Salah Gaul

Salah Gaul
Thirty One


__ADS_3

Lyan's Pov


Apa kalian tahu banyak orang yang membenci hari Senin. Aku termasuk salah satu orangnya dan pria yang tengah terlelap di sampingku juga termasuk salah satunya.


Jika ingin merubah mindset seseorang, aku juga harus mencoba merubah mindsetku, benar bukan?


Aku mulai membangunkan Rumi. Biasanya, saat aku sudah sangat nyenyak, akan menjadi masalah jika aku dibangunkan. Aku akan menangis histeris seolah-olah ada seseorang yang menyakitiku, karena itu aku berusaha sepelan mungkin untuk membangunkan pria ini.


Butuh waktu dan karena dia masih enggan membuka mata, aku menggunakan kesempatan itu untuk menyamankan diri terlebih dahulu, setelah itu aku kembali menoleh padanya. Sebisa mungkin aku meminimalisir sentuhan di antara kami karena pria itu amat sangat membenci sentuhan yang berlebihan, kecuali sedang berhubungan badan.


Aku menatap tubuh bak ukiran itu dengan puas. Dia  bahkan sampai tidur di pojok kasur untuk memastikan aku tidak menyentuhnya secara tidak sengaja saat aku tidur. Itu hal yang sama seperti yang dia lakukan kemarin malam di balkon rumahnya. Dia bahkan mencoba untuk tidak terlalu erat memelukku saat itu.


Aku mengerutkan kening saat mengingatnya. Aku memutuskan untuk keluar dari selimut dan merangkak mendekati Rumi. Pria itu tertidur dengan posisi tengkurap, punggungnya yang telanjang dan bertato indah itu mengejekku. Tentu saja kesempatan ini aku gunakan untuk menemukan letak semua tatonya saat dia tertidur lelap, tapi sayangnya akan terjadi hal yang menyeramkan jika dia tahu. Jadi aku berusaha untuk tidak menjulurkan tanganku.


Aku duduk di tempat tidurku. Aku meregangkan tubuhku dan memastikan kalau aku akan melakukannya dengan diam-diam. Jelas, aku hanya bisa melihat beberapa detik tanpa menatap Rumi, saat aku menoleh ke wajahnya, tiba-tiba bulu-bulu halusku berdiri dan membuatku merinding. Rumi tidur bak seorang bayi. Dia bahkan tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya, namun tampaknya dia sadar jika posisiku terlalu dekat, jadi tubuhnya bergerak. Aku menatap wajah tampannya untuk memperhatikan bagaimana sempurnanya seorang manusia yang diciptakan Tuhan. Dunia terasa tidak adil, bahkan saat dia tidur pun ketampanan masih melekat dengan indah.


Aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi, jadi aku memutuskan untuk menyandarkan diriku ke punggungnya yang hangat. Aku menyembunyikan wajahku di lekukan lehernya sambil menarik napas dalam-dalam. Aku menyukai aroma yang menguar darinya. Kulitku bahkan sampai merinding dibuatnya saat bersentuhan dengan kulitnya.


Seperti yang  bisa diduga, Rumi bergerak dalam tidurnya. Jari-jarinya mulai bergoyang dan dia mencoba menangkap tanganku.


"Lo ngapain, Lyn?" Suara serak yang keluar dari bibirnya  bercampur dengan nada kantuk yang malah membuat kepalaku berputar seperti orang gila. Aku merasakan perutku melilit sendiri karena aksi nekatku.


Aku mengunci jari-jariku dengan jari-jarinya, kemudian perlahan mencium lehernya pelan. Rumi mengeluarkan erangan lembut, membuatku tersenyum puas "Bangunin lo."


Bibir Rumi sedikit terangkat ke atas tampak seperti  menyeringai. Dia akhirnya membuka matanya dan berbalik ke arahku, mencengkeram pinggangku agar tubuh kami tetap menempel. Rumi menatap wajahku sambil mendesah. Dia juga menghela napas pelan


"Ini masih pagi. Lo ngapain bangun jam segini?" Dia bergumam seraya berusaha keras untuk tidak melirik ke arah tubuh telanjangku. Aku duduk tegak, mengistirahatkan tubuhku di atas perut Rumi. Matanya yang mengantuk terbuka selebar mungkin saat melihat tubuhku yang terekspose.


Aku tersenyum, mengedipkan mata sekali untuk menggodanya, "Kenapa? Kepagian?" tanyaku dengan nada semanis mumgkin. Aku dapat melihat tatapan Rumi menggelap dan kini dengan sengaja aku menyisiri rambutku dengan jari- jari, lalu mengacak-acaknya dengan sengaja,


Rumi tertawa pelan sambil menutupi matanya menggunakan lengan. Otot-otot lengannya tertekuk dan urat-uratnya menonjol tampam nikmat. Tatonya juga menjadi lebih memikat kali ini. Aku merasa wajahku semakin panas, begitu juga dengan tubuhku. Detik berikutnya Rumi meraihku dan memegang pinggulku dengan dominan. Seringai di wajahnya menandakan adanya bahaya yang akan menerjangku.


