Salah Gaul

Salah Gaul
Thirty


__ADS_3

Rumi's Pov


Gue harus pergi. Dimas banyak call gue semalam tapi nggak keangkat. Gue juga sengaja nggak bangunin lo karena lo nyenyak banget tidurnya.


Gue nggak tahu kapan lo bangun dan baca note dari gue, tapi gue udah buatin sarapan buat lo.


Aku menatap kertas kecil itu untuk beberapa saat. Pagi ini aku memang bangun dengan perasaan bahagia yang luar biasa untuk pertama kalinya dan ketika melihat note kecil yang Rumi tinggalkan, keluarbiasaan itu memudar seketika.


Aku meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah dengan frustrasi. Seharusnya aku tahu Lyan akan melakukan aksi seperti ini. Dia pengecut. Selalu begitu, akan selalu begitu. Setidaknya aku sudah menyiapkan diri untuk menghadapi semua yang akan terjadi pagi ini.


"**** it," gumamku pada diriku sendiri. Kehidupan di luar telah berjalan seperti biasanya. Pantai sudah menjadi tempat yang paling berisik, tempat yang paling aku benci. Dan lagi, kenapa orang-orang itu tidak bisa menikmati pemandang


Namun sekarang, meskipun ini hari Minggu, di bawah sana sudah teramat ramai. Seolah mereka sengaja membuat keributan untuk memancing emosiku.


Aku bangkit dari kursi malasku dan melangkah masuk ke dalam kamar sambil menutup pintu geser besar untuk memblock keramaian di bawah. Suara-suara itu perlahan menghilang, begitupula dengan rasa sakit di kepalaku yang perlahan memghilang.


Kenapa orang-orang tidak bisa berhenti membuat kebisingan yang tidak perlu?


Jika saja hal itu terjadi pasti hidupku akan berjalan dengan lebih baik.


Aku mulai menuju ke kamar mandi. Aku merindukan saat-saat dimana aku bisa berendam dengan nyaman. Langkahku terhenti seketika saat aku merasakan sesuatu yang salah di kamarku.


Aku diam dan menatap sekeliling untuk mencari perbedaan apa yang terjadi di tempat ini.


Kemudian aku menyadari apa yang berbeda.


Lyan telah membersihkan seluruh ruangan.


Tempat tidurku telah ditata dengan rapi, selimutnya terusun dan bebas dari lipatan. Bantal-bantal itu diletakannya di dashboard temoat tidur, pakaianku juga sudah dilipat rapi dan dia simpan di ujung tempat tidur. Tampaknya wanita itu juga sudah membuang bekas bungkus ****** yang tadi malam kami gunakan.


Aku tersenyum dan kembali melangkah untuk menuju kamar mandi. Otot-ototku terasa pegal karena menghabiskan malam yabg panas bersama Lyan tadi malam. Tapi aku tidak mengeluh, bagaimana bisa aku mengeluh ketika aku berhasil menikmati malam yang luar biasa. Itu adalah mpengalaman bercinta paling baik yang pernah aku lakukan. Bertahun-tahun aku hanya bisa melakukan tanpa adanya kenikmatan dan aju merasa frustasi secara seksual, tapi kini semua telah terbayarkan. Entah kenapa aku merasa iri dengan pria yang akan berakgir dengan wanita itu nantinya.


Lyan adalah satu-satunya sosok yang ada di pikiranku sepanjang waktu. Mungkin dalam artian i need her for my seksual life. Jadi jangan salah sangka.


Aku melirik ke jam dinding yang ada di ruangan. Sudah jam sebelas lewar dan aku ingat jika aku baru bisa tidur pukul 4 pagi setelah Lyan mendatangiku dan meringkuk di atasku.


Ah, aku sampai lupa jika wanita itu sudah menyiapkan sarapan untukku.


Aku melangkah menuju dapur dan benar saja. Aku menemukan ayam saus padang dengan nasi instan di atas meja. Aku tidak tahu apakah aku harus merasa tersanjung atau merinding ketika aku menyadari jika wanita itu telah menyiapkan sarapan untukku dengan menu favoritku.


Aku memutuskan untuk dusuk dan makan. Mereka terasa sangat lezat. Aku tahu wanita itu tinggal sendiri sama sepertiku, hanya saja aku tidak menyukai kegiatan dimana aku harus memasak. Berbeda dengan Lyan, mungkin dia hidup sendiri karena memang Mamanya bekerja di luar kota, sedangkan aku, aku bukannya ingin hidup sendiri, tapi aku terpaksa.


