Salah Gaul

Salah Gaul
Twenty Six


__ADS_3

Rumi pov


Pagi itu aku terbangun dengan perasaan yang luar biasa bahagia. Untuk beberapa alasan, aku merasa apa yang terjadi semalam adalah sesuatu yang memang sangat aku dambakan.


Suara hembusan napas seseorang membuatku menoleh. Itu Lyan yang tengah tertidur lelap dan aku memeluknya layaknya wanita itu adalah teddy bear. Rambutnya berantakan hingga menutupi sebagian wajahnya. Kakinya dan kakiku menyatu dan bahkan paling gilanya, kami sudah berada di ujung tempat tidur. Tapi aku tidak peduli karena aku menikmati moment ini.


Aku merasakan Lyan menggerakan jari kakinya. tanda bahwa wanita itu sudah bangun, tapi tidak bangun sepenuhnya karena saat aku melirik, dia masih menutup matanya. Aku mengecup dahinya dan Lyan terkekeh. Dia semakin merentangkan tangan dan kakinya, meminta agar aku mendekapnya. Meski aku masih malas bergerak, tapi aku tidak menolak keinginannya.


"Pagi," gumamku pelan.


Kulitnya terasa hangat dibawah kulitku. "Lo nyaman banget tidur di samping gue." Aku berkata sambil meletakkan tanganku di atas perutnya dan  menariknya semakin mendekat.


Lyan menghela nafas berat. Aromanya yang khas melekat di indera penciumku dan itu berhasil mengganggu pemikiran logisku. Aku tidak bisa melupakan kejadian tadi malam, tidak peduli seberapa keras aku mencoba untuk melakukan itu. Aku juga masih sangat terpesona dengan penampilan Mia yang bertambah cantik semalam.


"Lo nggak senang gue nempel ke lo?" Dia mulai berkicau dan bertingkah jahil. Lyan sedikit menyenggolku dan aku membalasnya dengan mencubit perutnya, membuat dia tertawa terbahak-bahak dan dia juga mencoba untuk melepaskan dirinya dari seranganku. "No! No! No! Jangan gelitikin gue!" serunya. "Please Rumi. Gue meti jemput nyokap di bandara!"


Aku mengerang seperti anak kecil setelah mendengar berita tidak bagus darinya. "Kenapa harus sekarang? Gue kira kita bakal sarapan barrng. It's my brithday."


Lyan tertawa. Dia mengacak-acak rambutku dengan gerakan canggung. "Kenapa lo nggak buat perayaan?" Dia menyarankan. "Lo harus buat party. Ini Minggu dan gue yakin banyak orang yang bakalan datang. Ini bakal jadi brithday party yang meriah nantinya."


Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai ulang tahunku sendiri. Terlalu banyak kebohongan yang aku sembunyikan tentang ini, tapi nampaknya aku harus mengubur perasaan tidak nyaman itu untuk sementara waktu.


"Party? Kayaknya nggak perlu deh.


Lyan menatapku dan wajahnya yang bersinar karena pantulan sinar matahari tampak bercahaya. Aku bahkan sampai menahan napasku karena penampilannya yang sangat luar biasa itu.


"Terserah." Dia cemberut yang malah membuatnya terlihat semakin manis. Aku gila untuk sesaat. "Gue udah lama nggak party dan menurut gue, party di sini lebih aman. Ingat kan kejadian terakhir kali waktu di bar? Lagian dengan lo mengadakan pesta itu berarti lo masih hidup."


Aku meringis karena perkataan yang dilontarkan wanita itu padaku. Dia terlalu sibuk tersenyum dan membuatku terpaksa menahan protesan. "Bakal gue pikirin lagi."


"Yay!" Dia meloncat ke arahku dan memelukku erat sampai kami berdua terkapar di kasur. "Wow! Gue kayaknya kalau minta persetujuan harus pagi deh ke lo. Lo baiknya kayak angel. Pagi doang tapi."


Padahal lo bisa minta persetujuan dari gue kapan aja. Batinku. Tapi aku tidak mengatakannya secara lantang.


Aku berpura-pura memutar mataku sebagai respon. "Jadi, jam berapa lo diharuskan buat jemput nyokap lo?"


Lyan menguap. "Sembilan tiga puluh."


Mataku beralih menatap ke jam digital yang ada di atas nakas. "Tapi... Sekarang udah jam sepuluh lewat lima menit."


