Salah Gaul

Salah Gaul
tujuh belas


__ADS_3

Aku memutar mataku dan membantunya untuk bangun agar dia dapat duduk dengan tegak.Demamnya masih belum turun, untungnya saya sudah membuatnya bubur ayam dan segelas teh hangat.


"Bangun dulu Rum. Lo mesti makan," kataku.


Dia mengambil teh hangat yang aku sodorkan dan langsung meminumnya.Aku sendiri langsung mengambil tempat di tempat tidurnya dan berharap dia tidak marah karena aku lancang mendudukan diriku di sini.Tapi sepertinya dia sudah tidak terlalu peduli karena kini dia tengah memakan makanannya.


Keheningan itu aku gunakan untuk membocorkan ke kamar Rumi.Luas kamar milik pria itu mencapai dua kamarku yang kesekian kalinya.Designnya simpel khas Rumi sekali.Di bagian lainnya terdapat rak buku yang lumayan besar tapi seluruhnya hanya diisi oleh komik.Pria ini pecinta komik sekali tampaknya.


Rumi berdehem dan membuatnya langsung menoleh ke arahnya.dia sudah menyelesaikan makannya.


"Gimana keadaan lo sekarang? Udah mendingan?"tanyaku lagi.Dia mengangguk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih meski suaranya sangat pelan.


"Ya ampun lo jangan gitu. Gue bisa terhadu kalau lo kasih manis kayak gitu."


Dia hanya tersenyum lelah.Rupanya masih enggan mengeluarkan tenaganya untuk membalasku.Dia mendorong selimutnya agar bisa menoleh ke arahku, "Gue bersyukur banget karena lo nggak sampai hati buat kasih gue racun."


Aku menggigit bibir bagian dalamku menahan diri untuk tidak tertawa, "Ide lo barusan sangat menghoda buat dicoba tapi sayangnya gue bekum pernah belajar buat racun."


Rumi terbatuk dan mendengus kemudian.Reaksinya itu membuatku terkikik.


"Diminum gih obat lo. Habis itu tidur lagi," usulku, "nanti pas Bara pulang dia psti bakal bawa lo ke rumah sakit."


"Gue nggak mau ke dokter," putusnya cepat.Yang dia lakukan selanjutnya adalah mengambil sisa obat yang belum diminumnya dan langsung menegaknya.Aku masih memperhatikan Rumi sampai dia mengumpat pekan ini.Tiada hari tanpa kesan.

__ADS_1


"Ngapain sih ngelihatin gue mulu," serunya sambil menghindari tatapanku.


Aku hanya mengangkat bahuku tidak peduli, "Ini pertama kali gue lihat lo jadi manusia beneran. Lo nggak ngereog kayak kucing kebelet kawin," ejekku, "dan gue harus mengabadikan momen ini sebanyak-banyaknya."


"Ha ha ha."Dia tertawa tapi dengan nada datar yang langsung membuatku terkikik.


Rumi kembali mencengkram kepalanya dan mengerang, "Dosisi obatnya kuat banget kayaknya."


"Mungkin karena lo cuma makan sedikit makannya kerasanya gitu. Mending lo tidur lagi deh biar nggak kerasa banget peningnya."


Dia menurut dan kembali meringkuk ke dalam selimut.Rupanya obat yang dia minum memang memberikan efek gelisah karena beberapa menit berikutnya dia sudah hampir terlelap.


"Lo nggak harus jagain gue sampai Bara pulang."


Rumi meniru tingkahku yang akhirnya membuat kami berdua saling berhadapan, "Lo yakin banget kalau dia mau jadi partner lo."


"Gue yakin 1000 persen," jawabanku malah membuat pria itu menyeringai aku dan aku kesal, "maksud lo apa senyum-senyum kayak? Lo nggak mikir kalau gue susah payah gitu begini buat lo, kan?"


