
"Gue lebih milih buat nggak ngelakuin itu," putusnya.Suaranya juga terdengar lemah dan lelah, "tapi gue punya satu permintaan. Bisa nggak lo gantiin Bara sebentar karena gue masih pingin tahu apa yang ngebuat dia susah buat ngikutin tempo."
"Gue bukan penarik, Lyn. Kita kan udah pernah bahas soal ini."
Dia menjauh dan bersiap mengambil posisi, "Gue tahu. Lo cuma harus tangkap gue waktu gue selesai lompat. Gak harus nari kok."
Aku mengikuti instruksinya untuk berdiri di tempat yang dia perintahkan, "Jangan marah akhirnya lo tetap jatuh. Gue juga nggak janji gue bisa tangkap lo nggak apa."
"Gue nggak bakal marah kalau lo nggak ngelakuin itu secara sengaja."
“Berpikir negatif mulu lo sama gue,” sungutku.
"Diam. Gue bakal mulai," ucapnya sambil berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya yang berhasil aku lihat.
Aku mengangguk dan dia mulai melakukan gerakannya.berjarak beberapa milimeter dari wajahku.
"Gue berhasil, kan?"
Lyan nafas cepat.Badannya sedikit bergetar, bahkan pegangan tangan di leherku terasa kuat mencengkram, "Padahal gue nggak nyangka lo bakal nangkap gue."
AKu menghela nafasku pelan.Jarak yang teramat dekat membuat pandanganku berkabut karena kami saling berbagi oksigen.Dalam waktu singkat aku langsung memojokkannya ke cermin dan dia langsung mengeratkan kakinya ke pinggangku.
Apa hari ini fantasi liarku akan terpenuhi?
"Ntar kalau Bara masuk gimana?"
Aku mengusap wajahnya dengan lembut, "Dia bakal keluar lagi."
Lyan melepaskan pegangan tangannya dari leherku dan kini dia menangkup pipiku menggunakan kedua tangannya. Kegugupan tersirat jelas dari tatapannya.
"Kenapa lo bisa ada di sini?" bisiknya.
__ADS_1
Bibirku sangat dekat dengan tenggorokannya dan nafsu semakin memaksaku untuk mengecupnya. Lyan tersentak setelah mendapat serangan mendadak dariku. Aku menempelkan bibiku ke kulitnya dan aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang semakin cepat.
"Kenapa?" tanyaku, tepat di depan terlempar, "apa lo bedanya karena gue ada di sini?"
"Nggak kaget. Cuma..." Dia menelan ludahnya dan semakin tampak gelisah, "gue sedikit keganggu."Aku sudah akan memprotes tapi kalah cepat dengan gerakannya yang membawa persenjataan untuk membungkam bibirku.
Bukan saatnya hanya melalui ini dengan kecupan ringan. Rasa lapar haus akan nafsu membuat kami semakin agresif. Baik saya dan Lyan, kami berdua sama-sama menyangkal rasionalitas kami untuk mencapai kenikmatan duniawi yang hanya sewaktu-waktu. Kami berdua membiarkan tubuh kami yang memimpin.
Selalu dan selalu hal ini yang akhirnya terjadi jika aku berhadapan dengan Lyan.Nafsuku semakin besar dan satu-satunya cara untuk menghentikannya hanya dengan campur tangan dia.
"Lo lebih nikmat kalau nggak ngerokok," gumamnya dengan suara berat dan seksi.
Aku mengabaikannya dan lebih memilih untuk mengikuti nafsu pembohongku.
Satu hal yang tidak bisa kami sangkal, bahwa kami sangat terikat dengan kehangatan tubuh masing-masing sejak kami pernah menghabiskan malam bersama. Mungkin pikiran kami selalu menyangkal tetapi tidak dengan tubuh kami yang seolah-olah menemukan tempat yang cocok untuk saling mengistirahatkan diri.
Pada hal itu adalah sebuah kesalahan karena seharusnya kami tidak bisa terjebak sampai sejauh ini. Kami pasti, mengumpat, dan saling menjatuhkan, tapi kami akan kembali bersama lagi ketika masalah harus diselesaikan.
