Salah Gaul

Salah Gaul
Sebelas


__ADS_3

Rumi Pov


Aku tidak menyangka jika mencium seorang Lyana Aara Belle bisa secandu ini. Begitu bibirnya menempel ke bibirku, hawa panas langsung mengerubungi kami. Hawa dingin dari hujan tidak menyurutkan tautan bibir kami yang mulai berubah menjadi *******-******* liar.


Aku meraih Lyan mendekat agar tubuhnya semakin erat menempel denganku. Mempermudahku untuk memperdalam ciuman kami.


Dia terlalu nikmat sampai membuatku dimabuk kepayang. Tangannya yang menarik rambutku ditambah pinggulnya yang menggesek dengan milikku membuat hawa panas semakin mengelilingi kami. Aku ingin membawanya ke hotel terdekat agar bisa menuntaskan hasratku tapi tidak bisa. Ego kami tidak akan pernah mengizinkan kami melakukan itu.


Lyan menarik diri dari ciuman panas kami. Dress miliknya menempel erat bagai kulit keduanya karena basah kuyup terkena hujan. Siluet bentuk tubuhnya yang terlihat seksi. She's hot.


Jarinya menyentuh bibir bawahku, "Good kisser."


Aku memutar mataku, "Bukan gue tapi lo. Pro sekali anda."


Dia tersenyum, "Harusnya lo terima aja pujian dari gue karena gue alergi kalau harus muji lo."


"Nggak butuh gue," kataku padanya.


"Itulah yang sering diomongin anak orang kaya yang manja," kata Lyan mengejek.


Aku hampir meninju wajahnya kalau saja dia tidak menghindar, "Gue bukan keduanya."


Lyan masih tidak bisa diam. Dia bahkan dengan sengaja menggodaku. Jari-jarinya mengusap wajahku dan menelusuri leher dan beralih ke kancing bajuku yang terbuka, "Lo itu pengecut yang selalu nyelesaikan masalah dengan bantuan bokap lo. Itu alasan yang ngebuat gue benci sama loe."


Aku mencengkeram rambut belakang kepalanya karena marah dan menariknya kencang, "Lo nggak tahu apa-apa. Jadi tutup mulut lo."


"Nggak ada satu pun orang yang berhak larang gue buat ngejelekin lo. Harusnya lo instropeksi diri." Lyan tersenyum menyebalkan dan makin membuatku menarik rambutnya lebih keras. Dia meringis tapi tidak memintaku melepaskan jambakanku.


Aku melepaskan cengkramanku dari rambutnya yang basah, dan menyeka air dari wajahku sendiri. Hasrat yang sebelumnya menggebu sudah hilang bagai asap. Lyan itu benar-benar luar biasa. Satu menit dia seperti penggoda ulung semenit kemudian dia menjadi menyebalkan.


Aku sudah malas menggubris Lyan. Dengan cepat aku melangkah memasuki gedung. Bajuku sudah basah kuyup dan aku yakin besok aku akan terserang flu.


Aku harus segera pergi dari sini. Musik yang keras dengan lampu kelap-kelip ditambah banyaknya orang yang berkerumun malah membuatku semakin pusing.


"Lo mau kemana?" Lyan menahan tanganku yang ingin


"Pulang. Lepasin gue." Aku melepas paksa pegangan Lyan tapi dia dengan cepat meraih lengaku lagi sebelum aku melangkah pergi.


"Apa! Lo mau ninggalin gue sendiri di sini?"


"Kenapa nggak?"

__ADS_1


"Ntar gue sama siapa? Meski pun lo bajingan harusnya lo tetap harus tahu attitude."


"Lo udah kenal gue lama, Lyn. Kenapa lo masih mengharapkan kebaikan dari gue? Itu mustahil."


"Seenggaknya lo bisa nunggu sampai hasil pengumumannya keluar." Dia mencoba lagi menahanku,  "gue harus tahu, gue lolos ke final apa nggak."


"Itu urusan lo," semburku padanya. "gue mesti balik sebelum flu gue tambah parah."


"Kenapa lo sensitif banget, Rum?"


"Mending lo diam. Gue udah pusing dan gue nggak mau ngamuk."


"Tapi lo seksi kalau marah."


"Lo pikir bakal berhasil nahan gue. "


"Harus berhasil. Karena kalau gue bisa nahan lo, gue yakin gue bakal menang." Dia menatapku penuh harap, "dan gue bakal lakuin apapun buat lo kalau gue menang."


