
Saat ini, Bu Syifa sudah hilang seluruh kesadarannya, dia terbuai dengan apa yang Andi lakukan pada tubuhnya.
Bu Syifa saat ini Ibarat kendaraan yang sedang dalam kecepatan yang sangat tinggi.
Dia sudah menyerahkan dan mempercayakan segalanya, kepada Sang pengemudi yang sedang mengemudikan dirinya saat ini.
'Sang Penjelajah Kiri' yang sedang mengusap-usap bagian depan Teras milik Bu Syifa yang masih ber tirai.
Baik 'tirai luar', yang saat ini sedang Andi singkap ke samping pintu ruang tamunya.
Yang geseran tirai tersebut, sedikit mengganggu tanaman-tanaman yang Bu Syifa rawat selama ini.
Dan 'tirai dalam' yang sepertinya masih utuh, belum ada seorang pun yang merobek nya.
"Apakah harus aku yang melakukannya?" Batin Andi ingin sekali merobek hal paling berharga di ruang tamu milik gurunya ini.
Masih ada sebuah segel di dinding ruangan ini yang belum di robek. Yang akan terus membuat dirinya menjadi seorang gadis selamanya jika tak dirobek.
"Apakah harus aku, yang membuat dirinya menjadi wanita?" Batin Andi sudah pegal menyembunyikan tamu yang bersembunyi di balik celananya.
Tamu itu, terus berorasi tak mau diam. Dia seolah berteriak.
"Aku ingin bertamu,, Aku ingin bertamu" Tamu dalam celanaku seolah berteriak meminta haknya sebagai seorang Tamu yang membutuhkan bermain-main dalam sebuah ruang tamu.
Andi ingin sekali menjelaskan kepada tamu yang sangat dekat dengannya itu, bahwa untuk bertamu ada aturannya.
Karena.memang sedikit mirip, antara bertamu dengan menyelinap.
Walaupun sama-sama masuk, tapi tetap tak akan senyaman bertamu.
Karena Jika bertamu, maka si tamu akan dilayani dengan pelayanan yang seharusnya, juga akan bisa datang bertamu kapanpun dia mau, selama tak ada tamu merah yang menjadi langganan utama tempat itu.
Andi tak sadar jika kedua tangannya sudah bergerak tanpa komando dari otaknya.
Karena dia baru sadar, Jika gurunya ini sudah tidak memakai pakaian bagian atasnya.
yang tak tahu sejak kapan lepas dari tubuh Bu Syifa.
Andi tak pernah mengira jika, pegunungan milik gurunya ini sangat tinggi dan sangat luas.
Andi mengangkat awan yang berwarna merah juga berenda yang menyelimuti gunung ini ke lereng bagian atas.
Dan benar saja, ketika dibuka,, Andi seolah melihat silaunya pancaran cahaya matahari dari gunung perak ini.
Andi tak kuasa untuk hanya memandangnya.
Andi tanpa izin langsung mulai menancapkan pencapaian dirinya seperti seorang pendaki gunung, ketika sudah sampai di puncak gunung yang di daki nya.
__ADS_1
Andi menandai puncak itu dengan sebuah hisapan tanpa kata, tapi cukup meninggalkan tanda yang mungkin dalam beberapa hari tak akan hilang.
Hanya lenguhan dan erangan serta racauan yang keluar dari mulut Bu Syifa.
Andi tak merasakan reaksi penolakan dari tubuh gurunya ini sedikit pun.
Semakin Andi mempercepat gerakan di area pekarangan nya, malah semakin membuat pagutan bibir Bu Syifa semakin liar.
Tak lama setelah itu, ada pancaran yang cukup deras dari keran air di dalam ruang tamu milik Bu Syifa.
Walaupun Bu Syifa sudah terlihat sangat siap, untuk di bawa ke Level berikutnya, Andi masih saja bertahan dan meyakinkan dirinya dan tamu dekat nya yang terus meronta-ronta, untuk tak melakukannya.
Andi tetap belum yakin menyuruh sang tamu untuk silaturahmi ke dalam ruang tamu yang sudah sangat banjir karena keran yang sudah tak bisa ditutup oleh pemiliknya.
Andi akhirnya mengikuti pesan yang dikirimkan oleh si 'Penggiat HAM', untuk tidak melakukannya.
Andi akhirnya melepaskan semua sentuhan erotisnya di seluruh bagian tubuh Bu Syifa.
Andi pun memundurkan tubuhnya dan duduk kembali di kursi dibelakang kemudi mobilnya.
Sembari memperhatikan guru wanitanya ini yang matanya masih terpejam, seolah menikmati sensasi sebelumnya yang masih mengendap di alam bawah sadarnya.
Dia tak sadar jika saat ini, pakaian atasnya sudah tak dikenakan tubuhnya.
Hanya Bra berwarna merah yang sekarang sudah terangkat ke atas, memperlihatkan pegunungan dengan jalur-jalur kecil yang dari jauh terlihat seperti urat.
