
"Bukannya lo pernah bilang kalau lo nggak bakal deketin orang lain selama partneran sama gue?"
Jantungku mulai berdetak lebih cepat begitu suara Lyan terdengar di telingaku. Bara tersenyum jahil padaku dan seolah tahu apa yang tengah aku rasakan di langsung bergegas pergi setelah mengucapkan sesuatu.
"Si Dimas udah datang. Kayaknya gue harus deketin dia. Gue pergi!" serunya dengan nada yang teramat kencang. Hal itu malah membuat Lyan terkekeh karena Bara sempat tersandung ke arah sahabatnya. Si Dimas, pria itu bahkan tidak curiga dengan apa yang terjadi. Sebaliknya, aku malah dengan rakus menyesap minumanku tanpa berani melirik ke arah Lyan.
Aku memang awam jika disuruh menilai tentang mode. Tapi malam ini, Lyan bahkan tampak lebih bersinar dibandingkan model manapun. Dia sangat sempurna.
Dia mengenakan kemeja putih yang dipadu dengan rok pendek sepaha dengan rambut yang diurai. Make up yang dikenakannya juga tidak berlebih. Minimalis namun berhasil menambah aura kecantikan yang terpancar dari wanita itu.
"Telat," ucapku sambil berdecih untuk menarik perhatiannya agar fokus padaku.
Lyan hanya tersenyum penuh arti yang membuatku kembali mendelik. Harusnya dia tidak boleh semenggemaskan ini. "Sorry. Gue nggak tahu kalau ternyata lo nungguin gue."
"Kau terlambat, Anderson," aku terbatuk untuk mengembalikan perhatiannya kepadaku.
Aku memasukkan tanganku ke dalam saku celana saat dia mulai memeriksaku. Senyum puas berhasil menghiasi wajah cantiknya. Wanita itu menarik diriku mendekat agar kami dapat berhadapan sambil berbisik lirih. "Lo beneran diciptakan buat warna hitam ya."
Aku menyeringai. Aku tidak tahu setan apa yang merasuki dia sampai bisa berkata semanis itu padaku. Tapi mendengar pujian yang keluar dari mulut Lyan berhasil membuatku merasa bahagia. Satu hal yang sebelumnya belum pernah terjadi dan menurut aku itu adalah kesalahan. Tidak seharusnya terjadi.
Dari awal, perjanjian kami hanya sebatas something with benefit dan perasaan-perasaan yang tidak perlu itu harusnya dihilangkan. Namun ketika aku mencoba membuangnya, ada perasaan lain yang menggantikan. Itu lebih terasa menyesakkan. Sekarang pun, aku malah ingin membawa wanita ini menjauh dari tempat ini dan menikmati dirinya hanya untukku sendiri.
Wanita itu mencubit hidungku pelan untuk mengembalikanku ke masa kini.
"Gue tahu apa yang lo pikirin," bisiknya dengan suara lembut. Aku hanya menaikkan salah satu alisku dan menunggu apa yang akan dia ucapkan kali ini. "Gue juga nggak sabar," lirihnya lagi.
__ADS_1
Tubuhku tiba-tiba berubah menjadi panas seketika. Aku menatap wanita itu yang masih menyeringai.
"Keluar sama gue."
Lyan terkekeh pelan. Setiap aspek yang ada di wajahnya nampak sangat cantik. Mulai dari alisnya hingga ke bibirnya yang mengenakan lipstik berwarna nude.
"Kayaknya gosip soal kita yang punya hubungan bakal senter besok di kampus. Jadi jangan nambah gosip dengan lo yang mau ajak gue menghilang juga dari tempat ini."
Padahal aku sudah berusaha sangat keras, tetapi rasanya tidak mungkin untuk mengalihkan pandanganku darinya malam ini. "Gue nggak peduli sama apa yang bakal mereka omongin."
Lyan menyeringai. "Sounds good. Tapi gue mau senang-senang malam ini. Jadi gue harap lo jaga jarak dari gue."
Aku mengerang dalam hati. Jari-jariku yang bebas langsung melingkari pergelangan tangan ramping milik Lyan. "Please jangan uji kesabaran gue!" ucapku sinis. "Kalau lo nggak mau berakhir dengan lo yang nggak bisa jalan."
