Salah Gaul

Salah Gaul
Twenty Nine


__ADS_3

Lyan's Pov


Karena efek alkohol kelakuan kami sudah seperti binatang liar. Saling menggoda, meremas, dan mencecap. Pria itu juga bahkan sudah mencengkramku dan membuatku tidak bisa berkutik ketika berada di bawah kendalinya.


Awalnya dia tampak terlihat bingung, tapi setelah tahu apa yang aku inginkan dia berubah menjadi sosok yang teramat agresif. Matanya itu tengah menatapku lekat menyalurkan nafsu yang luar biasa.


"Gue udah bilang tadi kalau gue bakal tunjukin sesuatu ke lo," ucapku. Berdiri di depannya dengan semua rambut ku letakan di bahu kiriku hingga membuat bahu kananku terekspose. Mata Rumi menyipit saat aku tersenyum manis padanya.


"Sebenarnya celana lo muat di gue, tapi gue sengaja nggak pakai karena gue mau goda lo."


Tawa renyah keluar dari bibir Rumi dan mau tak mau aku merasa lega. Dia kini bersandar dengan satu siku sambil menatapku seperti hewan buas yang ingin memangsa korbannya. Dia hanya mengangguk dan aku kembali melanjutkan kalimatku.


"Gue akuin lo hebat karena lo berhasil tahan diri lo buat nggak kegoda sama penampilan gue." Aku mengakui tanpa malu, "gue sengaja nginap di sini karena gue mau lo tidur sama gue malam ini."


Aku mengambil langkah ragu ke depan, mengalihkan pandangan dari tatapan Rumi. Dia menegakkan tubuhnya sekali lagi dan ikut mendesakku maju dengan tatapan yang sudah menggelap. Kelakuan Rumi yang seperti itu memberi kepercayaan diri untukku terus melakukan aksiku. Aku langsung menutup jarak di antara kami dan tubuh kami mulai saling menempel di atas tempat tidur.


"Jadi bisa kita mulai?"


Rumi mengangkat salah satu alisnya dan nafas beratnya mulai mengenai dadaku. Jarak pendek antara bibir dan dadaku membuatku terangsang.


"Do it. Karena gue suka lo yang sekarang. Kalau lo mabuk omongan lo nggak jelas soalnya."


Aku terkekeh mendengar kalimat jujurnya, "Menurut lo, kenapa gue minta anggur yang kadar alkoholnya tinggi?" tanyaku. Rumi mengedikkan bahunya, "karena gue butuh nyali buat jadi sosok yang liar."


Aku mulai menggodanya dan kami sudah hampir setengah jalan untuk melangkah ke adegan yang luar biasa. Namun Rumi mendorongku dan menarik diri, "Sialan," umpatnya, "kita nggak bisa lanjutin ini, Lyn."


"Please Rumi. Lo nggak boleh mundur."


"Nggak bisa. Gue lakuin ini karena kalau lo sadar lo pasti bakal balas gue."


Aku mengerucutkan bibir sambil menahan tawa, "Gue nggak bakal lakuin itu."


Dia tampak tidak yakin, "Lo pasti bakal lakuin itu. Gue yakin 100 persen. Ntar ujung-ujungnya lo bakal ngelampiasin semuanya ke gue."


"Nggak Rumi. Gue nggak bakal nyalahin lo."


"Iya buat sekarang. Belum tentu besok lo ingat."


Aku mengabaikannya dan memilih beringsut naik ke pangkuannya, "Ayolah Rumi. Hummm."

__ADS_1


Aku merasakan bahunya mulai melemas dan aku tahu dia sudah mulai goyah. Tangannya mulai merambat kembali ke pahaku, "Lo tahu kan kalau kita saling benci."


"Iya. Gue tahu. Emang salahnya apa kalau kita ML?"


"Nggak boleh, Lyn."


"Ayolah Rumi."


"Nggak. Gue bilang nggak ya nggak. Ayo pulang, gue antar."


"Gue bakal kasih service luar biasa ke lo," kataku tak mau kalah.


Rumi tampak tengah mengatupkan bibirnya kali ini. Dia bahkan sampai menutup mata mencoba untuk tidak tergoda dengan rayuanku. Aku tahu pikiran dan nuraninya sedang berdebat sekarang. Tapi kesempatan ini tidak akan datang dua kali dan dia tahu itu.


"L-lo mau apa?!" tanyanya saat aku mulai turun dari pangkuannya.


"Gue bakal buat lo berubah pikiran," kataku lugas. Aku sudah akan melakukan aksiku ketika dia kembali menarikku agar kami bertatapan.


"Lo nggak boleh marah atau murka sama gue besok."


***


Aku tengah berusaha mengumpulkan kesadaranku. Mengetahui jika aku masih berada di tempat tidur, naluri kemalasanku langsung bereaksi untuk kembali membenamkan diri ke lembutnya kasur. Aku merentangkan tanganku dengan mata yang menutup untuk meraih selimut.


Saat tanganku meraba ke setiap jengkal kasur, aku mulai merasa jika ternyata aku ditinggalkan sendiri di sini.