Rumi terkekeh, "Soalnya lo kelihatannya peduli banget sama gue. Jujur aja deh, sebenarnya lo khawatir kan?"


"Kira-kira kalau lo gue tendang, apa otak lo bakal balik waras lagi ya?"


"Tapi gue lebih suka lo sayang-sayangin gue timbang lo tendang. Gue kan lagi sakit," aktingnya sangat menjijikan dan berhasil bikin kesal.

__ADS_1


"Kayaknya lo overdosis obat deh ngomongnya jadi ngelantur. Mending balik tidur lagi deh lo."Aku bisa mendengar Rumi mendecakkan lidahnya dan kemudian aku merasakan tangannya yang bersarahg di pinggangku.Aku segera menepisnya tapi dia menolak terusir jadi dia kembali lagi melingkarkan tangannya di saja.Aku setuju dan tiba-tiba Rumi bersuara.


"Cowok yang ngedeketin lo dulu," bukannya, "dia bikin rencana untuk nyebarin video lo dan dia emang udah ada rencana ngebuat lo mau tidur sama dia."


Fokusku langsung teralih begitu dia mengatakan hal yang tidak pernah aku tahu akan terjadi, "Lo bilang aoa tadi?"


Dia menghela napas pelan sebelum melanjutkan, "Cowok yang bakal ngajak lo ke prom," ulangnya, tatapan mata Rumi melembut dan ini baru pertama kali dia menatap dengan tatapan seperti itu, "gue nggak sengaja ngedengar dia bilang ke teman-temannya kalau dia bakal nyebarin video kalian melewati malam bersama. Gue nggak terima jadinya gue nggak biarin dia datang buat jemput lo."


Aku terdiam beberapa saat, "Jadi.... lo nyelametin gue," kataku kikuk, "maaf.... gue nggak tahu harus balas apa ke lo."


"Gue nggak rela orang lain lihat ekspresi mupeng lo."Aku tertawa mendengar dia yang ikutan kesal karena hal itu.Dia terilihat seperti anak kecil yang mainannya akan diberikan pada orang lain.Aku kini benar-benar membuarkan dia yang memelukku dan kesempatan itu aku gunakan untuk beringsut mendekatinya.


Aku menumpukan dahiku ke dadanya dan menggumamkan kalimat terima kasih dengan bibir bergetar.Jika sampai hal buruk itu terjadi dan video menyebarkan entah apa yang akan terjadi.Aku memang bukan wanita yang bersih hanya saja aku tidak akan menbuarkan orang lain menikmati video yang memang seharusnya tidak ada.


"Gue emang benci sama lo, tapi gue juga nggak mau lawan gue dipermalukan. Gue mau benci lo itu cuma ke gue, bukan buat orang lain."


Aku hanya terus menunduk.Rumi memang bukan pria baik dan juga kami memang seperti sudah ketagihan untuk saling membenci.Tertarik secara seksual memang ada dan kami juga pernah melakukan hal yang tabu, hanya saja hububgan kami sulit untuk menjadi seperti hubungan manusia normal pada umumnya.


"Lyn, gue beneran sakit dan gue butuh bantuan lo supaya gue bisa tidur. Lo harus usapin kepala gue sampai gue tidur," tampaknya efek dari obat tadi benar-benar bisa merubah tindakan seseorang.


"Gue harap efek obatnya bisa cepat hilang. Aneh ngedengar lo minta bantuan kayak gitu."Dia menyeringai tapi tetap mengambil tangannya dan dia meletakkan di kepalanya.Seorang Rumi ternyata bisa memarahi seperti anak kecil juga ketika sedang sakit.Walaupun lucu tapi aku menikmatinya, memangnya kapan lagi aku bisa melihat Rumi yang manja jika tidak sekarang.


Rupanya setelah ini aku harus banyak-banyak merasakan terima kasih pada Bara, karena jika pria itu tidak membawaku kemari, aku pasti akan melewatkan kesempatan ini.

__ADS_1


__ADS_2