Salah Gaul

Salah Gaul
Tentu Five


__ADS_3

Setelah beberapa saat menari, aku mulai merasakan jika kantung kemihku semakin penuh.


"Gue ke toilet dulu," teriakku di telinga wanita itu dan dia membalasnya dengan mengangguk.


Sesampainya di toilet aku berdecak kesal karena kebodohanku. Lagi-lagi aku lupa menanyakan namanya karena terlalu senang mengobrol dengan wanita yang sesuai seleraku. Aku harus menanyakan namanya setelah aku selesai dengan urusanku di sini.


Aku mendorong diriku untuk melewati semua orang yang menari hingga akhirnya aku merasakan kakiku sakit karena tertabrak atau tidak sengaja terinjak. Aku menyeret diriku melalui semua lorong yang mungkin ada toiletnya karena aku harus cepat menemukan tempat itu. Setelah menemukan satu, aku segera masuk dan menyelesaikan urusanku di dalam.


Yang terdengar di dalam sini hanya suara musik yang samar-samar. Setelah lega aku juga memperbaiki rriasan make up ku dan rambutku.


"Kayaknya gue mesti diam deh. Kalau terlalu over ntar stamina gue habis sebelum lomba dimulai," gumamku pada diriku sendiri.


Aku keluar dan segera menuju tempat ramai. Ruangan ini terdapat di pojok dan cukup remang-remang. Tidak sepi tapi aku tahu mereka yang ada di sini adalah pecandu. Hidup di dunia yang penuh dengan kobrokan memang membuatku peka. Aku juga harus menjaga diriku sendiri meski pergaulanku tidak bisa disebut pergaulan yang waras. Orang waras mana yang berpikir menghabiskan malam dengan orang lain adalah kegiatan yang menyenangkan?


Hanya orang bodoh yang dipenuhi nafsu kotor yang akan melakukan hal tidak bermoral seperti itu. Dan aku adalah orang bodohnya.


Aku memoercepat gerak kakiku karena aku harus kembaki ke tempat teman-temanku berada.


Tapi kelihatannya ini memang hari sial untukku. Aku yang bodoh ini terlalu menyepelekan sesuatu hingga tidak memperhatikan sekelilingku karena tiba-tiba aku merasa ada sebuah lengan yang menarik pingganggku dan menempelkan tubuhku pada tubuhnya yang berbau alkohol.


"Hi, sweety." Suaranya sangat serak dan bau alkoholnya juga semakin tajam ketika dia membuka mulutnya. Aku bergidik dan menjadi panik, keadaan darurat membuatku mendorong sikuku ke belakang dengan sekuat tenaga dan berharap dapat mengenai tulang rusuknya.


Untungnya percobaanku berhasil. Dia tersungkur dan mengerang kencang. Aku Sudah berancang-ancang untuk berlari tapi pria itu sudah lebih dulu menahan pergelangan tanganku. Dia yang marah langsung mendorong ke dinding, kepalaku membentur dinding itu dengan keras dan hal itu membuatku tidak dapat memusatkan pandanganku ke arah pria asing yang berbuat jahat padaku.


" Lepasin gue," geramku pada pria mabuk itu. Dia hanya tertawa, mengunci kedua pergelangan tanganku di belakang tubuhku dan mendorong tubuh kami untuk semakin berdempetan. Kali ini kepalaku berputar lebih parah dari sebelumnya, rasa sakit dan ketakutan itu memacu andrenalinku. Aku berjuang membabi buta untuk melepaskan diri sambil memejamkan mata dengan menahan air mata yang hampir menyeruak keluar.


"Kenapa sih? Kasih gue kesempatan dong buat tidurin lo." Dia berbisik di telingaku, menjilat, dan menggigitnya kasar. Aku merintih jijik dan keinginan untuk muntah semakin meningkat setiap detiknya.


Aku tidak mau pasrah begitu saja, karena itu sama saja seperti memberikan kesempatan pada sampah seperti dia. Aku menendangnya tepat di selakangannya dan itu aku lakukan berkali-kali. Pria itu mengerang dan mundur membuatku dapat membuka mataku.


"*****," umpatnya kasar sambil menampar keras pipiku. Aku merasakan sudut bibirku sedikit pirih karena tamparannya, "lo berani nantangin gue? Harusnya lo nurut waktu gue masih bersikap sopan ke lo." Dia menjambak rambutku dan hampir menyeretku sebelum seseorang datang dan menghalangi jalannya.


Pria itu datang entah dari mana dan langsung memukul membabi buta pria yang mencoba melecehkanku. Pria itu bahkan tidak memberikan si bajingan itu benafas bahkan sedetik pun. Dia Rumi.


