
Setelah kecenderungan biologisnya jadi mudah terpicu,, hasratnya yang sudah bangkit dari tadi pagi hingga saat ini masih bercokol di kepalanya.
"Apa aku menemui Salsa saja,," Batin Andi.
"Tapi aku tak tega,, hanya menjadikan dirinya sebagai objek pelampiasanku saja" Lanjutnya membatin.
Dalam keadaan kesadarannya yang normal,, sekalipun dorongan kecenderungan biologisnya sedang memicu hasratnya, Andi masih bisa mengendalikannya.
Berbeda dengan kejadian yang terjadi ketika dia menghadapi Rara dan Gangs-nya. Dalam keadaan sadar pun, dia masih ingin melakukannya tanpa merasa itu adalah sebuah kesalahan dan kejahatan.
Mungkin itu disebabkan oleh pengaruh dari jurus Harimau Penghancur yang belum Andi sadari sampai saat ini.
Andi pun mengambil Smartphone miliknya dan menghubungi Salsa.
"Kamu sekarang ada di mana?" Tanya Andi di telepon.
"Aku masih di sekolah baru ku,, sebentar lagi aku pulang. Ada apa Di?" Tanya Salsa dengan wajah terlihat bahagia. Andai Andi melihatnya,pasti Andi menyangka Salsa sudah jatuh cinta padanya.
"Kirimkan alamat sekolah barumu. Aku kan menjemput kamu sekarang " Ucap Andi tanpa menunggu jawaban, lalu mematikan teleponnya.
"Orang aneh,, Sok penting banget,," Gumam Salsa sedikit kesal dengan sikap Andi. Tapi dia tetap mengirimkan alamat sekolah barunya.
Salsa tak tahu dari kapan,, dirinya mulai merindukan Andi, setiap hari dia berharap Andi akan menghubunginya, dia berharap Andi menanyakan hal remeh apa saja. Makanya Salsa sangat senang ketika Andi menghubungi nya barusan.
Andi pun tiba di depan gerbang sekolahnya Salsa, di kawasan Zona Utara.
Salsa bersekolah di SMA Astra 34,, yaitu sekolah elit No. 2 di Zona Utara ini. Sekolah yang berafiliasi langsung dengan Kerajaan Astra.
"Kenapa dia berdiri disamping mobil Honda jazz RS CVT,, apakah ada yang menjemputnya?" Gumam Andi kecewa.
Andi pun keluar dari mobil pertamanya.
"Ini mobil siapa? " Tanya Andi langsung, terlihat nada emosi dalam kata-katanya.
"Mobil baru milikku?" Jawab Salsa singkat.
"Aku tak pernah tahu, Kamu punya mobil?" Lanjut Andi mencoba menyelidiki.
"Aku beli, dengan uang yang kamu berikan. Apakah tak boleh aku belikan mobil?" Jawab Salsa dengan cara balik bertanya. Itulah hebatnya wanita.
"Tidak apa-apa" Jawab Andi, mulai menyadari kesalahannya.
"Aku sudah bilang, aku akan menjemputmu, kenapa kamu membawa mobil?" Tanya Andi.
"Haruskah aku tinggalkan di parkiran sekolah?, Aku tadinya mau memberi tahumu, supaya kamu tunggu di rumah saja. Kita bertemu di sana saja. Tapi kamu,, malah menutup telepon sembarangan" Ujar Salsa sedikit cemberut.
"Ya sudah, kita masing-masing saja. Kita menuju rumahku saja" Ujar Andi berbalik masuk mobil.
"Kebiasaan,, kamu selalu bertindak semaunya" keluh Salsa pelan, kesal dengan sikap asalnya Andi.
__ADS_1
Baru juga beberapa meter melajukan mobil, Salsa menelepon Andi.
"Ada apa?" Tanya Andi.
"Aku Belum tahu rumahmu?, dimana lokasinya?" Tanya Salsa tak mengerti.
"Memangnya, yang kamu tinggali selama ini,, rumah siapa?" Tanya Andi, membuat Salsa kesal dan malu.
"Kenapa tak bilang,, padahal cukup memberi tahu "ke rumah, dimana aku sekarang tinggal,, kamu cukup ngomong seperti itu saja." Ujar Salsa kesal.
"Tit" Suara Sambungan telepon di matikan.
"Akhhhh, untung jasamu besar banget untuk ibuku!!" Teriak Salsa tak kuat menghadapi sikap Andi yang seenaknya.
Karena, selain biaya bulanan dan biaya rumah sakit untuk perawatan Ibunya Salsa. Andi pun membelikan Rumah untuk tempat tinggal Salsa di Zona Selatan,, wajar saja sebenarnya bila Salsa tak bisa benar-benar marah terhadap kelakuan menyebabkan Andi.
***
Salsa pun lebih dulu sampai ke Rumahnya, karena salsa sudah sangat hapal sekali mana jalur terdekat untuk menuju tempat tinggalnya ini.
Andi pun datang dan melihat Salsa menyambutnya di depan rumah dua lantai bergaya Eropa.
"Mencari Siapa pak?" Tanya salsa mencandai Andi.
"Aku mencari wanita yang mau aku ambil mahkotanya hari ini juga?, Apakah mbak bersedia?" Jawab Andi balik bertanya dengan sebuah pertanyaan yang cukup membuat salsa kaget, tak bisa menjawab. Karena salsa paham betul maksud Andi apa.
