Salah Gaul

Salah Gaul
Thirty Four


__ADS_3

Bara tertawa terbahak-bahak. Dia bahkan hampir meludahkan makanannya padaku, "Ya ampun, Rumi!" Dia menyeka sudut matanya dan masih terus saja terkekeh, "apa benar dia sehebat itu di ranjang? Gue boleh coba dong?"


"Brengsek. Gila kali lo! Dia punya gue!" kataku kesal.


Bara hanya mengangguk sambil mengambil slice pizza yang lain. Pria itu bahkan tidak memperhatikan tatapanku yang sudah ingin memakannya hidup-hidup, "Berarti sekarang lo udah nggak terlalu benci sama dia, kan?"


Aku menatapnya lekat, "Bisa dibilang begitu tapi bukan berarti gue juga bakal bersikap baik terus-terusan ke dia. Gue cuma mentolerir sikap dia yang menurut gue nggak keterlaluan."


"Itu peningkatan yang luar biasa dan harusnya lo patut buat rayain." Bara menepuk pelan pundakku. Entah kenapa rasanya menjadi sangat sulit membicarakan tentang Lyan pada Bara. Aku bahkan tidak mencintai wanita itu, tapi pria ini bersikeras bahwa akulah yang sudah terjebak.


"Lo berarti belum kasih tahu dia soal masa lalu lo?"


Aku hampir tersedak pizza yang aku makan. Dengan cepat aku mengunyahnya dan menelannya dengan susah payah. Aku memukul dadaku karena apa yang aku makan seokah berontak ingin dikeluarkan, "Kenapa juga gue mesti cerita tentang hal itu ke dia?!"


Bara tanpak lega. Udara yang ada di sekitarku tiba-tiba berubah menjadi pengap dan aku bahkan sampaj harus berteriak karena terasa sangat mencekik.


"Karena waktu ketemuan lo sama dia seintens itu."


"Lo yang paling tahu gimana bejatnya gue di masa lalu." Aku berteriak karena marah. Kali ini Bara sudah bebar-benar melewati batas. Hal yang tidak boleh dia lakukan, "gue nggak mau nyeret dia ke masalah gue. Gue nggak bisa. Kalau sampai dia tahu, gue lebih milih buat pergi dan nggak ketemu dia lagi. Dan apa menurut lo dia masih mau sama gue setelah dia tahu apa yang terjadi? Dia pasti bakal pergi Bara."


Untuk sejenak hanya ada keheningan di antara kami. Bara tampaknya juga merasa bersalah karena dia mulai menunduk untuk mencari kalimat yang pas, "Sorry, bro. Gue nggak bermaksud buat hancuri kehidupan lo cuma pas gue lihat lo sama dia, gue ngerasa lo emang udah ketemu orang yang tepat. Orang bisa terima kondisi lo apa adanya."


"Kalau gue sampai buka mulut, bukan cuma gue yang bakal mati. Dia juga mati."


"Tapi gue masih hidup," canda Bara lemah.


"Karena gue yang suruh mereka buat nggak ganggu lo. Lo ingat soal kecelakaan mobil lo? Itu ulah mereka dan gue nggak mau ngulangin kesalahan yang sama."


Bara tersenyum untuk menyembunyikan ketakutannya. Itu juga salah satu hal yang sangat aku takuti. Setelah kejadian itu, aku tidak bisa tidur selama seminggu karena aku takut. Aku takut kehilangan seseorang yang berada di pihakku.


"Hei, Rumi." Suara Bara kini berubah menjadi hangat dan bersahabat. Inilah yang membuatku mempercayai rahasia berbahayaku padanya sejak awal, "gue benar-benar senang bisa jadi teman lo. Gue tahu yang terjadi sama gue karena ada hubungannya sama masa lalu lo yang kacau tapi gue bersedia buat ngebayar itu. Lo udah selamatin gue dan sebagai gantinya lo juga terjebak sama gue."

__ADS_1


Mendengar kalimatnya yang cheesy membuatku ingin muntah, "Gue nggak nyelamatin lo. Gue yang beli hidup lo."


"Nggak masalah. Kan lo sahabat gue," jawabnya.


Wajahku berubah menjadi panas dan mataku terasa perih karena air mata yabg mulai menggenang. Berapa kalipun dia mengatakan bahwa dia memafkanku tapi aku tetap merasa bersalah. Sudah cukup Bara yang mengalami dan kujadikan pelajaran, jadi aku tidak akan membahayakan hidup Lyan juga.


