
"Maafkan aku tuan Andi,, ampuni kami tuan" Ucap Ruben terus mengulangi kalimat permohonan pengampunan yang tak pernah dia lakukan selama ini kepada Siapapun.
"Istrimu terlalu baik untuk pria jahat seperti mu Ruben" Ujar Andi mengomentari kehidupan Ruben.
"Aku yakin, kamu pun menjebaknya ketika ingin mendapatkannya kan?" Tebak Andi pada Ruben.
Andi langsung pergi tanpa memperdulikan teriakan Ruben yang terdengar berteriak seperti orang gila di belakangnya.
"Sekarang kamu tahu kan Ruben, bagaimana rasanya putus asa dalam keadaan tak berdaya?" Gumam Andi dengan senyuman jahatnya.
Andi pun melajukan mobil murahnya ini menuju SMA 10 BINA RAKSA yaitu SMA yang menjadi sekolah pertama di tingkat SLTA.
Dia berhenti di depan sekolah, dan hanya duduk di belakang kemudi mobilnya seperti sedang menunggu seseorang.
Ketika ada seorang wanita dengan pakaian rapih dan terlihat sangat anggun dengan kostum hariannya ketika mengajar.
Wanita cantik ini, tak lain adalah Bu Syifa Athalia.
Dialah satu satunya guru yang menganggap Andi sebagai pelajar di sekolah laknat ini.
Bu Syifa lah, yang selalu menyemangati Andi ketika dia terlihat putus asa karena di bully oleh teman sekelasnya yang kaya.
Bu Syifa adalah wanita cantik dan baik kepada siapapun.
Dan dia cukup disukai oleh beberapa murid nakal, Tapi Taka ada satu pun yang berani mengganggunya, karena semua anak-anak nakal tahu siapa suaminya Bu Syifa ini.
Suaminya, adalah seseorang yang bahkan orang tua mereka pun, tak mungkin berani untuk menyinggung nya.
Pintu gerbang pun terlihat Telah dibuka oleh penjaga pintu yang tak Andi kenali.
Sepertinya sekuriti yang dahulu menjaga pintu masuk SMA BINA RAKSA ini telah diganti.
"Sepertinya itu Andini?" Gumam Andi ketika melihat seorang wanita cantik yang pernah memperlakukan dirinya dengan sangat baik.
Tapi, saat ini dia sedang ada urusan lainnya.
Jadi Andi mengurungkan niatnya, yang sesaat lalu, dia ingin menemui Andini untuk menyapanya.
Tak lama setelah ratusan siswa-siswi sekolah ini, sebagian besar telah pulang meninggalkan tempat ini.
Ada yang membawa kendaraan sendiri, ada juga yang di jemput, serta ada juga yang memesan Taksi online.
Akhirnya orang yang di nanti Andi pun, sudah terlihat keluar dari gerbang sekolah ini.
Seorang wanita berusia 35 tahun, dengan tubuh yang tak terlalu tinggi, dengan pakaian sopan yang selalu terlihat anggun ketika dipakai olehnya.
Wanita inilah, yang menjadi Role model bagi andi tentang kriteria wanita yang akan Andi jadikan istri di masa depannya.
__ADS_1
Tubuh proporsional Bu Syifa yang tak kalah dengan tubuh murid-murid perempuannya.
Mungkin karena Bu Syifa belum memiliki anak, jadi tubuh gadisnya masih tetap terjaga hingga saat ini.
Ketika Bu Syifa berdiri di depan gedung, terlihat seperti akan mencari taksi yang lewat.
Andi langsung melajukan mobilnya tepat di titik Bu Syifa berdiri di samping jalan besar ini.
Andi pun langsung keluar menyapa Bu Syifa yang sedang berdiri, terlihat bingung karena ada mobil Brio berhenti di depan tempatnya menunggu taksi.
"Bagaimana kabar Anda Bu Syifa?," Tanya Andi menyapa guru idola nya ini.
"Oh,, Andi?" Tanya Bu Syifa memastikan.
"Ibu baik-baik saja." Lanjutnya menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Kamu ke mana saja selama ini?" Tanya Bu Syifa bertanya. Dia memang selalu secerewet ini pada Andi.
Tapi, Andi selalu suka dengan sifat bawaannya ini. Bahkan ketika dia marah-marah sekalipun.
Ada saat dimana, beberapa anak-anak yang memang setiap hari, selalu sengaja mencari kesalahan, supaya bisa di marahi oleh Bu Syifa.
Mereka sangat berharap dimarahi oleh Bu Syifa, karena supaya dapat melihat bagaimana bibir Bu Syifa ber komat-kamit memarahi mereka.
Karena menurut mereka bibir Bu Syifa ketika marah sangat seksi, membuat mereka ingin menciumnya.
