
Rasa keingintahuan muncul dari dalam diriku dan berhasil meredupkan kekesalanku. Aku menyukai saat di mana seseorang memperhatikan hal-hal kecil tentangku yang sebenarnya luput dari perhatianku. Hal itu membuatku merasa menjadi sosok yang istimewa dan membuatku yakin jika sesungguhnya masih ada sosok yang memperhatikanku di dalam diamnya.
"Emangnya dia natap aku kayak gimana?" tanyaku acuh dan berusaha menahan rasa ingin tahu.
" Gimana ya jelasinnya... Uhm pokoknya dari tatapan matanya aja udah kelihatan bedanya." Senyum puas dari wajah Mama berubah menjadi senyum penuh kepuasan seolah apa yang terjadi padaku adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, "kelihatan jelas kalau dia itu nggak benar-benar serius waktu dia bilang kalau dia benci sama kamu."
Aku tertawa garing, "Itu kan menurut Mama. Tapi apa Mama lupa apa yang udah dia buat ke aku?" Mama hanya menggelengkan kepalanya seperti yang selalu dia lakukan ketika aku banyak mengeluh tentang Rumi padanya, "Mama jangan kayak gitu. Omongan Rumi itu selalu serius, bahkan kalau dia mau, dia bisa aja nyakitin aku lebih parah lagi."
"Jangan negatif thingking. Menurut Mama dia nggak bakal lakuin hal itu." Mama mengedipkan matanya genit.
"Terserah Mama aja deh." Aku mengangkat tanganku menyerah, "lagian apa sih yang buat Mama suka banget sama si Rumi? He's devil! Dia juga kasar dan udah sangat amat jelas kalau dia juga benci banget sama aku!"
"Kamu itu umurnya berapa sih? 21 apa 2 tahun?"
Aku menatap kesal pada Mama dan itu malah membuatnya terkekeh geli, "Males ah Mama sukanya mojokin aku. Mama kan nggak kenal aslinya Rumi itu kayak gimana. Jangan kemakan tampangnya dia Ma."
"Nak." Mama mulai melembutkan nada suaranya dan kali ini dia menafaoku dengan tatapan teduh, "Mama ini udah ngatur banyak pernikahan. Mama juga udah lihat banyak macam-macam orang dengan macam-macam karakter. Cuma dengan sekali lihat aja, Mama udab bisa tebak bagaimana sifat orang tersebut." Mama masih duduk nyaman di kursi di seberangku dan aku juga masih mendengarkan Mama.
"Rumi itu tipikal orang yang amat rumit, dia bahkan sengaja menutupi kepribadian asli miliknya yang membuat jati diri miliknya tidak diketahui orang-orang. Yang kamu lihat sekarang adalah Rumi yang memang ingin dia tunjukkan ke kamu, tapi nggak ke Mama. Kalau emang kamu mau membenci seseorang, kamu juga harus bisa mengenal seperti apa dia yang sesungguhnya. Cari tahu karakter dia, kegiatan favoritnya, bahkan sampai hal-hal sepele seperti hobi yang dia lakukan. Kenali orang itu lebih dalam setelah itu kamu baru bisa memilih untuk tetap membenci atau tidak. PR kamu itu buat cari tahu lebih dalam soal Rumi."
"Aku sama dia itu cuma teman Ma, buat apa aku cari tahu hal kayak gitu?"
Aku memang terkenal tidak peduli dan tidak sopan, tapi hal itu hanya berlaku untuk orang yang tidak mengenalku. Aku bertingkah seperti itu sebagai salah satu cara mempertahankan diriku dan juga bukan berarti aku pun tidak peduli dengan apa saja yang terjadi di sekitarku.
"Iya. Suka-suka kamu aja," kata Mama sambil memutar matanya malas.
Aku memiringkan kepalaku dan tersenyum. Aku kembali memakan serealku yang kini sudah berubah menjadi bubur karena sudah terlalu lama aku anggurkan.
"Jangan salah buat menilai seseorang. Cuma kamu yang bisa mengenal orang di sekitarmu, bukan Mama apalagi Dimas."
***
Malam final pertunjukan semakin dekat. Aku merasa sangat gugup dan mulai gelisah. Hari itu aku mengantar Mama dan berkat itu rasa gugupku perlahan menghilang dan aku bisa merasakan ketenangan meski sesaat.