"Rum?"gumamku pelan karena masih mengantuk. Aku bahkan sampai memaksakan diri untuk bangun dan melihat sekeliling. Ruangan itu diliputi kegelapan dan satu-satunya sumber cahaya adalah cahaya bulan yang masuk melalui penghalang kaca yang terbuka lebar itu.


Aku menyipitkan mataku, mencoba melihat ke luar. Aku bisa melihat bayangan, atau mungkin itu adalah punggung seseorang...


Dan aku yakin itu pasti sosok Rumi yang ada di luar tengah berdiri di balkon. Aku meraih selimut sutra yang entah bagaimana kini telah kugulung dan kulilitkan ke tubuh telanjangku seolah benda itu aku gunakan sebagai dress. Aku benar-benar full naked dengan bagian sensitifku yang terasa nyeri.


Aku berjingkat menuju balkon meski sebenarnya mata ini sangat berat dan hanya ingin kembali terlelap. Begitu aku sampai ke pintu geser kaca yang besar, aku mengintip sedikit keluar dan melihat Rumi yang duduk sendirian di kursi malas. Sebatang rokok menyala di antara jari-jarinya.


"Rumi?" tampaknya suaraku mengejutkannya karena dia sedikit berjingkat sebelum menoleh ke arahku dan membenarkan letak duduknya. Aku melangkah keluar masih sambil mencengkram selimut lebih erat karena ternyata udara terasa sangat dingin di luaran sana, "lo ngapain di sini? Udah berapa lama gue tidur?"


Aku melangkah menuju Rumi dengan mata yang masih mengantuk, lalu memilih untuk duduk di sampingnya.


"Mungkin setengah jam," jawabnya. Rumi tidak mengenakan apapun kecuali boxer pendeknya.

__ADS_1


Aku menguap dan mendukan diri di pangkuan Rumi sambil meringkuk seperti bayi bersiap untuk kembali tidur. Rumi berhenti merokok dan mengangkat alisnya saat melihat aksiku.


"Lo bakal kedinginan kalau ikut-ikutan gue."


Aku menekan dadanya menggunakan telunjukku, "Coba lihat diri lo sendiri. Lo aja ada di luar."


"Gue kan ngerokok."


Aku mengabaikannya dan mulai melingkarkan lenganku di pinggangnya, menghirup aroma beracun dari rokok yang dia hisap, "Gue kan juga punya lo di sini."


Kalimatku tampaknya membungkamnya. Aku membuat diriku lebih nyaman berada di pangkuannya, lalu memejamkan mata. Detak jantung Rumi yang satbil dan suara menenangkan dari deburan ombak kembali membuat mataku berat. Aku mengantuk.


Setelah beberapa saat, pria itu berinisiatif untuk memelukku yang malah membuatku semakin hangat dan terbuai, "Lo baik-baik aja, kan?" Bibirnya menempel ke dahiku saat dia mengajukan pertanyaan klise yang biasa diajukan pria pada kekasihnya ketika dia baru saja berselingkuh.


Aku membuka mataku dan melihat pemandangan gelap di depanku, "Gue ngerasa sangat luar biasa sekarang


Jangan sampai lo anggap diri lo penting buat gue, Rumi."


Rumi terkekeh, suaranya yang terdengar mengantuk dan lelah memberikan efek tang tidak bisa dijelaskan olehku. Dia mulai mengusap pelan punggungku dengan lembut. Harusnya aku bisa merasa lebih tenang dan nyaman tapi malah sebaliknya. Aku merasa terangsang lagi.


Aku mulai menarik napasku dalam-dalam untuk melawannhormon kecanduan **** yang bisa membuatku meminta dia kembali bermain bersamaku malam ini. Aku memejamkan mataku rapat-rapat dan berusaha mengabaikan semua pikiran kotor yang terus muncul karena sentuhan Rumi. Apa gue udah mulai kecanduan?


"Kenapa lo ngejar gue?" Aku bertanya padanya dengan tiba-tiba, bermaksud untuk mengalihkan perhatianku dari pikiran kotor yang mulai menyerang.


Usapan tangan Rumi terhenti seketika, "Kenapa? Lo pikir gue nggak bakal ngejar lo?"


"Makud gue, kenapa harus gue padahal sahabat lo itu Bara. Apa Dimas yang ngejar Bara?"


Rumi tidak langsung menjawab, "Gue awalnya tanya sama teman lo. Apa gue boleh ngejar lo."


Aku mendengus, "Bullshit. Dimas nggak mungkin biarin lo berduaan sama gue."


"Anggap aja ini rezeki gue dan lagi kayaknya dia bakal berpikir berkali-kali buat larang gue ketemu lo lagi."


Aku mengerutkan kening, "Dan lo juga bakal berhadapan sama gue kalau lo berani nyakitin sahabat gue lagi."


Rumi terkekeh geli, "Gue nggak sekurang kerjaab itu buat nyakitin orang yang nggak bersalah."


Aku tersenyum meski sudah sangat mengantuk. Aku sudah berada di ambang batas dan yang aku butuhkan saat ini adalag tidur nyenyak, karena aku tahu, ketika aku bangun besok dan kembali sadar, aku akan menyesali apa yang sudah aku lakuman pada Rumi malam ini.

__ADS_1


__ADS_2