Memikirkan soal itu malah membuatku resag. Setelah menyelesaikan sarapan pagi yang sudah jamak dengan makan siang, aku memutuskan untuk menaiki tangga. Aku sangat membenci hari Minggu, karena itu adalah hari dimana aku harus menyelesaikan semua tugas kukiah yang bertumpuk dan sebenarnya aku termasuk manusia kutu buku yang tidak suka jika nilaiku tidak sesuai dengan standar ya aku tetapkan.


Dan lagi, aku juga membenci hari Minggu karena pada hari itu, aku jadi mengingat betapa sendiriannya aku di kehidupan ini.


Aku mulai menyalakan musik sebelum memulai mengerjakan semua proyek dan esai yang sudah terbengkalai di atas meja. Mungkin aku terkenal sangat acuh tak acuh di kpus, tapi kentataanya, aku menjadi sosok yang sangat bekerja keras untuk mendapatkan nilai yang sempurna.


Banyak orang yang tidak setuju dengan apa yang aku lakukan, apalagi jika aku lebih memilih untuk berkutat menyelesaikan tugas. Tapi sekali lagi, tidaj ada satu orangpun yang dapat menghentikan tekadku jika aku belum menyelesaikan apa yang aku mulai.


Sudah tidak ada lagi yang bisa menggangguku ketika aku berkonsentrasi. Aku memiliki tiga makalah untuk dibaca, satu artikel penelitian, dan dua esai dengan empat halaman untuk ditulis.


Dan semua itu aku selesaikan pada pukul enam sore lebih sepuluh


Aku bahkan sampai melupakan rasa laparku saat aku sedang dalam mode serius.


Aku menghela napas dengan keras dan menjatuhkan diri ke atas sofa saat oerutku meraung meminta jatah. Berkuliah memang sangat menyebalkan, tapi itu sepadan. Seluruh hidupku akan dibentuk berdasarkan gelar yang aku miliki dan aku membutuhkan gelar itu lebih dari apapun karena latar belakang keluargaku.


Memikirkan soal keluarga malah membuatku semakin gelisah walau hanya satu detik. Aku langsung beranjak dari tempatku, saat ini aku sangat membutuhkan nikotin. Sialan, bahkan nikotin pun tidak berpihak padaku.


Aku berjalan dengan lunglai menuju kamarku, boasanya aku menyimpan stok rokok di laci meja yang ada di kamar tidurku. Tapi anehnya, barang-barang itu tidak ada satupun di sini.


"Kemana?" gumamku, mencoba berpikir keras dalam kebingungan. Aku kembali mencari di laci satunya lagi dan aku masih tidak menemukannya.


"****..." umpatku kasar, masih sambil mencari bingku-bungkus rokok yang hilang. Aku akhirnya mengelilingi ruangan utnuk mencari barang tersebut dan saat aku menatap ke ruanganku, aku mulai sadar.


"Lyan, brengsek lo."


***


Aku benar-benar berada di puncak emosiku saat aku dengan brutalnya memencet bel rumah Lyan berulang kali.

__ADS_1


Langkah kaki yang berderap dengan suara penuh emosi terdengar, "BRENGSEK! BERISIK SETAN." Dia membuka pintu dengan kasar, "oh, lo."


Aku menggenggam jariku di handle pintunya dengan marah. Penampilan Lyan tampak santai dengan rambut dicepol tidak sempurna dan ada beberapa anak rambut yang menjuntai keluar. Dia mengenakan celana pendek yang tampak usang dipadukan dengan tank top miliknya.


"Lo," tunjukku padanya dan mendekat dengan langkah mengintimidasi, "beraninya lo nyuri persediaan rokok gue."


Lyan menghembuskan napas lega seolah apa yang aku ucapkan bukanlah sesuatu yang penting, "Ah, jadi karena itu. Gue pikir apaan." Dia menepuk pelan dadanya, "masuk dulu." Dia berbalik dan melangkah masuk ke dalam. Aku sendiri seperti tersihir dan mulai mengikuti dia masuk.


"Ngapain lo curi semua rokok gue?" tanyaku lagi. Dia malah menelengkan kepalanya sambil mengumpulkan ceceran kertas yang ada di atas meja. Tampaknya wanita itu juga sedang belajar.


"Gue nggak nyuti. Gue buang rokok lo."


