
Rumi's
Yang aku dapatkan dari tindakan 'anarkis' dan 'keterlaluan' di kampus adalah ceramah satu jam gratis dari dekan. Sepuluh menit setelah Papa menelpon. Ditambah aku juga mendapat sedikit keringanan karena Bara menyampaikan jika Dimas duluan yang melayangkan tinju padaku (meski sebenarnya bukan sebuah tinjuan) pria itu lebih pintar bernegosiasi dibandingkan aku.
Mendengar jika Dimas tidak dapat mengikuti kelas seperti biasa selama seminggu karena tulang hidungnya patah membuatku sedikit lega. Aku tidak mungkin meminta maaf pada Dimas. Jadi dengan tidak parah keadaannya saja sudah membantuku untuk hidup tenang.
Lyan mengabaikanku. Kali ini lebih parah dari sebelumnya. Itu bukan masalah bagiku karena aku juga tidak menyukai interaksi yang terlalu banyak dengannya. Dia terlihat sendiri kemanapun dia pergi. Lyan hanya memiliki Dimas sebagai teman sekaligus sahabat satu-satunya di sini.
Hari ini aku dan Lyan memiliki kelas yang sama. Kehadiran Lyan membuatku tidak bisa berkonsentrasi dengan materi yang diberikan dosen. Melihat dia hanya sendirian tanpa seorang pun teman membuatku sedikit mengernyit. Lyan yang biasanya selalu mengajakku berdebat tampak menatap berani kedua mataku tanpa ada sedikit rasa takut dan sungkan. Kini dia benar-benar menganggapku tidak ada. Keceriannya hilang seketika di dalam kelas pun dia tampak diam dan murung.
Dan suasana hatiku ikutan buruk melihat dia. Musuh bubuyutanku yang hidup tanpa emosi.
Satu minggu berlalu. Keadaan kritis di sekitarku benar-benar terasa. Tidak bertegur sapa dengan Lyan membuat emosiku tidak stabil. Aku mencoret-coret buku catatanku. Biasanya aku hanya memilih pulpen netral cenderung gelap tapi kali ini aku memilih pulpen bewarna merah jika diibaratkan ini sama seperti emosiku yang hampir meledak. Lalu melirik ke arah Lyan yang masih asyik mendengarkan penjelasan dosen yang menurutku amat membosankan. Kuakui Lyan termasuk mahasiwi teladan yang selalu menurut apa yang diajarkan dosen bahkan dia tidak pernah absen mengikuti kelas meski dia sering terlambat.
Seolah merasakan jika aku menatapnya Lyan berbalik ke arahku. Aku terdiam, membeku, tidak beralih sedikit pun malah mengunci pandangan Lyan. Tatapanku sia-sia Lyan bahkan tidak membalas tatapanku dia hanya melirik dengan ekspresi datar yang membuatku tidak dapat menebak apa yang dia rasakan.
Apa yang dia inginkan? Kenapa dia menjauh? Bukankah dia harusnya meminta maaf padaku atas kesalahpahaman yang terjadi antara aku dan sahabatnya. Apa dia tidak memikirkanku sama sekali?
Setelah kelas usai kepalaku berkepul dengan asap amarah. Aku tidak tahu dari mana kemarahan ini berasal. Aku bukan tipikal orang yang akan memperdulikan orang lain termasuk Lyan, tapi kenapa kalimat Dimas masih menggangguku?
"Rumi bukannya kamu masih ada kelas? Kamu bisa pergi sekarang." Profesor Danu memperingatkanku. Tubuhnya yang sudah tua memaksanya untuk membungkuk sedikit saat berdiri. Usia tidak menjadi penghalang untuk profesor ini dalam mengajar.
__ADS_1
Aku tersenyum menatap pria tua yang berperawakan seperti kakekku itu, "Nggak apa-apa Pak. Saya lagi nggak mood buat ikut kelas selanjutnya. Saya bakal bantuin bapak beres-beres."
Pria tua itu tersenyum penuh syukur, "Bagus, saya juga harus ketemu Dekan. Jadi minta tolong bawain barang saya, ya."
"Iya Pak silahkan. Nanti saya bawa ke ruangan Bapak."
Pak Danu keluar dengan cepat meninggalkanku sendiri untuk membersihkan ruangan. Aku mengumpulkan buku-buku milik beliau, mematikan laptopnya, dan memasukkan kembali ke dalam tas laptop. Satu hal yang amat jarang kulakukan.
