
Rumi's Pov
"UDAH TIGA MINGGU BERJALAN DAN LO NGGAK KASIH TAHU GUE SAMA SEKALI?"
Bara dengan tidak sopannya melambaikan ponselnya ke arahku. Dia sudah melihat sesuatu yang tidak aku inginkan dia tahu.
"MAU ALASAN APALAGI LO?"
Aku segera merebut ponselku yang kini sudah berada di tangan Bara. Pria ini hanya datang untuk membuatku marah dan bodohnya aku, kenapa aku tidak melawan?
Flashback
Aku sudah mengatakan pada Lyn untuk tidak mengambil foto apapun karena aku sangat benci ketika harus tersenyum. Tapi seperti biasanya, wanita itu bersikeras dan dengan gigihnya memaksaku yang membuatku tidak bisa menolak. Saat itu sudah hampir fajar. Pukul tiga lebih empat puluh dan kami berdua sedang berada di dapur memakan sisa makan malam karena tadi kami berolahraga cukup lama.
Wanita itu memegang ponselku.
"Berhenti, Lyn."
Lyan menarik lagi ponselku sebelum aku sempat mengambilnya. Dia sudah mengklik fotoku ketika aku sedang makan. Ketika aku memelototinya, Lyan malah menjulurkan lidahnya padaku. Dia mengejekku.
"Lo keren banget, tahu nggak?" Lyan terkekeh bahagia. Dia kini hanya sedang menggunakan sport bra dan ****** *****. Apa yang dia kenakan malah membuat pikiranku berkelana.
"Kenapa Tuhan nggak adil, sih?" cerocosnya.
Aku hanya mengabaikannya dan kembali memakan seafood saus Padang favoritku, "Kenapa lo happy banget hari ini?"
Lyan menolehkan kepalanya dengan antusias ke arahku, "Karena gue berhasil dapat foto lo." Dia mengatakan itu sambil mengangkat bahunya yang telanjang. Siluet Lyan yang diterpa cahaya bulan membuat wanita itu tampak sangat luar biasa.
Lyan tampaknya merasakan tatapanku yang tertuju padanya. Dia menoleh sambil mengerling nakal, "Lo jangan tatap gue terus," katanya sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap pelan kepalaku. Aku sampai memejamkan mataku untuk menikmati kenyamanan yang Lyan berikan.
"You looks beautiful."
Lyan terkekeh. Dia bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekat untuk naik di pangkuanku. Aku menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi sambil terus menatapnya.
"Satu foto lagi boleh, please?" Dia mengerucutkan bibirnya sambil membuka kunci ponselku dan mengarahkan kamera padaku. Belum sempat aku protes, Lyan sudah menyuruhku untuk diam dan memintaku untuk bersiap-siap difoto.
Aku pikir dia hanya akan mengambil fotoku, tapi ternyata tidak. Wanita itu mengarahkan kameranya ke arah kami dan tangannya meraih tanganku untuk meletakkan tanganku ke atas dadanya. Jari-jariku yang tidak mau menganggur mulai melakukan aktivitas di atas sana dan Lyan tidak ambil pusing. Wanita itu malah mengambil foto kami seolah itu adalah hal yang lumrah.
"Coba lihat. Tato lo kelihatan keren di sini," serunya senang. Aku hanya menggeleng melihat tingkah absurd darinya.
"Ayo tidur."
"Oke. Tapi nanti kita ambil satu foto lagi ya di kamar." Aku mulai mengikutinya tanpa protes. Kelopak mataku sudah minta untuk diistirahatkan dan lagi aku sudah tidak memiliki tenaga untuk menolak.
__ADS_1
Aku dan Lyan terlalu kecanduan dengan aktivitas baru kami. Jadwal kami jadi tidak menentu dan itu membuat jam tidur kami berantakan. Pada akhirnya aku dan dia membuat keputusan untuk melakukan *** hanya ketika weekend, hari-hari biasa akan kami gunakan untuk beristirahat.
Aku menendang pintu sampai tertutup kembali di belakangku dan kemudian aku jatuh ke atas ranjang bersama Lyan. Dia duduk di atas pinggulku dengan tangan yang menjalar hangat di bagian perutku.
"Ini yang terakhir. Gue janji, tapi lo harus senyum."
"Oke. Asalkan lo janji satu ronde lagi."
"Sippp!" Dia berteriak sangat antusias sambil mengklik foto sialan itu. Semuanya tampak luar biasa meski sejujurnya aku sangat enggan. Meski begitu hasilnya sangat bagus.