Lyan langsung menoleh dengan cepat. Wajahnya pias dan dia langsung beranjak sengan gerakan teramat cepat. Kaki kecilnya melangkah ke kamar mandi dengan bibir yang tidak hentinya mengumpat.


"Sialan! Gue telat!"


***


"Lo bilang apa barusan?"


Aku mengerutkan kening ketika mendengar nada suara Bara dari ujung sana. "Gue mau adain party!"

__ADS_1


"Lo nggak salah?"


"Kenapa?"


Bara terbatuk sebelum menjawab. "Tapi lo benci pesta!"


"Cuma sekali. Gue pingin rayain brithday gue. Nggak salah, kan?" ucapku sambil masih terus membersihkan ruangan di rumahku.


Bara berdecak pelan. "Gue berani taruhan kalau ini ide dari Lyana."


Aku hampir saja menjatuhkan cangkir kotor yang yang ada di tanganku. Jika hal itu terjadi, aku majun memiliki banyak pekerjaan untuk silakukan lagi.


"Dia cuma kasih ide, oke."


"Dudeeee lo jatuh cinta!" Bara berteriak lagi. "Gue nggak nyangka akhirnya gue bisa lihat seorang Rumi keluar dari zona nyaman cuma untuk lakuin hal yang diminta sang crush."


"Don't say it!"


"Pada akhirnya lo jatuh ke dalam pesonanya Lyan sendiri karena lo anti kalau sampai harus berinteraksi lama sama cewek." Bara semakin melantur dan mengabaikanku.


"Gue ML sama cewek asli kalau lo lupa. Nggak mungkin juga gue betah berhubungan sama boneka," sungutku.


"Please, berhenti ngomel. Gue nggak lagi minta video bokep ke lo."


"Gue saranin lo jangan banyak bergaul sama Dimas. Lo makin cerewet dan itu nggak cocok buat lo."


Bara mengumpat kesal. "Lo nggak tahu aja gimana dewasanya Dimas. Dia juga jagain Lyan selama ini kalau lo lupa."


"Terserah lo aja maunya gimana," kataku. "Tapi lo tetap harus lakuin tugas dari gue. Rencanain pestanya."


Bara tertawa. "Oke. Berapa anggaran dari lo?"


"Lo serius tanya itu ke gue?"


"Brengsek. Dasar bajingan kaya raya."


"Kalau ngomong yang benar. Lo yang paling siapa gus."


"Oke," dengusnya dan itu hampir membuatku tertawa terbahak-bahak. "See you tonight."


Aku mengakhiri panggilan. Kini helaan napasku terasa berat.  Sedikit gelisah dan lelah untuk beberapa alasan. Rasanya bukan karena lelah sehabis bergerak selama dua jam berturut-turut, tapi lebih ke arah yang bersifat mental.


Sejujurnya aku membenci hari kelahiranku sendiri.


Hidup jauh dari keluarga dan bukan suatu hal besar. Aku malah menyukai keadaanku yang sekarang karena aku tidak diharuskan untuk bersikap baik pada orang-orang yang kubenci. Aku jauh lebih baik dan lebih hidup tanpa kehadiran mereka.


Mataku tertuju pada piring yang terletak di atas meja, berisikan potongan- potongan kue yang telah dipersiapkan Lyan untukku. Perasaan tidak nyaman di dalam diriku perlahan mulai memudar. Aku mengambil piring tersebut dan menghabiskan sisa cake tadi malam. Rasanya enak.


Tadi pagi wanita itu merengek agar aku membolehkannya membawa setengah sisa kue. Dia mengatakan kalau dia ingin mamanya juga mencicipi kue buatannya. Tapi menurutku itu hanya alsan dia saja. Lyan pasti akan memakan kue itu selama perjalanan menuju bandara.

__ADS_1


Aku menghabiskan sepanjang pagiku untuk membersihkan kekacauan di ruang lukis milikku. Ada beberapa lukisan yang sudah jadi dan beberapa juga sudah terjual. Aku memutuskan untuk mengunci ruangan tersebut agar semua orang yang akan hadir di rumahku tidak lancang masuk ke dalam dan melihat apa yang aku lukis.


Aku memilih untuk memasak sendiri mengingat aku sudah cukup lama tidak menyentuh dapur. Hidup sendiri kadang membuatku malas mengotori tempat itu hanya untuk membuat makanan dengan porsi yang kecil. Aku memilih untuk memasak ramen instan. Pikiranku masih dipenuhi oleh aroma Lyan. Wanita itu terus menari dan membuatku hampir sulit untuk melupakannya.


