Salah Gaul

Salah Gaul
Twenty Nine


__ADS_3

Arsen Abhimaya adalah salah satu mimpi terburukku. Dia adalah abangku dan satu-satunya hal yang pernah dia ajarkan padaku adalah membunuh. Iya, membunuh manusia. Hidupnya hanya berputaran pada soal balas dendam pada keluarganya. Dia masih merasa tidak puas setelah menghancurkan dirinya sendiri san dia juga berusaha untuk menghancurkanku.


Pria itu berjalan santai ke arahku dan tanpa basa-basi dia langsung melingkarkan lengannya ke bahuku. Bersikap seolah kami adalah kenalan akrab yang sudah lama tidak bertemu.


Namun aku bukan dia. Aku langsung menyentak jijik lengannya.


Arsen pura-pura cemberut. "Ko lo kasar si ke gue. Padahal gue sengaja datang ke sini karena gue pingin ketemu sama adik gue di hari ulang tahunnya."


Aku menghela napas pelan meski di dalam rongga dadaku sudah bertal-talu hampir ingin marah. Aku juga membuka mulutku untuk meminta dia pergi, sayang tidak ada satu katapun yang keluar. Arsen yang tahu kalau aku tidak nyaman dengan kehadirannya hanya tersenyum manis lalu membalikkan tubuh untuk menatap semua orang yang ada di sini.


"Karena kalian gagal. Gue harap sekarang kalian mau pergi dari tempat ini sendiri tanpa gue usir."


Jadi ini kerjaan dia. Tubuhku yang sudah menerima rasa takut hanya terpaku. Tidak berani bergerak sampai Arsen kembali menatapku.


"My fault," katanya santai sambil menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Hal yang selalu aku lakukan setiap kali merasa tidak nyaman dan dia tahu itu dan malah sengaja melakukannya di depanku." Mereka cuma mau senang-senang... Dan lo tahu sendiri temoat lo palinh sesuai."


"Tapi mereka mau memperkosa orang," kataku dengan gigi yang bergemeletuk karena kesal.


"Lo jangan khawatir gitu lah. Lagian mereka juga nggak niat buat ngincar pacar lo. Si Aara Bella itu kan?" Dia mengangkay bahunya tampak tidak peduli tapi sebenarnya malah sebaliknya.


Aku membeku. Duniaku seakan berhenti berputar. Kehadiran Arsen di sini bukan untuk merusak hariku. Dia sengaja datang karena dia memang sengaja ingin merusak iehidupan yang sudah berhasil aku bangun untuk diriku sendiri. Dia tahu kalau aku sudah berubah menjadinorang yang lebih baik dan dia ke sini untuk memastikan jika aku tidak akan pernah berhasil melakukan itu.


"Bukan urusan lo," desahku pelan. Pikiranku carut marut dan itu berhasil mengembalikan kenangan kelam yang sangat ingin aku lupakan. "Ini tempat gue dan gue sendiri yang bisa ngatur apa yang boleh dan nggak boleh terjadi di sini."


Arsen hanya tertawa. Itu sama dengan mimpi burukku yang berubah menjadi nyata. "Coba lihat diri lo. Berubah menjadi dewasa dengan prinsip dan moral." Dia berkata sambil mengangkat kepalanya. "Dan jangan berani-beraninya lo sebut ini tempat lo. Ini cuma tempat yang disedekahin bokap buat lo karena dia ngerasa kasihan."


"Dan jangan lupain satu fakta kalau uang yang lo sama bokap lo pakai itu setengahnya karena kerja keras gue yang ngelakuin semua kerjaan kotor lo." Aku membentaknya. "Nggak usah coba-coba buat banggain harta yang sebenarnya bukan punya lo. Lo itu cuma duduk tabpa ngelakuin apapun."


"Picik juga ya ternyata lo. Lagian itu cuma masa lalu, harusnya lo lebih penasaran soal kedatangan gue sekarabg," katanya mencibir. "Gue ke sini karena nyokap sama bokap kangen sama lo dan-"


Terlalu muak untuk mendengar kata-katanya yang berbelit. Aku langsung mendengus tidak suka. Memangnya dia pikir aku akan mengikuti apa yang dia inginkan.


"To the point." Aku langsung memotongnya dan berhasil membuatnya menatapku heran. "Dan gimana lo bisa tahu soal Lyan?"


