
Andi mulai mengevaluasi ulang kehidupannya, dari mulai apa yang dimiliki nya saat ini, dan tentang apa saja, yang mampu dirinya bangun dengan segala kelebihan yang dimilikinya.
Juga tentang cara hidup seperti apa yang harus dia lakukan agar lebih terlihat dan terdengar elok oleh keluarganya, ketika melihat sikap berlebihannya yang terkadang tak bisa dikontrol.
***
Setelah dipanggil oleh Andi, Bu Syifa pun, segera membersihkan tangan nya yang cukup kotor karena memakan seafood andalan dari masakan keluarga nya Bu Laila.
Setelah Bu Syifa menghampiri meja yang Andi dan Pak Raihan sedang berbicara, Andi pun langsung mempersilahkan Bu Syifa untuk duduk dimeja, dimana Saat ini dirinya dan Pak Raihan telah terlebih dahulu duduk.
"Perkenalkan ini Bu Syifa" Ucap Andi memperkenalkan Bu Syifa pada Pak Raihan.
Mereka berdua pun berjabat tangan.
"Ini Pak Raihan. Orang yang telah mengurus proses perceraian mu" Ucap Andi memberitahu Bu Syifa.
"Aku sudah mengenalnya, walaupun mungkin Pak Raihan sudah lupa padaku" Ucap Bu Syifa pada Pak Raihan.
"Oh,, maaf Bu, maklum aku sudah sedikit tua, banyak hal yang aku tidak ingat di usia seperti ini" Ujar Pak Raihan, tak enak hati pada Bu Syifa.
"Aku adalah mahasiswi Bapak, ketika kuliah dulu " Ucap Bu Syifa mengingatkan Pak Raihan.
"Maafkan Bu, saking banyaknya, bapak tak mungkin bisa mengingat setiap mahasiswa ataupun mahasiswi yang bapak ajar" Ujar Pak Raihan meminta maaf.
"Pak Raihan tak usah sesopan itu padaku, cukup panggil aku Syifa saja" Ucap Bu Syifa tak nyaman dengan sikap dosennya ini.
"Tapi, sekarang anda sedang jadi Client penting saya. Tak mungkin saya bersikap tak sopan seperti itu" Ujar Pak Raihan menjelaskan alasannya, sopan.
"Tapi, Tetap saja saya merasa berdosa jika bapak sesopan itu pada saya" Ujar Syifa memaksa.
"Baiklah aku panggil kamu, Nak Syifa saja" Ucap Pak Raihan menyetujui permintaan anak muridnya ini.
"Silahkan tandatangani saja, berkas-berkas ini. Sisanya biar saya yang urus" Ucap Pak Raihan, sambil menyodorkan Berkas yang harus Bu Syifa tandatangani.
"Iya pak, terimakasih" Jawab Bu Syifa mengambil berkas-berkas tersebut.
"Perihal masalah yang sudah kita bicarakan tadi, apakah bapak punya seseorang yang bisa direkomendasikan kepada saya. Jika kebetulan saya, ingin belajar beladiri? " Tanya Andi pada pak Raihan.
Pak Raihan terlihat berpikir keras. Seolah sedang memilih orang-orang yang dirasa tepat untuk direkomendasikan kepada Andi.
"Ada Tuan, sepertinya saya harus meminta izin dulu pada Pak Kosman untuk menanyakan, apakah anda bisa dilatih olehnya atau tidak" Jawab Pak Raihan.
"Dia dari pihak militer?" Tanya Andi penasaran.
"Bukan tuan. Hanya saja, jika anggota Militer akan naik tingkat ataupun jabatan. Biasanya beliaulah yang akan menjadi verifikator terakhir yang akan menentukan kenaikan tingkat anggota-anggota Militer Bawahan pak kosman." Ucap Pak Raihan menjelaskan.
"Baiklah, aku percayakan saja pada bapak.
Nanti, kabari saja jika aku sudah diizinkan untuk berlatih" Ucap Andi setuju.
"Memang dia siapa Pak?, Jika saya boleh tahu" tanya Andi makin penasaran.
"Dia adalah satu-satunya Tetua dari Klan Matahari" Jawab Pak Raihan singkat.
"Maafkan aku pak. Aku benar-benar tak tahu, dengan informasi tingkat atas seperti itu" Ucap Andi meminta maaf pada Pak Raihan.
"Maafkan aku tuan, Aku lupa." Ujar Pak Raihan, baru sadar bila Andi tak mungkin tahu tentang informasi seperti ini.
