
Rumi Pov
Lyan masih saja mengomel soal kebiasaan burukku yang malah semakin membuatku pusing. Dengan cepat aku menarik dagunya dan mengecupnya agar mulutnya diam dan tidak berbicara lagi.
"Lo udah mulai candu ya sama bibir gue?"
"Menurut lo? Lo itu berisik."
Alunan musik beat yang semakin kencang membuat tatapan Lyan berubah. Wanita itu memandangku intens sambil menyembunyikan senyuman licik yang tidak aku ketahui apa makna dibaliknya.
Dia mendekat. Menempelkan tubuhnya erat dan mulai ikut menari. Dan sialnya dia sengaja meniup leherku dan menggigit cuping telingaku sambil sedikit mendesah.
Aroma parfum dan keringatnya menguar menjadi satu, tapi itu tidak menggangguku sama sekali. Aku diam hanya ingin menyaksikan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Bibirnya mulai beralih setelah puas membuat kissmark di leherku. Dia menyesap bibirku penuh nafsu sesekali menggigitnya pelan.
Aku tidak lagi menahan diri karena tindakan yang semakin liar. Menjelajah tubuhnya menjadi pilihan terbaik. Aku tertawa kemudian mencubit lembut telinganya untuk terakhir kalinya dan beralih mengusap pinggangnya.
Dia menampar pipiku karena aku memuntahkan tawaku setelah melihat tingkahnya. Dia juga menatapku tajam menyuruhku untuk segera tutup mulut.
"Apa gue harus berterima kasih karena lo udah mau stay di sini?" tanyanya dengan suara terengah.
Aku menatap tidak percaya ke arahnya, "Buat apa?"
"Biar lo bisa lihat gue dengan presepsi berbeda."
"Nggak ngaruh karena gue tetap benci sama lo. Ingat, kan?"
Lyan menghela nafas lega, "Bagus kalau gitu. Gue juga nggak pintar berterima kasih ke orang."
"Lo terlalu dingin ke orang dan ngebuat semua orang segan ke lo."
__ADS_1
"Iya. Beda sama lo yang berjiwa sosial tinggi," ejeknya. Tubuh kami masih bergoyang mengikuti alunan musik. Meski aku penari yang buruk tapi hebatnya aku berhasil untuk tidak menginjak kaki Lyan dan mempermalukan diriku sendiri.
"Harusnya lo juga pintar goyang," serunya.
"Thanks buat sarannya, tapi gue nggak mau punya hobi yang sama kayak lo."
"Rumi, go kill yourself now."
Aku menatapnya datar, "Alkohol buat lo tambah sarkastik ya, Lyn."
"Gue nggak mabuk sedikitpun."
"Haruskah gue ucapin selamat."
"Sebenarnya," Lyan berhenti bergoyang sejenak dan kemudian berbalik membelakangiku. Dia menekan punggungnya erat-erat ke dadaku, "gue jauh lebih hot kalau gue mabuk."
Aku tersenyum mengetahui jika Lyan memikirkan hal yang sama sepertiku. Aku memeluknya dari belakang dan mengunci tubuhnya dengan lenganku.
"Tapi gue lebih suka lihat lo sadar waktu gue kasih service ke lo daripada lo mabuk," bisikku ke telinganya, "jadi lo bisa selalu ingat service hebat dari gue waktu lo mau main sama orang lain."
Aku mulai kembali menciumi lehernya. Lyan dengan patuh memberi akses lebih padaku.
Aku mulai mencium lehernya, dan Lyan dengan patuh membiarkan akses padaku untuk mengecup semua bangiannya. Belahan dadanya terlihat indah, jadi aku memberikan ciuman juga di sana. Dia mengerang dalam dekapanku dan menyelipkan jarinya ke rambutku karena menikmati service panas yang kuberikan.
"Jadi kapan kita selesain apa yang udah kita mulai?" Lyan menghela nafas sambil menangkup wajahku dari samping.
