Sang Pemulung Kaya

Sang Pemulung Kaya
Bab 57. Intimidasi Andi


__ADS_3

Andi sangat mengerti dengan kekesalan istrinya pada ayah dan kakeknya.


Yang terlalu pengecut dalam banyak hal, khususnya pada hal-hal yang seharusnya mereka menjadi seorang pemberani pada kondisi yang dibutuhkan pada saat tertentu.


Mereka berdua terlalu lama di intimidasi oleh keluarganya, sehingga kakek dan ayahnya tidak pernah punya keberanian yang cukup untuk menentukan apa yang penting untuk mereka.


Tapi, diluar pikiran Bu Syifa yang sangat mengerti dan sangat paham dengan karakter Kakek dan Ayahnya.


Itu semua tetap tak membuat kekecewaannya kepada sikap dua orang ini menghilang.


Bu Syifa terlahir dengan karakter yang sudah baik sejak awal.


Walaupun kehidupan menyedihkan yang bertubi-tubi menimpa dirinya.


Itu semua tak membuat dirinya menjadi pembenci kepada orang-orang di sekelilingnya.


Setelah Andi mendengar semua kisah miris tentang perjalanan hidup istrinya ini.


Andi memutuskan untuk mulai membangun Dinasti miliknya dengan memanfaatkan orang-orang bermental lemah seperti ayah dan kakeknya ini.


"Sayang, ada hal yang mau aku bicarakan padamu secara serius"


Ujar Andi, membuat istrinya penasaran.


"Aku ingin membuat sebuah perusahaan baru dengan aset-aset milik keluarga Astari yang telah aku beli semalam sebagai titik awal perusahaan baru ini".


Ucap Andi mulai menjelaskan rencana pribadinya.


"Aku ingin perusahaan ini dinamai dengan namamu yaitu Maulida Group"


Lanjut Andi menjelaskan rencananya.


"Aku ingin perusahaan terpusat ini menjadi sebuah perusahaan yang bergerak di semua bidang. Baik itu properti, pabrik, rumah sakit, bahkan juga sebagai perusahaan sumber investasi"


Lanjutnya menjelaskan tujuan besarnya.


"Kamu mengerti dengan rencana yang kamu ucapkan barusan kan sayang? "


Tanya Bu Syifa, mengingatkan suaminya ini.


"Tentu saja. Semua yang ku bicarakan aku sangat paham sekali atas itu semua"


Jawab Andi terlihat yakin.


"Maksudku, semua rencana mu itu sangat membutuhkan Aset dan kekuatan uang yang sangat besar dan kuat"


Ujar istrinya menjelaskan, karena sebenarnya Bu Syifa secara pengetahuan memang cukup ahli dalam hal ekonomi baik micro ataupun macro.


Jadi, Bu Syifa sangat mengerti tentang rencana besar suaminya ini, yang akan sangat berisiko jika tak memiliki sumber keuangan yang cukup besar dan kuat.


"Kamu jalankan saja rencana yang ku inginkan. Berapa estimasi untuk membangun infrastruktur perusahaan dan segala jaringan yang dibutuhkan"

__ADS_1


Tanya Andi tak mau bertele-tele lagi.


"Mungkin dengan batasan persiapan awal dalam pembangunan perusahaan berlevel multinasional, dana yang dibutuhkan tidak akan kurang dari 10 Triliun "


Jawabnya, sambil memperhatikan wajah suaminya ini.


Bu Syifa tak melihat rasa kaget ataupun raut wajah terkejut pada wajah suaminya.


Bu syifa menganggap jika Saat ini Andi mungkin sedang asal bicara.


"Baiklah, berikan aku waktu satu bulan. Kamu siapkan saja perencanaan pembangunan. Dari mulai tempat dan arah usaha yang akan menjadi fokus perusahaan rintisan kita ini"


Jawab Andi cukup yakin.


"Satu bulan?" Tanya Bu Syifa ragu.


"Kenapa?, Terlalu lama?, 20 hari saja."


Jawab Andi pada Bu Syifa yang terlihat ragu pada pernyataan Andi sebelumnya.


"Bukan seperti itu sayang. Malah aku berpikir waktu itu terlalu cepat" Ucap Bu Syifa.


"Kamu akan mendapatkan uang sebesar itu dari mana?"


Tanya Bu Syifa mulai ingin tahu tentang sumber keuangan Andi selama ini.


"Kamu belum waktunya untuk tahu sayang. Kamu cukup percaya saja dengan ku" Jawabnya singkat, membuat persona dirinya menjadi semakin misterius di mata istrinya.


Ucap Andi sambil mengakhiri acara makan bersama istrinya ini.