Setidaknya hari itu tidak ada orang yang menggangguku.
"Lo nggak ngadain party?" Dimas merajuk ketika kami berkendara pulang setelah mengantar Mama ke bandara, "kenapa lagi. Nggak seru banget, sih!"
Aku menyandarkan kepalaku ke kaca jendela dan menghela napas, "Lo tanya? Nyokap nggak setuju karena kemarin doi nemuin ****** bekas. Lo pikir dia bakal bipang iya setelah tahu apa yang terjadi ?"
Dimas terkekeh, "Tapi lo Inget kan waktu itu sampai tercatat kalau itu pesta terbaik yang pernah diadain buatan anak kampus."
__ADS_1
"Dan yang terburuk dalam sejarah gue," gumamku, "bukan cuma nyokap aja yang nemu barang menjijikan kayak gitu. Gue juga!"
"Namanya juga party. Lo mesti tahulah kalau semua orang nggak sadar juga waktu itu."
"Gara-gara si bajingan Rumi," kataku sambil terkekeh dan diikuti juga oleh Dimas. Karena kenangan mengerikan dan lucu itu terputar kembali dalam jngatan kami, "gue jadi parno tiap kali ada yang mencet bel rumah. Takut kalau itu polisi dan gue berakhir di penjara."
Aku tahu Dimas tidak terlalu senang ketika aku menyebut nama Rumi, tapu dia tetap menangguk dan menyimpan ketidaknyamanan itu untuk dirinya sendiri. Aku segera mengubah topik supaya situasi di antara kami tidak berakhir canggung. Kami banyak berbicara sampai akhirnya kami tiba di lokasi. Ketika pada akhirnya mobil yang Dimas kendarai terparkir rapi, rasa gugup yang sebelumnya mereda tiba-tiba kembali.
Kami tiba sangat jauh sebelum acara dimulai karena sebenarnya ada party yang diadakan di tempat ini sebelum kompetesi dimulai. Aku langsung menelepon Bara ketika kami berdua sudah keluar dari mobil.
Telingaku langsung mendapat serangan musik keras yang menggelegar melalui panggilan tersebut.
"Halo? Lyan? Kenapa?"
"Lo di dalam?" tanyaku cepat sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Memangnya di mana lagi kamu bisa mendengar suara musik sekencang itu jika tidak berada di dalam party.
"Iya. Gue di dalam sama si Rumi. Lo di mana?"
Aku merasa seperti ada sekelompok kupu-kupu yang berterbangan di perutku ketika nama Rumi disebut. Aku memang sangat berharap pria itu datang ke sini malam ini untuk melihatku perform. Rasa bahagia membuncah dalam diriku.
"Um... Oke... Gue udah di luar. Mau otw masuk."
"Gue tunggu. Di dekat konter bar Lyan."
Aku langsung memutuskan panggilan dan menoleh ke arah Dimas. Pria itu masih menunggu dengan sabar, " Bara sama Rumi udah nunggu di dalam. Ayo masuk."
Dimas mengatupkan rahangnya tidak senang, "Kenapa Rumi ada di sini?"
" Mungkin dia ke sini karena mau ngedukung si Bara. Dia kan sahabatnya Rumi, sama kayak lo yang datang ke sini buat nyemangatin gue." Aku langsung berjalan lebih dulu dan Dimas segera mengikuti.
" Gue nggak suka dia ada di sini, dan gue juga nggak suka cara dia mandang lo."
Kenapa? Memangnya bagaimana cara dia memandangku? Bukannya sejak dulu hingga sekarang pandangan dia padaku itu hanya pandangan yang ingin membunuhku karena aku menghirup oksigen yang sama dengannya.
Tapi untuk sejenak aku tidak bisa menyangkal karena akhir-akhir ini Aku merasa setiap kami bertatapan ada reaksi aneh yang aku rasakan padanya. Pandangannya dia yang dulu teramat membuatku kesal karena dipenuhi rasa benci kini tampak berubah.0 tatapan rumit ini malah seolah mengundangku dan membuat jiwa nakalku bergejolak.
Aku tidak membalas pernyataan Dimas karena aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara aku dan dia.
Dimas dan aku segera memasuki gedung, suara yang memekakkan telinga menyambut kami begitu kami masuk. Aku bahkan Sempat berpikir jika telingaku bisa saja tuli.
