
"ibu bisa kesal sama kamu ndi. Jika kamu terus begini!" Ujar Bu Syifa dengan raut wajah marah.
Bu Syifa tak tahu jika wajah inilah, yang membuat semua murid rela menjadi nakal.
Dan bahkan saat ini pun, Andi menjadi semakin yakin harus menikahi gurunya itu setelah melihat wajah marah Bu Syifa barusan.
Pikiran kotor di pikirannya Andi saat ini, sudah bergonta-ganti keluar-masuk bergiliran memberikan bayangan tak pantas untuk Andi pikirkan kepada guru cantiknya ini.
Semua kegiatan yang hanya berlaku setelah akad nikah, sudah Andi praktek kan di pikirannya saat ini.
Jika Bu Syifa dapat melihat apa yang dilakukan Andi padanya dalam pikirannya saat ini.
Mungkin, Bu Syifa akan sangat marah, tapi belum tentu juga sih.
Bisa jadi, karena hormonal yang lama terpendam di umurnya seperti sekarang ini, bisa jadi Bu Syifa malah kooperatif dengan yang dilakukan Andi dipikirannya saat ini.
Hanya saja, karena rasa hormat Andi yang berlebihan pada Bu Syifa, Andi tak ada sedikitpun niatan untuk melakukan hal yang seperti dia lakukan pada wanita lainnya.
Andi ingin menyentuh dan mendapatkan semua hal yang ada pada diri Bu Syifa, hanya ketika semua hal itu adalah atas dasar hubungan hak dan kewajiban antara keduanya.
"Aku tak bercanda Bu" Jawab Andi singkat, tak terlihat nada ataupun ekspresi candaan di wajah Andi.
"Apa yang kamu harapkan dari wanita seperti ku Andi ?" Tanyanya mulai menganggap Andi bukanlah seorang murid kecilnya, tapi sudah menjadi lawan bicara yang setara.
"Aku berharap ibu bisa bahagia" Jawab Andi masih dengan jawaban singkatnya.
Andi menjawab pertanyaan dari Bu Syifa dengan jawaban, yang sisi keuntungannya tak ada di pihak Andi sedikit pun.
Walaupun setelah menikah sudah pasti, Andi lah yang menang banyak.
Hanya saja, ketika dalam pembicaraan Sepeti ini, seorang wanita lebih suka jika sang pria memposisikan dirinya sebagai orang yang akan Seumur hidup mencari cara untuk membahagiakan sang wanita.
Jawaban Andi barusan, cukup mulai meretakkan dinding hati Bu Syifa yang sudah mengkristal, karena perasaan pasrahnya untuk tak pernah berharap untuk dicintai lagi oleh siapapun, seumur hidupnya.
"Aku sudah tua ndi. Bagaimana kamu bisa mencintai seorang wanita, yang sebentar lagi, akan kalah bersaing dengan wanita-wanita muda yang lebih cantik dan lebih segar saat ini" Ucap Bu Syifa mulai ber analogi.
"Aku mencintaimu bukan karena sisi seksualitas Bu. Aku mencintaimu karena, kamu adalah cinta pertamaku Bu" Ujar Andi mulai berani mengutarakan apa yang ada di kepalanya.
__ADS_1
"Itu mungkin bukan cinta ndi. Itu mungkin hanya sebuah obsesi." Ucap Bu Syifa mencoba menebak jenis apa perasaan Andi padanya saat ini.
"Mungkin saja seperti itu Bu." Jawab Andi tak membela diri.
"Tapi, perasaanku dan niatku masih jauh lebih baik dari pada yang sudah dilakukan oleh Ruben saat ini" Jawab Andi mulai membanding-bandingkan apa yang dirasakannya saat ini dengan perlakukan yang sudah dilakukan oleh Ruben.
Bu Syifa diam tak bisa menjawab pernyataan Andi barusan. Karena, memang benar dan itu semua adalah fakta.
"Baiklah ndi. Aku bisa berjanji, jika masalah ku benar-benar telah kamu selesaikan " Ucap Bu Syifa tanpa ragu. Karena dia sudah tak tahan dengan hidupnya saat ini.
Setidaknya, walaupun harus hidup dengan orang yang terlanjur dianggapnya sebagai murid kecilnya.
Yang terpenting saat ini, kebebasannya dulu yang harus dia perjuangkan, agar bisa lepas dari belenggu Ruben yang seolah menjadi dalang untuk dirinya dan seluruh keluarganya yang semuanya dijadikan olehnya sebagai wayang.
"Baiklah. Aku kunci setengah Janjimu " jawab Andi, yang menganggap kesanggupan Bu Syifa saat ini sebagai setengah Janjinya.
Lalu Andi menghentikan mobilnya ke samping jalan besar ini.
