
Rumi's
Aku sangat suntuk.
Tahu rasanya ketika bibir pahit karena tidak bisa merokok. Atau perasaan ketika seorang wanita tengah mendapat tamu bulanan? Seperti itulah yang aku rasakan saat ini.
Moodku naik turun serta emosi yang gampang terpancing membuatku uring-uringan.
Jangan salah sangka. Aku tidak bermaksud memojokkan para wanita yang moody, karena sebagian besar wanita yang berada di sekitarku mengeluhkan hal yang sama ketika tamu bulanan mereka datang. Berarti hal tersebut termasuk fakta, kan?
Maksudku ... aku mengerti rasa tidak nyamannya ketika perut sakit karena keram yang sulit ditahan. Ditambah lagi ketidakseimbangan hormon yang menjadi pemicunya membuat semua kaum pria menjadi bulan-bulanan.
Kembali ke topik. Rasa suntukku bahkan tidak menghilang meski aku sudah membuat Lyan kesal.
"Lo pulang jam berapa kemarin?" Bara bertanya.
Aku menatap koridur kampus. Biasanya Lyan akan langsung datang padaku saat menjadi objek kejahilanku.
Bara menepuk pelan pundakku menunggu jawaban.
Aku menghela nafas kasar, "Nggak tahu. Kayaknya jam tigaan."
"Lo di rumah Lyan selama itu?" Dia menaikkan sebelah alisnya tidak percaya, "ngapain aja lo?"
Kalimat Bara malah memaksaku mengingat kejadian kemarin. Darahku bergejolak kesal mengingat betapa putus asanya aku kemarin. Lyan benar-benar berhasil menyiksaku dengan pakaian kurang bahan miliknya. Kulitnya yang putih bagai pualam terus menari-nari dalam benakku membuatku ingin mengecup dan memberi banyak tanda merah agar dia tidak sembarangan menggunakan pakaian haram itu di depan pria lain. Sial, aku terpancing hanya karena bayangan itu.
"Nggak usah mikir yang macam-macam. Gue bahkan nggak nyentuh dia sama sekali." Aku berbohong. Tentu saja, bahkan tanganku masih mengingat betapa hangatnya kulit Lyan yang berhasil aku sentuh, "bukan selera gue."
"Mmmmm-mmm okeyyy."
Aku menatap Bara yang tidak tampak puas dengan jawabanku, "Kenapa lo?"
__ADS_1
"She's damn hot and naughty, right?"
"Ngapain lo jawab pertanyaan gue pakai pertanyaan baru?"
"Kenapa lo jadi sensi, ayak cewek aja."
"Emang kalau gitu kayak cewek? Lagian lo tumben banget ngeselin."
Bara menatapku dengan mata polosnya sambil berkedip-kedip manja. Jijik sekali aku melihatnya, "Lo nggak bisa bohongin gue, Rumi Abhimanya."
"Lo ONS dapat tante-tante ya makannya rese."
"Sialan lo. Amit-amit. Ya nggaklah gila."
"Jangan bilang lo Gay. Jauh-jauh dari gue sana!?"
"Si anju, gue nggak suka batangan."
"Tapi semalam lo kan berduaan sama si Dimas. Eh, bentar ... "
What the hell!!!
Otakku belum sempat memproses apa yang terjadi saat Dimas sudah berdiri dihadapanku. Dia menarik kerah kemejaku dan berteriak marah, "Udah gue bilang berkali-kali jangan pernah ganggu Lyan lagi, kan? Lo budeg atau gimana, sih? Apa nggak ngerti bahasa manusia yang baik dan benar?"
"Dim- Dimas, lepasin si Rumi."
Aku melepaskan tangan Dimas dari kerah kemejaku dan sejujurnya aku terpancing emosi dengan tindakan brutalnya. Dia mendorongku sampai aku membentur tembok hingga menimbulkan bunyi berdebum yang kencang. Tapi dia salah, sayangnya aku sudah siap kali ini.
Kulayangkan tinjuanku mengenai perutnya yang membuat cengkramannya terlepas. Dia tersandung dan terjatuh ke tanah bersama dengan Lyan yang tadi mencoba memisahkan Dimas dariku.
Bara mencoba menahanku, tapi aku terlanjur emosi.