Pemandangan ini, semakin membuat Andi ingin memiliki guru cantik dan baik ini.
Tak selang beberapa menit, setelah Andi menghentikan kegiatan erotisnya ke tubuh molek gurunya ini.
Kesadaran Bu Syifa terlihat sudah mulai masuk ke tubuhnya.
Bu Syifa sangat kaget dengan keadaan tubuhnya yang sudah tanpa busana, juga merasa dibagian pekarangan miliknya terasa sangat banjir hingga terasa ke paha putih miliknya.
"Andi, apa yang kamu lakukan padaku?" Sentak Bu Syifa sambil menutupi bagian dadanya yang tak cukup tertutupi oleh kedua tangannya.
"Aku hanya mencium bibir ibu."Jawabnya singkat.
"Tapi, ibu seperti ingin lebih" lanjut Andi mulai menuduh Bu Syifa.
"Untung aku murid yang baik. Aku selalu menepati janji. Aku hanya ingin mencium bibir ibu, maka aku hanya akan mencium bibir ibu saja" Ucapnya sok Polos.
"Tapi aku tak mengira, jika hasrat ibu sangat besar?" Ujar Andi mulai ingin mempermainkan gurunya ini.
"Aku tak mungkin seperti itu?" Jawab Bu Syifa tak terima.
"Terus, Ibu kira siapa yang membuka pakaian itu?" Ucap Andi bertanya, sambil menunjuk baju yang saat ini, tak Bu Syifa sadari ada di belakang punggung nya.
__ADS_1
Bu Syifa hanya diam sambil masih mengatur nafasnya dan agak sibuk menjaga pegunungan luasnya yang tak bisa tertutup oleh tangan mungilnya.
"Kamu berbalik dulu" Pinta Bu Syifa pada Andi untuk menolehkan kepalanya membelakangi dirinya.
"Iya."Jawab Andi menuruti perintah Bu Syifa.
Andi pun kembali ke posisi nya semula setelah Bu Syifa selesai memakai bajunya kembali. Yang sebenarnya, Andi melihat proses Bu Syifa memakai bajunya dari pantulan kaca pintu mobilnya.
Bu Syifa terlihat diam tertunduk seolah sangat malu pada Andi. Karena, dia pun sebenarnya sadar, jika dirinya tak menolak dengan perlakuan berlebihan Andi ketika kesadarannya hilang.
Walaupun kesadarannya hilang, bukan berarti memori pengingat kejadian di tubuhnya pun ikut hilang.
Bu Syifa sangat tahu persis, jika tadi dirinya sangat menikmati apa yang di lakukan Andi pada dirinya.
Bahkan, ada keinginan supaya Andi melakukannya saja. Walaupun pada akhirnya, Andi benar-benar tak melakukannya, tetap menjaga janji yang diucapkan padanya.
"Terimakasih ndi" Ucap Andi bingung.
"Terimakasih untuk yang mana?" Tanya Andi, polos.
"Karena kamu, masih menjaga Janji mu" Jawab Bu Syifa malu.
"Aku akan melakukannya dengan izinmu Bu" Jawab Andi sok Suci.
"Aku tak bisa menjanjikan nya ndi" Ujar Bu Syifa mulai menyadari kesungguhan muridnya ini.
Dia mulai berpikir, jika cinta muridnya ini kepada dirinya, bukan hanya karena dorongan hasrat anak muda semata.
"Ibu yakin, Orang yang ibu cintai saat ini, akan bisa melindungi ibu seperti aku melindungi ibu? " Tanya Andi mulai membanding-bandingkan dirinya dengan pujaan hati gurunya ini.
"Aku tak tahu ndi. Yang pasti aku masih sangat mencintainya dan sangat mengharapkan dirinya" Jawab Bu Syifa datar.
"Baiklah, aku akan menunggu Bu Syifa bertemu dengan pujaan hati ny dulu saja." Batin Andi, memberikan dukungan moril pada hatinya yang sedang cemburu karena jawaban Bu Syifa barusan.
"Mau pulang saja?, Atau makan dulu?, Biasanya akan sedikit lapar jika sudah orgasme seperti itu!" Ujar Andi mulai asal.
"Jika kamu membahasnya lagi, Ibu akan turun mencari taksi" ujar Bu Syifa mengancam Andi, karena sangat malu.
"Iya, aku tak akan membicarakan nya lagi," Ucap Andi, sembari tersenyum licik.
"Paling, aku akan membayangkannya saja" Ujar Andi sengaja.
Bu Syifa terlihat melotot marah. Ekspresi marah yang sudah tak terlihat asli seperti biasanya.
Ekspresi marah, yang akan bisa Bu Syifa lakukan hanya di depan Andi.
"Ah,, ku paksa juga nich"
__ADS_1
Batin Andi tak tahan, melihat wajah marah seksi gurunya ini.
...****************...