
Marsa pun menuruti perintah Andi, Marsa naik dan duduk diatas meja dengan sedikit malu-malu karena rok yang di pakainya itu sangat pendek, dan di tambah dengan garis sobekan di samping pahanya yang cukup agak tinggi.
Membuatnya tak bisa duduk dengan nyaman, kecuali dia duduk dengan posisi membuka lebar taman miliknya. Dan akan membuat teras ruang tamu yang masih terhalang tirai berwarna putih akan terlihat oleh Andi.
"Buka lebar pekarangan milikmu" Perintah Andi pada Marsa.
"Untuk apa tuan?" Tanya Marsa mengerti tapi malu.
"Aku ingin menghirup apakah benar sesegar apa udara yang ada di sekitar pekarangan mu?" Jawab Anwar sekaligus bertanya lagi pada Marsa.
Dengan berat hati dan perasaan malu, Marsa pun melebarkan kakinya. Agar pekarangan miliknya bisa di akses oleh Andi.
Untuk memeriksa pemandangan, kesegaran udara, bahkan apakah tertata rapih atau tidaknya pekarangan milik Marsa.
Dengan tanpa ragu dan malu, Andi langsung menarik tirai penghalang teras Ruang tamu mili Marsa dengan hati-hati.
Penutup tirai berwarna putih pun terlepas melewati pagar pekarangan yang mirip dengan paha Marsa.
Benar saja, pekarangan miliknya di tumbuhi sedikit rumput yang sepertinya baru saja dirapihkan.
Tanpa ragu, Andi mendekatkan alat pernafasannya ke pekarangan milik Marsa yang ternyata memang benar dengan apa yang dikatakan nya. Udara di sekitar sini terasa sangat harum, walaupun wangi khas pekarangan wanita tetap tercium.
Tapi bau harum pekarangan Marsa, malah membuat tamu yang ada di balik pakaian bagian bawah Andi, mendadak ingin bertamu ke ruang tamu yang sepertinya akan sangat nyaman, jika berlama-lama di dalamnya.
" Apakah boleh aku pel teras ruang tamumu?" Tanya Andi meminta izin pada pemilik ruang tamu harum ini.
"Apa harus ku jawab tuan?" Tanya Marsa merasakan malu yang sangat, ketika Andi menanyakan pertanyaan bodoh ini.
"Baiklah, bila kamu lebih suka bila aku tak bertanya dulu" Ucap Andi asal.
"Jangankan minta izin terlebih dahulu, jika kamu perkosa pun aku rela tuan. Tapi, aku mohon bebaskan aku dari tempat laknat ini" Batin Marsa berharap sekali dengan benefit yang akan Andi berikan setelah sesi ini.
Andi tanpa aba-aba langsung mengepel teras Ruang tamu milik Marsa dengan otot terkeras yang ada dalam mulutnya.
Sesekali Andi menyesap sesuatu di teras milik Marsa, tapi bukan kopi.
Marsa terlihat kelojotan, karena Andi mengacak-acak kabel saraf yang ada di teras ruang tamunya.
Teras milik Marsa sudah mulai basah, sepertinya keran dari dalam ruang tamu Marsa mulai terbuka.
__ADS_1
"Tuan,, sudah" ucap Marsa tak sanggup merasakan teras miliknya di pel sedemikian rupa oleh Andi.
Andi sepertinya bisa jadi duta cleaning service dunia, jika standarnya adalah membersihkan teras ruang tamu.
"Kamu mau aku apakan lagi, jika begini saja sudah tak tahan?" Sergah Andi pada Marsa.
"Aku benar-benar tak kuat, jika teras ruang tamuku hanya kamu intip, bisa tidak sekalian masuk saja." Jawab Marsa sambil tersipu.
"Baiklah jika itu Keinginan mu. Aku pun akan mengundang tamu untuk datang ke ruang tamu milikmu yang sudah tak bertuan selama 4 bulan " Ucap Andi sambil mengantarkan tamu ke ruang tamu milik Marsa.
Tamu tak dikenal pun masuk tanpa mengetuk karena pintu ruang tamu yang sudah sedikit terbuka dan sangat licin, karena air keran di ruangan ini sedang bocor.
Tamu yang barusan masuk ke ruangan tamu milik Marsa. Dia kemudian keluar masuk tak jelas, seolah sedang mencari sesuatu.
