Sang Pemulung Kaya

Sang Pemulung Kaya
Bab 52. Cerai Langsung Nikah


__ADS_3

Setelah cukup berat untuk menyudahi kegiatan 'enak-enak'-nya dengan Bu Syifa.


Andi memperkuat tekadnya untuk memiliki Bu Syifa seutuhnya dengan cara yang seharusnya.


"Bu,, sudah. Kita bisa melakukan sepuasnya nanti." Ujar Andi, sambil menyudahi perlakuan nya kepada tubuh Bu Syifa, yang Andi yakini akan menjadi candu di masa depannya.


Bu Syifa terdiam, tak menjawab dengan matanya yang sudah sayu seperti orang mabuk.


Mungkin, dia menjadi seperti ini, karena hasrat yang dia tahan selama ini.


Bu Syifa merasa malu terhadap dirinya sendiri. Dia takut Andi berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya, sebab keagresifan dirinya.


"Maafkan aku ndi. Aku merasa tak bisa menahan apapun ketika didekat mu" Ucap Bu Syifa meminta maaf.


"Tidak apa-apa Bu, aku pun sama." Jawab Andi, menemani rasa malu yang sedang ditanggung Bu Syifa saat ini.


"Sekarang, secepatnya kita pergi ke rumah mu. Setelah itu, aku kan menyiksa ibu seperti yang ibu harapkan" Ujar Andi sedikit tersenyum nakal.


"Ko disiksa ndi?" Tanya Bu Syifa, terlihat memerah wajahnya.


"Iya bu. aku akan terus melakukannya, sekalipun ibu meminta ampun untuk menyudahinya" Ujar Andi, dengan mata pemangsanya.


Bu Syifa terdiam sambil menunduk. Selain dia tak sanggup menatap wajah Andi, diwaktu yang sama pula, diantara himpitan pahanya, Bu Syifa merasa keran di ruang tamunya serasa terbuka sendiri, dia yakin jika dia tak merapatkan pintu ruangan miliknya itu, dipastikan akan banyak air yang mengalir dari pintu itu.


Andi pun, semakin menginjak pedal gasnya lebih dalam.


Terlihat ada gerbang rumah besar yang sudah tak berpintu. Sepertinya, rumah ini adalah rumah mewah pada zamannya.


Rumah besar yang sudah sedikit tak terurus, Banyak dinding-dinding yang sudah mengelupas cat nya.


Terlihat ada seorang pria tua yang sedang duduk di kursi yang ada di depan teras rumah. Terlihat berdiri karena melihat ada sebuah mobil yang masuk ke area pelataran Rumahnya.


Bu Syifa pun keluar lebih dulu, lalu menghampiri orang tua itu. Keduanya terlihat tersenyum bahagia, layaknya orang yang sudah lama tak bertemu.


"Syifa" Gumam ayahnya, yang tak percaya dengan yang dilihat matanya.


"Ayah" Ucap Bu Syifa, sambil menghambur ke pelukan pria yang pernah jadi idola pertamanya ini, mungkin hingga saat ini masih tetap menjadi idolanya.


"Kamu baik-baik saja sayang ?" Tanya ayahnya, menanyakan kabar.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja ayah" Jawab Bu Syifa, dengan air mata menetes deras di matanya.


"Kanapa kamu menangis sayang?" Tanya ayahnya khawatir anaknya dalam masalah.


"Tidak apa-apa yah. Aku hanya sedang merasa sangat bahagia bisa bertemu ayah lagi. Di mana ibu yah?" Tanya Bu Syifa pada ayahnya.


"Ibu sedang memasak di dalam sayang. Hari ini, Kakek dan paman-paman mu akan datang ke sini " Ucapnya, dengan raut wajahnya yang langsung berubah murung.


"Itu siapa di belakang mu?" Tanya Ayahnya memandang orang yang sedang berdiri di belakang Bu Syifa sedari tadi.


Andi tak mau merusak momen pertemuan antara ayah dan anak ini. Andi memilih untuk diam, hingga mereka berdua meluapkan kerinduan masing-masing.


"Oh iya, aku lupa. Ini Andi pak, dia.." Jawab Bu Syifa menghentikan kata-katanya.


"Saya Andi Pak. calon suami Syifa" Ucap andi menjelaskan siapa dirinya saat ini.


Ayahnya hanya terdiam tak berkata apa-apa setelah mendengar pernyataan dari Andi, malah dia melihat kepada Bu Syifa, untuk mengkonfirmasi pernyataan anak muda ini.


"Iya ayah. Yang dikatakan olehnya memang benar adanya" Ujar Bu Syifa mendukung pernyataan Andi.


Andi tersenyum sopan sekaligus merasa hangat hatinya, mendengar ucapan Bu Syifa barusan.


"Aku sudah bercerai dengannya yah" Jawab Bu Syifa singkat.


"Aku ikut kemari, ingin melamar Syifa pak" Ucap Andi lagi, seolah sedang tak mau bertele-tele karena alasan yang tak bisa dijelaskan.


