
Andi hanya bisa terdiam karena mendengar pengakuan guru idolanya yang saat ini sangat ingin dia miliki, ternyata masih tak bisa lepas dari romantisme masa lalunya.
Andi, walaupun usianya muda, tapi karena banyak kemampuan aneh di tubuhnya membuat pemikiran dan kepekaan dirinya lebih dewasa daripada pria dewasa lainnya.
Tapi, karena perasaan dan cinta tak bisa dipaksakan. Andi memilih mundur untuk memiliki hati pujaannya ini.
Walaupun pikiran liarnya selalu memberikan ide-ide jahat untuk bisa memiliki wanita ini.
Andi bisa saja memaksa Bu Syifa Seperti cara yang dilakukan oleh Ruben ketika ingin memiliki nya.
Malah Andi bisa lebih kejam dalam melakukan hal-hal seperti itu, dan setelahnya ada Efek si wanita tak akan punya kecenderungan suka kepada pria lainnya.
Seperti sebuah kemampuan alami yang dimiliki beberapa bintang liar, yang ketika dia memilih pasangan hidupnya, maka dia tak akan terpikirkan untuk mau ditunggangi oleh pasangan lainnya.
Si betina lebih memilih menunggu, pejantannya untuk menggilir dirinya setelah betina-betina lainnya.
Tapi Andi tak mungkin tega melakukan hal sekeji itu pada wanita baik seperti Bu Syifa.
Apalagi, Andi sangat mencintainya. Dia lebih memilih bersabar, semoga kesempatan itu akan datang kembali.
"Uang itu, sudah Ibu simpan saja" Ucap Andi, bermaksud memberikan uang itu pada Bu Syifa.
"Itung-itung, sebagai hadiah pernikahan untuk ibu, walaupun aku tak pernah berharap pernikahan itu akan terjadi" lanjutnya, berlagak seperti sedang cemburu.
"Uang ini terlalu besar ndi" Tolak Bu Syifa.
"Jika, ibu tak menerima nya. Maka aku akan terus mencari cara untuk mendapatkan ibu" Ancam Andi pada Bu Syifa.
"Kok gitu sih?" Ucap Bu Syifa, terlihat kesal dengan gaya yang terlihat cantik bagi si penggemar nya.
"Sudah ibu gunakan saja. Atau ibu berikan saja kepada panti asuhan atau tempat apapun, Jika memang ibu tak mau menerima nya " Ujar Andi tak mau menerima pengembalian.
[Drrrttt]
Suara getaran smartphone milik Andi yang disimpan di dashboard mobil Terdengar bergetar.
Andi mengangkat panggilan telepon itu.
"Iya pak. Bagaimana?" Tanya Andi pada seseorang di sebrang telepon.
Cukup lama, Andi terlihat mendengarkan apa yang dikatakan oleh si pembicara disebrang telepon.
"Ok pak, terimakasih banyak. Untuk biaya akan saya transfer. Kirimkan saja, nomor Rekening Bapak " Ucapa Anwar mengakhiri pembicaraan nya di telepon.
"Semuanya sudah diselesaikan Bu" Ujar Andi Seperti biasa, Pernyataan dari Andi tak langsung dimengerti oleh Bu Syifa.
"Apa?" Tanya Bu Syifa terlihat lemot di depan Andi.
__ADS_1
"Masalah perceraian mu sudah disetujui oleh suamimu Ruben. Oh maaf, mungkin sudah bisa disebut sebagai mantan suami sekarang" Ucap Andi menginformasikan kabar ini.
"Kamu tak bercanda kan ndi?" Tanya Bu Syifa tak percaya.
"Sampai kapan, dan harus dengan cara apa, kamu bisa langsung percaya pada ku?" Ujar Andi sedikit kesal dengan sikap guru yang sangat ingin Andi tiduri saat ini juga.
"Iya.. maaf. Terimakasih banyak ndi" Ucap Bu Syifa dengan tingkah menggemaskannya.
Membuat Andi, jadi ingin melakukan apa yang pernah dilakukannya pada Rara.
Tapi, Andi menekan perasaan yang datang dari dorongan naluri bintang nya, yang terasa semakin kuat.
"Bu, jika aku tak bisa menikahi mu. Dan semua masalah mu sudah aku selesaikan.
Lalu apa yang bisa aku dapatkan?" Tanya Andi mulai tak masuk akal.
"Maksudmu?" Tanya Bu Syifa, bertanya lagi.
"Apakah ibu berniat jadi orang yang tak tahu terimakasih?" Tanya Andi kesal.
"Kamu mau apa?" Tanya Bu Syifa.
Bu Syifa tak tahu, apa yang sekarang diinginkan oleh Andi pada dirinya.
Sisi binatang Andi, ingin sekali mengatakan "aku ingin tubuhmu, satu malam saja". Tapi kewarasan nya masih mengunci lidahnya untuk tidak mengucapkan kalimat laknat itu pada guru kesayangannya ini.
Bahkan setelah menyaring dan menahan keinginan biologis di pikiran dan di perutnya, kalimat itu lah yang keluar.