Bahkan tak jarang, ada yang merekam Bu Syifa ketika marah-marah. Untuk dijadikan bahan ketika mereka ingin mengkhayalkan hal dewasa, di mana Bu Syifa menjadi objek imajinasi omes mereka.
Andi pun ikutan, sering menjadikan Bu Syifa sebagai objek fantasi dewasanya.
Tak terasa, karena sifat dan sikap Bu Syifa yang sangat baik. Membuat Andi mengidolakan dirinya terlampau dalam.
Bahkan, menjadikannya standard wanita yang akan dijadikan Istrinya di masa depan, Andi berharap bisa menemukan wanita yang seperti Bu Syifa.
Walaupun hati kecilnya Andi, dia ingin memiliki Bu Syifa asli sebagai istrinya.
Bahkan hingga saat ini pun, perasaan dan niatan itu masih bercokol dalam hatinya.
"Aku pindah sekolah Bu." Jawab Andi singkat.
"Terus kenapa tak mengabari pihak sekolah ataupun meminta surat pindah ke pihak Administrasi?" Tanya Bu Syifa mencecar Andi, karena menghilang begitu saja.
"Aku sibuk mengurus Ibuku saat itu. Aku tak meneruskan sekolah di tahun lalu. Tapi sekarang aku sudah sekolah kembali Bu,
Walaupun mengulang,, " Jawab Andi sambil nyengir polosnya.
Andi tak merubah images di depan Bu Syifa.
__ADS_1
Karena Bu Syifa mengenal Andi dalam sosok seperti ini.
"Ibu mau ke mana?" Tanya Andi ingin tahu.
"Aku akan pulang ndi. Ibu tadi sedang menunggu taksi " Jawab Bu Syifa.
"Kamu sudah punya mobil. Hebat kamu ndi?" Ujar Bu Syifa pada mantan muridnya ini.
"Kebetulan saja Bu. Pekerjaan yang aku dapat saat ini, gajinya lumayan" Jawab Andi berbohong.
"Biar aku antar saja Bu " tawar Andi.
"Bagaiman ya,, Baaiklah, ibu juga ingin ngobrol dulu sebentar dengan murid kesayangan ibu ini" ucap Bu Syifa terlihat sempat ragu.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil.
"Ibu mau aku antar ke rumah ibu yang dulu?" Tanya Andi.
"Tidak ndi, ibu sudah tak tinggal di sana " Jawabnya terlihat kosong.
"Aku salah bertanya ya Bu?" Ucap andi, sengaja memancing obrolan dengan menunjukkan sikap rasa bersalah nya.
"Tidak ndi,, ibu hanya sudah tak bisa tinggal di rumah yang hampa seperti itu" Jawab Bu Syifa tak sadar bercerita tentang yang dia rasakan.
"Lagian, kenapa ibu menikah cepat-cepat?" Tanya Andi terdengar asal dan cukup membingungkan untuk Bu Syifa.
"Maksud kamu?" Tanya Bu Syifa merasa aneh dengan pernyataan Andi.
"Ini tentang rumah tangga ibu kan?" Tebak Andi, walaupun sebenarnya dia lebih tau masalah Bu Syifa lebih dari siapapun.
Bu Syifa hanya terdiam tak menjawab, Merasa malu pada muridnya, karena masalahnya diketahui oleh muridnya ini.
"Terus kenapa kamu tadi bilang, "Kenapa ibu menikah cepat-cepat?", Maksudnya apa?" Tanya Bu Syifa penasaran dengan pertanyaan aneh yang di tanyakan oleh Andi.
"Seandainya saat ini ibu belum menikah, setidaknya aku punya peluang untuk menikahi ibu saat ini." Jawab Andi asal.
Andi sudah tak takut Bu Syifa akan salah paham, ataupun akan marah padanya karena pernyataan nya barusan disalah artikan sebagai penghinaan ataupun apapun.
"Kamu bisa aja ndi." Ujar Bu Syifa, menganggap kata-kata Andi sebagai candaan.
"Aku tidak bercanda Bu" Sergah Andi pada jawaban Bu Syifa.
Bu Syifa terdiam tak menjawab, malah memperhatikan Andi yang saat ini sedang mengemudi di sampingnya.
"Kamu ada-ada saja ndi, ibu tuh sudah tua." Ucap Bu Syifa kembali beralasan dengan kata-kata klise.
"Jika menjadi tua nya ibu, itu tidak masalah bagiku?, Apakah aku bisa menikahi ibu, jika aku bersedia dengan ibu yang sudah tua sekalipun?" Tanya Andi, membuat Bu Syifa tak percaya dengan telinganya saat ini.
__ADS_1
"Apa Andi?, " Tanya Bu Syifa ingin memastikan dengan apa yang baru saja di dengar oleh telinga miliknya.
...****************...