Lyan malah tersenyum genit. "Nggak buat malam ini," kekehnya. "Gue udah punya rencana buat minum-minum, dance, sama ngobrol bareng cowok-cowok yang udah gue incar."
"Lyan-"
Dengan cepat Lyan mengecup bibirku. Kemudian dia melepaskannya sambil menatap sekeliling dengan ekspresi gugup. Memastikan jika tidak ada yang melihat adegan barusan.
"Lo cute banget kalau lagi cemburu," rayuannya membuatku lemah. "Nanti gue susul. Lo harus nikmatin pesta ulang tahun lo."
Dia mengedipkan matanya padaku untuk terakhir kalinya sebelum melepaskan pergelangan tangannya dan melenggang pergi masuk ke dalam kerumunan. Lyan tidak punya teman, tapi kini semua orang memandangnya. Semua orang pada berdatangan untuk mengajaknya berbicara. Setiap gadis yang ada di pesta ini menatap penuh iri ke arahnya dan mungkin berpikiran ingin menjadi seperti dirinya. Setiap pria yang ada di pesta ini juga tampak sangat menginginkannya. Dia tahu semua tentang itu, tapi masih bertingkah pura-pura untuk memberikan mereka keuntungan yang pasti akan berkahir dengan kegagalan.
Lyana Aara-Belle adalah wujud dari nafsu itu sendiri.
__ADS_1
Aku menghela napas lagi dan langsung berjalan ke mini bar yang telah dipersiapkan Bara. Aku sudah mengosongkan space wine mahalku demi agar dapat menggantinya dengan semua alkohol murah yang dibeli Bara.
Aku menyesap sedikit birku dan melangkah melewati para kerumunan wanita. Hanya untuk melewati space yang tidak luas ini saja sangat sulit untukku. Semua yang ada di sana malah melayangkan tangannya untuk berusaha keras agar dapat menyentuhku. Jika saja tidak ada Lyan, akan dengan senang hati tangan ini bergirlya. Tapi maaf tanganku ini sekarang hanya untuk wanita itu seorang.
Meskipun aku tidak terlalu suka dengan situasi sekarang, tapi apa yang dikatakan Lyan itu benar. Aku sangat membutuhkan minum. Aku juga harus bersenang-senang. Ini ulang tahunku dan aneh rasanya jika aku tidak ikut menikmatinya.
Itu yang aku pikirkan sebelum gak itu terdengar oleh telingaku sendiri.
Aku kembali mendekati bar untuk meneguk bir. Akhirnya aku sendirian dan kini aku bisa sedikit berpikir jernih.
Musik yang keras itu mulai menggangguku. Ditambah, aku juga menyaksikan teman-teman kelasku mulai berciuman dan melakukan foreplay tanpa tahu tempat. Membuatku mual.
Aku mencoba mengalihkan perhatianku dari bayangan Lyan yang sedang menari. Itu akan membuatku semakin panas jika fokusku hanya tertuju pada wanita itu.
"Lo lihat kan?"
"Sialan. Gue horny."
"Kayaknya gangbang oke juga."
"Masukin ke minumannya dia."
Telingaku mulai berdenging karena suara bisikan itu. Bulu halusku pun mulai berdiri karena jijik. Aku memutar kepalaku dan menemukan sekelompok pria yang salah satunya sedang menuangkan sesuatu ke dalam gelas alkohol.
Karena satu moment itu, rasanya aku ingin mencabik-cabik mereka dan mengusirnya dari tempat ini.
Aku memejamkan mata dan mencoba mengendalikan amarahku. Kemudian menghembuskan napas berat dan akhirnya aku bangkit dari tempat dudukku untuk berjalan ke arah kelompok pria sialan itu.
__ADS_1
Aku mengenali mereka berempat. Dan wajah mereka langsung memucat ketika mereka mengenali siapa aku. Orang yang memegang minuman itu hanya mengedipkan bahu karena tidak kenal siapa aku. Tapi dia sudah terlambat untuk kabur.