Ayahnya terkaget dan kembali tak berkata apa-apa seperti sebelumnya. Malah kembali melihat ke arah anaknya lagi.


"Iya ayah. Dia ingin melamar ku untuk menjadi istri nya" Ucap Bu Syifa, terlihat sedikit malu.


Ayahnya tahu wajah ini, adalah wajah yang sudah lama tak dilihatnya. Wajah yang terlihat sangat berharap jika ayahnya akan merestuinya.


"Aku dulu, ketika kamu dilamar paksa oleh penjahat seperti Ruben saja, aku terpaksa merestui mu. Aku adalah seorang Ayah yang tak pantas kamu pinta restunya " Ujar ayah nya, terlihat merasa bersalah.


"Ayah tak usah berkata seperti itu. Kita semua tahu betapa sulitnya posisi kita saat itu, bahkan mungkin hingga saat ini pun kesulitan kita masih kesulitan seperti dulu" Ucap Bu Syifa, menghibur ayahnya yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Ayah berpikir, setidaknya si penjahat itu masih dalam hukum yang sah memiliki mu.minimal Aku tak ingin anakku terhina di dunia dan alam setelahnya, sekalipun kamu tak bahagia, setidaknya kamu adalah seorang istri sah, bukan gundik atau apapun nama lainnya" Ujar ayahnya Bu Syifa yang sedikit terlihat agak religius pandangan hidupnya.


"Sejak kapan kamu bercerai dengannya?," Tanya Ayahnya.

__ADS_1


"Tadi, beberapa jam lalu" Jawab Bu Syifa singkat.


"Ayah akan menyetujuinya Syifa. Asal Syarat kamu bisa menikah lagi, telah terpenuhi." Jawab ayahnya, membuat Bu Syifa terlihat bingung.


"Maksud ayah?" Tanya Syifa tak mengerti.


"Setelah pasangan suami isteri bercerai. Ada waktu yang harus mereka lewatkan terlebih dahulu, yang dinamakan masa 'Iddah' sayang " Jawab ayahnya menjelaskan.


"Aku tak mau menunggu pak. Aku ingin menikahi Syifa malam ini juga." Pinta Andi terlihat tak terima jika diharuskan menunggu selama 3 bulan lebih.


"Tak bisa seperti itu anak muda. Keyakinan kami, mengharuskan hal seperti itu untuk di jalankan oleh seseorang yang sudah bercerai. Setelah itu, maka sempurnalah talaq yang dijatuhkan oleh suaminya kepada anakku ini" Ucap ayahnya Bu Syifa menjelaskan panjang lebar, tentang hukum pernikahan yang diyakininya.


"Aku ingin menikahi anakmu malam ini. Bukan karena aku ingin melanggar nya pak. Tapi, karena hukum membolehkannya " Ujar Andi, bersikeras.


"Maksudmu?" Tanya Ayahnya kebingungan dengan ucapan Andi barusan.


"Masa menunggu yang bapak ucapkan tadi hanya berlaku bagi pasangan yang pernah tidur bersama dan pernah melakukan hubungan badan sebelum perceraian itu terjadi. Tapi itu semua tak berlaku untuk anak bapak, karena Syifa tak pernah melakukan hubungan suami-istri selam ini dengan mantan suaminya itu" Jawab Andi menjelaskan panjang lebar, tentang alasan kenapa Andi ingin menikahi Bu Syifa malam ini juga.


Ayahnya untuk ketiga kalinya terdiam, lalu melirik wajah anaknya ini.


"Iya yah, semua yang dikatakan olehnya, semuanya benar adanya" Jawab Bu Syifa, terlihat sangat malu sekali menjawab yang ditanyakan oleh pandangan ayahnya ini.


"Bu, ibu, sudah matikan kompornya dahulu" Teriak ayahnya ke ruang dalam, untuk memanggil cinta abadinya ini.


"Bu, cepat kemari. Tebak ada siapa yang datang" Lanjutnya, ingin memberi kejutan pada ibunya.


"Iya sayang,, sebentar. " Jawab suara wanita tua yang sangat Bu Syifa kenal.


Karena saking seringnya berbicara dengan di telepon dan Video call.


Bu Syifa tak tahan untuk menunggu ibunya keluar. Dia berlari ke arah dapur yang sangat dia tahu letaknya. Karena tempat ini, adalah salah satu tempat favorit nya. Yang mana, Bu Syifa bisa menghabiskan waktu berjam-jam di tempat ini, ketika ada masakan baru yang ingin dia bisa untuk memasaknya.


"Ibu,," Teriak Bu Syifa lirih, setelah melihat sosok yang selama ini hanya bisa dilihatnya di Video call.


"Syifa,, ini kamu sayang?" Ucap Ibunya tak percaya dengan yang dilihat oleh matanya ini.


Ibu dan anaknya ini, hanya berpelukan tanpa kata, hanya terdengar isakan diantara pelukan erat ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2