Arsen cemberut dan menggelengkan kepalanya. "Lo bodoh atau gimana sih. Menurut lo kita bakal lepasin lo gitu aja. Ya nggak lah. Gue tahu apa aja yang lo lakuin empat tahun terakhir ini. Harusnya lo nggak tahu soal kehidupan itu dan karena lo udah pernah nyentuh, otomatis hidup lo nggak bakal aman."

__ADS_1


Aku menatapnya dalam diam. Dia jelas belum selesai berbicara.


"Kasih tahu gue berapa umur lo sekarang? Dua puluh.... Dua. Apa orang-orang tahu kalau sebenarnya itu bukan umur asli lo?" Dia berbicara dengan aksen austria yang kental yang untungnya tidak aju warisi juga. "Jangan bilang nggak ada satupun yang tahu. Lo itu dua puluh enam, kan?"


Aku masih bungkam. Ekspresi datar tercipta di wajahku. Selama ini aku selalu memasang ekspresi itu ketika tidak nyaman. Dulu aku pernah membunuh seseorang, membersihkan mayatnya, bahkan sampai pernah tinggal bersama mayat pria itu di satu ruangan yang sama. Semenjak itu, ekspresi datar itu selalu mendominasi wajahku. Itu bukan hal normal tapi benar terjadi.


Aku menekan ketakutanku demi Lyan. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan Arsen untuk menyakiti Lyan. "Gue senang karena lo tahu umur gue. Jadi sekarang lo udah bisa jelasin kenaoa lo ada di sini dan kenapa li bisa tahu soal Lyan."


Arsen memutar matanya. "Udah gue bilang kan kalau gue tahu segalanya tentang lo. Gue juga tahu soal FWB lo sama dia." Dia memasukkan tangannya ke dalam saku dan tersenyum pada sesuatu yang ada di belakangku. "Dan alasan kenapa gue ada di sini itu-"


Aku berbalik dan menemukan Lyan yang tengah berdansa dengan Bara. Mereka menikmati semua perhatian yang diarahkan pada mereka. Dia tampak sangat bahagia dan membayangkan saja jika Arsen akan menyakiti Lyan malah membuatku tubuhku menegang dan merasa tercekik.


Aku kembaki memusatkan perhatianku ke Arsen. "Jangan penah sentuh Lyan," kataku sambil menekankan kalimatku. "Langkahin gue dulu sebelum lo nyakitin dia."


Senyum Arsen menghilang dan dia langsung memasang wajah serius. Itu sangat mengganggu karena itu tampang yang selalu dia gunakan ketika dia tidak menyukai sesuatu.


"Kalau dia tahu rahasia lo, dia pasti-"


"Dia nggak tahu dan gue pastiin dia nggak bakal tahu. Masa laku gue bukan hal yang perlu diceritakan karena gue nghak bangga sama itu. Gue bukan lo."


Arsen mengatupkan rahangnya. Hal itu membuatku bertanya-tanya apakah aku sudah bertindak terlalu jauh menguak bagian paling sensitif di hidupnya.


Aku sontak mengatupkan rahangku sendiri, wajahku memerah karena terbakar amarah. "Lo nggak punya hak buat ikut campur lagi dalam kehidupan gue. Gue udah nggak takut sama lo dan kalau sampai lo sentuh dia seujung kuku, gue bakal langsung matiin lo!"


Arsen mengerjap pelan. Hanya begitu saja sudah tampak seperti ancaman bagiku. Apa yang dia lakukan berhasil membuatku berkeringat.


"Biar gue perjelas. Lo harus sadar lo lagi berhadapan sama siapa Rumi. Tugas gue cuma buat ngelenyapin dia entah itu sekarang ataupun nanti. Tapi satu hal yang harus gue tekankan lagi, gue nggak takut buat bunuh orang."


"Dia nggak tahu apa-apa. Jadi jangan sentuh dia!"


Arsen mundyr satu langkah. Tapi itu bukan berarti dia menyerah. Dia sedang memulai tantangan. "Kalau dia mati. Lo jadi nggak perlu repot-repot buat ngurusin kan," katanya sambil menaikkan salah satu alisnya bersikap seolah sedang berpikir.


Aku jadi ingat tentang masa lalu ketika aku berusia enam belas tahun. Saat itu aku hanya bisa menangis menahan semua kekesalan. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah, aku harus membunuh Arsen. Dan untuk kali ini, aku tidak akan membuarkan pria itu menyenggol orang-orangku.


