Salah Gaul

Salah Gaul
Twenty Seven


__ADS_3

Aku gugup tanpa alasan. Dan kini aku malah berkeringat dan mondar-mandir di kamarku saat Lyan sedang mandi. Aku mendudukan diriku di sofa tapi tidak bisa bertahan lama karema sedetik kemudian aku kembali bangun dan berjalan lagi macam orang bodoh. Karena tidak memiliki kesibukan, aku memutuskan untuk memilih bajuku yang kecil dan kuletakan di luar kamar mandi supaya Lyan bisa mengganti pakaiannya. Aku berharap kaos milikku bisa membuatnya nyaman. Pikiran bodoh yang entah datang dari mana.


Aku melangkah keluar menuju dapur. Tadi kami telah membeli makan malam ketika perjalanan pulang dan kini makanan itu tergeletak di meja dapur saat aku melangkah memasuki ruangan tersebut. Aku membuka tutup kotak makan itu dan menutupnya lagi. Hal itu sudah aku lakukan berkali-kali sejak Lyan mulai memasuki kamar mandi.


Aku tidak tahu apa yang membuatku begitu gelisah. Padahal aku sudah sering bersama dengan Lyan dan lagi aku juga sudah pernah melakukan hal yang lebih dari itu. Tapi entah kenapa malam ini terasa sangat berbeda. Mungkin karena kini kami sudah perlahan saling bergantung dan bukan hanya soal kebencian lagi yang membara di antara kami. Bahkan lebih parahnya ketertarikan seksual pada satu sama lain sudah tidak lagi kami tutup-tutupi. Kami lebih ekspresif dalam mengutarakannya. Dia menciumku dan aku membalasnya dengan lebih panas. Aku tidak pernah merasa sehaus ini sebelumnya.


"Hallo."


Kepalaku berputar dengan cepat ketika mendengar sapaan lembut dari Lyan yang berakhir dengan leherku yang terkilir. Aku mengaga dengan mulut terbuka lebar melihat penampilannya yang hanya menggunakan t-shir kebesaran milikku. Iya, dia habya mengenakan t-shirt tersebut tanpa celana pendek di dalamnya.


Tapi karena kaos oversize jadi masih menutup hingga pahanya dan menyembunyikan semua lekuk tubuhnya. Lyan terus menarik bagian bawah kaos itu, berusaha untuk menutupi pahanya. Aku sendiri masih tercengang melihatnya.


"Ehm." Dia tampaknya tahu apa yang aku pikirkan karena kini Lyan berusaha untuk menyamankan diri sambil menutupi kakinya, "celana lo kebesaran, jadi gue cuma pakai ini aja."


"It's okay. Nggak usah pakai izin segala. Kan lo yang pakai jadi pakai yang menurut lo nyaman aja."


Lyan terkekeh gugup lalu menyelipkan sehelai ramvutnya yang basah ke belakang telinga. Wanita itu sudah membersihkan wajahnya juga karena kini sudah tidak ada lagi noda darah dan bekas luka yang tadi menghiasi pipi dan dahinya.


Aku sendiri langsung mengambil duduk di kursiku sambil menghela napas kasar, "Much better?" tanyaku lagi.


Lyan yang duduk di sebelahku mengangguk sambil membuka kotak makan malam kami yang menunya kali ini adalah nasi goreng abang-abang. Dia menyuapkannya ke dalam mulutnya.


"Gue udah lebih baikan dan please jangan sampai lo berani bahas kejadian tadi lagi karena gue udah bertekad buat lupain."


Aku menganggukan kepalau sambil mengambil porsi milikku sendiri. Kami mulai makan dalam diam meski sudut hatiku sedang berjuang untuk mencoba mencuri pandang ke arah wanita itu.


"Gue boleh tanya sesuaty?" Dia tampaknya mulai menyerah dengan kesunyian yang terjalin di antara kami.


Alisku mengangkat sebelah menunggu pertanyaan darinya. Lyan menyeringai sambil menyipitkan matanya yang malah kelihatan aneh untuk di pandang.


