Sang Pemulung Kaya

Sang Pemulung Kaya
Bab 39. Fetis Aneh Ruben


__ADS_3

"Rara kemari lah" perintah Andi pelan, tapi terasa menyeramkan.


"Tuan, aku mohon. Jangan libatkan adikku, jika kamu ada dendam padaku." Ucap Ruben pada Andi memohon.


"Aku lebih dulu mengenal adikmu daripada dirimu. Kenapa aku bisa punya dendam padamu?" Tanya Andi tak mengerti.


"Kamu boleh meminta apa saja padaku?. Semua uang dari pembebasan perempuan-perempuan milikmu itu, akan aku kembalikan"Lanjut Ruben masih berusaha memohon pengampunan untuk adiknya.


"Kenapa ketika wanita-wanita itu aku nikmati, atau bahkan ketika wanita-wanita lainnya sedang dinikmati bahkan ada beberapa ada di sakiti oleh pelanggan gila mu, kamu tak merasa kasihan kepada mereka?" Tanya Andi pada Ruben sarkas.


"Bahkan kamu sepertinya menikmatinya di layar yang biasa kamu tonton" Lanjut Andi menyindir kebiasaan Ruben yang sangat suka menonton orang yang sedang bercinta secara life.


Informasi itu, Andi dapatkan dari Rossi, ketika menceritakan fetis aneh bos barunya ini.


Ruben terdiam, dia merasa aneh karena Andi mengetahui kecenderungan anehnya.


Ruben lebih menikmati menonton orang bercinta daripada dia yang bercinta sendiri.


Mungkin juga disebabkan karena kemampuan diatas kasurnya yang biasa saja.


Menjadikan dirinya trauma untuk melakukannya langsung.


"Karena kamu suka menonton adegan bercinta. Maka akan aku sajikan tonton unik, aku yakin ini belum Pernah kamu alami kan?" Ucap Andi memprovokasi kejiwaan Ruben.


"Kamu jangan dulu marah atau putus asa.


Bisa saja, kamu malah menikmatinya" Lanjut Andi semakin kejam kepada Ruben.


"Ayo Ra kita lakukan. Kita berikan tonton hebat untuk kakak mu tersayang" Ucap Andi pada Rara sambil terkekeh, layaknya seorang psikopat akut.


"Kamu lebih suka aku perlakuan seperti dulu.


Atau ingin aku perlakuan seperti perlakuan pacarmu padamu dulu?" Tawar Andi pada Rara, seolah sedang menawarkan sesuatu hal yang biasa.


Rara diam tak menjawab.


"Jawab Rara. Kalau kamu tak mau, maka kakakmu akan aku bunuh" Ancam Andi pada Rara.


"Ra,, jangan turuti permintaannya. Biarkan kakak mati saja." Potong Ruben memberikan perintah pada adiknya.


"Diam kau Ruben. Kata-kata mu, seperti kau orang baik saja. Anggap saja, ini hukum karma dari Tuhan atas segala dosa yang pernah kamu lakukan" Ucap Andi membawa-bawa nama tuhan.


"Jawab Rara" Jawab Rara pelan.


"Baiklah. Kemari sayang, perlakuan diriku seperti pacarmu" pinta Andi pada Rara.


Andi hanya menunggu Duduk di sofa empuknya. Menunggu reaksi dari Rara, Andi sedang menunggu apa yang akan dilakukan Rara.


Rara mulai membuka baju kaos pendek yang dipakainya. Lalu membuka celana jeans ketatnya dan tak lupa, Rara pun membuka tirai berwarna hitam yang menjadi penutup goa lembab miliknya.


"Perhatikan Ruben!. Kamu ingin tahu tidak, bagaimana adikmu ketika melayani pacarnya"Ucap Andi pada Ruben.


Rara pun, sudah tak peduli dengan rasa malunya di hadapan kakak kandungnya.


Di samping perasaan takutnya pada Andi.


Sebenarnya ada perasaan terdalam dalam hatinya, dimana dia sangat ingin goa miliknya di masuki oleh tongkat pengaduk milik Andi.


Setelah kejadian itu, Rara tak pernah bisa melupakannya. Dia seolah sudah terjebak dalam jeratan kenikmatan yang pernah diberikan oleh Andi saat itu.


Bahkan ketika Andi bertanya Apakah dirinya ingin diperkosa atau diperlukan seperti pacar.


Sebenarnya seandainya di ruangan ini, tak ada Kakaknya, Rara ingin menjawab bahwa dia ingin sekali diperkosa oleh Andi.

__ADS_1


Rara merasa ada kenikmatan tersendiri ketika saat itu Andi memperlakukan dirinya dengan kasar.


