Sang Pemulung Kaya

Sang Pemulung Kaya
Bab 47. "Akan Lebih Senang"


__ADS_3

Andi langsung melajukan mobilnya tanpa memperhatikan kembali wajah Bu Syifa.


Karena dia tahu, wajah ini cukup akan merusak jiwanya jika tak segera dinikahi nya.


Setelah cukup lama, Andi mengemudikan mobilnya ke arah tengah Kota.


"Kenapa malah ke tengah kota?" Tanya Bu Syifa terlihat khawatir.


"Tak usah khawatir Bu!" Jawab Andi seolah tahu yang Bu Syifa khawatirkan.


"Aku bukan hanya berhasil menceraikan mu dari suami zalim mu, tapi juga membuat semua tempat, bebas kamu datangi." Ucap Andi sedikit bangga.


"Hanya saja, kenapa Ibu ingin mengisi kebebasan ini dengan orang lain?. Tidak bersamaku." Ujar Andi terlihat sedikit lesu.


Bu Syifa hanya terdiam tak menjawab dengan keluhan Andi barusan.


"Sudah sampai Bu" Ucap Andi mengingatkan Bu Syifa untuk turun.


"Iya,, sampai dimana?" Jawab Bu Syifa. Yang sebenarnya tak mengerti dengan pertanyaan Andi Barusan.


Mereka berdua pun, duduk di meja kosong.


Yang mana, bekas makanan dari pelanggan sebelumnya, masih berserakan Terlihat belum di bersihkan oleh pemilik Warung Seafood.


"Silahkan duduk Nyonya" Ucap pemilik Warung Seafood menwarkan Andi dan Bu Syifa untuk Duduk di meja yang sudah di bersihkan nya.


"Iya Bu. Terimakasih" Ucap Bu Syifa.


"Nak Andi?" Tanya Bu Laila, sedikit ragu.


"Iya Bu. Ini saya,, maaf saya baru bisa datang ke sini lagi" Jawab Andi, sembari meminta maaf.


"Iya nih. Setiap hari ibu tunggu, tapi nak Andi tak pernah terlihat datang ke tempat Ibu ini". Ujar Bu Laila merasa sedih karena Andi tak pernah datang.


"Bahkan ibu, menanyakan kabar nak Andi kepada Risma. Tapi, kata Risma, nak Andi tak pernah terlihat juga di sekolah" Lanjutnya Bu Laila yang ternyata sungguhan menanyakan kabarnya.


"Aku sedang banyak urusan Bu." Ucap Andi singkat.


"Nikmati hidup selagi muda, nak Andi. Supaya ketika tua nanti, kita tak mudah tergoda oleh hal-hal yang belum kita rasakan di masa muda" Ujar ibunya memberikan saran yang agak laknat sebenarnya.


"Iya Bu. Terimakasih atas sarannya" Jawab Andi sopan.


"Ini siapa ndi?, Bibi mu?" Tanya Bu Laila sopan.


"Iya Bu. Dia bibi tercinta ku, dia sedang galau karena baru saja bercerai dengan suaminya.


Sebagai keponakannya yang baik, aku ingin menghiburnya" Ucap Andi berbohong panjang lebar.

__ADS_1


"Oh. Maaf kan saya Nona, mulut selalu bertanya hal tak penting" Ujar Bu Laila sambil memukul mulutnya.


Kelakuan nya itu membuat Andi dan Bu Syifa tertawa.


"Begini saja, aku akan memasak untuk kalian, sebuah masakan yang dimasak neneknya Risma ketika suaminya meninggal. Yang tak lain adalah Kakek nya Risma" Tawar Ibu Laila tak menunggu jawaban dari keduanya.


Bu Laila meminta Risma agar memasak Menu keluarga nya untuk disajikan kepada Andi dan Bu Syifa.


"Kenapa menu keluarga kita, disajikan ke Orang luar?" Tanya Risma mengomentari ibunya.


"Mana yang orang luar,, sayang?" Tanya balik ibunya lembut.


"Itu, si kampret Andi, yang sedang duduk dengan wanita cantik di samping nya. Bukannya sudah jelas mereka adalah orang luar" Ucap Risma menjelaskan dengan tegas kepada ibunya.


"Oh itu. Wanita itu adalah bibinya nak Andi. Dan Andi ke depannya akan menjadi menantu ibu. Jadi mana yang Orang luar?" Ucap ibunya asal.


"Maksud ibu?" Tanya Risma tak paham arah pembicaraan ibunya ke arah mana.


"Sudah, jangan banyak bicara. Kamu masak saja, masakan keluarga kita." Paksa ibunya pada Risma.


"Biar pesanan tamu. Ibu yang membuat nya" Lanjut ibunya mengambil wajan dengan penuh masakan yang sedang dipesan pelanggan.