Lyan harus hiduo bahagia dan damai.

__ADS_1


"Gue udah jelasin maksud kedatangan gue. Gue harap lo nggak kaget kalau mulai dari sekarnag, lo bakal sering ketemu gue." Setelah mengatakan itu, Arsen langsung berbalik pergi meninggalkan rumahku. Aku sendiri masih terpaku di temoat. Pikiranku juga ikut mengelana.


Pusing karena kedatangan Arsen yang sangat tiba-tiba. Mataku langsung menjelajah untuk mencari Lyan. Wanita itu masih berada dikerumunan dan bertingkah biasa saja. Dia sempat menatapku tapi pandangannya penuh kebingungan.


Aku yang tidak mau sesuatu terjadi padanya langsung merangsek maju dan meraih lengannya dengan cengkraman kuat. Aku menarik Lyan keluar dari rumah. Aku hanya ingin dia selamat.


"Apa-apaan sih lo. Rumi! Tangan gue sakit. Brengsek. Lo bisa pelan-pelan nggak," umpatnya kencang.


Aku membawanya ke balkon rumahku. Ketika aku melepaskan cengkramanku, dia sampai terdorong mundur dan itu membuatnya mengumpat lagi. "Apaan sih lo?!" teriaknya lagi. "Ngapain pakai kekerasan kalau cuma mau bawa gue ke sini?!"


"Lo harus oergi," desakku. "Lo harus pulang sama Dimas."


Aku masih terus memohon dalam hati agar Lyan langsung menyetujui tanpa protes lagi.


"Kenapa?"


"KALAU GUE KASIH TAHU, LO CUMA HARUS NURUT AJA!" Aku meledak, dan itu membuat Lyan kembali mundur. Dia ternganga mungkin karena terkejut aku teriaki.


Aku menghela napas pelan sambil menyugar rambutku ke belakang. "Pergi. Lo cuma harus pergi. Semuanya udah berakhir. Gue nggak bisa lagi berhubungan sama lo. Kita selesai. Jadi gue mohon, lo pulang."


Aku memaksa diriku untuk tidak memandangnya. Setelah hening beberapa saat, Lyan malah mendekatiku dan menangku wajahku. Dia membuatku menatapnya yang kini sedang menatap penuh kelembutan ke arahku.


Wajah cantik itu tampak tenang. "Kenapa?" bisiknya, "Lo bisa cerita ke gue."


Aku memejamkan mataku dan berusaha untuk menjaga tanganku untuk tidak meraihnya dan mendekapnya. "Please, Lyn. Lo harus oergi." Aku kini memohon padanya. Ekspresinya berubah pucat seketika. "Gue nggak mau lagi lihat lo. Gue nggak bisa. Please menjauh dari gue dan benci gue lagi seperti sebelumnya."


Lyan melangkah mundur. Kehilangan sentuhannya membuatku menjadi pria yang lemah lagi. Ekspresinya menari-nari antara ragu-ragu dan pias. "Kenapa? Lo cuma harus jelasin soal itu kan?"


Sangat sulit bagiku untuk berbicara. Aku cuma harus meyakinkan dia untuk menjauh dariku. Aku harus membuatnyabkembali membenciku bahkan jika itu harus menghancurkan kehidupanku. Apapun akan aku lakukan agar dia menjauh.


"Gue baru sadar lo itu lebih sampah dari pelacur-"


Sebuah tamparan mendarat keras. Pipiku terasa perih tapi mungkin tidak separah efek yang dia terima. Matanya mulai berkaca-kaca. Aku sendiri hanya menatap sekilas lalu kembali menunduk dan berharap agar air mataku tidak ikutan jatuh.


"Gue tahu lo nggak bermaksud ngomong kayak gitu." Suaranya bergetar dan dia tersedak ketika mengatakan kalimat berikutnya. "Tapi gue juga nggak punya keberanian buat nunggu di sini dan ngebiarin lo ngejelasin apa yang sebenarnya terjadi. Lo bisa simpen semua rahasia lo dan gue nggak peduli lagi soal itu."

__ADS_1


Lyan langsung berlari menuruni tangga. Tangisnya bergema di telingaku. Lututku akhirnya sudah tidak lagi kuat untuk menopang tubuhku. Akhirnya aku meluruh.


Aku pun ikut meraung


__ADS_2