Salah Gaul

Salah Gaul
empat belas


__ADS_3

Mia Pov


Percakapan kami pada akhirnya selesai begitu saja. Seperti yang sudah-sudah, begitu kami melangkahkan kaki keluar dari rumah semuanya tertutup rapi. Aku tidak ingin merusak minggu cerahku dengan pembahasan yang selalu membuatku naik darah. Manusia yang sudah pergi biarlah pergi, jangan pernah diungkit atau dibahas kembali.


Hari ini aku hanya ingin menghabiskan weekend dengan Mama dan merayakan kemenanganku dengan hadiah doorprize tadi malam. Lima puluh juta, jumlah yang fantastic, bukan?


Kami berbelanja sepanjang pagi. Aku membeli pakaian baru untukku dan juga Mama, dan yang agenda yang paling utama hari ini adalah membeli bra dan juga ****** ***** baru. Aku termasuk orang yang hobi mengoleksi pakaian dalam dan aku juga tidak pernah mengizinkan teman pria ONS ku merobek semua koleksi kesayanganku saat kami akan bercinta. Aku mengeluarkan banyak uang untuk membeli mereka, ingat.


Aku sudah menceritakan tentang kompetisi itu pada Mama, dan tentu saja soal Rumi juga aku sembunyikan. Mama terlihat senang dengan kemenanganku melebihi aku sendiri, sepanjang jalan dia tidak berhenti tersenyum bangga.


"Makan siang Lyn yang traktir," kataku. Dua jam berkeliling benar-benar menguras tenaga. Aku sudah mulai kelaparan dan menarik Mama keluar dari store, "Mama yang pilih," putusku final.


"Chinese food?"


"Okei. Let's go, Mom."


Girls time adalah waktu terbaik untuk mukbang. Untungnya Mama juga sepemikiran denganku. Setelah berdebat sedikit soal dimana kami akan makan, akhirnya keputusan yang dipilih adalah restoran china langganan kami.


Saat sampai di tempat, aku dan Mama langsung bergerak menuju tempat favorit kami. Begitu mendudukan pantat kami langsung sibuk membolak-balik menu sambil sesekali berdebat tidak penting, tapi kami berdua kembali berakhir dengan menu yang selalu sama setiap kami datang kemari. Bebek peking dan mie woonton.


Aku mendesah. Lalu untuk apa berdebat jika ujung-ujungnya hanya memesan makanan yang sama?


"Jadi." Mama menatapku dengan rasa ingin tahu, sementara aku menyantap makananku tanpa mau menunggu miliknya yang belum disajikan,-"kenapa kamu tidur di sofa semalam?"


Aku menatap Mama yang sangat penasaran dengan jawabanku. Aku tetap bersikap santai, meski sebenarnya aku sangat ketar-ketir karena takut ketahuan.


"Kecapean Mama." Aku berbicara dengan mulut yang sudah dipenuhi makanan. Mama mengernyit melihat tingkahku, "kan semalam Lyn lomba terus nggak sanggup buat naik jadinya Lyn tidur di sofa."


"Terus Damar kenapa nggak nginap?"


Aku hampir melupakan soal Damar, hampir saja aku keceplosan jika aku bertengkar dengan pria itu.


"Kamu nggak sama Damar kan semalam?" tanya mama lagi.


"Mama tahu dari mana?"


"Mama telfon Damar tadi pagi, mau ajak dia sarapan bareng. Tapi dia malah curhat soal kamu yang diamin dia."


Aku mengerutkan bibir, menyuapkan satu sendok mie woonton lagi sebelum menjawab, "Iya. Lyn sama Damar lagi perang dingin," desahku lemah. Aku paling tidak suka orang lain tahu jika aku berbohong. Seperti saat ini.

__ADS_1


Sedangkan Mama hanya terkekeh. Aku menatapnya cukup lama. Kenapa Papaku tega meninggalkan Mama dan merenggut senyuman ini untuk beberapa saat?


"Mari kita lihat seberapa lama perang ini berlangsung," gumamnya, "tapi yang buat Mama penasaran itu, cowok yang kamu bawa pulang semalam. Kamu bohongin Mama demi dia, kan?"


"Mama tahu dari mana kalau itu cowok?"


"Ya tahu, ada jaket cowok yang ketinggalan di sofa, kecuali kalau kamu berubah haluan jadi lesbi berarti jaket yang ketinggalan itu punya cewek."


Aku terkekeh, "Cuma teman yang temani aku lomba. Dia juga antar aku pulang, karena hujan aku suruh masuk ke rumah dulu. Kita cuma ngobrol sebentar habis itu dia pulang."


Obrolan apa yang menghabiskan waktu hampir dua jam sambil mengeluarkan suara-suara aneh?


Mama menyipitkan matanya ke arahku, membuatku sedikit gugup saat mengunyah makananku.


