Salah Gaul

Salah Gaul
Thirty Five


__ADS_3

Lyan's Pov


"Lo harusnya bawa dia ngejauh dari rumah gue!"


"Ssst, dia masih bisa dengar lo!" Bara melihat ke belakang dengan ragu sebelum melangkah mendekatiku. Aku mendorong pintu rumahnya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, "lagian gue mana tahu kalau lo sampai butuh 12 jam untuk buat kue ulang tahun?!"


Aku menatap Bara sambil memperbaiki letak kue di tanganku, "Ada hal yang tidak terduga tadi," cetusku tidak peduli.


Tadi aku memang sangat pusing untuk memutuskan kue bentuk apa yang akan kubuat. Lalu, aku juga menggosongkan tiga percobaan pertama hingga membuat semua bahan habis dan aku juga harus keluar untuk membeli bahan yang baru. Dan yang paling aku sesali adalah, ketika percobaanku berhasil, aku malah memakannya hingga habis, yang berarti aku harus membuatnya kembali.


Bara tersenyum muram, "Dia kayaknya benar-benar kesal. Gue pasti butuh tenaga ekstra biar dia nggak hancurin semua perabotan rumah."


Aku meringis mendengar kata-katanya. Ada rasa tidak enak dan takut yang menyerangku secara bersamaan, "Dia pasti akan baik-baik aja kalau gue jelasin nanti."


"Oh, sayangnya tidak semudah itu!" Bara terkekeh jahil, "dia bakal baik-baik aja kalau lihat lo pakai lingerie." Bara bahkan sampai bersiul pelan untuk menjahiliku, "lo pasti kelihatan seksi. ugh, gue padahal berharap kalau ini birthday party gue dengan lo sebagai hadiahnya."


Aku memalingkan wajahku dengan perasaan campur aduk. Tuhan, maafkan jika aku terlahir sebagai wanita gatal. Mau bagaimana lagi, aku hidup dikelilingi oleh ciptaanMu yang sangat amat luar biasa. Dan lagi, kenapa si bodoh Rumi itu malah bercerita soal hubungan rumit yang kami jalani? Harusnya sesuai kesepakatan, dia tetap menutup mulutnya apapun yang terjadi.


Bara tampak melihat keraguanku karena setelahnya dia mengecup pelan pipiku, "Nggak usah khawatir, gue nggak ada niat buat menghakimi salah satu dari kalian." Dia berbalik untuk pergi, tampaknya dia sangat lelah karena kini tengah merebahkan diri ke sofa, "tapi kalau lo butuh, gue siap ikut threesome..."


"Shut up!" kataku sambil melempar kain lap yang kupegang padanya. Bara mengedipkan matanya lagi sambil melangkah pergi, "Mau kemana lagi lo? Telat sedikit lo nggak bisa masuk asrama?"


"Cuma mau pergi ke satu-satunya tempat yang gue tahu," jawabnya sambil tetap melangkah pergi.


Aku menghembuskan napas dengan gemetar. Aku melangkah kembali semakin masuk ke dalam rumah Rumi sambil dengan diam-diam menutup pintu dengan ujung tumitku. Hanya keheningan yang mencekik yang menyambut ku meski aku tahu Rumi sebenarnya ada di rumah. Pria itu pasti tengah merajuk di kamarnya.


"Semoga berhasil, Lyn." Aku mencoba menyemangati diriku sendiri.


Dua menit lagi sebelum tengah malam.


Aku berjingkat ke seberang ruangan untuk mencari Rumi. aku mencoba mengelili ruangan sambil mengernyitkan dahi, tapi aku tidak menemukan sosok pria itu di manapun. Aku menghela napas pelan dan memutuskan untuk menaiki tangga menuju lantai kedua untuk mencari Rumi. Detak jantungku semakin meningkat setiap langkah kakiku menaiki tangga.


Kamar milik Rumi kosong yang menandakan pria itu juga tidak ada di sana. Kali ini, aku semakin merasa sulit bernapas dengan benar. Hawa dingin yang mengelilingi ruangan membuatku bergidik, aku memang sudah mengganti pakaianku dengan lingeri yang  tadi dan harus aku akui, menggunakan pakaian ini malah membuatku sedikit panas.


This going me crazy.


Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa ketika aku mulai memasuki kamar Rumi lagi dan menemukan pria itu ada di balkon. Aku menghela napas pelan sebelum mendekat.


"Selamat ulang tahun, Rumi."

__ADS_1


Detik menunggu respin dari dia membuat suasana sekitar menjadi mencekam. Rumi membalikkan tubuhnya dan dia sedikit terpaku melihat kehadiranku. Tatapan bingungnya tidak hilang dari matanya.


Pikiran nakalku membuatku berani untuk mengenakan lingeri yang minim dan itu tampaknya berhasil memancing nafsu milik Rumi. Setelah menemukan keberadaanku, dia mulai menjelajahi tubuhku layaknya aku adalah hidangan terakhir yang memang dipersiapkan untuk dinikmati.


Mata Rumi mengedip sebelum akhirnya dia mengeluarkan suaranya. "Lo ngapain di sini?"


Aku tersenyum melihat dia yang tampak salah tingkah. "Bara bilang kalau lo nggak ngerayain brithday lo sendiri. Jadi gue ke sini khusus buat rayain berdua sama lo. Gue juga udah siapin cake buat lo."


Aku memang menyiapkan ini tapi dengan bantuan orang lain.


"Lo ngapain di sini?" Rumi bertanya dengan nada tajam. Tidak ada tatapan lapar itu lagi yang ada hanya tatapan yang enggan untuk melihatku.


Aku menggigit bibirku karena gugup. Sialan, aku belum pernah segugup ini sebelumnya dan sekarang menjadi gugup hanya karena pria ini. Belum lagi lenganku hampir mati rasa karena sudah terlalu lama memegang cake ini.


