Salah Gaul

Salah Gaul
Twenty one


__ADS_3

Mungkin tidak ada salahnya jika aku datang ke sana untuk makan malam bersama.


"Oke," kataku padanya sambil menghembuskan nafas pakan. Entah kenapa aku merasa gugup tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, "kalau itu yang lo mau gue bakalan datang."


Lyan tersenyum dia menoleh ke belakang untuk menatap sekitarnya. Setelah merasa aman dia langsung menghamburkan diri untuk masuk ke dalam dekapanku. Dia juga meraih wajahku dan menciumiku dengan tergesa. Mungkin wanita ini takut akan dipergoki oleh Dimas dan Bara karena mereka berdua bisa keluar kapan saja dari studio. Aku membalas kecupan nya sampai akhirnya menarik diri karena tidak mungkin kami berpangutan lidah lama di luaran sini.


Lyan menatapku kesal dan aku terkekeh, "Kenapa?" tanyaku menantang. Dia membalaskan dengan memutarkan matanya kesal dan langsung menaiki motorku tanpa berbicara sepatah katapun.


"Gue harap lo ingat jalan ke rumah gue," sungutnya.


Aku hanya menggelengkan kepala karena tingkahnya dan ikut menaiki motor bersamaan dengan Dimas dan Bara yang baru saja keluar dari studio. Keduanya menatap kami heran tapi yang membuatku senang adalah, tatapan Dimas yang seolah siap untuk menerkamku karena kini Lyan sudah memelukku erat dan bersiap untuk meninggalkan tempat ini.


Aku menikmati pemandangan ini. Dimas sudah melangkah maju sambil mengepalkan tangannya dan ketika kami hanya berjarak tinggal beberapa langkah, aku langsung menjalankan motorku meninggalkan dia dengan umpatan kasar yang keluar dari bibirnya.


"Jangan berantem di rumah gue," peringat Lyan begitu kami sampai. Dia bahkan tidak membiarkan kami masuk ke dalam teras sampai Kemi mengangguk, "terutama buat lo berdua," tunjuknya padaku dan Dimas.


Kami saling menatap sebelum akhirnya sama-sama memalingkan wajah. Aku tidak banyak protes karena hari ini aku berhasil membuat pria itu kesal dan Lyan pun tidak menghentikan aksiku, tapi berbeda dengan Dimas. Pria itu sudah akan protes tapi langsung ditahan karena mendapat tatapan tajam dari wanita itu.


"Iya," jawabku dan Dimas bersamaan.


"Oke kalau gitu," serunya ceria dengan sambil bertepuk tangan, "kalian boleh masuk."


Bara tersenyum padaku sebelum mengajakku masuk. Dia tahu perasaan tidak nyaman yang aku rasakan. Bodohnya aku karena membentak pria ini tadi, "Sorry," ucapku pelan.


Dia terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, "Nggak masalah. Gue jadi sahabat lo nggak baru dan gue juga tahu lo nggak serius pas marah tadi."


Responnya membuatku tenang dan semakin membantu menghilangkan kegugupanku. Aku kembali berjalan masuk menikmati suasana dan pemandangan yang familiar untukku. Saat aku dan Bara semakin masuk, kami mendengar suara dari arah dapur. Jadi aku dan dia memutuskan untuk datang ke sana.


Saat kami tiba di sana, aku melihat pemandangan dimana Mamanya Lyan tengah menyiapkan meja makan sambil terus mengobrol dengan Dimas. Tampaknya dia menyadari kehadiran orang lain di situ dan langung mendongakkan kepalanya untuk menatap ke arahku dna Bara.


Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan Mamanya Lyan. Kami sudah sering bertemu sejak zaman sekolah dan tentu saja itu pertemuan yang tidak wajar karena kami sering bertemu di rumah sakit kalau tidak di ruang kepala sekolah.


Kejadian pertama itu saat aku mengejarnya menggunakan sepeda dan pada akhirnya aku kehilangan keseimbanganku sampai aku menabraknya dan menyebabkan dia jatuh dan terbentuk trotoar. Saat itu lukanya cukup parah karena pelipisnya sobek. Aku yang khawatir langsung membawanya ke rumah sakit, karena koneksi milik Papa sangat luar biasa aku jadi bisa mendapatkan penangan darurat lebih awal karena itu.

__ADS_1


Saat Mamanya Lyan dan Dimas datang ke rumah sakit, aku kira itu akan menjadi hari dimana aku mendapatkan amukan dari Mamanya, tapi yang terjadi selanjutnya di luar perkiraanku. Mamanya Luan malah mengucapkan terima kasih tanpa adanya amarah dan umpatan, bahkan wanita paruh baya itu sempat-sempatnya tersenyum hangat padaku. Senyum itulah yang membuatku sampai harus menahan diri untuk tidak membunuh Lyan.


"Jadi kamu benar-benar dipaksa Luan buat datang?!" serunya sambil melangkah ke arahku dan memberikan pelukan hangatnya. Dia bahkan tersenyum lembut, "udah lama ya kita nggak ketemu. Gimana kabar kamu Rumi?"


Aku membalas sapaannya dengan senyuman lembut juga. Hal yang sangat jarang aku lakukan, "Baik Tante dan Rumi masih benci sama anak Tante," ucapku. Bara mendelik ngeri mendengar jawabanku, tapi sayangnya wanita ini sudah sangat paham dengan apa yang terjadi di anatar kami.


