Sang Pemulung Kaya

Sang Pemulung Kaya
Bab 37. Marsa Menggugat Sang Tuhan


__ADS_3

"Berapa banyak hutang dan tebusan pinalti untuk kebebasan mu? " Tanya Andi pada Marsa.


Marsa diam tak menjawab. Malah Air mata nya menetes ketika Andi menanyakan pertanyaan itu.


"Tuan,, aku siap kamu jadikan apapun, selama itu tak harus bekerja seperti ini lagi" Ucap Marsa dalam tangisnya.


"Aku bersedia menjadi pembantu di rumahmu, aku cukup ahli dan cekatan dalam merawat rumah" lanjutnya menjelaskan kelebihannya.


"Jawab dulu pertanyaan ku!" Ucap Andi tegas.


"Sangat besar tuan. Karena, aku masuk ke tempat ini adalah sebagai jaminan, untuk uang yang aku pinjam atas nama pamanku" Jawab Marsa.


"Dan aku menjaminkan diriku sendiri sebagai pengganti hutang tersebut" Lanjutnya menjelaskan.


"Saat itu, Aku meminjam uang sebanyak 2 Miliar tanpa sepengetahuan pamanku. Tapi, aku masih menyimpannya setengahnya di rekening pribadiku" Lanjutnya menceritakan bagaimana dia menjebak dirinya sendiri, agar dapat keluar dari lingkaran hidup bersama paman jahatnya itu.


"Bahkan, Pamanku tak tahu jumlah sebenarnya, tentang uang yang aku pinjam saat itu. Yang dia tahu, aku meminjam uang 1 miliar saja" Ucap Marsa menarik nafas agak dalam, Seolah ada cerita sedih di balik lidahnya, yang tak bisa dia ceritakan.


"Pamanku sangat senang ketika aku membawa uang 1 miliar yang aku pinjam" Ucap Marsa, lalu kata-katanya terhenti sejenak.


"Dengan perjanjian, jangan menjadikanku gundik terus menerus untuknya atau pun teman-temannya" Ucapnya dengan wajah yang terlihat menahan sakit karena kecewa.


"Saat itu, Pamanku menyanggupi perjanjian itu, dan aku percaya dengan kata-katanya." Lanjutnya bercerita.


"Tapi, karena nafsu birahinya yang tak bisa dia kontrol ketika dia mabuk, dia masih terus melakukannya. Dan bahkan melanggar apa yang dijanjikan nya, dia tetap menjadikan ku sebagai pemuas nafsunya kembali untuk dirinya, bahkan, juga untuk teman-temannya" lanjutnya bercerita dengan cucuran air mata.


"Hingga akhirnya, aku menghubungi Rentenir pemberi hutang, dan mengatakan jika aku sudah tak sanggup membayar hutangku. Aku sengaja melakukannya, agar mereka menjemputku dari neraka itu menuju tempat laknat ini." Ucap Marsa mengakhiri cerita tentang bagaimana dia bisa berakhir di tempat ini.


Andi pun sedikit terharu dan empati dengan kisah yang diceritakan Marsa tentang perjalanan hidupnya selama ini.


Apalagi, setelah ada kontak fisik yang spesial antara keduanya sebelumnya.


Sudah bisa dipastikan. Ikatan yang tak kasat mata, sudah terjalin antara Andi dan Marsa saat ini, walaupun bukan cinta.


Karena, Hubungan badan akan membuat penilaian seseorang menjadi subjektif setelahnya.


Membuat orang akan lebih mudah empati dan simpatik kepada pasangan yang sudah melakukan hubungan 'seperti itu', sekali pun bukan karena cinta, kecuali dia adalah seorang psikopat.


Apalagi 'pelayanan' yang berikan oleh Marsa sebelumnya, itu sangat membekas di pikirannya Andi.


Mungkin selain karena pengalamannya, yang pernah di jadikan objek oleh puluhan orang, dengan jam terbang mungkin sudah ribuan kali selama hidupnya, juga karena Marsa memiliki pekarangan dan gerbang telur yang sangat harum dan terawat.


"Berapa yang harus aku bayar untuk kebebasan mu Marsa?" Ucap Andi untuk kesekian kalinya, dengan penegasan suara yang agak tinggi.

__ADS_1


Marsa pun akhirnya mengerti, Andi sudah agak kesal dengan tindakan bertele-tele nya.


"Sekitar 7 miliar tuan." Ucapnya ragu. Marsa khawatir Andi tak akan mau dan tak jadi untuk membebaskan dirinya, karena harga yang harus di bayarnya ternyata sebanyak itu.


"Panggil Bos mu" Pinta Andi singkat.


Marsa terlihat diam membatu sesaat, setelah mendengar ucapan Andi barusan.


"Terimakasih kasih tuan,," Ucap Marsa sungguh-sungguh, lalu Marsa bersujud di depan kakinya Andi.


Andi tak pernah membayangkan jika ekspresi rasa terimakasih nya akan seperti ini.


"Apa yang kamu lakukan" Ujar Andi kaget.