"Dia adalah gurunya Sang Jendral Perang" Ucap Bu Syifa ikut menjawab pertanyaan itu, dengan santainya.
Beberapa saat Bu Syifa baru tersadar dengan apa yang dilakukannya, dia sudah berani menyela obrolan antara dosennya dengan Andi.
"Maafkan saya Pak, aku tak sengaja menjawab pertanyaan itu" Ucap Bu Syifa meminta maaf.
"Tak apa Nak Syifa, lagian Jawaban Nak Syifa juga tak salah. Memang benar seperti itu" Ujar Pak Raihan membenarkan apa yang dikatakan oleh Bu Syifa.
"Kenapa Kamu bisa tahu?" Tanya Andi pada Bu Syifa, heran.
"Aku sering mendengar ketika Ruben membicarakan nya dengan tamu-tamu yang sering datang ke rumahnya saat itu" Jawab Bu Syifa menjelaskan kenapa dia bisa tahu.
Pak Raihan dan Andi terlihat mengangguk, tak jadi merasa aneh dengan apa yang diketahui Bu Syifa.
"Sudah saya tandatangani semuanya Pak" Ucap Bu Syifa menyerahkan berkas perceraian dirinya kepada Pak Raihan.
__ADS_1
"Iya. Saya akan urus proses perceraian Nak Syifa secepatnya" Ucap Pak Raihan pada Bu Syifa.
"Terimakasih Pak sebelumnya" Jawab Bu Syifa sungguh-sungguh.
"Sama-sama, Anda tidak usah berterimakasih pada saya. Tuan Andi lah yang membuat saya berani melakukan semua ini" Ujar Pak Raihan, mengingatkan Bu Syifa tentang alasan kenapa dia melakukan hal yang tak mungkin dilakukan olehnya, jika yang memintanya bukan lah Andi.
"Terimakasih ndi" Ucap Bu Syifa pada Andi, terlihat salah tingkah.
"Tak apa-apa Bu. Sudah selayaknya, saya melakukannya." Jawab Andi asal.
"Sepertinya saya harus segera kembali, tuan" Ucap Pak Raihan pamit.
"Oh iya pak. Terimakasih atas bantuannya" Ucap Andi sambil menyalami Pak Raihan.
"Sama-sama Pak. Paling lambat, esok lusa proses perceraian Bu Syifa sudah selesai diproses" Ucap Pak Raihan berjanji.
"Iya Pak, kabari saja bila semuanya sudah beres" Jawab Andi singkat.
Pak Raihan pun pamit, dan meninggalkan Warung Seafood milik Bu Laila ini, tanpa meminum dua gelas .minuman yang dipesannya.
"Sekarang semua masalah ibu sudah selesai. Dan harapan ku pun sudah ibu Jawab." Ucap Andi pada Bu Syifa sedikit menyindir.
"Mulai saat ini, untuk sementara tak ada hubungan penting lagi antara kita. Tapi lamaran saya pada ibu akan terus berlaku, jika kebetulan ibu berubah pikiran," Ujar Andi dengan nada serius.
Bu Syifa bingung, harus merespon dengan jawaban seperti apa, mendengar pernyataan Andi barusan.
"Sekarang, ibu mau saya antar ke mana?, Karena sudah tak mungkin ibu harus pulang ke alamat rumah Ruben kan?" Tanya Andi ingin tahu tujuan Bu Syifa malam ini.
"Iya ndi. Jika tak merepotkan, bisa antarkan ibu ke alamat rumah ibu yang dulu" Jawab Bu Syifa, meminta tolong pada Andi dengan nada lebih sopan.
Mungkin karena tahu, jasa Andi bukanlah perkara biasa, yang bisa dilakukan oleh orang biasa.
Bu Syifa mulai bisa menilai apa yang sudah dilakukan oleh Andi, bukanlah perkara kecil yang bisa dia balas, hanya dengan ucapan terimakasih saja.
Andi pun pamit kepada Bu Laila setelah membayar semua makanan yang dipesannya.
Walaupun agak lama prosesnya. Karena Bu Laila bersikeras menolak uang yang Andi berikan padanya.
Andi dan Bu Syifa pun pamit pulang.
"Maafkan ibu ndi" Ucap Bu Syifa tiba-tiba, sesaat Andi melajukan mobilnya.
"Maaf untuk apa?" Tanya Andi klise.
"Untuk semua ketidak jelasan ibu saat ini" Jawab Bu Syifa ambigu.