__ADS_1
"Loe nantangin gue?" Aku menarik rambut Dimas. Menyeretnya ke lorong dan melemparnya ke dinding. Aku menendang dadanya tanpa ampun.
Bara masih berusaha menahanku tidak membiarkanku membunuh bajingan ini, "bangun lo, nggak mau ngebelain sahabat lo lagi, hah."
Aku sudah bersiap untuk menghajarnya kembali jika saja Lyan tidak ikut campur. Wanita itu menahan kakiku dan menatapku marah. Dia berdiri dan melayangkan tamparannya ke pipiku. Panas menjalar ke sekeliling wajah.
"Lo gila ya? Lo nggak boleh mukul orang kayak gitu."
Bara melepaskanku dia berpikir aku sudah mulai waras kembali. Aku menghela nafas berat menatap penuh emosi ke arah Lyan. Aku ingin menghancurkan tubuh mungil itu dan memberikan tubuhnya untuk makanan anjing. Aku ingin mematahkan semua tulang-tulangnya dengan tanganku sendiri dan aku ingin membuatnya berteriak karena aku menarik rambutnya hingga tercabut dari akar. Aku sangat ingin melakukan hal itu di hadapan orang-orang yang melihat aksi kami.
Aku mencengkram leher Lyan dan mendorongnya ke dinding. Mengunci pergerakannya dengan kencang hingga wajahnya berubah memerah. Orang-orang mulai mundur dan berteriak tidak percaya melihat aksiku. Aku menatap marah ke arahnya. Menunjukkan betapa aku membencinya. Lyana Aara-Belle.
Lyan mencoba memukul tanganku yang mencengkram kuat lehernya. Bara segera menarikku menjauh dari Lyan dengan kekuatannya. Dimas yang sebelumnya kaget karena aku berani menghajarnya hingga babak belur sudah tersadar dan menempatkan diri di antara aku dan Lyan.
"Rum. Kita pergi dari sini." Bara mencoba menarikku pergi. Tapi aku masih enggan karena mereka sudah berani-beraninya mengangguku.
Dimas masih memiliki keberanian yang tersisa. Dia menunjukku dan berkata, "Kalau lo berani ngulangin kejadian semalem gua nggak bakal segan lagi buat jeblosin lo ke penjara karena pelecehan seksual. Jauh-jauh lo dari Lyan. Gue tahu apa yang loemau dari dia dan gue bakal mastiin lo nggak bakal dapatin hal itu. Dia bukan mainan lo yang bisa lo rusakin sesuka hati lo. Ini peringatan pertama dan terakhir gue ke lo dan gue harap kita nggak bakal berhubungan lagi. Selamanya." Dia menggenggam tangan Lyan yang tampak bergetar dengan mata yang tampak memerah karena tangis.
Aku tidak peduli dengan apa yang aku lakukan sampai aku melihat hasil dari tindakanku. Darah bercecer di dinding. Dari mulut Dimas keluar darah dan dia terjatuh tidak sadarkan diri.
Lyan berteriak histeris melihat sahabatnya tumbang.
Bara menarikku menjauh.
Berantakan ...
Bukan ini yang aku harapkan.
Sepanjang waktu mataku terus menatap Lyan yang masih menangis mendampingi Dimas masuk ke dalam ambulance. Di sisi lain aku memikirkan kalimat Dimas yang memukulku telak. Aku tahu aku sangat keterlaluan.
Tidak ada percakapan yang terjalin antara aku dan Bara. Kami sama-sama terdiam. Ini bukan kali pertama aku menghajar seseorang tapi ini kali pertama aku menghajar orang sampai luka sebegitu parahnya. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku seemosi ini. Padahal Dimas tadi tidak memukulku, bahkan dorongannya tidak bisa disebut keras meski suara yang dihasilkan tadi cukup kencang.
__ADS_1
That damn situation makes everyting is bad. Tidak pernah aku merasa semenyedihkan ini. Dan hal ini benar-benar mengangguku. Semua pikiranku berkecambuk.
"Lo kenapa, Rum. Nggak biasanya lo seemosi ini. Gue tahu kalian berdua sering konflik. Biasanya juga lo ngadepin Dimas pake kepala dingin. Hari ini kayak bukan diri lo yang biasa."