~25 Menit kemudian~


"Maaf, agak lama ya, kalian menunggu?" Tanya Bu Laila meminta maaf.


Bu Laila semakin menginginkan Andi menjadi menantu masa depannya. Karena, selain sikap Andi yang menyenangkan, juga sangat sopan.


Belum lagi, jika gosip itu memang benar.


Kabar yang mana, Andi adalah seorang anak atau keturunan dari miliarder yang tak bisa disebut namanya.


Itu hanya selentingan kabar, yang terdengar di seputar sekolah barunya Andi.


Yang tanpa sengaja terkadang terdengar juga oleh Risma.


Lalu Risma kadang-kadang mengobrol kan gosip-gosip yang ada di sekolah nya bersama ibunya ketika senggang.


"Silahkan dinikmati" Ucap Bu Laila, kepada Andi dan Bu Syifa.


"Bukan kah ini adalah makanan yang hanya disajikan untuk keluarga?" Tanya Andi pada Bu Laila.


"Iya nak Andi. Terus kenapa?" Tanya Bu Laila penasaran dengan maksud Andi.


"Apakah ini sebagai pernyataan ibu. Jika saya, sudah layak menjadi menantu ibu?" Tanya Andi Sambil tersenyum bercanda.


"Ternyata, Kamu sudah tahu maksud Ibu, nak Andi" Ucap Bu Laila merasa ketahuan.

__ADS_1


"Ibu, sudah lama sangat setuju. Tapi tak tahu tuh, tukang masak dibelakang ibu" Ucap Bu Laila sengaja mengeraskan kata-katanya.


"Ogah" Jawab Risma singkat, sambil mengangkat kedua bahunya.


"Maklumlah nak Andi. Risma tuh, hanya umurnya saja yang bertambah. Tapi, tidak dengan kedewasaan nya" Ucap ibunya asal.


"Ibu, kamu ibunya siapa sih?" Gerutu Risma kepada Bu Laila.


"Bukannya belain anak sendiri, malah belain orang gak jelas" Lanjut Risma terlihat dongkol.


"Orang lain, dari mana?. Aku adalah suami masa depan mu kak" Ucap Andi mulai berani.


"suatu saat nanti, Aku pasti datang untuk menikahi kakak" lanjut Andi semakin berani.


"Menikah saja, sama kambing" Ujar Risma asal.


"Boleh, asal kambingnya kaya kamu, kak" Ucap Andi, sama asalnya dengan Ucapan Risma.


"Malah aku senang, jadi tak usah memberi makan makanan mahal, cukup dengan rumput." Ujar Andi mulai memperpanjang obrolan remeh itu.


Bu Syifa hanya diam saja. Akhirnya dia bisa melihat dengan mata kepala nya sendiri.


Anak pendiam yang sempat mengagetkan dirinya ketika di dalam mobil tadi.


Ternyata masih memiliki sosok kekanak-kanakan yang seharusnya memang Andi miliki.


"Malah Aku tak perlu membelikan mu baju, cukup Tali kekang saja, yang akan ku pecut setiap hari" Lanjut Andi mulai membuat Risma marah karena ucapan Andi masuk ke otak Risma dalam bayangan yang aneh-aneh.


Mungkin karena hormonal pubertas yang sedang mendominasi nya.


"Nak Andi, jangan berlebihan,, Jangan begitu ah,, ibu gak suka" Ucap Bu Laila, tak suka Andi mengucapkan kata-kata ambigu yang nyerempet-nyerempet.


"Iya Bu maaf. Aku keceplosan" Ujar Andi jujur.


"Sudah kamu nikmati saja dulu makanan yang sudah disajikan" Ucap Bu Laila mengingat kan Andi.


"Ibu harus ikut makan,, Bu, inikan masakan keluarga, masa tak ada yang menjelaskan tentang masakan ini" Ucap Andi memaksa salah satu dari keduanya untuk dapat ikut makan bareng bersamanya.


akhirnya Bu Laila pun ikut duduk di meja yang penuh dengan makanan ini.


"Masakan berbahan dasar daging sapi ini, bernama 'Akan Lebih Senang' " ujar Bu Laila memberikan penjelasan.


"Kenapa dinamakan seperti itu?" Tanya Andi kepada Bu Laila.


"Karena itu adalah kalimat terakhir yang terucap dari mulut ayahku, yang dia ucapkan ketika akan pergi meninggalkan kami selama lamanya" jawab Bu Laila menitikkan air matanya.


"Kalian tidak usah bersedih!, Hidupku Di sana Akan lebih senang" itulah kata-kata terakhir ayahku di akhir hayatnya.

__ADS_1


Yang di abadikan oleh ibuku menjadi nama masakan ini.


__ADS_2