Salah Gaul

Salah Gaul
Thirty Two


__ADS_3

Aku berbalik untuk melihat apa yang dilakukan pria itu. Dia datang telat dan sekarang malah tengah mengobrol asyik dengan salah satu mahasiswi. Apa dia gila? Dan lagi kenapa dosen pengampu tidak menegur. Konspirasi macam apa ini?


Aku sangat kesal dan merasa apa yabg terjadi hari ini adalah ketidakadilan. Aku adalah wanita yang menghabiskan malam panas dengannya tapi kenapa malah gadis lain yang dia ajak mengobrol. Ugh, bahkan aku tidak tahu logika aneh macam apa yang tiba-tiba menguasai diriku. Dan kenapa pula aku harus merasa cemburu? Apa yang Rumi lakukan bukan berarti dia akan mengajak wanita itu berkencan dan berakhir dengan membuangku, kan? Tidak. Tidak. Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi.


"Lyana! Apa anda membutuhkan kertas baru?" terdengar suara Pak Doni yang menegur tepat di sampingku. Aku terlonjak dan setelahnya mengerjapkan mata sambil menatap kertas milikku sendiri. Aku merasa ngeri karena kertas itu sudah tercoret hingga tidak menyisakan tempat. Emosi benar-benar membuatku tidak terkendali.


Dan kini, semua orang tengah menatapku, yang berarti Rumi juga melakukan hal itu."Ah, um... Maaf Pak, saya mau izin hari ini. Tiba-tiba saya merasa nggak enak badan," izinku.


"Oke. Kamu bisa pulang."


"Terima kasih, Pak."


Untungnya dosen hari ini sangat baik dan aku segera meraih tasku dan melangkah keluar meninggalkan kelas.


Aku berlari keluar dari kelas dengan kecepatan tinggi. Aku meruntuki kebodohanku yang sempat berharap Rumi mengikutiku keluar, tapi untungnya aku bisa merubah ekspresi wajahku secepat mungkin.


Aku memutuskan untuk singgah ke toilet wanita. Aku menendang pintu kamar mandi dan menyerbu masuk. Refleks yang tadi aku lakukan benar-benar membuatku malu. Wajahku sekarang juga tampak memerah, jangan bilang itu karena aku cemburu. Aku menyalakan keran dan membasuh wajahku, "Tenang, Lyn!" Aku bergumam sendiri berulang-ulang kali. Aku menyeka lagi wajahku hingga bersih. Menghilangkan semua bekas eyeliner dan maskara yang tercoreng.


"****!" umpatku lagi. Aku mengaduk-aduk isi tasku untuk mencari peralatan make upku. Aku mulai mengoleskan pelembab ke seluruh wajah sambil mulai berbicara sendiri, "Kalian bahkan cuma teman yang nggak bisa disebut teman. Dia itu punya hak buat ngobrol dan tertawa sama cewek lain. Lo nggak seharusnya uring-uringan nggak jelas kayak gini, Lyn." Aku mulai mengusapkan lipstik di bibirku, "jangan salah paham!"


Aku menghabiskan jam kuliahku hampir seluruhnya di kamar mandi. Saat jam telah berganti, aku dapat mendengar suara hiruk pikuk para mahasiswa di luaran sana. Aku buru-buru menyelesaikan kegiatanku dan mulai mengepak kembali barangku ke dalam tas sebelum keluar dengan pikiran yang sudah lebih jernih.


"Dimas!" Aku mulai berlari ke arah Dimas yang sedang memunggungiku. Dia berbalik begitu namanya dipanggil dan ternyata .... Dia sedang berbicara dengan Bara.


Pemandangan itu benar-benar terasa seperti sebuah pukulan bagi dadaku. Bara awalnya tampak biasa saja, tapi kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi kesal. Dimas sendiri tampak bingung dengan situasi ini. Dia seolah terjepit.


Kesabaranku juga seolah sedang diuji. Aku langsung melangkah maju kedua orang itu. Bara sepertinya sudah akan pergi, tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk tetap tinggal. Aku mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan tajam yang kupunya.


"Kalau lo punya sesuatu buat dibicarakan sama gue, please langsung to the point'." Aku membentaknya, "jangan ganggu sahabat gue. Dia nggak bersalah."


Bara menyeringai, "Lo yakin gue lagi ganggu Dimas?"


"Iya!" aku mendesis padanya. Dimas menggumamkan sesuatu sebelum meletakkan tangannya di pundakku, mencoba menenangkanku.


"Dimas itu sahabat gue. Lo punya sahabat sendiri, kan? Kenapa lo nggak ganggu dia aja."


"Lo ngapain, sih? Ini nggak kayak yang lo kira."