Setelah menyelesaikan semuanya aku duduk di salah satu bangku kelas sambil merokok. Menghembuskan nafas untuk mengeluarkan asap rokok yang mengandung banyak racun. Aku benar-benar merasa tenang. Ketegangan yang kurasakan perlahan menghilang. Kututup mataku sambil bersandar ke dinding menikmati ketenangan dan kenyamanan yang singgah.
Ini pertama kalinya aku merasa rileks selama seminggu ini setelah sebelumnya banyak menerka-nerka soal Lyan yang sampai saat ini masih diam membisu. Aku terkejut ternyata efek rokok benar-benar semengejutkan ini.
Pintu berdebum terbuka tanpa peringatan membuatku kesal karena terganggu. Lyan berdiri di sana, mulutnya terbuka melihatku yang kuasumsikan dia terkejut menemukanku ada di sini. Aku menghembuskan asap rokok dan menatapnya, "Ngapain lo di sini?"
Aku mengangkat alisku heran, "Gue aja berani ngebuat temen lo hidungnya patah dan lo pikir dengan gue ngerokok hukumannya bakalan beda?"
Lyan menatapku cukup lama membuatku jengah. Dengan sengaja aku meniupkan asap rokok ke arahnya membuat wanita itu tersadar dan menghardikku marah, "Ngapain sih lo. Buang asepnya jangan ke gua, gue masih pingin hidup sampe tua!"
Aku memutar mataku, "Kalau lo di sini cuma mau ceramah soal asep rokok mending lo keluar."
Lyan terdiam melihatku yang acuh. Biasanya aku akan langsung meladeni dia yang mengomel panjang lebar. Ini pertama kalinya aku mengabaikan Lyan. Saat aku kembali ingin menghisap rokok Lyan maju ke depan merebut rokokku dan menginjaknya. Raut wajahnya nampak puas.
__ADS_1
Aku berdiri menjulang di depannya melayangkan tatapan tajam yang tidak memberi pengaruh apa pun padanya, "Jangan nguji kesabaran gue ya Lyn." Aku memperingatinya dengan suara rendah. Jariku menggenggam erat menahan agar tidak melayang, "longgak bakal bisa nahan gue kalau gue udah emosi."
Lyan melirik tidak peduli, "Gue nggak bakal takut sama lo jadi nggak usah sok ngancem-ngencem gue. Gue tau lo marah sama Dimas dan sebenarnya lo pihak yang paling dirugikan di sini walaupun lo udah ngasih balasan yang kelewat ke Dimas. Gue ke sini cuma mau minta maaf."
"Apa ..."
Lyan memalingkan wajah dari tatapan tajamku, "Gue tahu harusnya gue langsung ngejelasin soal hari itu ke Dimas dan nggak ngebiarin dia ngedatengin lo. Gue juga nggak tahu siapa yang ngasih tau dia sampai dia seemosi itu dan nggak mau dengar cerita gue sama sekali."
"Gue tau lo keganggu dan Dimas pantas dapetin pukulan dari lo karena dia asal nuduh. Gue nggak akan membela diri karena gue juga salah."
Aku sempat terdiam beberapa menit untuk memproses semua kalimatnya. Dia tahu apa yang membuatku uring-uringan selama seminggu ini termasuk juga mengetahui alasan dibaliknya. Dia tidak menyalahkanku karena sudah bertingkah anarkis pada Dimas malah sebaliknya Lyan memaklumi dan merasa bersalah padaku. Seorang Lyan yang tidak bisa hidup tanpa Dimas berbalik menjadi sekutuku karena kesalahpahaman ini? It was amazing right?
"Emang lo nggak berantem ya sama Dimas?"
Lyan menunduk tidak berniat menatap mataku. Dengan melihat gesture yang seolah menyembunyikan sesuatu sudah membuatku tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka.
"Gue cuma ngasih tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lo nganterin gue pulang dengan selamat itu doang. Nggak bermaksud ngebela karena emang itu yang terjadi, kan? Gue nggak mau dia main asal nuduh orang lain aja."
"Lo itu cewek umur 21 apa ibu-ibu 40-an yang punya anak umur 2 tahun?"
"Resek lo. Gue lagi benar-benar ngomong juga."
__ADS_1
"Lagian. Emang si Dimas butuh banget penjelasan itu apa sampe main asal nuduh orang. Emang sih gue juga salah."