
Rumi POV
"Selama gue masih kuat. Pertunjukan harus tetap dilakukan."
Aku menatap Lyan tanpa berkata-kata. Aku tidak bisa memutuskan apakah dia benar-benar kuat atau benar-benar bodoh. Jelas sekarang dia sedang menahan diri tapi tetap bersikeras ingin melakukan pertunjukan bodoh itu. Aku tidak paham dengan jalan pikirannya yang seperti ini.
"Gue...."
"Let me," potongnya dengan suara terengah-engah sambil menoleh padaku. Wajah ayunya kini sudah berantakan dengan beberapa memar dan darah kering di sekitar wajahnya. Dia membetulkan dress yang tersingkap. Aku hanya bisa menghela nafas pelan, "jam berapa sekarang? Gue mesti lapor dan siap-siap lagi."
Aku melihat jam tanganku. "Sekarang jam delapan empat puluh!"
"Udah jam segitu?" Dia membelalakan matanya dan aku masih terkagum-kagum melihat dia yang sudah kembali ke mode normal, "harusnya gue udah ada di backstage. Bara mana?"
Aku bangkit dari tempat tidur mengikuti dia yang sudah bersiap untuk keluar, "Dia ketakutan nungguin Lo di lantai atas."
Dia mengangguk dan merapikan lagi dirinya sebelum keluar. Aku ikut memperhatikannya selama beberapa detik sebelum melangkah maju untuk membantu merapikan poninya. Aku menyisirinya hingga poninya tampak manis ketika menutupi dahi. Mata Lyan mengikuti setiap gerakan jemariku, "Jadi fungsi poni ternyata buat tutupin dahi Lo yang lebar, ya?" ucapku menyebalkan.
Lyan langsung mengernyit dan menepis tanganku dari kepalanya yang berharga.
Aku menggelengkan kepalaku sambil berusaha menaha tawa, "Udah beres. Rambut lo udah badai. Gih, siap-siap."
"Yakin lo kalau rambut gue udah rapi? Gue nggak mau rambut gue nggak on point' waktu gue perform."
Aku memutar mataku, memasukkan tanganku ke dalam saku saat aku melangkah menjauhi Lyan, "Dibilangin udah badai juga. Cepetan!" kataku sambil melangkah menuju pintu sambil mengendalikan keinginan bejat untuk menyerang Lyan disini. Aku langsung terdiam di tempat ketika merasakan jari-jarinya melingkari pergelangan tanganku dengan ragu. Aku mengambil napas dalam-dalam lalu beralih menatap Lyan sambil mengankat sebelah alisku.
Wanita itu mengalihkan pandangannya dariku dan menatap tangan kami, pipinya terlihat bersemu.
"Gue cuma mau ucapin terima kasih karena lo udah selamatan gue meskipun lo benci sama gue," katanya dengan suara penuh syukur.
Aku membalikan tubuhku untuk menatapnya sekarang. Lalu menarik Lyan mendekat ke arahku dengan sentakan kecil. Gerakan yang keluar dari mulutnya membuatku memejamkan mata sejenak. Aku dan pikiran kotorku selalu bekerja disaat yang tidak tepat. Wanita ini menggunakan pelet apa hingga dia membuatku tertunduk.
Lyan menatapku dengan mata lebar miliknya. Tatapan polosnya membuatku terdiam sambil menahan napas.
"Nggak ada yang boleh sentuh lo tanpa izin dari gue," selorohku padanya dan sedikit terkejut juga dengan nada suara lembut yang keluar dari bibirku. Lyan ikut berkedip tidak percaya.
"Tapi lo selalu ambil kesempatan buat sentuh gue," busuknya gemetar. Aku bisa merasakan denyut nadinya yang menderu di pergelangan tangannya.
"Iya. Memang." Aku mengakui. Aku menarik tubuhnya lebih dekat hingga aku dapat merasakan napasnya yang tercekat menerpa wajahku, "tapi gue tahu lo juga menikmati semua sentuhan gue." Aku membiarkan lenganku melingkari pinggangnya dan juga menekan tubuhku ke tubuhnya. Keintiman ini membuatku ingin menciumnya.