Aku mendecakkan lidahku dengan keras, menggelengkan kepala untuk menolak, "Big No!"sautku, "Gue benci morning ***."


Rumi memutar bola matanya kesal, "Terus lo ngapain buat gue terangsan pagi-pagi!" semburnya.


Aku semakin terkikik. Pipiku benar-benar memanas sekarang. Bahkan sesuatu yang ada di perutku terasa berdenyut. Aku sampai harus memukul pipiku agar kesadaranku kembali karena Rumi menatapku dengan pandangan menyerah. Dia tampak lebih menggiurkan sekarang.


"That's your problem."


Rumi cemberut, bibirnya tampak menggoda. Tuhan, hilangkanlah sifat mesumku.

__ADS_1


"Kita mesti ke kampus. Gue mandi duluan."


Rumi mengernyitkan alisnya. Butuh beberapa detik untukku menyadari apa yang baru saja aku katakan dan aku tergagap setelahnya, "Ehm itu... Maksud gue... Mending lo sekalian mandi di sini daripada telat... Kalau lo nggak mau...."


Segalanya malah berubah menjadi sangat canggung ketika aku berhenti di tengah kalimat. Aku tidak tahu harus berkata apalagi karena sudah terlanjur malu. Rumi sendiri masih terus menatapku dengan tatapan bingung, tangannya juga masih bertumph di pinggulku. Sekarang yang aku rasakan hanya rasa malu yang sangat luar biasa karena ocehan bodoh yang keluar dari bibirku. Kenapa aku harus berbicara seperti itu dan lagi kenapa bisa aku membiarkan pria itu menginap di rumah? Dan bodohnya lagi, aku malah tidak segera mengusirnya.


"Lo tahu?" Rumi beranjak duduk bertepatan dengan aku yang sudah akan menampar pipiku karena berbicara omong kosong yang malah membuat situasi canggung. Dia juga menyampirkan anak rambutku ke belakang telingaku dengan lembut. Ujung jarinya bergerilya di sekitar leherku dan menyalurkan percikan yang membuatku gemetar. Pria itu semakin memajukan wajahnya padaku dan mulai berbisik, "tahi lalat kecil yang ada di dada lo kelihatan cantik."


Napasku tercekat di tenggorokan karena nada suaranya yang terdengar sensual. Saat dia mulai menelusuri tahi lalatku menggunakan ujung lidahnya, jantungku mulai berdegung sangat kencang.


Aku dengan segera  menarik kasar wajahnya, "Gue harus mandi. Lo bisa tinggal atau pergi, terserah lo, yang pasti gue nggak mau ngelakuin morning ***."


"T-tapi-" Rumi mulai memprotes dengan lemah. Ekspresi bingungnya tampak lebih manis dari apa pun di dunia ini, tapi aku sudah bertekad untuk tidak jatuh cinta padanya, "kita kan cuma..."


"Nggak ada tapi-tapian." Aku membentaknya, "bye!"


Dan dengan cepat berlari ke kamar mandi sambil mengunci diriku dari dalam. Aku menghela napas lega, senang bahwa akhirnya aku tidak lagi mempermalukan diriku di depannya. Aku mulai menatap bayanganku di cermin. Terlepas dari semua yang telah terjadi di luar, bibirku melengkung menjadi senyuman malu-malu dengan seiringnya waktu pipiku pun ikut memerah. Senyumku semakin lebar jadi aku mengalihkan pandanganku untuk segera menyalakan shower.


Aku sangat berharap Rumi masih menungguku di luar.


Harusnya aku tidak berharap untuk itu, tapi aku tetap melakukannya. Dan kemudian saat aku keluar dari kamar mandi, aku sudah tidak melihat Rumi di sana. Bodohnya aku yang menaruh harapan pada manusia.


***


Aku berdiri di koridor menunggu kelas selesai. Suasana hatiku memburuk saat tahu Rumi pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Aneh, tapi rasanya memang kesal, pantas saja pria itu sampai datang ke rumah hanya karena rokok, ternyata ditinggalkan setelah having *** semenyebalkan ini.


Dimas datang sambil melambaikan tangan, aku yang sedang dalam mood buruk hanya mengabaikannya. Pria itu mendekat dan menempel padaku.


"Ngapain sih lo?"


Die menoleh padaky dengan seringaian konyol di wajahnya. Hari ini pria itu tampak ceria, "Weekend lo indah, kan?" Dia bertanya dengan nada menyebalkan.


Aku mengangkat alisku saat menatapnya. "Lo yang katanya sahabat gue, tapi malah nggak periksa keadaan gue selama dua hari terakhir. Kemana lo?"


Seringai menyebalkan hadir di wajah Dimas. Dia menegang tanpa kutahu kenapa, "Gue-"


"Lo pergi buat ngehibur Bara, kan. Gue tahu." Aku menatapnya tajam, "lo emang benar-benar sahabat terbaik gue. Gue udah nggak berharap lagi lo temuin gue kalau gue dapat masalah!"


Dimas menunduk, dia mungkin merasa bersalah, "Sorry, gue kira si Rumi. Jangan bilang dia nyakitin lo lagi?"