Tak ada rasa sakit secara fisik yang Andi lakukan padanya pada kejadian sebelumnya.


Hanya proses pengikatan tangannya saja, yang cukup membuat kedua tangannya sedikit pegal.


Rara pun langsung berjalan ke hadapan Andi, dengan hanya memakai tenda gunung kembar saja, yang senada dengan outfit bagian bawahnya. Yaitu berwarna hitam, yang tadi sudah dibukanya.


Lalu dia berjongkok ke antara kedua pahanya.


Lalu mulai membuka pengait celana milik Andi. Lalu resleting Andi pun dia buka, secara hati-hati.


Lalu terlihat ada seseorang yang mengaku sebagai adik besarnya Andi. Terlihat sangat gagah, dan sepertinya 'dia' sedang banyak pikiran, karena di kepalanya terlihat ada garis-garis urat yang sangat terlihat bahkan di sepanjang jalur lehernya.


Tanpa izin pada Andi. Rara langsung membasahinya kepala adiknya itu, dengan otot lembut yang ada dalam mulutnya.


Dengan sangat pelan dan sangat piawai Rara melakukannya.


"Lihat Ruben. Apakah akan seperti ini, orang yang sedang di ancam?" Ucap Andi, bertanya kepada Ruben tentang perlakuan Rara pada adik besarnya ini.


Ruben terlihat memejamkan mata menunduk. Karena tak sanggup melihat apa yang sedang adiknya lakukan.


"Ra,, langsung ajak adikku ke goa milikmu saja" Pinta Andi pada Rara.


Tanpa jawaban apapun, Rara langsung melebarkan pekarangan goa nya dengan posisi di atas paha Andi. Di memegang dengan adiknya Andi dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang tengkuk Andi untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.


Lalu Rara pun, memandu adiknya Andi dengan tangan kanannya, untuk mengajak bermain ke dalam goa basah miliknya. Lalu dia mulai menurunkan bokong untuk menekan adiknya Andi supaya masuk ke dalam goa modern miliknya, yang katanya ada alat pijat di sepanjang lorong goa milik Rara tersebut.


Ketika kepala adiknya sudah mulai masuk ke mulut goa. Andi memintanya untuk berhenti.


"Cukup Ra. Tahan dulu" pinta Andi, membuat Rara merasakan rasa linu tak karuan dengan posisi tanggung Seperti ini.


"Ruben lihat ke Sini. Bila tak mau, akan ku bunuh adikmu saat ini juga." Ucap Andi mengancam kakaknya Rara. Yang dari tadi terlihat memejamkan matanya, dengan penuh emosional.


"Aku tak bercanda Ruben." Ancam Andi terlihat serius.


"Pura-pura menangis lah. Seolah kamu sedang di cekik, supaya Kakakmu tak aku bunuh." Perintah Andi sambil mengancam keduanya.


"Akhhh,,akhhh ,tolong kakak,, tolong aku" ucap Rara menuruti permintaan Andi untuk membohongi kakaknya.


Ruben pun panik melihat adiknya terlihat kesakitan karena cekikikan Andi.


Dia pun membuka matanya. Karena khawatir akan keselamatan adiknya.


"Nah seperti itu dong bos." Ujar Andi sambil tersenyum.


"Ayo ajak adikku main sedalam mungkin ke goa pijat milikmu itu Ra" pinta Andi pada Rara.


Rara pun langsung menaik turunkan hidrolik goa miliknya itu ke atas dan kebawah, dari kecepatan pelan, sedang lalu agak cepat.


"Lihat Ruben. Adikku seperti hantu kan?" Tanya Andi seolah apa yang sedang dilakukan olehnya pada Rara adalah sebuah candaan.


"Adikku terlihat, lalu menghilang, terlihat lalu menghilang. Asal kamu tahu, goa adikmu sangat nikmat, melebihi goa-goa wanita sebelumnya" Ucap Andi kejam menjelaskan apa yang dia rasakan dalam proses menikmati Rara kepada kakak kandungnya sendiri.


"Kamu pasti menyesal, kenapa Rara menjadi adikmu kan?" Tanya Andi semakin terasa seperti penjahat.


"Aku mohon tuan. Maafkan aku dan adikku tuan.." Ujar Ruben pelan, memohon ampun pada Andi.


Mendengar perkataan Ruben. Andi malah membalikkan tubuh Rara supaya membelakangi tubuhnya Andi. Tanpa mengeluarkan adiknya Andi dalam proses itu.


Rara memutarkan tubuhnya pelan-pelan, agar adiknya Andi tak keluar.


Setelah berbalik, Andi menahan paha Rara diatas pahanya.

__ADS_1


Lalu mulai mengajarkan adiknya, tentang bagaimana cara bermain yang benar ketika ada di dalam goa milik orang lain.