"Jadi lo udah terobsesi sama gue?" Dia tertawa pelan dan suara-suara yang memintaku untuk menerjangnya semakin kencang. Sayang aku tidak bisa melakukan itu karena aku tidak ingin mendapat amukan dari wanita ini.
"Of course, no." Aku berpura-pura memutar mataku jengkel ke arahnya yang anehnya malah membuat wanita itu tersipu karena kata-kataku. Dia segera menoleh untuk memutuskan kontak mata denganku padahal dia duluan yang memancingku dengan pertanyaan absurd itu.
Aku bertingkah sebaliknya, malah terus menatap Lyan yang tampak malu-malu. Ada sedikit luka di dahinya yang tertangkap radarku dan itu membuatku mendidih marah. Bekas tamparan yang ditinggalkan bajingan itupun masih tercetak di pipi mulusnya yang kini sudah berubah kemerahan. Lyan mencoba meraih tanganku udan membukanya perlahan karena kini sudah tampak mengepal.
"Ngapain sih. Lo nyakitin tangan lo sendiri." Dia menampar tanganku berkali-kali agar aku membuka genggaman tanganku.
Aku merasa tertangkap basah dan langsung melemaskan genggamanku, "Sorry... Gue cuma lagi mikirin sesuatu," ucapku sambil melangkah mundur untuk membuat jarak dengannya. Aku harus berpikiran jernih agar tidak ikut terlalut dengan suasana dan keadaan.
"Aneh," gumamnya pelan tapi masih tertangkap indera pendengaran, "kita udah terlalu lama di sini. Ayo ke atas. Bara sama Dimas pasti udah nunggu."
"Iya. Ayo." Aku menggenggam tangan Lyan dengan erat saat kami kembali ke lantai atas. Suara musik yang menghentak dan aroma minuman serta rokok bercampur aduk. Sangat menyesalkan. Bau yang menguat dari minuman alkohol sama sekali tidak mengganggu, hanya saja aroma dari asap rokok membuatku sesak. Setiap kali aku menarik napasku paru-paruku seperti terserang berton-ton asap yang menerjang. Aku sudah menghilangkan kebiasaan merokok selama seminggu ini dan aku berencana untuk melanjutkannya, jadi mungkin karena itu sekarang aku menjadi sangat terganggu dengan asap rokok yang keluar.
Itu tekadku, tapi sedikit goyah sekarang.
Kami bertemu keduanya di tengah jalan dan Lyan langsung menarik Bara dan menghilang di tengah-tengah kerumunan.
"Lo berdua dari mana?" Dimas bertanya sambil menyipitkan mata.
Aku ragu untuk menjawab karena Lyan tidak mengatakan apapun soal ini dan aku juga tidak mau lancang memberitahu karena belum tentu wanita itu juga ingin kejadian tadi terdengar oleh Dimas. Aku memutuskan untuk menjawab dengan aman agar tidak merugikan pihak mana-mana.
__ADS_1
"Sahabat lo tadi kelinci di toilet bawah. Gue perlu waktu buat temuin dia."
Dimas menyipitkan matanya tampak tidak percaya.
"Lo habis berantem? Mata lo bengkak?"
Aku langsung memalingkan wajahku darinya, "Mata gue emang selalu kayak gini."
Dimas sudah membuka mulutnya untuk mengintrogasi ku lagi, tapi terpotong oleh suara pengumuman.
"Selamat malam semuanya. Hari ini puncak acaranya adalah penampilan spesial dari para kontestan tari."
Aku dan Dimas terdorong ke depan karena kegaduhan dari para pengunjung bara. Bahkan kini aku juga sudah dikerubuti wanita-wanita nakal yang berusaha menggapai selakanganku. Aku muak dengan situasi ini tapi Dimas malah mentertawakanku.
"Menurut lo lucu? Kalau lo sampai ketawa lagi, gue bakal pastiin kalau itu jadi tawa terakhir lo." Aku mengancamnya dengan gigi yang bergemeletuk karena kesal.
Tapi jelas saja ancaman ku hanya dianggap angin lalu karena dia kembali tertawa terbahak-bahak.