Kalimatnya malah membuatku merasa bersalah. Kenapa aku berubah menjadi sosok yang menyebaljan, padahal weekend kemarin aku juga sama sekali tidak mencarinya. Sebaliknya, aku malah menggunakan dia sebagai alasan agar aku dapat keluar dari temoat Rumi secepat mungkin. Aku benar-benar manusia yang mengerikan ternyata.

__ADS_1


"Nggak. Bukan gitu," desahku pelan. Lalu aku melangkah maju untuk memeluk Dimas, "rasanya aneh karena lo nggak tanya gimana kabar gue. Gue ngerasa kehilangan lo."


Dimas terkekeh di atas kepalaku. Dia mengecup ringan dahiku, "Emang aoa yang bisa gue lakuin tanpa adanya lo di hidup gue, Lyan?" Dia menggelitikjy dengan main-main dan berhasil membuatku tertawa seraya mendorongnya menjauh.


"Gue cuma lagi kasih lo ruang buat lo berpikir. Cuma itu yang bisa gue lakuin. Pada akhirnya lo bakal tetap ngedorong gue menjauh waktu lo lagi kesal, bahkan yang lebih parahnya, lo juga pasti nggak bakal biarin gue masuk ke dalam rumah lo."


Aku tersenyum sedih. Aku benar-benar manusia yang jahat. Padahal apa yang dikatakan pria itu benar, tapi aku malah menghabiskan malam bersama Rumi saat dia begitu memikirkanku. Dengan tidak tahu malunya aku malah menyalahkan dia. Ternyata yang bermasalah dalam pertemanan ini adalah aku.


"Apa lo udah ngerasa lebih baik sekarang?" Dimas bertanya dnegan suara lembut. Matanya menatapku oenuh perhatian dan kehangatan, memancarkan sensasi seperti aku memang terlahir untuk dilindungi. Aku tidak bisa membohonginya, tapi aku tidak mungkin juga mengatakan yang sebenarnya padanya.


"Gue baik-baik aja. Jangan khawatir." Dimas tersenyum dan aku pun ikut tersenyum, "terus gimana kabarnya si Bara? Gue benar-benar ngerasa bersalah banget sama dia karena udah bentak dia kemarin."


Dimas mengerutjan hidungnya sedikit, "Kayaknya lo harus nunggu dia buat lebih tenang lagi deh. Sekarang bukan waktu yang tepat buat lo bicara sama dia."


Tepat setelah Dimas mengatakan itu, aku melihat Bara yang berjalan di tengah koridor. Dia mengenakan earphone yang menghalau kebisingan. Raut wajahnya masih tampak kesal. Dimas sendiri berbalik untuk melihat apa yang sedang aku lihat dan aku dapat melihat tubuhnya yang berubah rileks.


Dari ujung sana Bara melihat kami. Dia menatap cukup lama sebelum memutar matanya dan memutuskan untuk melangkah pergi.


"Fix, dia marah."


Dimas masih meregangkan lehernya untuk melihat sekilas punggung Bara yang semakin mundur dan menghilang, menurutku itu tampak agak aneh.


"Dia emang marah, " ucapnya sambil menoleh ke arahku, "tapi menurut gue, dia bakal baik-baik aja nantinya. Sama kayak lo. Mending kita ke kelas."


Aku menyingkirkan semua kekhawatiranku dan memilih meraih tangan Dimas untuk menuju ke kelas.


"BTW, apa lo yang minta Rumi buat ngejar gue malam itu?"


Dimas mengerutkan alisnya lagi, "Nggak. Dia yang inisiatif buat ngejar lo."


Cerita yang tidak masuk akal.


Biasanya, saat kita marah pada seseorang, kita akan berusaha untuk menjauh atau bahkan akan rela membolos agar tidak bertemu dengan orang tersebut. Tapi ternyata hal itu tidak berlaku untuk Bara.


Sebaliknya, pria itu malah ada di mana pun aku berada. Dia mengambil tangga yang sama, jalan yang sama ke kelas seperti yang aku gunakan. Dan setelah aku sadari tampaknya aku sudah bertemu degannya hingga sepuluh kali dalam sehari. Setiap kali kami akan berpaoasan, aku akan gemetar, menunggu dia untuk mencecarku yang pada akhirnya dia hanya menatapku tanpa ekspresj. Tapi anehnya, tatapan dia tampak menyimpan sesuatu pada Dima.


Jika Bara berhasil membuatku gelisah karena rasa bersalah dan ketakutan, sahabatnya malah memperburuk keadaan.


Rumi masuk di jam setelah makan siang. Dia bahkan tidak peduli jika dia sudah telat dan tetap memaksa untuk masuk ke dalam kelas. Orang ini benar-benar bertingkah semaunya dan dia juga berkuliah sesukanya. Tapi yang masih membuatku bingung hingga saat ini adalah, bagaimana bisa dia lulus di semua mata kuliah dengan nilai yang sempurna.


Rumi berjalan ke kursi baling belakang, tempat favoritnya. Dia juga melenggang melewatiku, bahkan tidak melirik sedikitpun ke arahku.

__ADS_1


__ADS_2