Marsa pun terlihat sangat pusing, karena terlihat geleng-geleng kepala ketika tamunya keluar masuk ruang tamu miliknya ini.
Terkadang bulak baliknya pelan, dan terkadang sedikit kencang.
Marsa pun tak menyangka, akan diperlakukan senikmat ini oleh tamu tak dikenalnya sebelumnya.
"Kamu mau tamu ini semakin tak jelas mengacak-acak ruang tamu milikmu?" Tawar Andi.
Walaupun ruang tamunya Marsa sempat jadi ruang tamu yang ramai di datangi oleh banyak tamu di masa lalunya. Tapi ruang tamu miliknya masih tetap terasa sempit dan sangat nyaman untuk berlama-lama di dalam sini.
Suhu hangat yang cukup membuat rilek, serta ada kursi pijat yang tak berhenti memijat -mijat tamu selama berada di dalam.
Karena tamu ini sudah tak sabar, akhirnya dia pun terlihat seperti tamu kesurupan, dia keluar masuk teras dan ruang tamu dengan kecepatan tinggi.
Membuat Marsa serasa ingin pingsan. Dia sudah tak tahu dirinya sedang ada dimana.
Dia merasa sedang terjun payung tanpa parasut karena disebabkan ruang tamunya bocor oleh hujan lokal yang cukup deras.
"Tuan,, tuan,," Hanya kata itu yang dia ucapkan. Seolah sedang menghapal.
Karena tamu yang di bawa oleh Andi belum juga cukup tersinggung oleh pelayan ruang tamunya Marsa. Di masih betah, terus melakukan gerakan maju mundur cantiknya dengan kecepatan yang makin cepat.
Andi pun mendapatkan kode dari tamu itu, bahwa dia sudah sangat tersinggung dan ingin meludahi pemilik uang tamu ini.
Andi pun mengajaknya keluar untuk meludahi pemilik ruang tamu ini, yang menurutnya tak sopan berteriak-teriak dari luar.
__ADS_1
Wajah Marsa pun penuh dengan calon anak-anak Andi l, yang hanya bermain beberapa detik di wajah dan lehernya Marsa, sebelum akhirnya semuanya tidur kembali untuk selamanya.
"Terimakasih tuan,, atas hinaan mu padaku. Padahal kamu ludahi saja ruang tamuku, di sana ada satu selimut untuk menyelimuti satu anakmu tuan" batin Marsa berharap punya anak dari Andi.
Andi masih belum puas setelah penghinaan tamu yang dibawanya itu.
Dia menarik tubuh lemas Marsa ke pelukannya. Lalu Andi mencumbu tempat lipstik Marsa yang sangat mungil dan pastinya manis dan harum.
Pelan-pelan Andi menikmati setiap Saliva yang tercampur dengan miliknya.
Karena tamu yang telah menghina Marsa masih belum pergi. Andi pun memasukan kembali ke uang tamu milik Marsa dalam posisi berdiri.
Marsa terlihat sangat terkejut, seperti orang naik kora-kora ketika tamu itu masuk dalam posisi berdiri.
Marsa merasa tamu itu, menubruk dinding ruang tamunya yang paling ujung, hampir menubruk ruang dapur yang di dalamnya banyak sekali telur.
Akhirnya pemilik ruang tamu dan pengantar tamu pun, sudah terpuaskan keduanya.
Andi membiarkan Marsa mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat Marsa sudah bisa duduk dengan benar, dan rasa malunya pun kembali lagi.
Dia langsung menutup kembali semua bagian tubuhnya yang terbuka.
"Kenapa kamu mau berkumpul denganku?" Tanya Andi pada Marsa.
"Aku hanya sedang berjudi dengan nasib ku tuan" jawab Marsa singkat.
"Berjudi untuk apa?" Tanya Andi penasaran.
"Untuk kebebasan hidupku, seperti yang tuan sudah lakukan pada Intan dan Rossi " Jawab Marsa penuh harap.
"Oh seperti itu." Jawab Andi singkat.
"Berapa banyak hutangmu dan berapa tebusan untuk membebaskan mu? " Tanya Andi pada Marsa.
Marsa tak menjawab, malah Air mata nya menetes ketika Andi menanyakan pertanyaan itu.
...****************...
__ADS_1