Dia hanya tertawa dan meminta aku dan Bara untuk duduk. Aku duduk di samping Bara yang duduk tepat dan i depan Dimas. Mereka bertiga sudah terlarut ke dalam obrolan seru sedangkan aku masih terus melirik ke dalam menunggu kehadiran Lyan.


Wanita itu akhirnya datang. Dia mengenakan piyama bergambar kartun dan mengedipkan matanya padaku saat memergokiku masih terus memandangnya. Lyan duduk tepat di seberangku.


Makan malam hari ini sangat luar biasa meski awalnya aku menolak untuk datang. Masakan Mamanya Lyan tidak ada duanya dan aku merasa bahagia karena berkesempatan untuk merasakan masakan tersebut, hanya saja aku harus menahan diri mati-matian untuk tidak mengeluarkan ******* karena tingkah Lyan. Wanita itu terlalu liar sampai aku sulit untuk menolak kenikmatan yang dia berikan.


Saat makan malam berlangsung, dia sengaja menggodaku dan membuatku tersedak. Semua irnag yang ada di meja makan menatapku dengan tatapan heran kecuali wanita itu. Aku sampai harus menatapnya tajam agar menghentikan aksinya tapi tidak di hiraukannya.


Semua orang bisa menikmati makanan mereka dengan nyaman kecuali aku dan itu karena Lyan yang memasang tampang polos tapi kelakuan ya berbanding terbalik. Aku sampai harus berkali-kali memegang erat garpuku.


Aku menurunkan tanganku untuk meraih kakinya yang nakal tapi tidak berhasil karena dia lebih dulu menghindarinya, bahkan dia sempat-sempatnya meleletkan lidahnya untuk mengejekku.


Makan malam berakhir tanpa masalah dan aku sangat berterima kasih pada Tante Linda karena dia membuat Lyan sibuk menjawab banyak pertanyaan darinya.


"Nggak Tante. Saya harus pulang ke asrama sebelum tengah malam karena saya izinnya buat latihan," ucap Bara.


Tante Linda tersenyum hangat, "Iya nggak apa-apa. Padahal kalau mau nginap di sini juga nggak masalah. Tante tahu pasti berat banget ya latihan sama Lyan. Dia itu cerewet banget soalnya.


"Mah..." rajuk Lyan. Aku tidak tahu jika dia bisa menampilkan wajah menggemaskan seperti itu. Biasanya dia hanya menampilkan raut garang di depanku.


"Kenapa? Kan emang benar."


"Iya. Tapi nggak usah diperjelas. Kesannya Lyan jadi kayak orang yang suka eksploitasi partner Lyan."


"Nggak masalah Tante. Lyan semangat banget say jadi ikutan kebawa suasana karena dia," ujar Bara tampak santai.


"Thanks Bar. Lo emang the best," kata Lyan sambil menyodorkan jempolnya, "Ma boleh minta tolong nggak buat bantuin pilihin film sama Dimas di depan? Lyan nggak pernah cocok sama pilihan dia soalnya."

__ADS_1


Tante Linda mengangguk mengiyakan tapi dia tidak langsung pergi dan memilih untuk mengobrol terlebih dahulu denganku.


"Gimana makan malamnya, Rumi?"


Lyan tersenyum mengejek di belakang Tante Linda dan itu membuatku kesal, "Enak Tante. Terima Kasih."


"Tahun ini kamu belum bawa Lyan ke rumah sakit, kan? Kenapa? Kok tumben?"


"Rumah sakit udah bukan levelnya Lyan sekarang Tante. Jadi Rumi mutusin buat lakuin hal yang lebih ekstrim lagi sekarang," kataku.


Tante Linda terkekeh, "Tante percaya Lyan bisa jaga dirinya sendiri. Apalagi sekarang kalian udah akrab."


"Ma cepetan. Dimas udah hampir selesai milih."


"Iya sebentar! Tante ke depan dulu ya Rumi," pamitnya dan segera menghilang ke depan. Aku membalasnya dengan lambaian tangan.


Untuk sejenak kami bertiga hanya saling pandang sampai Bara tiba-tiba menepuk tangannya, "Kalau gitu gue tunggu di luar. Lo selesain urusan lo. Habis itu kita cabut," tunjuknya padaku.


Dia benar-benar pergi dan meninggalkanku hanya tinggal berdua dengan Lyan.


"Peka banget teman lo." Dia tertawa tapi aku hanya diam karena aku masih kesal kejadian tadi.


"Karena emang udah nggak ada urusan lagi di sini."


"Yakin???" Dia semakin mendekat dan membuatku pusing.


"Sekarang gue tahu alasan lo ngajak gue makan malam bareng di sini," dengusku.


"Soalnya lo jarang berinteraksi sama orang lain selain cewek, jadi gue pengen lihat lu ngobrol sama nyokap gue," ucapnya masih sambil menyentuh titik sensitifku.


Aku mau hapus jarak diantara kami dan menariknya mendekat, "Lo nantangin gue? Gue bakal terima tantangan lo dan buat nyokap sama sahabat lo dengar lo ngedesah karena service dari gue."


"Lo pikir gue takut dan bakal diam aja. Gue juga bakal buat celana lo basah."

__ADS_1


"Brengsek," umpatku kesal.


__ADS_2