"Apakah harus jam segini juga?" Tanya salsa karena suasana hati ini sedang panas-panasnya.
"Ya sudah,, masuk saja dulu. Mau minum apa?" Tanya Salsa sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Apa saja, Asal cepat" Jawab Andi asal.
Andi menunggu di atas sofa yang ada di ruang tengah.
Sudah sekitar 10 Menit salsa belum juga kembali. Andi berdiri dari duduknya, dan mencari Salsa di dapur.
Salsa terlihat sedang membetulkan kompor yang tak menyala. Dia bermaksud membuatkan Andi kopi.
"Maaf Di,, kompornya ngadat,, sebentar aku betulkan dulu.. kamu tunggu saja di ruang tengah" Ucap Salsa pada Andi.
Andi pun mendekati Salsa yang sedang mengutak-atik kompornya yang tak kunjung menyala.
"Aku ke sini, tidak untuk minum" Ujar Andi sambil membalik tubuh salsa ke hadapannya.
Tanpa aba-aba,, apalagi meminta izin,, Andi langsung mencumbui Salsa.
Salsa hanya mematung,, masih terkaget dengan yang dilakukan Andi padanya.
"Aku belum mandi war,, tubuhku bau keringat." Ucap Salsa memundurkan tubuhnya.
__ADS_1
"Tak apa,, aku ingin kamu layani Sekarang juga" pinta Andi tegas.
"Kamu kenapa Di?,, Tidak seperti kamu biasanya?" Tanya salsa merasa aneh dengan sikap Andi.
Karena hasratnya sudah memuncak,, Andi pun menarik dan menggendong tubuh salsa ke ruang tidurnya.
"Di mana kamarmu?" Tanya Andi terlihat kesal.
"Kamu mau menyerahkan mahkotamu, atau mau ku ambil paksa?" Ujar Andi membuat hatinya Salsa terluka.
Andi pun sebenarnya tak tega berbicara kasar dan memaksa Salsa dengan perlakuan seperti ini. Andi pun merasa saat ini, dia sedang hidup layaknya binatang.
Salsa hanya diam tak menjawab. Ekspektasi salsa pada Andi tadinya cukup baik,, karena Andi selain baik,, dia juga bisa menghargai nya sebagai perempuan. Melihat sikap Andi hari ini, salsa sangat merasa kecewa sekali.
"Maafkan aku sa,, aku hanya sedang tak bisa berpikir. Aku sedang sangat ingin berhubungan dengan wanita" Ucap Andi menyadari bila ucapannya sedikit berlebihan.
"Bila kamu tak mau,, aku akan mencari wanita bayaran saja" lanjut ucap Andi pada salsa.
"Tak usah,, biar aku saja yang melayani mu" Jawab Salsa tak rela Andi kenal dengan wanita bayaran.
"Aku minta,, kamu jangan banyak bicara sa,, aku sedang tak suka berdebat dan sedang tak suka di tolak. Jika kamu tak sanggup menurutinya. Aku akan pergi mencari wanita lain saja" Ucap Andi kesal.
Salsa hanya mengangguk setuju. Dia khawatir Andi tersinggung dan pergi,, bukan hanya sekedar pergi,, tapi menghentikan semua fasilitas yang dia berikan untuknya.
Setelah anggukan itu,, Salsa pun membuka bajunya sendiri tapi Andi menghentikannya.
"Hentikan,, jangan kamu buka sendiri!" Cegah Andi pada Salsa.
"Ini pertama kalinya untukmu kan?, Aku ingin semua prosesnya,, aku saja yang melakukannya. Kamu diam saja, menurut padaku" Ujar Andi memerintahkan pada Salsa.
Salsa pun mengangguk setuju.
Andi pun memulai "Siang pertamanya" denga Salsa.
Salsa tak pernah menyangka, bila dirinya tak akan memiliki malam pertama, Andi mengambil mahkota wanitanya di siang hari.
Tapi yang tak salsa kira, pria yang umurnya dua tahun lebih muda darinya ini. Seolah tak sesuai umurnya,, dia sangat ahli dan seolah mengerti dengan semua yang dia lakukan pada tubuh salsa. Dan salsa pun merasakan bila rasa sakit ya sepadan,, untuk kenikmatan yang Andi berikan setelahnya.
Salsa pun menuruti semua yang Andi perintah,. Sudah tak tahu berapa kali,, Andi melemparkannya ke langit ketujuh.
"Sayang,, bi,,sa is,,tirahat duluuu sebentar?" Tanya salsa pada Andi di tengah rasa ngilu di bagian khusus tubuhnya, karena terlalu lama di serang oleh Andi.
"Bisa sebentar lagi gak sa?,,,, aku sebentar lagi sepertinya,, gak apa-apa kan?" Tanya Andi lebih sopan,, bahkan terkesan memelas.
Andi pun menyadarinya,, bila tubuh salsa sudah pada batas maksimalnya. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertamanya.
Salsa pun tak tega melihat wajah Andi yang terlihat berharap sekali salsa setuju.
Salsa pun mengangguk setuju,, dan tak lama dari saat itu,, Andi mempercepat gerakannya,, Andi pun memenuhi gudang milk Salsa dengan sesuatu yang berasal dari tubuhnya.
__ADS_1
...****************...