku semakin tertunduk, "Maaf Ma, itu cuma-"
"Awww, anak Mama udah besar ya sekarang. Udah cinta-cintaan, sama musuhnya lagi." Mama berseru dengan suara anak kecil yang malah tampak mengesalkan.
"Ma, please."
Mama terkekeh mendengarku memohon. Dia menyeruput kopinya lagi, "Rumi itu orang yang antar kamu pulang, kan? Orang yang nggak mau kamu ceritain ke Mama?"
"Iya. Dia bikin Lyan jadi nafsuan terus," seruku kesal.
Mama tertawa kencang dan kali ini durasinya cukup lama. Aku jadi kehilangan nafsu makanku dan akhirnya aku hanya duduk di sana dengan tangan yang menyilang sambil memperhatikan Mama.
Ketika dia selesai wajahnya memerah dan sudut matanya basah. Aku menatapnya tajam dan dia hanya mengabaikan seperti biasa lalu beranjak dan mengecup keningku penuh sayang.
"Kamu lucu banget sih," suaranya masih terdengar sangat bahagia, "Mama kalau diusia kamu juga bakal tertarik sama si Rumi."
Aku memutar bola mataku sambil mendengus kasar.
__ADS_1
"Mama nggak ada masalah kalau emang kamu mau dekat sama dia. Meskipun dia bandel tapi dia masih bertanggung jawab. Mama nggak mengharapkan dia berubah menjadi baik ke kamu karena itu semua kamu yang bakal ngejalanin.Kamu lebih tahu apa yang terbaik buat kamu."