"Lo marah soal tadi? Cowok yang lo lihat itu tetangga gue," kataku mulai menjelaskan. Aku tahu dia sangat marah tadi dan ekspresinya benar-benar berubah sekarang.


"Gue gagal pas mau buat cake untuk lo dan itu udah hampir lima kali. Jadi gue sengaja panggil tetangga gue yang punya toko roti buay batuin. Ya nggak mungkin dong gue jelasin ke lo tadi karena surprise dari gue bisa gagal kalau lo sampai tahu!"


"Terus kenapa dia nggak pakai baju?"


"Gue ngelempar cokelat ganace ke bajunya," kataku lagi.


Rumi tidak bereaksi dan itu malah membuat suasana semakin mencekam. "Dia udah punya tunangan, Rumi dan mereka bakal menikah bulan depan," lanjutku mencoba lagi untuk meyakinkannya. "Jadi lo nggak usah mikir yang aneh-aneh."


Aku menghela napas panjang dan membuangnya perlahan untuj membantu mengusir emosi. Menghadapi pria ini harus benar-benar butuh kesabaran ekstra yang sebelumnya tidak pernah aku miliki.


"Nggak, Rumi. Kan perjanjiannya gue cuma boleh tidur sama lo. Ingat!"


Kali ini ekspresi wajahnya benar-benar berubah. Rumi tersenyum dan kecurigaanya juga lenyap bagai uap.


Aku melangkah mendekatinya dan berhenti tepat di depannya. Aku tersenyum selebar mungkin dan dibalas senyuman juga oleh pria itu.


"Happy brithday, Rumi Abhimaya. Gue harap lo bisa selalu happy."


Aku bersumpah aku melihat pria itu tersipu dalam kegelapan. "Thanks, Lyn." katanya dengan suara paling tulus yang baru pertama kali aku dengar. Aku juga ikut tersipu seolah aku tengah merayakan surprise untuk pria yang aku suka.


"Jadi, gimana caranya buat potong ini kue?"


Aku menyerahkan pisau plastik kecil padanya. "Lo harus make a wish sebelum tiup lilin," kataku.

__ADS_1


Rumi memgangguk sambil terkekeh. Aku masih memegang cake di depannya dan aku juga melihat dia meniup lilin. "Happy brithday to you...." Aku bernyanyi dan itu berhasil membuat Rumi tersipu.


Wajahnya benar-benar berubah memerah dan tampak menggemaskan ketika aku melihat dia memotong sepotong kecil kue dan memakannya sendiri. Kenapa dia bisa seperti itu. Aju jadi tidak rela untuk melepaskannya.


"Enak." Dia mengacukan jempolnya sambul mengunyah. Aku memutuskan untuk meletakkan cakenya ke atas meja dan Rumi dengan segera mendekatiku sambil memotong kembali cake tersebut.


Dia memberikan bagian itu padaku. Tatapan matanya tampak menyala dan dipenuhi degan nafsu yang tersembunyi. "Hm, enak banget..." gumamku pada diriku sendiri. Lalu dengan sengaja menghisap sisa cokelat dari jari tangan Rumi.


Kami berdua tahu apa yang kami inginkan. Apa yang kami dambakan. Apa yang pada akhirnya akan kami lakukan setiap kali kami bersama. Ini bukan hanya perasaan yang kami rasakan. Hampir semua pasangan pasti pernah merasakan hal yang sama.


Rumi melangkah mendekat, napasnya mengenai wajahku. "Ada coklat di bibir lo."


Karena malu, aku buru-buru menyeka bibirku, membuat Theo mengerucutkan bibirnya. Dia menatapku sebelum mencelupkan jarinya ke lapisan gula kue dan perlahan menggosok ujung jarinya yang tertutup cokelat di sepanjang bibir bawahku.


Alih-alih menyeka nodanya, aku malah menunggu dengan gugup saat Rumi tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan menjilatnya langsung dari bibirku yang kering. Sedetik kemudian, dia menyatukan bibirku dengan bibirnya.


Aku menyeringai dan menarik Rumi lagi agar ciuman kami semakin dalam.


"Mana hadiah gue?" Dia bergumam setelah beberapa saat.


Aku menggigil sendiri mendengar suara deepnya yang menggoda. Bahkan aku juga sampai kesulitan bernapas dan gugup karena pria itu.


"Gue," bisikku.


Rumi mengerang lalu merayapkan tangannya ke seluruh tubuhku. Dia berdesis sebelum berkata. "Jadi gue dapatin lo sebagai gift?" Dia menggigit cuping telingaku dan berhasil membuat darahku berdesir. "Berarti, gue bisa jikmatin semuanya?"


"Iya," jawabku. "Tapi jangan pernah punya pikiran buat jadiin gue ****."


Rumi langsung menyipitkan matanya saat dia mulai menatapku lekat. Dia bagai hewan buas yang akan memangsa. "Gue nggak segila itu buat jadiin lo **** gue."


"Dan gue nggak terlahir dari bajingan yang doyan *** bebas sama banyak cewek," lanjutnya lagi sambil mendorongku hingga membentur ke dinding.


Pria itu terus-terusan menggodaku dan berhasil membuatku hampir kehilangan kewarasanku.


"Karena ini brithday gue, lo bisa jadi penurut, kan?" tanyanya. Masih dengan jari yang menjelajah tubuhku.


"Brengsek lo," umpatku.


Dia terkekeh.

__ADS_1


"Sentuh diri lo sendiri, Lyn. Di depan gue."


"Apa?!" Aku berteriak lagi, kali ini lebih karena malu. "Gila ya lo. Gue nggak mau."


__ADS_2