"Maksudmu?, " Tanya Bu Syifa tak Percaya.
"Kenapa, terlalu berat untuk ibu?" Tanya Andi mulai dengan pandangan yang sudah tak ada penghormatan di matanya pada gurunya ini.
"Aku tak meminta permintaan untuk supaya ibu bisa ku tiduri. Karena suami sah yang kamu benci pun tak pernah melakukan nya." Ujar Andi mulai berargumen.
"Dan setiap hari, mungkin dia selalu tak tahan melihat bibir seksimu dan selalu ingin bercumbu denganmu?, Apakah aku benar?" Tanya Andi mulai dengan nada mengancam.
Bu Syifa terlihat mengangguk, karena intimidasi dari pertanyaan Andi.
"Dan aku membebaskan mu dari siksaan cumbuan orang yang kamu benci. Yang harus kamu terima setiap hari. Apakah berlebihan, aku meminta hal seperti itu?" Tanya Andi mulai dengan analogi bejatnya.
Bu Syifa hanya diam, malah terlihat matanya yang berubah sembab, karena tak percaya dirinya akan dipaksa untuk melakukan hal seperti itu oleh muridnya sendiri.
"Bu,, aku sarankan kamu menjawab secepatnya. Karena jika tidak, aku tak tahu apakah aku masih bisa menahan hasratku padamu" Suara Andi semakin terasa menyeramkan terdengar oleh Bu Syifa.
"Apakah harus ndi?" Tanyanya memelas, karena Bu Syifa mulai merasa yakin jika ancaman muridnya ini bukanlah sekedar omong kosong.
Suaminya saja yang penguasa Distrik Klan Srigala Bulan, harus rela menuruti menandatangani surat perceraian dengan dirinya atas perintah muridnya ini.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jangan terlalu dalam ya ndi" Ucap Bu Syifa setuju dengan memberikan syarat.
"Iya" Jawab Andi singkat, langsung mendekatkan tubuhnya ke tubuh Bu Syifa.
Andi langsung mencium bibir gurunya ini, bahkan Bu Syifa masih tak percaya jika orang yang sedang menikmati bibir manisnya ini adalah muridnya.
Tanpa ragu, Andi langsung mulai mengeksplorasi bagian organ Indra perasa milik Bu Syifa.
Bu Syifa tak pernah mengira, jika ciuman Andi akan senikmat ini, rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Bu Syifa tak pernah menyangka jika hanya dengan sebuah ciuman dari muridnya ini kesadarannya mulai sedikit menghilang.
Untuk seorang wanita yang sudah ratusan bahkan ribuan kali melakukan ciuman dengan suaminya selama ini, seharusnya tak semudah ini terbuai oleh perlakuan erotis muridnya ini.
Andi hampir tak melepaskan pagutan nya di ruangan Indra perasa Bu Syifa.
Otot terkuat di dalam mulutnya Andi terus mengaduk Indra pengecap milik guru wanitanya ini.
Tak tahu sudah berapa mili Saliva antara keduanya sudah tercampur.
Tanpa komando dari siapapun, tangan Andi langsung mulai memanjat ke lereng pegunungan, yang area seluas itu hak miliknya semua adalah milik Bu Syifa.
Karena rangsangan dari Sang penjelajah kanan yang bernama "telapak tangan kanan" membuat mata air yang belum berair, menyembul menabrak kain tipis pakaian atas Bu Syifa.
"Sang penjelajah kanan" pun mulai penasaran dengan mata air yang belum berair ini.
'dia' terus mulai meraba, menekan, walaupun 'surat' dari sang otak sudah memerintahkan mulutnya Andi untuk 'mengemut', tapi karena Medan lokasi yang belum memungkinkan untuk melakukannya. Jadi harap sabar dulu saja.
Andi mengetahui jika saat ini, Bu Syifa 90% kesadarannya sudah mulai menghilang.
Kenapa Andi bisa tahu, karena "Sang penjelajah kiri" satunya lagi telah mulai mengeksplorasi ke mata air yang ternyata mulai berair.
Walaupun terhalang oleh kain tipis penutup mata air tersebut.
Tapi lapisan itu tak cukup untuk menghalangi lajur air yang mengalir dari mata air bawah tanahnya.
"Sang penjelajah kiri" mulai mengirimkan informasi kepada otaknya Andi supaya melakukan aksi yang sesuai kepada objek yang ditemukannya.
Otak memerintahkan kepada Satu-satunya pasukan di divisi terdekat dengan lokasi mata air itu, untuk melakukan serangan rudal ke objek yang sudah di kunci oleh "sang penjelajah kiri".
Tapi, penggiat HAM di dalam tubuh Andi yang bernama 'hati' melarangnya untuk melakukan tindakan serangan mematikan itu.
Karena menurutnya, sekali serangan itu dilakukan, maka itu tak akan bisa dihentikan hingga bendungan keduanya jebol.
"Jangan kamu lakukan Andi. Ingat dia adalah gurumu, walaupun saat ini terlihat sangat 'harus' untuk dinikmati" Ucap penggiat HAM, mengingatkan Andi.
...****************...
__ADS_1