"Kenapa kamu defensif banget soal dia?"


Aku berpura-pura tertawa, mati-matian berusaha bersikap normal.


"Nggak kok," kilahku dengan mulut penuh, "Mama kan juga tahu kalau Lyn kadang-kadang undang teman Lyn main ke rumah, tapi kenapa Mama kepo sama teman Lyn yang ini?"


"Soalnya waktu Mama sampai rumah kamu desah sambil ketawa."


Aku ingin mengelak tapi Mama sangat mengenalku baik.


"Siapa cowoknya?" Mama bertanya lagi saat aku tidak segera menjawab, "ngomong aja. Jangan buat Mama penasaran."


Aku ingin menyebutkan nama Rumi, lagi pula Mama juga mengenal dia. Tapi masalahnya Mama tahu kalau kami berdua saling membenci dan dia pun tidak akan percaya.


Untuk beberapa alasan Mama memang sangat menyukai Rumi, meski bajingan itu sering kali menyakitiku dan mempermalukanku. Aku sendiri tidak tahu dari segi mananya dari Rumi yang bisa dibanggakan kecuali wajah tampannya.


"Cuma teman biasa." Aku memutuskan untuk tetap bungkam, tidak ada untungnya juga Mama tahu, "lagian Lyn sama teman Lyn nggak ada hubungan apa-apa. Kita juga nggak having ***."


"Okei-oke." Mama kembali melanjutkan makannya, tidak seperti biasanya, "kalau udah waktunya kamu pasti bakal cerita sendiri ke Mama."


Sudah kuduga. Mama tidak mungkin menyerah secepat itu.


Mama memerintahkanku untuk berbaikan dengan Damar. Menurut Mama apa yang Damar lakukan itu merupakan bentuk perhatian darinya dan seharusnya aku bersyukur. Ditambah dia itu adalah satu-satunya teman yang kumiliki.


***

__ADS_1


Keesokkan harinya aku menunggu Damar di depan kelas. Suasana kampus terlihat sepi karena aku yang berangkat terlalu pagi.


Aku mengunyah permen karetku menunggu dan tersenyum pada beberapa orang yang melambai padaku.


Tidak dipungkiri memang selain menunggu Damar mataku juga awas mencari keberadaan Rumi. Padahal aku sangat membencinya, tapi kenangan terakhir soal servicenya yang luar biasa memuaskan membuatku selalu memikirkannya. Untung saja Damar sampai saat pikiranku hampir melantur.


"Lyan!" Pria berambut blonde itu segera berlari memelukku, dan aku balas memeluknya kembali lebih erat. Aku sudah terbiasa dengan pria ini dan hanya dia yang bisa kupercaya. Dialah sahabatku satu-satunya.


"Miss you," gumamku dalam pelukannya.


Damar mengusap punggungku dan mencium puncak kepalaku, "Miss you too, babe. Sorry buat yang kemarin gue nggak bermaksud kayak gitu."


Aku mengangguk, "It's okay. Gue nggak mau bahas ini lagi."


"Okey. Case close kalau gitu."


Kami saling melepaskan pelukan kami satu sama lain dan saling menatap sambil tersenyum seperti anak kecil. Aku mengulurkan tangan untuk mencubit pipinya seperti yang aku lakukan biasanya karena hubungan kami sudah membaik, tapi Damar pura-pura menepis tanganku dan malah menggenggamnya erat-erat.


"Mama pingin ketemu lo," kataku, "lo harus ikut makan malam nanti, oke?"


"Siip. Gue juga pingin ketemu sama nyokap lo." Damar tiba-tiba menghentikan langkahnya, "btw, congrats karena lo menang. Seenggaknya lo harus balas chat dari gue."


"Wait. Lo tahu dari mana kalau gue menang?"


Damar terlihat bingung sesaat yang membuatku menyipit curiga.


"Ah itu, lo kan hebat kalau soal dance dan kawan-kawannya."


Aku ingin menanyakan banyak hal padanya tapi Damar langsung mengalihkan pembicaraan kami.


"Jadi, kapan babak finalnya? Terus diadakan di mana?"


"Ehm itu ... dua Minggu lagi. Gue dapat chat dari mereka semalam, terus katanya harus pasangan dan gue nggak kenal orang yang bisa dance. Gue mesti cari orang karena gue harus menang."


Damar mengerutkan kening, "Lo ingat nggak party pool yang kita datangin minggu lalu yang kata lo ada cowok yang dancenya keren banget?"


Wajah pria itu tiba-tiba terlintas dibenakku dan membuatku tidak bisa menahan rasa bahagia. Pasti akan sangat sulit untuk meyakinkannya, tapi aku siap melakukan apa pun agar dia mau ikut berpartisipasi. Dia akan menjadi partner yang sempurna pastinya.


"Let's find him," teriakku yang memenuhi koridor kelas.

__ADS_1


__ADS_2