Aku tidak tahu dia akan segamblang ini mengatakannya. Tentu saja tidak akan aku sia-siakan kesempatan ini. Kapan lagi seorang Lyan akan dengan sukarela mengatakan hal itu.


"Apapun itu mencangkup banyak hal, Lyn." Aku mengingatkannya. Dadanya naik turun karena nafasnya yang teratur. Aku tidak tahu jika dia bisa terlihat seperti anjing kecil yang menggemaskan.


"Iya. Terserah lo yang penting lo harus pastiin gue nggak terlalu mabuk malam ini." Dia tersenyum sambil mengaitkan jari -jarinya ke jari-jariku, kemudian tanpa canggung dia menarikku kembali masuk ke klub.


Aku menyesal menyetujui permintaanya. Sangat sulit menjauhkan Lyan dari alkohol. Aku sampai harus mengikutinya terus-menerus untuk memastikan dia tidak mencari alkohol. Mungkin dia memang peminum handal tapi tetap saja aku tidak ingin berdiri di sini hanya untuk menemani orang mabuk.


Harusnya aku tinggalkan saja dia. Klub yang dipenuhi manusia mabuk sulit untuk ditaklukan. Entah itu perempuan atau laki-laki, mereka sama saja. Saat mabuk banyak melantur dan semakin menyebalkan.


Dan aku sudah kehilangan Lyan lagi. Wanita itu sangat cepat menghilang.


"Kemana lagi sih lo," desahku lelah sambil terus mencarinya di tengah kumpulan lautan manusia.


Aku sampai di meja bartander dan melihat Lyan sedang duduk manis di sana. Aku memutar mataku dan berjalan mendekat. Dia masih tidak sadar dengan kehadiranku, dan saat dia ingin menyesap satu sloki minuman, aku segera merebutnya.


"Apa-apaan ..." Lyan berbalik menghadapku, "eh Rumi."


Aku sudah akan menyemprotnya tapi tatapan tajam dari bartander itu amat menggangguku. Aku meliriknya acuh dan kembali fokus pada Lyan. Wanita ini benar-benar sesuatu memang.


"Lo bisa nggak diam di satu tempat aja. Baru gue tinggal meleng sebentar udah hilang aja sih lo."


Lyan tidak langsung membalasku, dia menoleh ke arah bartander itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Permisi sebentar, Marco."


Senyum di wajah bartender itu menghilang seperti lilin yang ditiup, "Gue Vin." Dia kembali melayani orang lain dan sepenuhnya mengabaikan kami.


Lyan melompat dari kursinya dan meraih lenganku. Pakaian kami masih basah, dan aku bisa merasakan kepalaku semakin berat. Setidaknya Lyan minum untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat. Aku sendiri bahkan tidak dapat melakukan itu.


"Lo mau bawa gue kemana, Lyn?"


Dia berhenti di satu tempat di tengah lantai dansa, kemudian berbalik dan memeluk leherku, "Ke sini."


Aku mencoba mengabaikan dia yang sudah menyelipkan jarinya ke rambutku lagi, "Kenapa?" Aku meletakkan tanganku di pinggulnya.


Lyan menggerakkan pinggulnya, memaksaku untuk ikut menari, "Lo mau nari?" Di bertanya.


Melihatnya yang sepertinya ini sudah dipastikan dia tidak terlalu mabuk. Hanya sedikit mabuk tapi tidak masalah selama dia tidak menyebalkan.


"Apa lo pernah lihat gue nari?"


"Kenapa lo harus jawab pertanyaan gue pakai pertanyaan lagi?"


"Lagian lo ngajuin pertanyaan bodoh."


"Bodoh? Lo pikir tari itu nggak keren? Dan menurut lo gue juga nggak keren karena gue nari?"


"Emang gue ngomong kayak gitu?"


"Gue nangkepnya kayak gitu."


"Mending lo diam. Lo yang bikin obrolan kita nggak nyambung."


"Jawab dulu. Emang gue nggak keren?"


"Nggak sama sekali."


Lyan memalingkan wajahnya kemudian menatapku sambil menyipitkan matanya.


"Lo juga nggak keren karena lo selalu ngerokok dua bungkus setiap hari."


"Gue nggak minta pendapat lo soal kebiasaan ngerokok gue."


"Gue cuma kasih tahu."

__ADS_1


__ADS_2