
"Kamu masih meragukan aku ?" Tanya Andi, yang melihat ekspresi Bu Syifa biasa saja.
"Berapa Nomor Rekening ibu? " Tanya Andi pada gurunya ini.
"Untuk apa?" Tanya Bu Syifa tak paham.
"Untuk membuktikan seberapa kaya aku" Jawab Andi sedikit sombong.
Bu Syifa malah tertawa.
Andi tak pernah melihatnya tertawa seperti ini, ternyata wajah cantiknya Bu Syifa ketika tertawa jauh lebih terlihat cantik berkali-kali lipat dibandingkan ketika dia sedang marah.
Seandainya teman sekolah nya tahu betapa cantiknya wajah Bu Syifa saat ini.
Toilet sekolah dijamin akan penuh dengan antrian siswa cowok yang sedang butuh toilet.
Andi pun melihat wajah ini, serasa ingin memperkosa nya saja.
Seandainya akal sehatnya tak berusaha di kontrolnya. Karena pengaruh dari Jurus Pukulan Harimau, belum sepenuhnya hilang.
Andi pun memindahkan pandangannya ke arah depan.
Disamping, karena Andi sedang mengemudi, Andi juga takut tuas transmisi mobilnya pun menjadi ada 2, karena ada gagang baru yang terlihat mirip dengan tuas itu.
"Berikan saja rekening milikmu Bu. Toh tak ada ruginya untukmu!" Ujar Andi sedikit memaksa.
"Ini nomor rekening ku. Untuk apa?, Kamu mau memberikan ibu uang?, Ibu tak kekurangan uang ndi!" Ucap Bu Syifa, sembari memberikan Nomor Rekening yang ada dalam layar smartphone miliknya.
Andi pun mengambil Smartphone miliknya, lalu mulai memasukkan Nomor Rekening milik Bu Syifa, lalu mulai melakukan transfer pada Rekening milik Bu Syifa dengan jumlah yang tidak kecil untuk Bu Syifa sekalipun, yang saat ini cukup kaya dalam hal materi.
[Ting]
Terdengar suara Notifikasi di Smartphone nya, pemberitahuan dari aplikasi Mobil Banking miliknya.
Dengan santainya Bu Syifa membuka Notifikasi itu, lalu membacanya.
"Rekening anda sudah menerima uang sebesar 10 miliar dari Rekening atas nama **DI RUS** " teks pesan dalam smartphone milik Bu Syifa.
Bu Syifa diam tak berkata apapun, dia hanya melihat jumlah nominal di Rekening miliknya saat ini.
Benar saja, jumlah saldonya bertambah sesuai dengan jumlah uang yang baru masuk ke rekening nya.
__ADS_1
Lalu Bu Syifa memperhatikan wajah Andi cukup lama tanpa kata.
"Kenapa?,, Ibu sudah percaya?" Tanya Andi singkat.
"Kamu sebenarnya siapa Andi?" Tanya Bu Syifa malah mencurigai Andi, bukannya seharusnya senang. Karena, Orang yang akan memperistri dirinya adalah seorang yang sangat kaya.
"Aku siapa?,, Aku muridmu,,, aku Andi" Jawab Andi asal.
"Ibu sedang tidak bercanda Andi" Jawab Bu Syifa serius.
"Aku dari awal kita bicara, tak pernah sekali pun aku bercanda. Ibu saja, yang menganggap aku bercanda. Ibu salahkan saja pikiran ibu!." Jawab Andi tegas.
Bu Syifa pun terdiam. Karena memang sedari awal, dirinya lah yang tak menginginkan bila pembicaraannya dengan Andi selama ini adalah nyata.
Seolah Bu Syifa selalu berusaha menolak untuk percaya kenyataan ini. Dimana Andi sedang mengejarnya.
Bahkan tak berhenti di situ, Andi malah ingin melamarnya, menjadikannya sebagai istrinya.
Orang dewasa mana, yang bisa langsung percaya dengan kenyataan yang terlalu tidak masuk di akal seperti ini.
Dimana, Bu Syifa harus menerima lamaran dari mantan muridmu yang umurnya terpaut sekitar 17 tahun.
"Apakah masih kurang?" Tanya Andi bertanya tak jelas.
"Uang yang aku kirimkan, apakah masih kurang untuk membuktikan jika aku benar-benar mampu untuk menyelesaikan masalah ibu.?" Tanya Andi lebih jelas.
Bu Syifa hanya diam. Tak tahu harus senang ataupun sedih dengan kenyataan ini.
