Salah Gaul

Salah Gaul
Twenty Eight


__ADS_3

"Hai." Suaraku teramat tenang dan nampaknya mereka langsung mengerti jika aku ke sini bukan untuk menyapa. Senyum mereka langsung meredup seketika. "Lo masukin apa ke minuman itu?"


Orang itu langsung membalikkan tubuhnya untuk meminta bantuan. Semua temannya malah hanya menatap kosong ke arahnya. Menundukkan kepala bertindak tidak tahu apa-apa.


"M-maksud lo apaan? Jangan asal main tuduh." Dia langsung membela diri padahal aku belum sempat menanyakan apa-apa.


"Yakin?" Aku mengangkat sebelah alisku karena mereka masih juga bungkam. Lalu, tanpa peringatan apa-apa lagi, aku langsung mengambil gelas dari tangannya dan menyiramkannya langsung ke wajah pria itu. "Kalau gitu nggak masalah dong gue lakuin ini."


Mungkin karena tatapanku dan ekspresi wajahku tidak tampak emosi, mereka langsung dengan beraninya menjawab.


"Brengsek. Itu buat cewek lacur yang ada di-"


Akhirnya emosiku sudah tidak terbendung lagi. "Keluar lo dari rumah gue sekarang," geramku. "Pesta yang gue Adain bukan buat tempat untuk Lo memenuhi nafsu bejat lo. Lo pilih mau keluar sendiri atau gue panggilin polisi. Kalau lo milih opsi yang kedua, gue bakal langsung bilang kalau lo masukin sesuatu ke minuman ini."



Pria itu dengan marah langsung menyeka wajahnya. Dia memelototiku sepanjang waktu.


"Lo-"


"Kenapa?" Aku menusukkan jariku ke dadanya seraya mendekati wajahnya yang menjijikkan. Butuh satu milidetik bagiku untuk mengenali mata merahnya, indikasi yang jelas bahwa dia menggunakan obat-obatan terlarang. "Sialan. Lo nyabu di pesta gue?" tanyaku.


Pria itu malah menjadi linglung dan tampak lelah berurusan denganku. Dia langsung membetulkan jaketnya dan melangkah menjauh. Tapi sebelum dia pergi, aku langsung mencengkram kerah belakang hoodienya dan menariknya ke belakang.


"Siapa yang kasih lo obat-obatan? Siapa lagi yang pakai? Bilang ke gue sekarang!"


Si brengsek itu nampaknya sudah mulai kehilangan kesadarannya. Dia langsung mendorongku menjauh dan menyeringai ke arahku. Aku bahkan sampai terdorong dan hampir mengenai seseorang.


"Sialan," umpatku lagi.


Aku segera bangkit dan kembali menyerangnya. Kali ini aku mengangkatnya tanpa perlu mengeluarkan banyak usaha. Dia pria yang tidak memiliki apapun kecuali nyali besar yang tidak berada pada tempatnya.

__ADS_1


"Gue ingetin lagi ke lo. Mending lo cepet-cepet kasih tahu ke gue siapa yang kasih lo nyabu. Atau, lo lebih milih buat gue lempar ke bawah lewat balkon? Dengar nggak!"


Orang-orang yang ada di sana mulai bergerak untuk memisahkan kami. Bahkan teman si bajingan itu membantu untuk menarik temannya agar menjauh dari cengkraman maut dariku. Di belakangku juga ada seorang pria yang menahanku. Dia tampaknya salah satu teman sekelasku karena kini dia langsung menjelaskan situasi yang dapat dia cerna.


"Kita juga nggak kenal siapa dia. Ini pertama kalinya gue lihat mereka dan kayaknya dia bukan anak kampus kita ."


Aku menoleh. Menatap dia. Pria ini salah satu orang yang tadi berkerumunan bersama pria ini.


"Siapa aja yang udah dia kasih obat? Dan udah berapa banyak yang lo minum?" kataku membentaknya marah.


"Gue nggak make. Sumpah." Dia menggelengkan kepalanya dengan gugup. "Itu orang tadi memang sengaja deketin kita dan nawarin barang. "Pria itu langsung menoleh ke belakang dan matanya membelalak ketika bertemu pandang dengan pria itu. "Itu! Dia yang nawarin barangnya," katanya sambil menunjuk heboh pada pria itu.


Aku berbalik cepat, hampir siap mencekik nyawa pengedar narkoba misterius ini. Untuk sesaat, aku melihat tubuhnya yang dibalut dengan pakaian mahal. Dia tampak santai dan tidak peduli dengan keributan yang ada. Aku pun langsung mendongak untuk melihat wajahnya dan sesaat aku membeku ketakutan.