Bara menegakkan tubuhnya yang sontak membuat Dimas menghentikan apa pun yang dia katakan. Tatapannya beralih ke arah Dimas selama beberapa detik sebelum kemudian beralih lagi padaku, "Gue ingin minta maaf buat malam itu," katanya pelan. Aku dapat merasakan bumi di bawahku kakiku sedikit berguncang, "gue benar-benar marah dan gue tahu lo juga marah waktu itu. Gue siap terima konsekuensinya kalau emang itu yang lo mau."


Aku menjejakkan pijakan kakiku dan hampir oleng karena euforia bahagia.


"Nggak adil!" Aku menatapnya sebelum melanjutkan kalimatku, "harusnya gue yang minta maaf ke lo. Sorry Bara. Gue udah kelewatan kemarin. Gue bakal instrospeksi diri sekarang." Akuku.


Bara dan Dimas sama-sama menertawakanku. Pipiku menjadi hangat karena cekikikan mereka dan tatapan jahil yang mereka layangkan padaku, "Gue baru tahu kalau Lyana Aarabella bisa minta maaf. Apa gue mesti kasih tahu Rumi juga?" ucapnya dengan seringai jahil.

__ADS_1


Beban di hatiku terangkat. Aku langsung menerjang Bara dan memeluk leher pria itu erat, "Maafin gue. Harusnya gue sadar diri, tanpa adanya lo gue nggak mungkin bisa ikut acara kemarin dan parahnya, gue malah jadi manusia brengsek yang nggak mau ngertiin Lo."


"Gue juga minta maaf karena udah teriak ke lo. Tapi gue nggak benar-benar -"


"Itu yang buat gue semakin merasa bersalah sama Lo. Lo cowok baik, kalau sampai lo teriak, berarti emang gue yang kurang ajar."


"Tapi bukan berarti gue berhak teriak ke lo."


"Nggak. Lo nggak salah, gue yang salah."


"Mau sampai kapan kalian peluk-pelukkan?" Suara Rumi menyela, membuat euforia indah itu terganggu, "kita udah paham. Jadi bisa kan lo berdua bicara kayak orang normal pada umumnya?"


Dimas benar-benar tertawa sekarang. Pria itu juga tampaknya terhibur dengan banyolan tidak bermutu milik Rumi. Ada apa sebenarnya ini. Kenapa bisa Dimas tertawa begitu lugasnya?


Bara melepaskanku, meski kini lengannya masih melingkari pinggangku. Dia mengirimkan seringai sombong pada Rumi, "Sorry, bro. Kita nggak bermaksud buat lo jealous, tapi perasaan manusia emang sesensitif itu."


Rumi tersenyum sinis. Dengan satu sentakan dia sudah menarikku masuk ke dalam dekapannya. Aku mendongak dan mulai menyadari bahwa Rumi sudah mencukur bersih jambang dan kumis tipis miliknya. Tidak ada sehelai rambut pun yang tersisa di wajahnya.


Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengulurkan tanganku untuk membelai rahangnya yang lembut, "Lo habis cukuran! Akhirnya... Lo kelihatan-"


Aku menghentikan kalimatku saat menyadari jika aku hampir saja kelepasan. Rumi memandangku seolah-olah aku adalah orang aneh, sedangkan Bara dan Dimas, kedua orang itu tanpa malu-malu mencibirku dari belakang. Aku segera menarik tanganku kembali, "Jadi... um... Lo kelihatan jelek. Iya, lo kelihatan jelek."


Bara dan Dimas tertawa terbahak-bahak. Bahkan Rumi juga tidak bisa menghentikan seringaian di wajahnya yang kian melebar. Dia mengerutkan bibirnya dan tatapan nakalnya itu mengunciku. Dengan sangat perlahan, Rumi mulai mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat kepadaku dan mulai mencium pipiku.


***


Aku mulai bersenandung mengikuti ketukan tempo dari lagu baru ini. Aku mencoba membuat koreografi tari untuk lagu tersebut karena lagunya sangat menarik saat aku mendengarkannya berulang kali sepanjang hari.


Aku mulai meluncur di lantai dengan anggun, memeriksa bayanganku di cermin di depanku. Musik memaksaku untuk melakukan break-dance, bersama dengan beberapa gerakan kaki yang aku contoh dari video di YouTube.


"Lagu Justin Bieber? Serius?"


Aku berhenti menari sambil mengembuskan napas berat. Aku memelototi pantulan Rumi dari cermin, lalu diam-diam menikmati wajahnya yang sombong itu.


"Kenapa emang? Ada yang salah sama lagunya?"


Rumi mengangkat alisnya, "Gue cuma nggak nyangka aja lo suka lagu lawas kayak begitu."


"Dih. Nggak lawas banget kali."