Tanpa bertanya. Andi langsung mengeluar masukkan adiknya ke goa sempit milik Rara.


Sehingga terlihat seperti sedang terjadi gempa di gunung kembar milik Rara, walaupun tidak longsor.


Hanya sedikit erupsi dan sedikit ada pencairan di dalam goa milik Rara itu.


"Minta tolonglah pada kakakmu, seolah kamu sedang kesakitan oleh yang kulakukan saat ini" Bisik andi pada telinga Rara pelan.


"Kakak,, tolong aku,, kak,, Kak," Teriak Rara bercampur dengan *******. Dia terus mengucapkan kata-kata meminta tolong pada kakaknya selam proses pem-bor-an goa milik Rara ini.


Ruben tak disangka menangis melihat dan mendengar adiknya meminta tolong padanya. Tapi dirinya tak berdaya untuk menolong adiknya ini.


"Tuan Andi, aku mohon lepaskan adikku" Ucap Ruben memohon Kembali pada Andi.


"Lepaskan bagaimana?" Jawab Andi asal.


"Goa kaya gini, masa dilepaskan sih?, Kamu mau aku sudahi?" Tanya Andi pada Rara.


Rara diam saja tak menjawab. Rara bisa gila, bila Andi benar-benar berhenti di titik ini.


"Ucapkan kata-kata kasar, agar aku tak berhenti" pinta Andi pada Rara.


Rara masih terdiam, seolah sedang berpikir di sela efek gerakan erotis Andi.


"Bor terus goa milikku sampai keluar air tuan" Ucap Rara meminta kepada Andi.


Ruben mendengar perkataan adiknya hanya bisa bengong tanpa kata.


Akhirnya, Goa milik Rara pun memancarkan air segar kehidupan.


Dengan kecepatan tak karuan Andi malah mengerakkan adiknya untuk mengganggu proses mata air ini.


Rara terlihat kelojotan di perlakukan di momentum tubuhnya sedang terbang ke awan.


"Aku ingin bersamamu tuan,, pelihara aku juga tuan,, jadikan aku pemuas dahaga mu tuan" Ucap Rara meminta permintaan tak masuk akal bagi Andi, apalagi bagi kakaknya.


Ruben hanya bisa diam, mendengar kata-kata adiknya barusan, yang sepertinya bukanlah kebohongan.


Andi terus menyuruh adiknya bolak-balik keluar masuk dengan kecepatan agak tinggi.


Tak disangka, Rara adalah wanita pertama yang pingsan oleh serangan adiknya Andi ini.


Andi pun memeluknya lembut, lalu membalikkan tubuhnya Rara pelan-pelan. Dan membaringkan tubuhnya di atas sofa empuk ini.


Lalu Andi mengecup lembut bibir Rara. Karena bibir mungilnya menarik untuk di nikmati.


"Kenapa, kamu melakukan semua ini padaku dan adikku tuan?" Tanya Ruben putus asa, karena tak mengerti dengan sebab Andi melakukan perlakuan kejamnya hari ini.


"Kalian tak salah Ruben. Kamu hanya sedang sial saja." Jawab Andi datar.


"Kamu tahu, setelah dari sini, kemana lagi kira-kira aku kan pergi?" Tanya Andi pada Ruben, menyuruh nya menebak.


"Aku tak peduli, kamu mau ke mana!" Jawab Ruben emosi.


Andi diam saja, tak merespon, dia terus merapihkan pakaiannya. Lalu melangkah pergi melewati tubuh Ruben yang sedang tergeletak, dekat dengan pintu keluar.


Sesaat Andi akan membuka pintu keluar, Andi menghentikan langkahnya.


"Tak disangka. Istrimu adalah seorang guru di sekolahku dahulu. Ternyata Istrimu adalah wanita baik-baik. Aku selalu membayangkan, bagaimana jika dia mengalami apa yang dialami oleh korban-korban kekejaman suaminya " Ucap Andi memberikan Ruben bayangan siksaan mental.


"Tuan, aku mohon jangan mengganggu istriku. Dia wanita baik-baik. Jangan libatkan dia" Pinta Ruben memohon.

__ADS_1


"Oh mudah saja Bos. Kita buat saja, istrimu banyak kesalahan. Aku akan membuatnya menyelingkuhi mu Ruben. Dia sendiri yang akan mendatangiku untuk di tiduri. Dia sendiri yang akan memasukkan adikku ke ruang tamunya, seperti yang adikmu lakukan beberapa waktu lalu" Ujar Andi panjang lebar.


"Maafkan aku tuan,, maafkan kami tuan.." Ucap Ruben lirih, putus asa.


__ADS_2