"Siaoan." Aku mencoba mengeluarkan diriku dari kerumunan tersebut, "awas kalau sampai lo cerita soal ini ke orang-orang."
"Mau apa lo? Lapor ke bokap lo? Kenapa mesti bawa-bawa bokap? Apa lo nggak bisa selesaikan masalah lo sendiri tanpa bantuan dia?"
"Kalau lo berani cerita, gue bakal lapor ke Lyan kalau lo sering keluar berdua sama Bara. Dan gue juga bakal bilang kalau kalian asik dance berdua tanpa mau periksa keadaan dia yang lagi kelinci di toilet," kataku padanya. Dia kira dia bisa mengalahkanku. Tidak semudah itu
Aku menatap wajahnya yang puas dengan senyuman lebar, "Lyan mungkin nggak sadar kalau selama ini lo gay. Tapi itu nggak berlaku sama gue. Bukan salah lo kalau lo belok, tapi apes aja karena lo ketahuan sama gue."
Dimas menyimpangkan tangannya di dada. Dia bersikap defensif berlebihan.
"Ngomong apa sih lo. Gue nggak ngerti."
"Ah, jadi lo nggak ngerti?"
"Apa yang lo lihat itu nggak kayak yang lo pikirin ya."
"Sahabat lo." Dia bertanya dengan tatapan tidak percaya, "emang dia ngomong apa aja ke lo."
"Kenapa lo penasaram? Katanya lo nggak kayak apa yang gue pikirin? Lo kan takut ketahuan sama sahabat lo kalau lo belok?"
Raut wajah Dimas memasam begitu aku mengakhiriku kalimatku. Dia bahkan sampai melayangkan tinjunya agar aku diam.
"Udah gue bilang berkali-kali kalau gue-"
Aku mengabaikan kalimatnya dan langsung memegang tulang pipi dan hidungku yang terasa nyeri. Mungkin tulang hidungku patah. Karena tidak terima, aku kembali menghadiahkan bogeman mentah ke wajahnya. Dia sampai terhuyung ke belaka g lalu menatapku tajam.
"Gue nggak peduli soal lo yang gay atau belok. Gue cuma peduli sama sahabat gue. Kalu lo dekatin dia cuma karena pingin spent night together, gue bakal datanin lo dan langsung habisin lo."
Dimas mendesis pelan, "Lo nggak bakal tahu gimana jadi kita."
"Karena gue nggak tahu makannya gue nggak menghakimi," jawabku cepat sambil masih memijat hidungku. Dia bisa meninju lebih dari pada Bara, "gue juga nggak bakal kasih tahu Lyan karena gue menghormati keputusan lo."
"Gue bakal kasih tahu dia,"bantahnya cepat dengan suara pelan. Mungkin dia takut akan terjadi drama jika Lyan mendengarnya dariku meski aku tidak berniat menjadi manusia ember.
Kami berdua saling menatap ke arah lampu panggung yang mulai menyala. Menandakan pertunjukan akan kembali berjalan, "setelah gue yakin dan siap."
Aku menggelengkan kepalaku tidak peduli dan membiarkan hal itu berlalu. Toh, itu tidak ada hubungannya denganku dan lagi kisahnya tidak ada sangkut pautnya denganku kecuali fakta jika dia tertarik dengan sahabatku.
Aku tahu jika Bara seorang gay, walaupun sebenarnya dia tidak pernah menceritakan hal ini secara gamblang padaku. Mungkin menurut orang lain dengan aku yang tidak berbicara atau bertanya, aku menjadi tidak tahu keadaan mereka. Tapi mereka salah. Aku termasuk orang yang paling memperhatikan keadaan orang sekelilingku. Mereka hanya berharap kisah mereka tersimpan untuk mereka sendiri tanpa harus dikonsumsi oleh orang lain.
Suasana di sekitar kami perlahan berubah menjadi semakin heboh dan ramai. Penampilan di atas membuat suasana mencekik dan aku akui kini aku kesulitan untuk menghirup udara.
Pertunjukan dimulai. Suasana hatiku yang memburuk membuatku tidak bisa menikmati rangkaian musik yang berbunyi. Meski bergitu, aku tetap setia di sini menunggu penampilan Lyan yang akan ditampilkan beberapa saat lagi.