Rumi berjalan ke arahku, wajahnya terlihat sangat tenang dan itu malah membuatku sangat curiga padanya.


Aku menegakkan tubuhku untuk menghadap ke arah Rumi dengan pandangan tegas, "Lo kenapa, sih?" tanyaku berterus terang, "lo mau mulai debat sama gue?"


Bibir milik Rumi terangkat membentuk seringai. Dia mengenakan kaos hijau malam ini, yang menempel erat di badannya karena bahannya yang tipis. Aku pun dengan segera mengalihkan pandanganku dari pemandangan indah itu dan beralih untuk menatap wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa lo keluar dari kelas Pak Doni tadi?" Dia bertanya sambil memiringkan kepalanya ke samping. Bersikap tenang dan polos seolah dia tidak tahu apa yang terjadi.


Napasku menjadi tidak teratur. Jantungku pun ikut berdegup kencang, "Kayaknya itu bukan urusan lo, deh."


"Emang bukan urusan gue, tapi gue penasaran." Rumi menyunggingkan senyum menyebalkan miliknya yang berhasil membuatku tersulit emosi dan bingung di saat yang bersamaan.


Aku menjauh darinya dan berpura-pura mengambil handuk untuk menyeka keringatku. Sebenarnya aku hanya tidak bisa berpikir jernih saat berada begitu dekat dengan Rumi, "Gue lagi nggak enak badan dan lagi gue juga bosan tadi. Terserah kalau lo nggak percaya."


Rumi bersandar ke cermin dan itu berhasil mencuri fokusku dengan penampilannya yang tampak luar biasa. Apalagi dengan wajah yang bersih. Sialan, jangan bilang aku sudah menjadi Rumi addict.


"Jangan bilang itu karena lo cemburu?" Dia menyilangkan lengannya. Urat-urat di lengannya mulai terlihat, dan aku merasa ingin berteriak frustasi karena pemandangan luar biasa itu. Please, jangan mendekat dengan penampilan seperti itu. Dengan dia yang tampak hot, otomatis aku tidak bisa melakukan percakapan seperti orang normal pada umumnya.


Aku membuang handukku dan mulai bergerak dengan gelisah, "Ngaco banget, sih. Nggak mungkin, lah."


"Mungkin aja. Gue bisa cium aroma kecemburuan dari lo."


"Dih, itu mah karena hidung lo aja yang bermasalah."


"Jujur. Bilang aja kalau lo cemburu. Kalau nggak-"


"Apa?"


"Kita ngga having *** malam ini.


Aku tertawa, "Oke. Terserah lo aja."


Rumi mengangkat bahu tidak peduli dan yang dia lakukan itu malah membuatku kaget. Apalagi saat dia mulai melangkah menuju pintu keluar, "Gue cabut. Ada janji ngedate satu jam lagi."


"APA?" jeritanku memantul ke setiap dinding studio dan berakhir dengan mengiang di telingaku. Rumi menatapku tanpa rasa bersalah, "lo punya janji ngedate?" tanyaku tidak percaya.


Rumi merenggut. Bibirnya tampak berwarna merah muda dan sehat padahal dia perokok, "Nggak kalau lo mau ngaku lo cemburu sama gue tadi di kelas."


"Tapi gue nggak cemburu!"


"Oke. Karena lo nggak ngaku, gue bakal cari partner tidur malam ini."


Aku berlari mendekat untuk meraih lengannya sebelum dia benar-benar berani mengambil langkah keluar dari studioku, "Lo nggak bisa having *** sama cewek lain selain gue."


Rumi menyeringai, "Sorry. Gue nggak tahu kalau perjanjian kita seeksklusif itu."


Aku benar-benar mendidih dan tanpa basa-basi, dengan segera kukecup bibirnya dan mengulumnya. Rumi menyeringai dalam ciuman itu, lengannya melingkari pinggangku sehingga dia bisa mengangkat tubuhku. Aku juga menggigit bibir bawahnya hingga membuatnya membuka mulutnya. Lidahku memasuki mulutnya dengan lega, menjelajahi semua sudut .


Rumi menyelipkan jarinya ke rambutku, memegang wajahku dengan dominan. Aku sudah bertekad untuk tidak membiarkan dia pergi. Tidak ada kesempatan baginya untuk tidur dengan wanita lain. Dia milikku dan hanya aku yang boleh menyentuhnya.


"Gue cemburu," kataku sambil mencium rahangnya yang tercukur bersih, mengingat kehalusan kulitnya dan cara dia gemetar karena gerakanku, "jangan pernah ngomong kalau lo mau tidur sama cewek lain. Kalau lo berani, gue duluan yang bakal bunuh lo."

__ADS_1


__ADS_2