"Kenapa lo punya bath bom di kamar mandi?"

__ADS_1


Ternyata pertanyaan ini.


"Gue suka berendam," kataku lugas mencoba untuk tidak terpancing dengan pandangan geli yang dia layangkan kali ini. Lyan malaj menutup mulutnya untuk menagan tawa, "don't judge me!"


Dia tertawa terbahak-bahak tapi langsung berhenti ketika aku berdecak.


"Gue nggak ngejudge lo. Sebenarnya gue tertarik sama semua bath bom yang ada di kamar mandi lo."


"Jadi lo udah pernah pakai semua varian yang ada di dalam?"


Dia tersenyum menyebalkan, "Kok rasanya aneh ya pas tahu kalau kita suka sama hal yang sama."


Aku mengabaikannya dan kembali fokus ke makananku.


"Gue belum coba semuanya, gue cuma pakai yang warnanya biru galaxi karena itu yang paling keren warnanya menurut gue. Lagian gue juga belum pernah nyoba semua variannya."


"Mungkin kita bisa coba varian lainnya bareng-bareng."


"Boleh. Gue juga pingin rasain sensai baru ML sama lo di bath up."


"Benar kan apa yang gue duga. Otak lo mesum banget."


"Karena lo mulai duluan."


Lyan menggelengkan kepalanya lulu meletakkan sikunya ke atas meja dengan dagu berada di punggung tangannya, "Kita terlalu mengenal satu sama lain, jadi rasanya nggak kaget waktu lo ajak gue ML lagi."


"Mungkin karena kita udah bosan. Saling menyakuti satu sama lain nggak membawa kenikmatan," ucapku, "lagian gue lebih suka dengan kegiatan kita yang sekarang. No love for ***."


Lyan menarik napas lagi sambil menegakkan tubuhnya. Tidak diragukan lagi jika dia benar-benar wanita liar yang pastinya menyukai ide absurdku.


"Benar. Gue setuju."

__ADS_1


"Berarti lo nggak bakal nolak dong kalau gue ajak buat nyoba semua posisi yang gue lihat di film porno? Ah, gue juga mau nyoba di tempat-tempat ekstrem. Kalau lo mau yang gimana?"


"Berhenti nggak!" Dia meledak sambil menutupi telinganya yang me.erah. Lyan menatapmu dan aku berusaha keras untuk menahan tawa ketika melihatbya, "dari pada gue jelasin dengan cara frontal kayak lo, mending kita nikmatin pas udah waktunya aja."


"Kenapa? Lo pingin? Mau nyoba sesi baru sama gue sekarang nggak?"


"Dasar predator ***. Gue nggak pingin jadi tutup mulut kotor lo itu."


Aku tertawa melihat wajahnya yang memerah dan makin tertawa geli ketika dia memborbardirku dengan pukulan lemah di pundakku. Melihatku yang tidak berhenti tertawa mungkin membuat kesabarannya putus. Lyan menendang kursiku dan membuatku jatuh ke lantai.


Aku sangat menikmati wajahnya yang penuh emosi.


"Padahal gue cuma pingin bantu lo doang lho."


Dia langsung melemparkan sendok plastik ke arahku dan berhasil aku tangkap. Dia mendengus dan kini kembali sibuk ke nasi gorengnya dan mengunyah dengan marah. Aku membiarkan diriku tertawa lebih lama sebelum bangkit dari lantai dan menarik pelan rambutnya.


"Rumi!!!" Lyan berteriak keras sambil menampar pergelangan tangaku.


"Lo mau minum?"


"Apa?" sentaknya kesal.


"Gue pingin bantu lo dan solusi untuk lupain kejadian tadi itu ya alkohol," kataku, "jadi, lo mau minum nggak?"


"Lo lagi ngegoda gue?"


"Nggak gila!"


"Oke. Ayo minum."


"Ayo ke atas."Lyan tampak bingung untuk sesaat, lalu dia mengangguk saat kesadaran kembali menghampiri, "Gue lupa kalau lo tinggal di penthouse."

__ADS_1


__ADS_2