Suara teriakan dan erangan keluar dari mulutnya, tapi Rumi bahkan tidak peduli sedikitpun. Aku sendiri terjatuh karena masih takut dan lemas, bahkan aku sampai meringkuk gemetar karena masih terkejut dengan perlakuan tidak mengenakan yang baru saja aku terima.


"Brengsek." Rumi membenturkan kepala pria itu ke dinding dengan kencang. Dia melakukan itu berkali-kali, "lo berani nyentuh milik gue. Kalau lo mau perkosa dia, gue bakal dengan senang hati ngirim lo ke neraka." Rumi mencengjram kerahnya, memberikan pukulan lagi ke wajahnya yang sudah tidak berbentuk itu, dan melemparkannya ke lantsi. Dia juga menendang pria itu kasar.

__ADS_1


Aku sama sekali tidak mengedipkan mataku selama Rumi menghajarnya. Aku sangat ingin melihatnya hancur dan memohon belas kasih tepat di depanku karena perlakuan kasarnya itu benar-benar merugikan orang seperti aku. Dia pantas mendapatkan itu.


Tapi begitu aku melihatnya batuk berdarah bahkan sampai muntah, rasa iba langsung menyergap. Aku berdiri dengan gemetar dan meraih tangan Rumi.


"Stop please.' Aku berbisik di telingannya dan Rumi langsung menghentikan aksinya. Pria itu sudah terbaring di tanah dengan masih batuk darah. Aku menatap wajah Rumi perlahan sebelum menjawabnya kembali, "lo nggak pantas ngehancurin bajingan kayak dia. Biar polisi yang urus. Jangan ngotorin tangan lo."


Rumi masih tidak mau dengar. Dia bahkan sudah berbalik untuk lagi untuk menghajar pria itu tapi aku langsung menahan lengannya. Sorot matanya yang tajam benar-benar menakutkan. Aku tahu dia sangat marah dan situasi ini tidak akan berakhir baik jika aku tidak membawanya menjauh dari pria ini.


Aku menariknya keluar dari tempat terkutuk itu. Namun saat sudah melewati pintu, dia menarikku dan membawaku ke sebuah ruangan sambil menggumamkan sesuatu dan mendorongku untuk tetap jalan dan masuk.


"Masuk," ucapnya dingin.


Rumi langsung mengunci pintu di belakang kami dan juga menghidupkan lampu yang aku sendiri tidak tahu ada di mana sakelarnya. Tempat itu sangat bersih meski terlihat jika tidak pernah digunakan. Ada tempat tidur yang tertutupi kain, pasti tidak ada yang pernah masuk.


"Duduk. Gue mesti periksa luka di pipi lo."


Aku menurut dan langsung duduk di tepi tempat tidur. Sekarang aku aman karena aku sudah bersama Rumi. Aku melepaskan semua pertahanan yang sedari tadi kugunakan. Rasa sakut itu mulai terasa. Kaki dan kapalaku berdenyut nyeri. Jari-jariku juga tidak berhenti gemetaran saking terkejutnya aku diperlakukan sekasar itu. Jantungku ikut berdegup kencang. Sudut bibirku juga berdarah yang membuatku harus menahan perih ketika aku berbicara. Kukit kepalaku juga masih panas seperti terbakar karena tarikan yang kencang tadi.


Aku merinding dan merasa jijik dengan diriju. Aku ingin muntah, berteriak, bahkan ingin melakukan sesuatu pada pria brengsek yang sudah lancang menyentuhku tanpa izin.


Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa karena tadipun aku kalah telak. Aku hanya bisa menangis.


Beberapa saat kemudian aku merasa tempat tidurnya sedikit berbunyi. Tatapan yang dilayangkan Rumi dari sampingku terasa sangat jelas dan aku mencoba untuk menghentikan tangisanku. Aku tahu dia juga tidak bernuat menghiburku karena diapun tidak tahu bagaimana cara menghibur seseorabg. Akhirnya kami hanya berakhir dalam keheningan.


Aku sendiri juga tidak punya nyali untuk melihatnya, jadi aku hanya menatap tanganku yang tengah mengepalkan tinju.


Sedetik kemudian, aku merasakan ujung jari Rumi yang lembut namun kapalan itu menyentuh sudut bibirku yang terluka. Aku menghembuskan napasku pelan. Rasa perih itu kembali datang dan aku mengabaikannya. Yang kulakukan sekarang adalah hanya terus menatap Rumi.


"Gue nggak habis pikir kenapa lo berani berkeliaran di tempat sepi kayak gitu sendirian. Sini biar gue periksa."


Aku menarik kakiku mendekat ke tempat tidur dan dudum bersila seperti yang diperintahkan oleh Rumi. Matanya masih menatapku tajam yang membuatku semakin takut untuk membuka mulutku. Aku tidak tahu apa dia masih marah atau tidak, aku sangat takut untuk berbicara yang malah akan memperunyam suasana nantinya.