__ADS_1
Suara bising perlahan meredup dan berubah menghening. Lighting menyala dan kini menyorot pada Lyan dan Bara. Kedua orang itu sudah berdiri di posisinya masing-masing. Tubuh keduanya menempel erat dan pertunjukan dimulai bersamaan dengan suara musik yang berbunyi. Aku menarik napas perlahan.
Padahal aku sudah sering melihat keduanya ketika latihan, tapi melihat keduanya berada dalam posisi itu benar-benar menghantarkan sensasi erotis. Jika padaku yang setiap hari melihat saja masih memberikan efek seperti itu, bagaimana dengan semua orang yang hadir di sini?
Mataku hanya terpaku pada Lyan dan semua gerakan tubuhnya yang tampak menakjubkan. Alasan fia bisa tampak sangatluar biasa mungkin karena dia juga memiliki rasa cinta yang luar biasa pada tarian. Setiap gerakan kecil yang ditampilkan tampak sangat seiras dan sempurna. Jatuh bangunnya dalam latihan selama ini benar-benar tidak menghianati hasil.
Aku beralih menatap Bara. Meski aku tahu dia tidak tertarik dengan Lyan, tapi melihat gerakan keduanya yang tampak cocok itu berhasil membuatku panas. Semua gerakan sangat terorganisir dan berirama.
Ketika pertunjukan mereka sudah mendekati gerakan akhir, semua orang tampak memahan napas. Itu adalah moment paling menegangkan sekaligus ******* paling dramatis dari pertunjukan ini. Lyan dengan segala keanggunanya berlari ke arah Bara. Lalu pria itu bersiap menangkapnya dan mengangkatnya di ketukan yang tepat agar dapat mengayunkannya....
Tapi sayangnya Bara tidak menangkap Lyan tepat waktu.
Hatiku melogos ketika melihat Lyan jatuh di atas panggung. Sesaat hanya ada keheningan yang mendera di antara kerumunan manusia-manusia itu, setelahnya terdengar suara tawa yang terbahak-bahak. Mereka tidak peduli dengan rasa malu yang dihadapi Bara dan Lyan.
Aku masih menyaksikan mereka tanpa ikut tertawa dan juga menyaksikan bagaimana Bara berderap mendekat untuk membantu menolong Lyan yang dengan marah langsung menepis tangannya dan bergegas ke belakang panggung sambil menyeka wajahnya karena dia terlihat menangis.
Dimas dan aku saling memandang untuk sejekap dan langsung bergegas ke tempat Lyan dan Bara menghilang. Pasti sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi setelah ini.
Dan benar dugaanku. Di backstage terjadi keributan. Kedua orang itu bertengkar marah dan frustasi. Terdengar juga suara teriakan dan suara Bara yang mencoba menjelaskan tapi sia-sia karena tertutupi oleh suara teriakan Lyan.
"**PERCUMA KITA LATIHAN SELAMA INI KALAU AKHIRNYA DI PERTUNJUKAN PUN LO MASIH NGELAKUIN KESALAHAN!"**Lyan berteriak dengan sekuat tenaga hingga wajahnya memerah. Air matanya juga mengalir yang semakin membuat Bara tampak sangat bersalah\, "TERIMA KASIH BUAT PARTISIPASI LO KARENA SETELAH INI GUE AKAN DIKENAL SEBAGAI BADUT DI ACARA BEGINIAN!"
Bara tampaknya sudah kehilangan kesabaran. Dia akhirnya menatap tajam Lyan, "Gue juga udah bilang berkali-kali ke lo buat nggak masukan bagian itu, kan?"Dia berbicara dengan suara tertahan dan aku tahu dia sedang berusaha keras untuk tidak berteriak seperti yang dilakukan Lyan, "lo udah lihat gue gagal berkali-kali, tapi lo tetap kekeh buat masukin. Harusnya lo bisa paham gue lemah di bagian itu. Kalau emang harus disalahkan itu salah lo. Gue udah ngaku dan lo sendiri yang batu buat paksa gue pakai gerakan itu."