Dia satu sisi, dirinya merasa senang karena muridnya ini sepertinya memang bisa untuk menyelesaikan masalahnya.
Tapi di satu sisi lainnya, Bu Syifa merasa apakah dirinya pantas untuk menerima syarat laknat yang diinginkan oleh muridnya ini.
Bu Syifa masih merasakan tindakan dan ambisinya Andi untuk menolongnya. Hanya sebatas menjadikan dirinya sebagai objek fantasi seksualnya.
"Apakah kamu benar-benar mencintai Ibu?" Tanya Bu Syifa pada muridnya ini.
"Aku tak tahu Bu!" Jawab Andi asal, menghancurkan suasana yang sudah terbentuk di dalam pikirannya Bu Syifa, yang merasa bahwa muridnya ini akan menjawab seperti bayangan nya.
"Maksudmu?, Kamu hanya menjadikan ibu sebagai objek fantasi mu?" Tanya Bu Syifa keceplosan.
"Kenapa ibu berpikir seperti itu?" Tanya Andi, merasa niatnya sedikit terbongkar.
__ADS_1
Karena dalam hatinya Andi, motivasi seperti itu, memanglah ada.
Tapi, hanya sepersekian persen dari niatnya yang lain.
Niatan cabul Itu hanya satu dari sekian alasan keinginan untuk menikahi Bu Syifa.
Keinginan terbesar Andi adalah, memang benar-benar ingin membahagiakan Bu Syifa dalam versi kebahagiaan yang ada dalam pikirannya Andi saat ini.
"Aku menjawab tak tahu, bukan karena aku punya niatan cabul seperti yang ibu pikir" Jawab Andi sedikit tersinggung.
"Aku hanya ingin orang sebaik dan sesempurna ibu. Dapat hidup dalam kehidupan yang seharusnya" Lanjut Andi dengan pujian tak langsungnya.
"Atau, sebenarnya ibu memiliki orang yang ibu cintai, dan hingga saat ini ibu masih berharap padanya?" Tebak Andi, karena melihat sikap Bu Syifa yang terlihat terus berusaha menolak penawaran nya.
"Begini saja. Aku akan tetap membebaskan ibu dari belenggu Ruben yang selama ini mengurung ibu. Dan aku akan membebaskan mu untuk menjalani kehidupan seperti yang kamu inginkan selama ini" Ucap Andi, menawarkan tawaran baru yang tak pernah terpikirkan oleh Bu Syifa.
"Dan aku berharap ibu akan menikah dengan orang yang ibu sayangi selama ini" Ujar Andi pada guru yang dia harapkan akan jadi istrinya ini.
"Aku ikut bahagia saja, jika itu adalah keinginan yang sangat ibu harapkan selama ini" Lanjut Andi terlihat pasrah dan tak terlihat memaksakan lagi kehendaknya.
Bu Syifa hanya terdiam dengan semua tebakan yang diutarakan oleh muridnya ini.
Karena tebakan nya tak sepenuhnya salah.
"Dia sekarang ada dimana?" Tanya Andi, kepo.
"Siapa?" Tanya Bu Syifa terlihat tak paham.
"Suami idaman mu!" Jawab Andi singkat.
"Dia ada di kota C membangun kerajaan bisnisnya, dengan harapan akan bisa membebaskan ku suatu saat nanti. Dan aku yakin dia masih berusaha keras dan masih sangat mencintaiku" Ucap Bu Syifa yakin.
Ternyata, laki-laki ini yang membuat Bu Syifa dengan segala alasannya, terus menolak lamaran Andi.
"Baiklah, semoga laki-laki itu masih seperti yang Ibu pikirkan. Tapi, selama ini apakah dia pernah menemui ibu sekali saja?, walaupun hanya dalam jarak yang tidak langsung?" Tanya Andi penasaran.
Andi khawatir, laki-laki yang selama ini diharapkan oleh Bu Syifa siang dan malam, yang dia yakini akan datang menjemput dirinya untuk membebaskan nya dari belenggu Ruben selama ini, ternyata hanya khayalan Bu Syifa belaka.
Andi khawatir, jika laki-laki pujaannya sudah memiliki kehidupan yang bahagia dan bahkan sudah melupakan janjinya pada guru tersayangnya ini.
"Semoga keyakinan Ibu selama ini benar adanya " Ucap Andi memberikan do'a sekaligus pengingat untuk gurunya ini.
__ADS_1
...****************...