"Kenapa berhenti Andi?"Tanya Bu Syifa tak mengerti.
Andi hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan Bu Syifa.
Kurang lebih pembicaraan itu berlangsung sekitar 10 Menit, dan Andi menutup pembicaraan itu, dengan ucapan terimakasih dan senyuman di wajahnya.
"Kita tunggu saja, kabar baiknya nanti malam." Ucap Andi sambil menjalankan mobilnya kembali.
"Kabar baik apa Di?" Tanya Bu Syifa penasaran.
"Kabar yang bisa membuat anda memberikan setengah lagi dari potongan Janji anda" Jawab Andi sarkas pada gurunya ini.
Bu Syifa terdiam dengan wajah putih yang sedikit memerah. Karena dia, sudah tak bisa menarik kata-katanya yang sudah diucapkan kepada muridnya ini.
Hanya saja, Bu Syifa masih merasa risih jika benar-benar harus menikahi muridnya ini.
"Ibu tak usah bingung Bu. Aku akan bersedia menunggu ibu menerima saya sebagai suami, jika memang saat ini saya belum layak menjadi seorang Suami yang ideal untuk ibu" Ucap Andi seolah tahu apa yang sedang jadi kegundahan dalam hati Bu Syifa.
"Hanya saja, aku mau menunggumu dalam ikatan pernikahan. " Lanjut Andi menjelaskan niatannya itu.
__ADS_1
"Aku tak mau menunggu seorang wanita menerima pengakuan hatinya dalam ikatan yang belum jelas. Aku hanya akan menunggu penerimaan hati ibu sebagai istri. tapi, ikatan pisik kita sudah dalam ikatan suami istri selama proses penantian masa itu tiba" Ujar Andi menjelaskan lebih detail rencana hubungan jangka panjangnya dengan Bu Syifa.
"Pernikahan bukan main-main Andi?" Ujar Bu Syifa, mulai berkomentar klise.
"Terus, yang kamu alami sekarang apa?, Pernikahan serius?, Kamu lebih suka menjalankan sebuah pernikahan seperti yang sekarang kamu ada di dalamnya?" Jawab Andi sedikit emosi.
Bu Syifa terdiam kembali. Dia tak bisa menentang apa yang dikatakan oleh muridnya ini.
"Jika alasanmu tak bisa menerima ku karena usiaku, aku rela menunggu sampai dengan usiaku kamu anggap cukup untuk menjadi suami idelmu. Dan satu hal yang harus ibu ingat, tak peduli aku berusia berapa pun, Ibu akan selalu menjadi sosok istri ideal untukku" Ucap Andi mengakhiri kata-kata hatinya.
Semua ucapan dan untaian kalimat pamungkas yang benar-benar ada di hati Andi, mungkin untuk pembaca, itu akan terasa sebagai kalimat gombal tingkat tinggi.
Bu Syifa sedikit merasa bersalah dengan usahanya yang terus menerus menolak niatan dan maksud baik Andi padanya.
"Kita jalani saja dahulu. Bila benar-benar ibu tak menemukan kebahagiaan denganku.
Akan aku membiarkan ibu untuk meninggalkan aku tanpa syarat apapun" Ujar Andi, ingin mengakhiri pembicaraan ini.
Mereka berdua pun terdiam cukup lama, tanpa terlihat rencana penolakan kembali dari wajah tenang Bu Syifa saat ini.
dia hanya terlihat memandang bangunan yang lewat tak jelas dari jendela mobil murah ini.
"Bukannya ibu dulu adalah seorang dokter?" Tanya Andi memulai obrolan dengan genre baru.
"Iya, tapi karena jadwal di rumah sakit saat itu sangat tak bisa diprediksi. Ruben mengharuskan aku resign dari rumah sakit" Jawabnya tanpa ragu seperti sebelumnya.
"Kamu bisa membuat klinik pribadi saja. Sayang jika kemampuan mu jika tak digunakan" Saran Andi kepada Bu Syifa yang sudah sangat lama menginginkan hal itu.
"Aku pun menginginkan hal seperti itu, tapi aku urungkan keinginan itu hingga saat ini" Jawabnya singkat.
Seperti seseorang yang sedang menceritakan mimpi yang tak mungkin terwujud.
"Bagaimana, jika suatu saat kamu menjadi istriku. Aku akan membangunkan untukmu sebuah rumah sakit yang khusus untuk orang-orang miskin yang tak mampu.
Dan dapat di akses oleh seluruh warga di negara ini" Ucap Andi serius.
Yang dalam pendengaran Bu Syifa terdengar sebagai kalimat halu seorang bocah.
__ADS_1
"Kamu masih meragukan aku ?" Tanya Andi, yang melihat ekspresi Bu Syifa biasa saja.
...****************...