"APA LO BILANG?" Aku berteriak tiba-tiba dan itu mengejutkan Lyan. Bahkan wanita itu sampai terlonjak di tempatnya, membuat kertas yang baru dia kumpulkan berhamburan di lantai. Dia menatap tajam ke arahku dan berdiri dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.


"Iya. Gue emang sengaja buang rokok lo karena gue mau," desisnya, "kayaknya lo nggak sadar betapa kecanduannya lo sama rokok dan gue ambil inisiatif sendiri."


"Punya hak apa lo?!"


"Gue emang nggak punya hak."


"LO NGGAK PUNYA HAK TAPI LO MASIH BERANI-BERANINYA LAKUIN HAL ITU?"


"Bisa nggak lo nggak teruak?" Lyan menatapku tajam, "gue cuma mau bersikap baik. Lo sadar nggak berapa bungkus rokok yang lo hisap dalam sehari, kalau lo lakuin hal itu dalam jangka panjang, lo bisa mati."


"Dengan lo berani buang rokok gue, bukan berarti itu cara terbaik buat nyadarin gue, Lyn!" Aku berteriak lagi, please, jangan pernah ikut campur lagi soal kebiasaan gue. Gue nggak suka. Dan kalau sampai gue tahu ko ijut campur, lo bakal nyesal saat itu juga, lo paham?"


Lyan bersedekap mencoba membela diri, "Lo bau asap waktu gue bangun. Gue cuma-"


"Jafi menurut lo apa yang gue lakuin itu nggak baik? Lo nggak suka?"


"Bisa nggak lo nggak debat gue?! Oke kalau lo emang secinta itu sama rokok. Gue bakal beliin lo sepuluh bungkus."


"Tapi lo buang dua puluh bungkus rokok punga gue."


Aku dengan cepat meraih lengan Lyan sebelum dia bisa menghindar, "Gue nggak bakal ngacau tanpa alasan."


"Oh, oh, ohohoho!" Dia mulai tertawa dengan aneh dan membuatku bingung, "makannya lo sekarang ada di sini! Lo pasti mau minta alasan kenapa gue pergi tadi pagi tanpa nunggu lo bangun. Rokok yang lo maksud tadi itu cuma alasan!"


Lyan masih berdiri di depanku dengan percaya diri dengan sombong seolah dia memang benar. Aku membenci wanita ini, "Ego lo terluka karena lo bangun sendirian setelah lo having *** sama gue. Tapi gue kan udah ninggalin catatan, lo nggak lihat?"


Aku marah pada cara bicaranya yang sarkas, meskipun sebagian diriku membenarkan apa yang dia katakan. Tapi seperti aku yang biasanya, aku tetap manusia yang hobi membuat masalah.


"Seenggaknya gue nggak sepengecut lo yang kabur waktu gue tidur."


"Gue nggak kabur dan lo tahu itu."


Aku mendecakkan lidahku, "Kalau lo kira gue bakal mundur setelah lo kabur, lo salah. Gue bakal tetap tidur sama lo kalau ada kesempatan yang lain."


Aku menatap Lyan yang kini wajahnya tampak memerah, bahkan dia sampai gugup saat menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Nggak bakal ada kesempatan buat lo lagi."


"Kita nggak bakal tahu apa yang terjadi nanti," selaku, "gue lapar dan lo harus temanin gue makan."


***


Pada akhirnya kami berakhir di tukang nasi goreng langganan Lyan. Aku tidak masalah dengan makanan pinggir jalan selama sesuai dengan lidahku. Hidup sendiri kadang kala membuatku mencari tempat makan terdekat dengan apartement, karena sudah terlalu bosan dengan resto atau kafe di dalam, kadang pun aku memilih untuk mencari makan di seberang apartemen.


"Bakmi lo udah mau habis?" Aku mengangkat alis ke arahnya. Aku memang memesan dua porsi, satu nasi goreng, satu lagi bakmi kuah. Ah, jangan lupakan juga kalau aku memesan es jeruk jumbo, "lo yakin bisa habisin nasi gorengnya?"


Lyan mengerutkan bibirnya dan menatap tajam ke makananku. Tampaknya dia kaget dengan pirsi makannku, "Kan udah gue bilang tadi kalau gue lapar."


Dia mengangguk, "Oke. Selamat makan."


Aku mengejek senyumnya kembali melanjutkan acara makanku. Sepertinya wanita ini memang tidak bisa membiarkanku makan dengan tennag, "BTW, lo utang 38 ribu ke gue. Jangan lupa."