***
Saya sendiri juga masih tidak habis pikir kenapa pria Bara sesulit itu untuk melakukannya.Sedangkan saya yang masih awam saja bisa melakukannya dalam sekali percobaan.
Malam ini Lyan tampak berbeda tidak seperti biasanya.Tadi ketika aku sampai di studio miliknya, aku menemukan wanita itu tengah bersenandung dan lebih aneh lagi, dia tersenyum menghadap dan mengabaikan tatapan protes dari Dimas.
Andai saja saya memperhatikan apa yang mereka sayangi, tentunya saya akan mengetahui alasan dibalik sikap anehnya.Hanya saja saya terlalu terpesona dengan tampang ramah yang dia tunjukkan dan itu membuat saya kehilangan informasi.
"Kayaknya si Rumi nyawanya masih merantau," ucap Bara yang berhasil membangun kesadaranku.
Aku mendelik kesal pada Bara karena dia mengintrupsi kegiatanku, "Gue ada di sini elah."
"Gue udah nanya ke lo sampai tiga kali tapi masih belum lo jawab," sungutnya, "ayo berangkat."
__ADS_1
Aku mengerti lalu menatap jamku, "Masih jam 8 sih. Mau kemana emang?"
Dia mengerti putus asa sambil menarik pipinya ke bawah dengan kedua telapak tangannya, "Lo bener-bener nggak nyimak gue ya? Lyan ngundang kita makan malam di gudang jadi kita harus jalan, sekarang."
"Tunggu? Lo bilang apa barusan?"
Lyan menimpali percakapan kami dengan tas yang sudah tersampir di bahunya.
"Nyokap gue lagi masak banyak, makanya gue ngundang kalian semua buat makan malam bersama di rumah gue."
Saya bisa merasakan tatapan penuh kebencian dari Dimas yang terasa membakar punggungku. Saya tidak nyaman dan lagi mengapa wanita itu punya inisiatif untuk mengundang saya secara tiba-tiba. Hari sebelumnya saya tidak bisa mempersiapkan diri.
"Apa gue....Harus datang?"tanyaku ragu.
Lyan mengerutkan alisnya, "Apa lo nggak mau makan sesuatu yang layak meski cuman sekali?"
"Gue bisa masak sendiri. Makasih atas tawarannya," tolakku dan aku bisa mendengar Dimas yang mendengus keras di belakangku.
Sedangkan Bara, pria itu tampak kecewa, "Jangan gitulah Rum. Dia bisa aja ninggalin lo tapi nggak dia lakuin. Jadi please, ayo ikut."
"Gue nggak butuh nasehatin lo," bentakku padanya, dan kalimatku berhasil membuat wajah Bara mengeras, "gue fine sendiri. Bye."
Saya selamat keluar dari studio.Sebenarnya aku tidak mau melawan sekasar itu tapi sikap itu adalah wujud dari pertahanan diri karena aku tidak nyaman berkumpul dengan orang yang tidak akrab denganku.Rutinitas seperti itu mengingatkanku pada sesuatu dan aku tidak ingin mengingatnya lagi.
Aku sudah akan menyalakan motorku ketika tiba-tiba Lyan muncul dan menahanku, "Lo kenapa sih Rum?"
"Lo gue tanya kenapa? Lo itu yang kenapa? Ngapain lo undang gue ke rumah lo? Lo kan benci sama gue?"
"Gue ngundang lo bukan karena rasa benci gue ke lo udah menghilang," katanya sarkastik.
"Kalau gitu maksudnya lo ngundang gue itu apa?"
__ADS_1
Lyan membuka mulutnya namun menutupnya kembali saat dia tidak berhasil mengatakan apa-apa, "Gue juga nggak tahu," jawabnya pada akhirnya sambil mengangkat bahu, "gue cuma mikir suasananya bakal lebih seru kalau gue ngundang kalian semua buat makan malam bareng. Lagian kita udah lumayan akrab beberapa hari ini. Intinya gue cuma mau lo datang."
Gue cuman mau lo datang, kata-kata Lyan bergema di kepalaku. Sejujurnya aku juga menikmati hari-hari yang kami lewati bersama. Apalagi hubungan kami semakin intens karena sudah tidak ada kecanduan lagi untuk saling meminta agar dapat menyalurkan hasrat kami masing-masing.