Rumi mengeluarkan sapu tangan dari kantong celana jinsnya, lalu mengusap perlahan ke sudut bibirku yang terluka untuk menghentikan aliran darahnya. Rasanya menyengat ketika dia sentuh tapi aku tetap diam dan membuarkan Rumi membersihkan lukaku.


Entah kenapa aku malah menangis begitu dia selesai membersihkan lukaku. Wajahnya kini tampak jelas dan ada sedikit memar dan luka juga di wajahnya. Pasti karena tadi dia berantem.


"Apa sakit?" tanyaku lemah.

__ADS_1


Bumi mengangkat bahunya tapi tidak menjawab. Dia juga mengangkat tangannya memberi isyarat sesuatu yang tidak aku mengerti, aku pun memutuskan untuk berhenti mengusap luka yang ada di wajahnya.


Aku meraih jari-jarinya dan menyatukannya dengan milikku. Aku membawa jemari kami yang saling bertautan itu ke depan bibirku dan mengecupnya sekali.


"Please. Say something. Gue malah takut kalau lo diem kayak gini," ucapku bergetar, hampir ingin menangis.


"Gue mesti ngomong apa?" Dia terdengar sangat marah, tapi tetap menyampaikan kalimatnya dengan nada rendah, "gue tahu lo pasti terluka dan gue nggak tahu harus gimana buat nenangin lo. Kalau aja gue bisa nemuin lo sedikit lebih cepat, lo pasti nggak bakal ngalamin kejadian buruk kayak gini. Gue-"


"Lo udah berhasil nolongin gue," kataku memotong kalimatnya sambil mempererat genggaman jariku di jarinya, "lo nemuin gue dan lo juga nyelamatin gue."


Rumi menghela nafas pelan dan melirik genggaman tangan kami, "Gue nggak tahu gue harus ngomong apa. Gue nggak pernah nolongin orang sebelumnya dan lo, kenapa bisa ada di sini?"


"Gue cuma mau ke toilet buat buang air kecil," jawabku, "dan gue juga nggak tahu kalau gue bakal diikutin orang."


Dia menatapku tanpa kata. Pria itu sangat pandai menyembunyikan emosi di wajahnya dan itu membuatku kesal.


Aku menghela nafas pelan sambil menelan gumpalan di tenggorokanku yang entah kenapa rasanya teramat sakit untuk sekarang.


"Gue udah cukup nangisnya," kataku datar. Rumi mencondongkan tubuhnya supaya lebih dekat denganku dan hal itu membuatku memejamkan mata. Mungkin karena aku yang tampak menerima, dia semakin mendekat hingga nafasnya yang teratur bercampur dengan nafas pendekku.


"Kamu tadi keren."


"Gue nggak keren Rumi. Gue ada diposisi dimana gue terpojok dan satu-satunya cara buat melepaskan diri ya cuma dengan cara itu. Dia nyentuh gue tanpa izin dan dia juga berlaku kasar yang malah membuat gue semakin jijik ke diri gue sendiri. Meski kasusnya pelecehan seksual tetap aja kesalahan ada di pihak cewek. Mereka pasti bakal nganggap gue menyedihkan karena merekanpikir gue pasti lakuin hal itu sengaja."


Rumi melingkarkan tangannya ke pinggangku dan menarikku ke pangkuannya. Dia memelukku erat-erat, "Don't say that. Apa lo mau gue masukin orang itu ke penjara? Gue bisa lakuin hal itu. Lo cuma harus menjelaskan semua hal yang terjadi tadi."


"Nggak. Gue nggak mau masukin dia ke penjara," ucapku sambil menyelipkan jariku ke rambutnya dan mendekatkan bibirku ke bibirnya, "gue pingin orang itu mati."


Pria tadi memang sudah sangat parah dan aku yakini Rumi tidak akan lagi bertindak lebih jauh. Rumi menangkup wajahku dengan tangannya sementara tangan lainnya memegang tubuhku erat, "Mau keluar sekarang?"


Aku menggeleng pelan dan menatapnya yang tengah menatapku dengan cemas, "Nanti. Gue harus perform dulu."


Mata Rumi membelalak kaget, "Lo masih mau perform di luar sana?" Dia bertanya dengan tidak percaya. "lupain soal perform atau kompetisi, gue bakal antar Lo pulang sekarang."


Aku memutar bola mataku sambil terkekeh. Dia benar-benar sesuatu.


"Lo yakin lagi suruh gue buat berhenti?"

__ADS_1


"Gue cuma mau buat lo bisa berpikir logis," bantahnya, "please. Ayo pulang."


Aku menggelengkan kepalaku dengan tegas. "Jangan buang waktu buat nyuruh gue pulang, Rum." Aku menarik diriku keluar dari pelukannya, "selama gue masih kuat, pertunjukannya harus tetap dilanjutkan."


__ADS_2