"Lyan! Dimas! Sini!" terdengar suara lantang dari Bara.
__ADS_1
Sensasi aneh itu datang kembali ketika aku menoleh dan menemukan Rumi yang juga tengah menatapku. Dia menatapku penuh nafsu bercampur dengab tatapan misterius.
Aku dan Dimas berjalan menuju ke arah mereka dan kedua orang itu menyambut kedatangan kami. Dimas dan Bara saling menyapa seperti biasa tapi hal itu tidak berlaku pada Rumi.
" Kayaknya gue juga harus ikut menikmati pesta malam ini," kataku sambil mengambil minuman yang dia sodorkan kepadaku, tidak mungkin aku menolak alkohol gratis yang mereka beri, " kalian bisa turun kalau mau cari cewek gue bakalan tunggu di sini."
Rumi menatapku sesaat. Aku sangat berharap dia mengerti isyarat yang aku berikan.
"Lo mau gue temenin nggak?" tanya Dimas.
" Ngapain lo nemenin gue? Lo mau buat semua cowok menjauh dari gue?" protesku sambil menepuk pundaknya main-main dan itu membuat Rumi tersedak.
" Terima kasih buat tawarannya, tapi gue prefer buat gue sendiri aja. Bye!"
"Bentar kenapa." Dia menahanku sambil mencengkram lenganku, " kayaknya lo nggak harus pergi, karena kita semua bakalan ada di sini."
"Thanks btw, tapi gue tetap mau cari cowok. Lo sendiri kan tahu kalau gue udah lumayan lama sendiri," suaraku sangat kencang karena memang sengaja agar seseorang itu mendengar.
Aku dapat melihat Rumi yang mencengkram erat gelas di tangannya, tapi dia masih tetap menolak untuk melihat ke arahku.
" Oke. Kalau itu yang lo mau."
"Gue duluan." Aku melepaskan cengkraman Dimas dan melihat tanganku sedikit merah, " dan buat lo," ucapku sambil menunjuk Bara, " jangan sampai lo terlalu mabuk karena kita masih harus tampil."
Bara tersenyum dan itu berhasil membuat hatiku meleleh.
"Oke," katanya sambil mengangkat gelas alkoholnya yang kini tinggal setengah, "ini yang terakhir."
"Good job," ucapku sambil menyodorkan jempolku padanya. Aku melirik Dimas untuk pamit dan ketika menoleh pada Rumi, pria itu malah tengah memunggungiku dan dia sedang memesan minuman ke bartender. Akh merasa sedikit kecewa karena pengabaiannya tapi aku tidak bisa protes dan lebih memilih untuk tidak mau peduli.
Aku menatap Dimas untuk terakhir kalinya sebelum berjalan menjauh. Aku menyukai dia yang terlalu menjagaku tapi sekarang aku hanya ingin memiliki waktu berdua dengan Rumi meski kenyataanya pria itu tidak paham dengan isyarat yang aku berikan. Dia terlalu protektif dan aku menjadi sulit untuk bersenang-senang ketika suasana hatinya sedang tidak baik. Apalagi di tempat ini ada Rumi dan aku tidak mau membuat dia semakin tidak nyaman.
Aku turun ke dance floor dan menerobos kerumunan orang-orang yang sedang menari. Tatapan lapar dan siylan menggoda menyapaku tapi kuabaikan karena aku hanya ingin bersenang-senang sendiri.
Aku bertemu dengan seorang gadis dan kami menari bersama.
" Lo keren," Tri aku setelah kami menarikan dua lagu bersama. Aku dan dia masih sama-sama menggerakkan tubuh kami mengikuti irama dan Ini pertama kalinya aku memuji seseorang karena dia pandai melakukan gerakan yang biasanya hanya dilakukan setengah hati oleh orang lain.
Sebagai guru tari, tentu saja aku merasa senang.
"Are you kidding me? Gerakan gue biasa aja lho."
__ADS_1
Aku banyak tertawa, mungkin karena efek mabuk. Aku tidak pernah benar-benar memiliki teman perempuan karena menurut mereka aku adalah manusia yang paling menyebalkan. Dan lagi kebanyakan orang yang mendekatiku tahu jika semua ptia tertarik padaku. Hal itu membuat semua wanita enggan untuk berteman denganku.
Aku menikmati momen berdua dengannya dan kegiatan kami diselingi dengan tawa.