"Udah gue jelasin. Jadi bisa nggak lo nggak usah teriak lagi. Telinga gue sakit!" Aku membentak Bara yang langsung melangkah mundur saat tahu garangnya aku ketika diprovokasi.
"Gue kan sahabat lo, harusnya lo cerita-cerita ke gue." Bara cemberut dan langsung menjatuhkan diri ke sofa, "gue tersinggung."
Aku memutar mataku. Dia selalu bersikap dramatis dan sekarang aku sudah mulai kebal. Aku mendorong kakinya menjauh dan mulai ikut merebahkan diri di sampingnya, "Gue sama dia cuma partner ***. Nggak lebih dan nggak ada yang oerlu diceritakan."
"Yang benar?" tanyanya sambil memfokuskan diri padaku, "kalau emang hubungan kalian semudah itu, tapi kenapa nggak ada satupun dari kalian yang kasih tahu gue ataupun Dimas. Fakta kalau kalian backstreet itu udah menghapus rasa percaya diri gue."
"Gue bakal langsung buang dia kalau gue bosan."
"Nggak yakin gue." Bara menyeringai yang malah tampak menyebalkan di mataku, "gue bakal pertaruhin tabungan gue. Lo nggak bakalan bisa bosan sama Lyana."
"Kenapa lo bisa punya pikiran kayak gitu?"
"Seenggaknya gue nggak kayak lo," kataku mencibir, tidak mau kalah. Senyum puasnya kini berganti dengan senyum yang dipenuhi kebingungan, "gimana kabarnya Dimas setelah lo spent night sama dia."
Bara menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, "Dia baik," gumamnya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang aku tahu jika itu tidak gatal. Aku mencoba untuk tidak menertawakan kegugupannya yang tiba-tiba mendera. Pria itu kembali menoleh, kali ini tampak ragu untuk menanyakan sesuatu.
"Menurut lo, kira-kira dia ngira gue nipu dia nggak, sih?" tanyanya. Pertanyaannya yang tiba-tiba itu membuatku tersentak. Bara terlihat sangat terganggu dan aku tahu hal ini juga berdampak padanya.
"Nipu gimana maksud lo?"
Bara kini benar-benar beralih padaku, "Gue bukan gay," saat dia melihat ekspresi bingung di wajahku, Bara segera melanjutkan, "maksud gue, gue bukan gay tapi biseksual."
Aku tertawa keras hingga membuat bibirku kering, "Ya iyalah," gumamku pelan, "gue sampai lupa soal cewek-cewek yang lo putusin karena lo ngejar cowok mereka."
Bara mengernyit melihat tingkahku, "Tapi itu nggak ngubah fakta kalau gue juga suka sama cewek." Bara mendecakkan lidahnya, "gue pingin ngomong ke dia tapi gue takut dia mikir yang nggak-nggak. Gue akui, gue juga suka punya waktu berdua sama dia bahkan kalau emang gue harus nyembunyiin fakta ini, gue rela."
"Kalau Dimas benar-benar suka sama lo, dia harusnya bisa percaya dan bisa terima lo apa adanya." Aku mencoba yang terbaik untuk memberikan nasihat walau keadaanku tidak jauh buruknya dengan dia, "terus kalau emang lo sesuka itu sama dia, lo juga nggak diwajibkan buat jelasin keadaan lo ke dia."
"Sok puitis banget sih lo."
"Brengsek!"
__ADS_1
Bara tertawa kencang sambil menggelengkan kepalanya, "Gue emang suka curi-curi waktu biar bisa berduaan sama dia, tapi gue juga berharap dia mau ngaku sama Lyan. Maksud gue, nggak ada salahnya buat jadi beda," dari kalimatnya aku tahu Bara kecewa tapi pria itu cukup terampil untuk menyembunyikannya, "satu-satunya orang yang bisa buat dia berhenti itu Lyan. Karena dia takut sama reaksi Lyan."
"Jangan bilang dia takut kalau Lyan pergi ngejauh."
"Iya. Dimas berpikir kayak gitu. Kadang gue benci fakta itu. Dia terlalu tunduk di bawah Lyana."
Aku bisa merasakan riak kemarahan di dadaku saat dia menuduh Lyan seperti itu, "Lyn nggak seburuk yang lo pikir. Dia cuma nggak punya teman dekat selain Dimas dan dia protektif bukan tanpa alasan. Itu karena dia sesayang itu sama temannya dan menurut gue make sense kalau dia marah karena Dimas udah bohong sama dia selama ini."