Aku menekan hidungku ke pipinya, menikmati sensasi yang makin membuatku menggila, "kapan aja lo minta bakal gue lakuin," kataku padanya.
Aku merasakan dia juga tersenyum dan menelengkan kepalanya sedikit, "Sebelumnya lo harus jawab pertanyaan gue. Lo harus tebak mana yang benar dan mana yang salah, oke?"
Sebenarnya aku tidak harus menuruti semua keinginanya. Tapi melihat wajahnya yang memerah dan juga nafasnya yang sudah tidak teratur membuatku tertantang. Aku menggumam sebagai jawaban sambil mencium lehernya terus-menerus.
__ADS_1
Dia ragu-ragu sebelum berbicara, "Yang pertama gue pernah bungee jumping. Dan yang kedua seorang Rumi harus bisa tebak apa yang gue pikirin."
what???
Aku belum sepenuhnya sadar dari kekagetanku karena kalimatnya saat musik berhenti dan suara MC terdengar di seluruh ruangan. Pengumuman hasil akhir dari kompetisi.
Lyan melepas paksa dekapanku dan mendorong lenganku menjauh dengan penuh semangat, "Akhirnya! Ayo kita juga ke sana." Dia sudah melangkah duluan meninggalkanku yang sudah berada di kondisi tanggung.
Aku terpaksa menelan semua hasratku dan mengikutinya. Memang apa yang bisa aku lakukan? Mencari pengganti tentu saja tidak bisa saat nafsuku sudah tertuju pada seorang Lyan.
Mereka mulai mengumumkan pemenang ketiga dan kedua. Ada jeda keheningan saat pemenang pertama akan diumumkan. Aku melihat Lyan yang menatap MC penuh harap. Dia merasakan tatapan dariku dan menatapku dengan senyuman tipis. Aku membalas senyumannya sambil menyelipkan tanganku ke tanganya.
"Pemenang semi final hari ini akan menerima tiga penghargaan dan juga akan maju ke babak final. Pemenangnya adalah.... Selamat untuk Lyana Aara Belle."
"Damn! Gue menang!" Lyan melompat seperti dia berada di trampolin karena berita kemenangannya. Entaha dia sadar atau tidak, tiba-tiba dia memelukki, "i did it. I'm win."
Kegembiraannya ikut menular padaku, membuatku tersenyum dan membalas pelukannya. Aku sampai harus menahan diri agar tidak ikut melompat-lompat sepetinya.
Saat pelukan kami terlepas, semua orang sudah mengerumuni kami dan memberi selamat pada Lyan. Dia menikmati moment ini. Terlihat dari senyumannya yang sangat cerah, senyum yang belum pernah aku lihat. Bahkan dia sempat menggoda dua orang pasangan yang memberikan selamat padanya.
Aku menarik pinggangnya saat dia sedang mengobrol dengan salah satu pria. Lyan mengalihkan perhatiannya kembali padaku, "Selamat," bisikku.
Lyan tertawa, "Terima kasih. Sejujurnya gue gugup dan nggak yakin kalau gue bakal menang."
"But you did it, you doing well," ucapku sambil mengusap kepalanya lembut, "mau pulang sekarang?" tanyaku.
"Iya. Gue udah nggak betah pakai baju basah," ucapnya setuju, "tapi gue harus ambil cek hadiahnya dulu baru kita pulang."
Aku mengangguk dan dengan cepat dia menghilang dibalik kerumunan dan meninggalkanku sendiri di tengah kerumuan manusia. Seorang gadis menepuk pelan pundakku dan mengajakku menghabiskan malam bersama tapi sayangnya dia tidak semenggoda Lyan meski sudah mengenakan pakaian yang hampir menbuatnya telanjang. Aku tersenyum menolak dan langsung meninggalkanya. Tidak tertarik untuk mengobrol meski sebentar.
Setelah berjuang keluar dari lautan manusia akhirnya aku dapat menghirup udara bebas. Lyan sudah di luar, menungguku dengan senyuman manisnya. Tanpa berbasa-basi lagi dia menarikku menjauh dari klub.
__ADS_1