Aku sudah setengah jalan menghabiskan bakmiku, "Lo bahkan nagih uang makan gue?" tanyaku tidak percaya.


Dia hanya memalingkan wajahnya, "Kita bukan teman yang bisa saling traktir-mentraktir kalau lo lupa. Kita itu orang asing.


"Gue cuma lupa bawa uang, elah."

__ADS_1


"Ya udah. Lo bisa balikin kalau lo udah punya uang."


"Gue bahkan mampu buat beli temoat ini. Lo yakin masih mau nagih gue?"


"Kalau gitu, kenapa nggak lo beli aja tempat ini sekarang. Pokoknya jangan luoa buat balikin duit gue."


"Thank you karena lo udah mau jadi bank gue," sungutku.


"You're welcome."


Meski kami berdebat, suasana makan malam hari itu malah menjadi menyenangkan. Baik aku dan dia banyak tersenyum karena perdebatan tidak penting ini. Selesai dengan bakmiku, aku segera meraih dompetku dan mengeluarkan lembaran seratus ribu untuk aku berikan padanya. Aku ingin mempermalukannya, tapi tampaknya itu akan menjadi keterlaluan. Aku mengurungkan niatku.


"Jadi kenapa kita bisa berakhir di sini?"


Aku menghela napas sambil menyeruput minumanku sambil mengamati ekspresi Lyan yang tampaj waspada tapi tetap ingin tahu. Aku mengeluarkan sedotan dari bibirku.


"Lo beneran nggak tahu?"


Dia menyuapkan nasi goreng pesananya dengan xepat, berusaha menghindari kontak mata denganku, "Gue rasa kita perlu bahas soal apa yang terjadi semalam."


"Emang harus dibahas?" dia menyentuh pipinya dengan gugup, semantara aku masih menunggu dia mengatakan sesuatu. Wanita itu menyerah dan dia menghela napas panjang sambil menatapku, "Please, berhenti buat lihat gue. Gue bakal nuturin apa yang lo mau," katanya, menyerah.


Aku sampai harus mengepalkan tanganku di bawah meja agar tidak menarik wajahnya dan mengecupnya di tempat. Kami sedang berada di tempat umum dan tidak etis rasanya jika aku bertingkah abnormal.


"Kayaknya gue udah ketagihan sama lo," bisiknya pelan yang untungnya hanya ada aku dan dia di tempat ini.


"Jadi...."


Aku seperti pecandu yang sulit untuk melepaskan diri. Lyan adalah obat paling mematikan untukku sekarang.


Dia menggelengkan kepalannya, "Gue nggak yakin buat ngejauh, tapi gue juga nggak bisa terus-terusan buat kepancing sama lo. Kita harus sadar soal batasan yang nggak boleh kita lewati."


Aku menggeleng tidak setuju. Menurutku sendiri kami bukan sosok yang bisa diberi batasan.


"Dengar, lo tahu gimana kacaunya gue tiap kali ada di samping lo dan menurut gue nggak ada salahnya kalau kita saling memanfaatkan keadaan ini. Gimanapun juga apa yang kita lakuin itu kebutuhan."


Lyan tersenyum dan berhasil membuat jantungjy berdetak lebih cepat, "Karena itu, Rumi. Semakin kita melangkah, semakin ikatan kita makin erat dan salah kalau lo berpikir hal yang kita lakuin itu nggak salah. Harusnya dengan gue menjauh, lo bisa balik ke kehidupan lo yang dulu.


"Terlambat, Lyn. Gue udah nggak bisa balik. Lo juga. Lo nggak lupa kan kalau kita selalu berakhir having ***? Entah itu direncanakan atau tidak."


"Itu masalah lo, Rumi!" Dia mendesak, dahinya mulai berkerut tidak sabar, "kalau kita tetap melanjutkan hubungan ini, ujung-ujungnya salah satu di antara kita bakal jatuh cinta. *** itu bukan cuma hubungan badan, butuh feeling dan mood juga. Meski lo ngomong hal itu nggak bakal terjadi di kita yangbsaling benci, tapi seperti kata lo tadi, kita nggak bakal tahu masa depan. Pada akhirnya kita itu cuma manusia yang punya rencana bukan manusia yang bisa memutuskan. Jadi, ayo berhenti di sini sebelum akhirnya kita malah saling terlibat dnegan cara yang nggak kita mau."