"Tak jelas bagaimana?" Tanya Andi, benar-benar tak mengerti untuk pernyataan Bu Syifa yang itu.
"Karena ibu masih merasa risih saja dengan keinginan mu. Yang mana, dipikiran ibu saat ini,, itu adalah hal yang terasa tabu" Jawab Bu Syifa beralasan, masih tak menjelaskan maksudnya.
"Aku masih tak mengerti Bu" Ucap Andi masih bingung.
"Tentang lamaran kamu sebelumnya" Ucap Bu Syifa, semakin bingung harus menjelaskan seperti apa pada Andi.
"Yang jelas saja Bu. Aku tak suka cerita bertele-tele" Ucap Andi sedikit kesal.
"Kamu tahu, berapa lama ibu sudah menjalani kehidupan seperti boneka bersama Ruben?" Tanya Bu Syifa, Terdengar seperti akan mulai menceritakan kisah sedihnya.
"Aku tak tahu Bu" Jawab Andi asal, Andi pun tahu Bu Syifa tak memerlukan jawaban untuk pertanyaan ini.
"Sekitar 10 tahun lalu, Ibu mengira hidup ibu akan baik-baik saja. Setelah lulus kuliah, aku akan mulai bekerja di perusahaan besar, lalu mulai merencanakan kehidupan yang bahagia dengan orang yang kita cintai, lalu berakhir hidup selamanya bersama orang itu " Ucap Bu Syifa bercerita panjang lebar.
"Tapi, hanya butuh satu hari, untuk Tuhan mengubah hidupku. Dengan mendatangkan Ruben ke alur cerita hidupku, lalu semuanya berakhir dengan cerita seperti ini." Lanjutnya menceritakan kehidupan tragisnya.
"Ibu hanya tak sanggup untuk hidup dengan kepura-puraan seperti hidup ibu yang dulu ndi" Ucapnya menjelaskan penolakan dirinya pada lamaran Andi.
"Maksud ibu bagaimana?" Tanya Andi benar-benar masih bingung dengan arah pembicaraan wanita ini.
"Ibu hanya tak mau hidup dalam kepura-puraan lagi. Bersama Ruben, setiap hari ibu hidup dalam ketakutan, karena ibu tak bisa melawannya." Ucap Bu Syifa menjelaskan.
"Jika ibu menerima lamaran mu, seperti nya ibu akan hidup dalam perasaan memiliki Hutang Budi padamu selamanya, karena kamu telah menyelamatkan hidup ibu dari cengkraman kekejaman Ruben" lanjut Bu Syifa menjelaskan kesamaan nasib dari dua cerita hidupnya ini.
walaupun bayangan hidup bersama Andi, baru sekedar asumsinya.
__ADS_1
"Aku ingin menjalani kehidupan yang benar-benar dalam proses perasaan yang alami ndi" Ucapnya mulai mengutarakan keinginannya selama ini.
"Maksud ibu, ibu ingin menikah dengan orang yang ibu bisa mencintai nya?" Tanya Andi.
"Iya ndi. Keinginan ibu tak berlebihan kan ?" Tanya Bu Syifa menjelaskan keinginannya.
Andi hanya mengangguk, dia mulai menyadari keegoisan dirinya yang sudah dilakukannya pada Bu Syifa sebelumnya.
Andi merasa, karena dirinya yang menyelamatkan hidup gurunya ini, seolah Andi memiliki hak untuk menentukan pilihan gurunya ini.
"Baiklah Bu. Aku akan mengikhlaskan ibu saja. Karena kebahagiaan ibu akan lebih membahagiakan buat ku" Ucap Andi mulai menyadari sikap berlebihannya pada guru cantiknya ini.
"Ibu pun sudah mengetahui pacar ibu semasa kuliah dulu. Dia Sudah hidup bahagia dengan pasangannya saat ini." Ujar Bu Syifa mulai menceritakan cerita pribadinya pada Andi.
"Ibu sudah tak berharap apa-apa dalam hidup ini. Ibu hanya ingin hidup dengan tenang, tanpa harus dihantui kekhawatiran setiap hari" Ucap Bu Syifa dengan sorot mata yang terlihat lelah.
"Ibu sudah tak berpikir untuk menikah ataupun dinikahi oleh siapapun. Jika kamu masih berpikir untuk memiliki ibu hanya untuk kepuasan mu. Ibu rela memberikan nya padamu. Karena secara tidak langsung, hidup ibu sudah jadi milikmu ndi" Ucapnya pada Andi pasrah.