"Kamu akan pulang ke mana malam ini?" Tanya Bu Syifa.


"Tentu saja ke rumahku sayang. Kamu dan ibu, ikut saja dengan ku pergi ke rumah milikku " Ucapnya menjawab pertanyaan istrinya serta meminta izin juga pada ibu mertuanya ini.


"Bukannya, kemarin ibu meminta syarat agar Syifa tetap tinggal di rumah ini?" Tanya mertuanya, mengingatkan Andi.


"Iya Bu. Karena kemarin ini masih rumah ibu.


Tapi sekarang?" Ucap Andi, balik bertanya pada mertuanya.


Sang mertua hanya bisa terdiam tak mampu menjawabnya.


"Ibu tak usah khawatir, aku ingin kalian semua tinggal di rumahku, bukan karena tersinggung oleh sikap kalian ataupun ingin memiliki seluruh aset kalian. Walaupun sebenarnya, itu sah-sah saja. Karena semuanya memang sudah menjadi milikku"


Ucap Andi menjelaskan maksudnya, walaupun terasa seperti sebuah sindiran keras untuk mertuanya ini.


"Aku hanya khawatir saja dengan keadaan dan keamanan ibu dan Syifa, karena betapa lemahnya kemampuan dan pengaruh kakek dan ayah di dalam keluarga besarnya ini" Lanjut Andi menjelaskan kekhawatiran dirinya.


"Akan lebih baik jika ibu dan Syifa ada di bawah perlindungan ku, hingga semua rencana ku terlaksana"


Ucap Andi mengakhiri penjelasan atas semua niatnya.

__ADS_1


"Ibu setuju saja dengan usulan kamu ndi"


Ujar ibu mertuanya, menyetujui rencana Andi.


"Tapi, bagaimana dengan Kakek dan ayah Syifa?"


Tanya ibunya, seolah tahu jika Andi tak terlalu respect pada mereka berdua.


"Tentu saja, termasuk mereka. Aku ingin kalian semua ikut denganku."


Ucap Andi menjelaskan maksudnya yang di salah pahami oleh mertuanya ini.


"Hanya saja mereka harus tahu, jika mereka hanya sebagai ayah dan kakek Syifa saja.


Mereka tak punya hak untuk mengatur ataupun mengintervensi hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan yang akan menjadi Syifa ke depannya" Lanjut Andi tegas.


"Jika tak setuju, silahkan tinggalkan lingkaran hidup dimana Syifa dan aku berada"


Ujar Andi terkesan sedikit mengancam.


"Jika ibu setuju?, Nanti akan aku kirim orang untuk membawa kalian. Tapi jika tidak, mohon segera tinggalkan rumah ini. Karena rumah ini sudah bukan milik kalian lagi"


Ucap Andi datar, seperti seseorang yang tak punya etika dan kepedulian kepada keluarga Istrinya ini.


Andi hanya ingin mengingatkan kepada mereka agar tak semena-mena bersikap.


Bersikaplah dengan sikap yang seharusnya.


Mereka berpikir jika Andi sudah menjadi suami dari Syifa, seolah Andi akan tunduk secara otomatis kepada keputusan mereka.


"Aku bisa meninggalkan Syifa kapan pun aku mau. Aku menikahi nya bukan untuk menjadi budaknya Bu. Aku menikahinya karena ingin menjadi suaminya"


Ucap Andi kepada mertua wanitanya ini.


"Jika dia tak mau mengikuti perintah dan keinginan ku. Berarti sudah tak ada nilai penting pada diri Syifa yang menjadi alasan aku menikahi nya "


lanjut Andi seolah mengancam keluarga besar ini, melalui mertua wanitanya ini.


"Iya ndi. Nanti akan ibu sampaikan semuanya pada Kakek dan Ayahnya Syifa"


Ucap mertuanya mulai mengerti dengan ketersinggungan menantunya ini.


"Kamu tak usah khawatir dengan apa yang dipikirkan ataupun yang dilakukan oleh Kakek dan Ayahnya Syifa. Tak akan ada hal hebat yang akan mereka lakukan"


Lanjut mertua wanitanya ini, Seoalah meremehkan suami dan mertuanya itu.


"Kamu pergi saja duluan. Dan nanti malam, kirim saja orang yang akan menjemput kami. Ibu jamin, mereka akan setuju dengan saranmu"


Lanjut ibunya lagi, meyakinkan Andi.


"Ibu sangat mengenal siapa suami dan mertuaku ndi. Kamu tenang saja."

__ADS_1


Ucap mertua wanitanya ini, mengakhiri kata-kata nya dengan senyuman bahagia.


__ADS_2