Aku bersandar di kursiku. Perut yang tadinya bergejolak karena lapar mulai terasa penuh. Makanan yang seharusnya nikmat pun menjadi hambar. Aku menatap mata Lyan yang juga masih setia menatapku. Aku kehilangan kata-kata dan aku juga  tidak punya argumen untuk mendebat di sini, selain fakta jika aku tidak bisa menjauh darinya. Tapi dia tidak memikirkan soal diriku, dia tidak tahu jika aku sudah ketergantungan dengannya.


"Kalau lo pikir semuanya bakalan tetap sama, lo salah besar," kataku pelan. Dia awalnya terkejut tapi mencoba bersikap tidak peduli, "habisin makan lo, nanti gue antar pulang."


Dia sudah membuka mulutnya untuk berdebat tapi aku langsung mengeluarkan ponselku dan mulai menggulir seolah ada sesuatu yang menarik di sana, meski sebenarnya aku hanya menggulir hal random. Aku mendengar Lyan mendesah pelan sebelum menyerah dan membiarkan keheningan menguasai meja kami.


***


Aku mematikan mesin motorku di depan beranda rumah Lyan. Dia turun dari jok belakang dan aku mencoba menghindunya untuk terakhir kali sebelum kami berpisah. Hanya menyimpan aroma tubuhnya untuk diriku sendiri.


Lyan berdiri dengan canggung di dekatku, tidak berusaha berlari kembali ke dalam rumahnya atau berbicara dneganku. Dia hanya tetap berdiri di sana sambil menunduk.


"Kenapa?" tanyaku kesal, aku bahkan terkejut dengan nada suaraku sendiri.


Lyan tersentak, lalu dia menggelengkan kepalanya, "Nggak kenapa-napa. Gue duluan. Bye." Dia berbalik dan mulai berjalan menjauh dariku. Dalam beberapa saat setelah aku mendorongnya, aku mulai sadar. Aku melepas helmku dan melemparnya ke tanah sebelum aku berlari mengejar Lyan. Aku meraih tangannya bertepatan saat dia akan membuka pintu. Aku membalikkan tubuhnya hingga dia bertubrukan denganku.


Dia terkesiap sambil mencengkram bajuku untuk mencari tumpuan, "Lo kenapa?"


Aku menempelkanbibirku ke bibirnya. Menahan dia agar tidak berbicara. Entah kenapa saat itu perasaan kacauku perlahan berubah menjadi stabil, segala sesuatu yang tampak tidak mudah menjadi masuk akal. Aku sangat menginginkan Lyan dan aku tahu dia juga menginginkankh. Kami berdua saling mengenal diri kami masing-masing dibandingkan orang lain. Lyan melingkarkan lengannya di leherku, dia juga mulai membalas kecupanku.


Aku menarik dirimu setelah merasa puas, "Gue nggak peduli," bisikku, sambil menyelipkan tanganku yang lain ke pingganya hingga membuat tubuhnya menempel erat ke tubuhku. Aku menyukai posisi ini, "gue nggak bisa kalau nggak sama lo. Yang gue mau cuma lo, bukan yang lainnya."


Lyan menghela napas, "Gue nggak tahu lo udah sadar apa belum, gue bakal kasih tahu lo." Dia menangkup wajahku dan menciumku sebentar, "begitu lo cium gue, gue bakal serahin diri gue buat lo. Gue bakal lakuin apapun yang lo mau." Dia membuka kancing pertama bajuku dengan percaya diri dan pada saat yang bersamaan, dia juga menendang pintu rumahnya hingga terbuka, "dan lo mesti ingat kalau gue masih benci sama lo."


Aku membiarkan diriku masuk ke dalam rumah karena dia menarikku. Lyan juga menutup pintu rumahnya dengan keras dan kembali meraih wajahku untuk dia cium lagi. Dia mengerang dalam ciuman itu, suaranya bergema dan insting hewaniku kembali muncul.


Dia kembali berkutat dengan kancing bajuku, kali ini lebih tergesa-gesa, "Gue masih benci sama lo." Dia mengingatkanku lagi dengan suara bergetar.


Lyan melempar bajuku ke samping. Meski kami diliputi napsu dan tergesa-gesa, tapi tidak ada satupun dari kami yang berhenti barang untuk bernapas sejenak. Untuk sekarang hanya dia satu-satunya orang yang bisa mengatasi kegilaanku.

__ADS_1


.


__ADS_2