Dia adalah Arsen Abhimaya.



Segalanya yang ada di sekitarku seolah menghilang. Yang tersisa hanya tinggal aku seorang.


Kejadian itu seolah baru saja terjadi beberapa waktu lalu. Aku yang berusia enam belas tahun menggigil ketakutan hingga terasa sampai ke tulang.


Mulutku juga terasa asam setiap kali aku mencoba menelan. Aku ingin muntah.


"Ambil pistolnya, Rumi!"


Aku menatap nanar ke tanganku. Lebih memilih menatap ke sini dibandingkan harus menatap ke arah pria yang tengah berlutut dengan kepala yang ditutupi kain.


Di sampingnya ada satu mayat yang sudah tergeletak dengan bersimbah darah. Itu ulah Arsen. Pistol yang dia gunakan tadi juga dia letakkan begitu saja ke atas meja kayu yang ada di ruangan kumuh ini.


"G-gue nggak bisa." Suara yang keluar dari mulutku saja sampai terdengar seperti bisikan.

__ADS_1


Aku bukan dia dan aku juga manusia kejam yang tidak memikirkan betapa berharganya nyawa manusia itu.


"Apa?" geramnya. Dia mengambil langkah lebar untuk menuju ke arahku. Aku segera mundur hingga menabrak dinding yang ada di belakangku. Jantungku melompat tidak beraturan di dalam dada. Aku ingin berteriak. Aku ingin lari. Aku juga ingin bernapas.


"Pilih senjatanya sekarang Rumi. Tugas lo sekarang adalah bunuh dia!"


Keringat langsung berkumpulan di dahiku. Aku menatap Arsen penuh rasa takut. Berbanding terbalik denganku, wajahnya malah masih tampak tenang seperti biasanya.


Monster itu berhasil menyembunyikan dirinya dengan baik.


"Gue nggak bisa bunuh dia." Entah keberanian dari mana, akhirnya aku berhasil mengatakan itu. "Lo bisa karena lo suka sama kegiatan ini. Lo suka lihat orang tersiksa di depan lo."


Arsen menghela napasnya. Aku berusaha memberanikan diriku untuk menatap pria yang sedang bersimpuh itu. Dia berlutut di kananku tanpa suara. Dia hanya diam karena dia sedang dalam pengaruh bius. Bahkan kini, dia hampir tidak bernapas. Aku tahu kalau ini bukanlah korban terakhirnya Arsen hari ini.


"Itu cuma karena lo yang nggak pernah nyoba." Suara tegas Arsen langsung membuatku menoleh. "Kita itu keluarga. Jadi kalau gue bejat lo juga harus jadi orang bejat."


"Gue nggak sudi jadi bagian dari keluarga pembunuh." Aku memberanikan diriku untuk mengatakan hal itu. Ada banyak hal sebenarnya yang bisa dijadikan acuan untuk menggambarkan bagaimana kondisi keluargaku. Hanya saja versi pembunuh itu yang paling kejam menurutku. "Gue mohon bang. Lo juga kan tahu kalau gue nggak bisa lakuin hal itu. Gue nggak mau."


"Rumi..." Dia melewatiku untuk mengambil pistol yang ada di atas meja. Mungkin karena takut aku akan kabur, pada akhirnya dia mencengkram lenganku disaat para anak buahnya berjaga dinluar pintu. Memastikan agar aku tidak keluar dari ruangan ini selangkah kaki pun. "Lo harus bunuh dia."


Aku panik. Aku belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Air mata sudah mulai memenuhi kelopak mataku. Aku juga sudah berjuang sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkraman Arsen yang sangat kuat itu.


Mulutku tidak berfungsi. Setiap aku membuka mulut, hanya suara rengekan keputusasaan yabg keluar dari sana.


Arsen menampar wajahku. "Cepat ambil!" Dia memaksakan pistol itu untuk ku cengram. Kemudian dia mengarahkanku agar aku mengangkat lenganku ke atas dan membawa ujung pistol itu ke arah wajah pria yang tertutup kain itu.


Aku memejamkan mataku. Menangis keras karena sangat enggan melakukan hal keji ini. "Stop nangis, sialan!" Dia membentakku dan memaksa jariku untuk menarik pelatuknya. "Lo harus buka mata lo buat mastiin kalau peluru lo kena ke arah tujuan."


Dengan tangannya yang lain, dia merauh daguku dan memaksaku untuk melihat ke depan.


"Gue bakal buka mata gue," balasku kencang.

__ADS_1


__ADS_2