Bara menarik rambutku dengan main-main, "Stop akting, drama queen," kicaunya, "cepat habisin makanan lo karena kita harus battle game."


Aku mengusap wajahku, "Terima kasih banyak, Bar."


Bara menggelengkan kepalanya, mengejekku.


***


Pada akhirnya yang kami lakukan adalah date night berdua. Dia mengajakku nonton di bioskop yang mana hanya dipenuhi para pasangan. Beberapa orang menatap kami aneh, tapi kuabaikan karena tanpa mereka tahu, aku juga merasa aneh sendiri.


"Filmya bagus!" Dia masih mengunyah popcorn karamelnya saat kami sudah berjalan keluar dari bioskop.


"Jam berapa?"


Dia melirik jam tangannya, "8.45." Dia membuang bekas popcornnya dan mulai merangkulku, "gue nginap di rumah lo."


"Oke. Lo bawa pulang motor gue, gue mau mapir ke tempatnya Lyn sebentar."


Bara menyunggingkan senyum menggoda dengan alis yang dinaik turunkan, "Lo horny?" bisiknya.


Aku memukul kepalanya hingga menimbulkan bunyi dan sampai membuat dia mengaduh keras. Aku berusaha untuk tidak tertawa melihat wajahnya yang tamlak konyol, "Diam nggak lo! Sana pulang. Kita ketemu satu jam lagi."


Bara meneriakkan sesuatu, tapi kali ini aku benar-benar mengabaikannya. Aku berlari sambil menyebrangi jalan, untungnya letak mall yang aku datangi dekat dengan tempat tinggal wanita itu. Hanya dalam 10 menit, aku sudah sampai di teras rumahnya.


Dengan napas terengah aku mulai untuk merapikan rambutku. Untuk beberapa alasan aku merasa gugup tapi tetap bersemangat. Aku juga bisa mendengar suara dari dalam sana.

__ADS_1


Sebelum memutuskan masuk, aku membunyukan bel pintu dan setelahnya aku juga mendengar Lyan berteriak. Suara derapan langkah kaki tergesa mulai terdengar, kemudian pintu terbuka lebar. Lyan mengenakan celana pendek dan crop top yang memperlihatkan perutnya dengan rambut yang diikat tidak beraturan. Aku menyeringai.


"Apa ada yang bilang kalau gue bakal datang ke sini?"


Lyan masih menatapku dengan mulut yang terngaga. Setelahnya fia berkedip untuk memperbaiki ekspresi wajahnya, "Ngapain lo di sini?"


"Harusnya lo tahu dong jawabannya, gue boleh masuk?"


"No!" katanya sambil berteriak, "lo nggak bisa masuk."


"Kenapa?"


Lyan melirik lagi ke dalan, "Lo harus pergi-"


"Lyan?" terdengar suara laki-laki dari dalam rumah. Suaranya terdengar kasar dan jantan, "siapa tamunya itu?"


Di ambang pintu dapur ada seorang pria yang bertelanjang dada dengan bagian atasnya yang tampak sedikit basah. Tampaknya dia baru saja keluar dari kamar mandi. Dia menatap kami dengan senyuman kecil, "Kenapa tamu lo nggak di ajak masuk. Hallo, bro."


Aku langsung membaliman tubuhku dan melangkah menjauh dari pintu rumahnya. Telingaku mulai berdenging karena amarah dan aku berusaba sebaik mungkin untuk mengabaikan teriakan Lyan dari belakang yang ternyata dia juga ikut menyusulku.


"Dengarin gue dulu!" serunya sambil menahan lenganku.


Aku menarik pergelangan tanganku dengan marah. "Ya Tuhan, lo ternyata semunafik itu Lyn." Aku berdecak kesal, "lo bilang gue nggak boleh tidur sama cewek lain tapi apa yang gue lihat tadi? Lo bahkan berani tidur sama cowok lain di belakang gue!"


"Bukan gitu-"


"Itu yang gue lihat." Aku berteriak lagi dan berhasil membuat dia tersentak, "gue kira rasa benci gue mulai hilang, ternyata nggak. Lo emang sebrengsek itu."


Lyan mendengus dan aku tidak peduli. Bahkan jika dia menangis dan meraung pun aku tidak akan peduli. Aku teramat marah sekarang.


"Terima kasih karena udah ngingatin gue buat nggak terlalu baik ke lo."

__ADS_1


__ADS_2