Bara mengangkat salah satu alisnya, "Sekarang aja lo udah berpihak sama dia."
"Gue nggak berpihak sama siapapun, oke?" tuntutku. Aku perlu menenangkan diri dan kenapa aku malah marah? "Mungkin masalah ini bakal jadi rumit tapi mereka berdua pasti bakal menyelesaikannya sampai akhir dan pada akhirnya mereka bakal balik lagi."
"Coba lihat diri lo." Bara terkekeh, "lo kelihatan keren dan pro kalau bahas soal Lyana."
Sebelum aku menerjang Bara, bel pintu rumah di lantai bawah berbunyi. Menandakan jika pesanan kami sudah sampai. Bara segera bergegas melipir dan aku langsung ikut mengejarnya.
"Thank you." Bara mengambil papper bag yang dibawa oleh driver setelah dia membuka pintu dengan amat lebarnya, "orang ini yang bakal bayar tagihan dan bakal kasih tip juga karena lo udah menyelamatkan hidup gue," tunjuknya padaku.
Pria pengantar makanan itu menatapku penuh harap. Aku hanya bisa menatap Bara tajam karena tingkah jahilnya dan dia malah menyeringai sambil berlari masuk kembali ke dalam rumah. Aku dengan segera membayar tagihannya dan memberikan tip yang amat murah hati karena bajingan Bara.
Aku menghela napas jengah melihat Bara yang sudah mulai memakan pizza pesanannya. Kakinya naik ke atas meja kaca yang untungnya dia sedang tidak mengenakan sepatu. Aku juga ikut mengambil tempat dan mulai menggigit pizza bagianku.
"Jadi... Lo tetap harus kasih gue penjelasan. Lyana kan sekarang udah jadi cewek lo."
Dia sengaja mengunyah dengan berantakan yang berhasil membuat remah-remah pizza-nya jatuh ke kausnya. Dia bahkan menyeka bibirnya menggunakan kausnya sambil menjilati jarinya.
Aku membersihkan sisa remah-remah yang dihasilkan Bara dan memasukkan bekasnya ke dalam kotak, "Dia bukan cewek gue. Lo bisa sebut dia dengan apapun tapi lo nggak boleh merendahkan dia "
Bara memalingkan wajah ke arahku, "Gue senang karena lo udah akrab sama dia. Sejujurnya gue juga merasa bosan tiap kali lihat kalian berdua berantem kayak hewan."
"Kalau lo masih bahas soal itu, gue bakal balik jadi si Rumi yang rese," balasku."
"Udah banyak yang nggak suka sama Lyan dan harusnya lo berkorban buat jadi salah satunya yang nggak musuhin dia. Dan lagi kalau dia bisa buat lo bohong ke sahabat lo, menurut gue dia bahkan bisa buat lo bertekuk lutut di bawah dia."
"Stop it," debatku, "itu keputusan kita berdua buat ngeprivasi aktivitas *** kita."
Bara mengunyah pizza miliknya seolah itu adalah hal terakhir yang bisa dia nikmati saat ini.
"Menurut gue dia itu cewek hebat. Di kehidupan nyata ataupun di atas ranjang dari kesimpulan cerita yang gue dapat dari lo. Tapi bukan berarti dia manusia yang sempurna. Dia emang manipulatif, judes, sama nggak bisa akur dengan teman-teman yang lain. Dia juga nggak mikir dua kali buat jatuhin orang yang merugikan dia dan dia juga pembohong ulung."
"Stop call her manipulatif. Dia itu cuma realistis, jujur, kompetisi dan judes. Tapi dia juga pemain yang luar biasa," kataku sambil mengangkat alis dan jika dia masih memintaku untuk mendebat lagi soal Lyan, maka aku akan dengan sangat senang hati memukulnya.
Bara menatapku lumayan lama sebelum pada akhirnya dia mengangguk, "Gue masih nggak terbiasa lihat lo ngejelasin soal kekurangan Lyan jadi sebuah kelebihan. Lo emang udah nggak bisa diselamatkan lagi dari pesonanya dia."
__ADS_1
"Susah ya ngomong sama lo. Dengar sekali lagi. Gue nggak suka sama dia. Gue cuma suka dia sebagai partner *** gue, nggak lebih. Kita berdua cuma terikat kesepakatan tidak tertulis dan gue juga ngerasa nggak ada salahnya dengan apa yang udah terjadi. Kalau menurut orang lain salah, it's okay karena menurut gue nggak ada salahnya jadi partner yang bisa jaga partnernya."