"Kamu tak perlu sampai seperti ini" lanjut Andi mengingatkan Marsa atas tindakannya yang berlebihan ini.


"Tidak tuan. Yang kulakukan saat ini, pantas kamu dapatkan." Ucap Marsa dalam sujud nya.


"Maksudmu?" Andi tak mengerti dengan maksud Marsa.


"Aku telah sangat lama, berdo'a pada Tuhan supaya menyelamatkan diri ku dari siksaan pamanku, dan aku masih tak berhenti berdo'a ketika aku ingin lepas dari tempat laknat ini" Ucap Marsa dengan isakan tangisnya.


"Tapi dimana DIA?, Aku telah sangat lama memuja NYA tanpa pernah berhenti bersujud pada NYA saat itu. Tapi DIA tak kunjung datang menolongku." Lanjutnya dengan semua gugatan kerasnya pada Tuhannya.


Tapi, karena dia tahu, Seorang yang sedang kecewa yang terlalu dalam, tak akan mudah untuk di nasehati atau pun di berikan penjelasan.


Karena rasionalitasnya tak sedang dia pakai, dia lebih cenderung sedang menggunakan perasaannya selama ini. Sebagai alat ukur penilaiannya.


"Ya sudah, Kamu bangun dulu. Nanti saja acara berterimakasih seperti ini kamu lakukan. Sekarang hubungi dahulu Bos mu, agar datang ke ruangan ini" Ujar Andi dengan suara pelan.


Andi sedikit mengerti dengan euforia yang dialami oleh Marsa saat ini, sehingga membuat dirinya sampai bersikap seperti ini.


Marsa pun mulai berdiri merapihkan pakaiannya yang memang sudah tak bisa kembali rapih.


"Iya tuan. Akan saya hubungi" Jawabnya semangat.


Setelah beberapa saat menunggu, sambil melakukan kegiatan dewasa yang agak tipis-tipis, karena bosan menunggu Bosnya Marsa yang belum datang juga.


"Tok,, Tok,, Tok,," suara pintu diketuk.


Mereka berdua pun berhenti melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh orang dewasa ketika menunggu.


Tak ada yang akan berani membuka pintu ruangan VIP. Kecuali di buka terlebih dahulu dari dalam.

__ADS_1


Orang di luar akan menunggu saja hingga pintu dibukakan.


"Buka pintunya" Perintah Andi pada Marsa yang sedang ada di pangkuannya.


"Baik tuan." Jawab Marsa sambil mengecup tipis bibir Andi, Sebelum tubuhnya meninggalkan pangkuan seseorang yang sedang dia anggap sebagai tuhannya saat ini.


Andi hanya bisa tersenyum dengan tingkahnya Marsa, Karena Andi pun cukup senang denga kelakuan berani nya ini.


Pintu pun dibuka, dan orang yang sama ketika Andi akan membebaskan Intan dan Rossi pun masuk.


"Selamat sore tuan Andi. " Ucap Ruben Sopan.


"Sepertinya anda akan menambah koleksi Hareem anda lagi tuan?" Ucap Ruben mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.


"Jika anda ingin. Kami punya daftar wanita-wanita berkelas, yang bisa anda jadikan koleksi untuk Hareem anda tuan" Lanjutnya menawarkan wanita lainnya pada Andi.


Ruben sudah membayangkan keuntungan yang besar yang akan dia dapatkan, jika Andi sampai tertarik dengan yang di tawarkan nya.


"Tak usah banyak bicara Bos. Kita langsung saja fokus ke masalah ini saja dulu" Ujar Andi membuatnya terdiam.


Ruben baru sadar jika ucapan dia sebelumnya itu cukup tidak sopan dia tanyakan pada orang kaya di hadapannya ini.


Secara tidak langsung, seolah Ruben menilai Andi, seolah seleranya Andi itu rendah.


"Iya maaf tuan." Jawab Ruben sopan kembali.


"Biayanya sekitar 7 miliar tuan" Lanjut Ruben singkat.


"Rekening yang sama?" Tanya Andi singkat.


"Betul tuan." Jawab Ruben terlihat bahagia.


Karena dia tahu, apa yang akan terjadi setelahnya, jika Andi sudah bertanya seperti ini.


"Sudah aku transfer. Kamu urus saja sisanya" Ujar Andi kepada Ruben.


"Tentu saja tuan. Aku urus berkasnya sekarang juga" Jawab Ruben, sembari berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Tuan, saya sepertinya sedikit lama." Beritahu Ruben pada Andi.


"Kamu temani saja Tuan Andi di sini, biar aku yang mengurus segalanya" Ucap Ruben pada Marsa.


Ruben pun keluar ruangan untuk mengurus segalanya dengan wajah bahagia, karena dalam 2 hari dia mendapatkan cuan yang sangat besar sekali.

__ADS_1


Ruben tak pernah tahu. Jika adiknya, saat ini sedang mendatangi orang yang saat ini pula sedang membahagiakan dirinya dengan uang.


__ADS_2