Dimas mendekati Lyan untuk menahan wanita itu yang sudah bersiap untuk menerjang Bara, sementara aku meraih Bara dan menjauhkannya dari wanita itu.
"Nyesal gue udah minta bantuan lo." Lyan berteriak sambil berusaha melepaskan diri dari Dimas, "dasar nggak guna!"
"Bodo amat soal lo yang bakal dikenal sebagai peserta gagal. Gue malah senang kalau cap itu melekat. Biar orang-orang tahu lo nggak seluar biasa itu sampai bisa menang di kompetesi kemarin. Harusnya lo bisa menghargai orang lain, lo pikir cuma lo yang latihan. Gue juga. Tanpa adanya gue, lo juga nggak bakal bisa tampil hari ini."
Bara langsung melepaskan diri dariku dan berjalan menjauh dengan emosi yang masih menguasainya. Lyan juga melakukan hal yang sama. Hanya saja dia melangkah ke arah yang berlawanan. Kini hanya tinggal aku dan Dimas. Kami berdua slaing berpandangan sampai akhirnya memutuskan untum menyusul kedua ornag itu. Aku menyusul Lyan. Dia menyusul Bara.
Langkahku lebih lebar dan membuat wanita itu masih berada dalam jarak pandangku. Aku mencoba memanggilnya, tapi diabaikan. Atau jangan-jangan dia tidak mendengar suaraku. Aku kembali mempercepat langkahku agar dapat mengejarnya. Wanita itu memperlambat langkahnya dan tampak mengatur napasnya. Kemudian dia berjongkok dengan wajah yang dilipat ke kaki. Saat itu kami berada di area parkir.
"Lyn." Aku bergegas maju dan panik melihat dia yang seperti itu. Tanpa berpikir panjang akupun ikut berjongkok di depannya. Dia menangis kencang.
"Hei, hei. It's okay. Kita nggak bisa memprediksikan hal itu, kan? Bara juga nggak sengaja pasti ngelakuin kesalahan, jadi jangan terlalu emosi."
Lyan mendengus tapi dia mengangguk disaat yang bersamaan sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan. Make up yang dia kenakan luntur, matanya pun tampak bengkak dan memerah. Hari ink pasti sangat berat untuknya.
Aku mengusap lembut lengan dia yang gemetaran, mencoba menyalurkan ketenangan lewat sentuhan itu, "Coba tarik napas pelan. Tenangin diri lo."
Dia menyeka air matanya untuk terakhir kali sebelum menatapku, "Apa lo bisa antar gue balik?" bisiknya gemetar.
"Bisa," jawabku cepat. Aku segera membantunya bangun dan dia juga langsung menumpukan tubuhnya padaku, "lo mau gue-"
"Waktu gue bilang antar gue balik, yang gue maksud rumah lo, Rumi."
Aku tersentak dan menatapnya lekat. Mencoba memperhatikan wajahnya, apakah dia sedang bercanda atau tidak.
"Lo mau pulang ke tempat gue?"
Dia menghela napas lagi, "Iya, please. Di rumah nggak ada orang dan pasti bakal jadi gila kalau sendiri disaat kondisi gue kayak gini."
Aku bisa saja menolak karena bagaimanapun aku ini seorang pria dengan kewarasan yang tidak selalu normal jika berdekatan dengan Lyan. Namun melihat keadaan dia yang sekarang, rasanya tidak adil menolak permohonanya.
"Oke. Kita pulang ke rumah gue."
"Terima kasih," ucapnya terdengar lega. Aku dapat merasakan dia yang menggigil dk bawah dekapanku. Aku melepaskan jaketku dan mkuletakan di atas bahunya. Dia sekali lagi mengucapkan terima kasih dengan lembut begitu hawa dingin tidak menerpa tubuhnya lagi.
Aku mengecup pelipisnya dan dia kembali menggigil. Kemudian Lyan melingkarkan lengannya ke pinggangku dan memelukku. Aku ingin membantunya kembali menjadi Lyan yang biasa setelah mengalamai hal yang mengerikan hari ini. Aku ingin dia kembali normal.
__ADS_1
"Ayo," ucapku sambil mengusap punggunya saat dja memelukku, "kita pulang."