***


Dua pulu menit kemudian, Bara mengirimkan pesan padaku. Dia memberitahu jika dia sudah mengundang banyak orang dan mereka akan tiba di rumahku jam delapan. Bara juga mengatakan jika dia akan datang lebih awal karena tidak mau aku kerepotan sendiri.


Membaca pesan teks yang dia kirimkan membuatku memutar mataku tidak peduli. Aku sudah akan meletakkan kembali ponselku ketika tiba-tiba notifikasi chat dari Lyan masuk.


Lyn: Gue udah nggak sabar buat party nanti malam😘😘


Wanita itu juga sampai mengirimkan foto dirinya yang tengah bersantai di ruang keluarga. Aku tidak bisa menghapus senyuman dari wajahku saat melihat fotonya. Sepertunya aku sudah candu dengan wanita ini. Dia bisa saja menghancurkan segala hal dalam diriku yang sudah aku bangun selama ini. Tapi perasaan tidak bisa berbohong. Aku memang sudah menganggapnya sebagai sosok yang istimewa untukku.


Me: Can't wait for tonight.


Namun tetap ada hal-hal yang tidak aku sukai dari dia. Ketika dia berada di party dengan musik yang berbunyi keras. Ketika dia herbicara dengan orang asing sambil menikmati suasana.


***


Saat itu sudah jam setengah sepuluh dan rumahku tampak seperti neraka. Ada begitu banyak orang di sini, sedangkan aku tidak mengenal setengah dari mereka. Kebanyakan adalah teman-teman Bara. Mumgkin pria itu berpikir jika aku butuh untuk bersosialisasi dengan orang lain.


Tapi setidaknya orang-orang itu memiliki sopan santun untuk menyapaku dannmengucapkan selamat ulang tahun sebelum melanjutkan untuk menikmati minuman yang sudah kupesan. Tidak ada yang peduli tentang fakta jika besok mereka masih perlu berangkat kuliah.


Beberapa dari mereka tampak sedang merokok.


Aku mencoba melewati beberapa orang untuk pindah ke tempat lain. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak memikirkan berapa banyak uang yang telah kuhabiskan untuk semua alkohol yang ada di rumah ini. Mataku terus mengarah ke pintu yang terbuka, menunggu Lyan.


Sialan! Kenapa dia bisa terlambat?


"Heyyyyy!"


Aku memutar mataku sebelum berbalik menghadap sahabatku yang benar- benar tidak berguna. Bara menggerakkan tubuhnya di depanku, hampir saja ambruk karena tidak berhasil menyeimbangkan dirinya. Dia tersenyum konyol padaku.


Seseorang menabrak tubuh Bara saat berjalan dan dia langsunh ambruk ke arahku. Bodohnya, dia masih saja bisa tertawa.


"si brengsek!" Aku mencoba menenahan beban tubuhnya. Dia pasti sudah minum banyak alkohol. "Mana Dimas?" tanyaku padanya, berharap pria itu bisa menangani orang ini.


Bara mengangkat bahunya berulang kali sampai aku harus memaksanya untuk berhenti, kecuali dia ingin bahunya lepas. Pria brengsek itu bersendawa tepat di depan wajahku. "Dia pergi buat jemput... Linda."


Aku ingin memukul wajahnya yang memerah ke kanan dan ke kiri. "Maksud lo Lyan?"


Bara yang mabuk malah tertawa seperti orang idiot. "Ya Tuhan, she's dam sexy. Gue pingin banget tidurin dia."


Rasa cemburu membara di dalam diriku dan hampir mengubah kewarasanku menjadi abu. Aku melepaskan tanganku dari bahunya dengan cepat sebelum keinginan bejatku untuk menyekiknya datang. "Lo udah having *** sama Dimas kalau lo lupa."


aku mencekik nyawanya. "Kau bercinta dengan Kyle, ingat?"


Bara mengerutkan kening, bahunya sekali lagi bergerak, kini mengikuti hentakan beerat dari lagu yang dibawaka disk joke. "Belum! Dia kebanyakan nolak. Gue sama dia emang senabg-senang malam itu-"

__ADS_1


Aku memutuskan untuk tidak mau mendengar lagi kelanjutan dari ceritanya. Dengan cepat aku menutup mulut Bara. "Gue ngerti!"


__ADS_2