"Hanya saja, ibu hanya ingin mengalami hidup sebagai manusia bebas, walaupun hanya sesaat" Ucapnya terlihat sangat perih saat mengucapkan kalimat itu.
"Selama 10 tahun, Ibu merasa sudah tak bisa merasakan sisi kemanusiaan ibu. Ibu merasa jadi sosok barang yang bisa dimiliki dan atur oleh sang pemilik selama waktu itu" Ucapnya sambil menitikkan air mata dari mata cantiknya.
Andi hanya mendengarkan keluh kesah gurunya ini, sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat pelan.
"Baiklah Bu. Mulai hari ini, aku tak akan ikut campur dalam kehidupan Ibu lagi" Ujar Andi, berniat berjanji, karena terharu dengan betapa nestapa hidup yang ditanggung oleh gurunya ini ternyata sangat berat.
"Tidak usah seperti itu juga ndi. Ibu hanya butuh waktu sejenak untuk relaksasi dari nestapa hidup ibu selama ini" Ujar Bu Syifa menjelaskan maksudnya.
"Maksud ibu, niatan saya untuk melamar ibu bisa saja diterima, bila ditanyakan di tempat dan waktu yang tepat?" Tanya Andi langsung.
Bu Syifa terdiam agak lama tak menjawab ketika mendengar pertanyaan muridnya ini.
"Mungkin saja" Jawab Bu Syifa singkat, dengan sedikit senyum di kedua ujung bibir manis, yang sudah di pernah dirasakan oleh Andi sebelumnya.
Andi pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang kebetulan memang agak sepi di jam seperti ini.
"Kenapa kamu berhenti ndi?" Tanya Bu Syifa tak mengerti.
Tanpa menjawab pertanyaan kebingungan Bu Syifa. Andi langsung mencium bibir gurunya ini tanpa aba-aba.
Bu Syifa pun kaget, karena tak menyangka jika muridnya akan melakukan tindakan ini.
Bu Syifa terdiam, malah terlihat membalas ciuman itu seperti Andi adalah orang yang sudah memiliki izin untuk melakukan apapun padanya.
Mungkin efek dari kejadian sebelumnya, seolah tubuhnya sudah mengenal siapa saja orang yang bisa jadi penikmat tubuhnya.
"Jika lamaran ku ditolak karena belum mengenal. Berarti kita anggap masa ini, sebagai penjajakan untuk kita saling mengenal" Ujar Andi menjelaskan hubungan mereka saat ini, setelah menyudahi ciuman dari gurunya ini.
Bu Syifa hanya terlihat mengangguk dengan senyuman di wajah seksinya.
Andi sudah tak bisa berpikir melihat wajah guru cantik nya ini, yang sudah terlihat pasrah.
Mereka pun akhirnya berciuman seperti orang gila, karena Bu Syifa pun merasakan hasrat yang tertahan selama ini.
Semua pakaian yang mereka pakai sudah mulai dibuka kooperatif oleh keduanya.
Tak ada satupun kain yang menempel di tubuh keduanya, dengan posisi Bu Syifa duduk dipangkuan Andi, saling berhadapan.
Setelah semua pergumulan dua tubuh ini, Andi merasakan 'tamu keras' miliknya sudah mulai menggesek ke bagian Pintu ruang tamu milik Bu Syifa yang sudah sangat basah karena hujan lokal di area ini.
Bu Syifa pun sudah akan pasrah, bahkan mulai membantu tamu milik Anwar untuk masuk ke ruang tamunya yang belum memiliki pintu yang elastis, karena belum pernah ada yang masuk.
Sesaat Bu Syifa ingin memaksakan tamu itu supaya masuk ke ruang tamunya. Andi malah mengingatkan Bu Syifa untuk menghentikan nya.
"Bu hentikan dulu. aku ingin menikahi mu, karena aku sangat menghormati mu. Jika sampai ruang tamu mu aku rusak sekarang dalam kepemilikan yang belum jelas, sepertinya kedepannya aku tak akan bisa menjaga penghormatan yang selama ini kujaga untukmu " Ucap Andi mengingatkan Bu Syifa.
Bu Syifa terlihat diam tak menjawab, karena dia dipaksa berpikir tentang moral dalam posisi seperti ini.
Hanya orang sok suci yang bisa berbicara moral di saat, dimana dua ******** sedang saling bergesekan.
"Tak usah kamu Jawab Bu. Biar aku memeluk tubuhmu dalam posisi seperti ini sepuasnya" Ujar Andi, mengalihkan rasa malu Bu Syifa saat ini.
...****************...
__ADS_1