Sang Pemulung Kaya

Sang Pemulung Kaya
Bab 55. Petani Pembajak Ladang


__ADS_3

Semua orang pun terlihat sudah pergi, tinggal Andi dan Bu Syifa yang ada di ruang tamu ini.


"Mau sekarang?" Tanya Andi tak tahu malu.


"Mau apa?" Jawab Bu Syifa asal, semakin membuat hasrat Andi semakin tak terkontrol.


Andi langsung menarik Bu Syifa ke pelukannya, dan mulai menutup mulut cerewet guru nya ini dengan mulutnya seperti orang gila.


Dan Andi seolah tak peduli jika mertuanya kebetulan keluar dan mungkin saja akan melihat dirinya sedang menikmati anaknya di ruang tamu.


"Aku belum mandi sayang" ucap Bu Syifa menghindar, karena sedikit tak percaya diri dengan bau tubuhnya.


"Tidak apa-apa Bu, aku sudah terlalu lama bersabar" Ucap Andi menolak alasan istrinya ini.


"Aku ingin menghirup bau tubuhmu saat ini." Lanjutnya membuat hasrat istrinya semakin menggila karena jawaban pendek dari mulut Andi ini.


Karena, perempuan akan lebih mudah terlena, jika pasangan nya menerima keadaannya tanpa syarat sekalipun ada di kondisi terburuk, dan si pria bersedia menerima segalanya.


Itu semua akan membuat sang wanita, menjadi lebih percaya diri dan meningkatkan hormon kewanitaannya.


Andi pun menggendong tubuh ringan istrinya ini, menuju ke kamar pribadinya.


"Dimana kamar mu sayang?" Tanya Andi, Andi mulai mengganti panggilan pada istrinya ini.


"Di atas, di sebelah kanan" Jawab Bu Syifa singkat.


"Aku bau tidak?" Tanya Bu Syifa masih sedikit tak percaya dengan aroma tubuhnya.


"kamu masih sangat Wangi sayang" Jawab Andi pada kuping istrinya ini.


"Sekalipun bau tubuhmu tak sewangi biasanya, keadaan seperti itu masih akan aku sukai, semua aroma yang tercium di tubuh istriku ini akan menjadi candu untuk indra penciuman ku sayang" ujar Andi semakin melambungkan pikiran istrinya ini.


Andi pun menurunkan tubuh Bu Syifa di lantai kamar untuk malam pertamanya ini.


Andi pun mulai merobek baju yang menempel di tubuh Bu Syifa dengan kasar.


"Kamu kenapa ndi?" Tanya Bu Syifa kaget.


"Aku ingin merusak semua hal, yang pernah kamu beli memakai uang Suami pertama mu" Jawab Andi dengan wajah datar, seolah sedikit marah.


Bu Syifa hanya terdiam tak menjawab, takut suaminya sedang terpikirkan tentang dirinya yang telah cukup lama dimiliki oleh Ruben.


"Bagian mana saja, yang paling di sukai oleh suami pertama mu?" Tanya Andi, seolah malas menyebutkan nama Ruben.


Bu Syifa cukup lama terdiam, karena ragu untuk menjawab pertanyaan itu.


"Jawab Syifa" Ucap Andi tegas.


"Bagian pekarangan ku" Jawab Bu Syifa sedikit menunduk malu.

__ADS_1


Andi langsung merebahkan Istrinya ini ke atas kasur.


Dan mulai merobek tirai pekarangan yang menghalangi tempat yang sempat menjadi tempat yang paling di favorit kan oleh suami pertamanya.


"Apa yang paling sering dia lakukan padamu?" Tanya Andi lagi, membuat Bu Syifa bingung untuk menjawabnya.


Seperti sebelumnya, Bu Syifa terdiam tak menjawab.


"Dia mengepel teras Ruang tamuku semalaman" Jawab Bu Syifa terlihat semakin sangat malu.


"Akan aku buat kamu melupakan semua jejak yang ditinggalkan oleh suamimu sebelumnya" Ucap Andi terlihat serius.


Andi berharap memori menyakitkan ataupun memori negatif lainnya yang telah dialami oleh Bu Syifa dengan mantan suaminya dahulu, akan dihapuskan olehnya malam ini.


Andi ingin membuat memori bahagia yang akan menghapus memori-memori menyedihkan di kehidupan Bu Syifa sebelumnya.


Andi sangat berharap dapat merubah motif kesediaan Bu Syifa untuk menikah dengan nya. bukan karena dirinya berhutang banyak kebaikan pada Andi, tapi karena Bu Syifa benar-benar mencintai Andi.


Itulah harapan Andi ke depannya. Dia ingin membuat istrinya ini Mencintainya tanpa syarat.


Lalu Andi mulai memerintahkan istrinya agar melebarkan pekarangan miliknya ini.


Andi mulai menyentuh teras ruang tamu milik istrinya ini dengan otot terkuat yang ada di mulutnya ini.


"Aku belum membersihkan nya sayang?" Ucap Bu Syifa sambil sedikit menahan kepala Andi yang saat ini ada di pekarangan miliknya.


"Aku suka Lantai yang kotor sayang, dan Wangi ini lah, yang aku ingin hirup setiap hari sayang" Ujar Andi membuat pikiran Bu Syifa jadi semakin liar.


"kamu, cukup diam dan rasakan pelayanan suami mu ini" pinta Andi pada Bu Syifa.


Dengan tanpa keraguan ataupun malu, Bu Syifa langsung melebarkan pekarangan miliknya semakin lebar.


Sehingga Andi lebih leluasa untuk mengeksplorasi bagian dari teras ruang tamu milik istrinya ini, yang sudah sangat basah sekali.


Andi cukup lama melakukan kegiatan di area ini, dari mulai mengepel bagian pintu dan teras ruang tamu milik istrinya ini, lalu menyedot bersih bagian area ini walaupun bukan debu yang Andi sedot.


Bu Syifa terlihat sudah hilang kesadaran nya karena semua yang Andi lakukan padanya.


"Sayang,," hanya racauan seperti itu yang terus terulang di mulut Bu Syifa.


"Kamu ucapkan saja sayang, jika ada yang kamu inginkan" Tanya Andi memancing pikiran istrinya yang sudah setengah sadar ini.


"Buka segel milik Ku secepatnya sayang,, aku sudah tak tahan" Ucap Bu Syifa tanpa malu, karena benar-benar sudah tak kuat menahan keinginan hasratnya selama ini.


Andi masih meneruskan kegiatan itu sampai Bu Syifa mengalami puncak pertamanya malam ini.


Terlihat air mengalir keluar menuju teras Ruang tamunya dari keran yang ada di dalam ruang tamu yang sudah mulai terbuka katupnya.


"Kamu tahan sedikit ya,, mungkin saja akan sedikit terasa sakit" Ucap Andi mengingatkan istrinya ini, karena kebetulan ukuran tamu yang akan masuk ke ruangan itu, cukup tambun untuk ruang tamu yang masih sempit seperti milik istrinya ini.

__ADS_1


"Iya sayang, tak apa-apa, aku ingin mengingat rasa sakit ini sambil melihat wajah tampan suamiku" Ucap Bu Syifa yang malah balik merayu Andi.


Andi semakin tak tahan, dengan rayuan pendek dari mulut seksi Istrinya ini.


"Aku akan membajak ladang milikmu setiap hari seperti nya sayang?" Tanya Andi pada istrinya ini.


"Aku akan selalu menunggu petani yang datang untuk membajak ladang milikku setiap hari dengan cangkul saktinya" Jawab Bu Syifa balik menantang ancaman Andi.


Andi pun mulai menemukan timing dan posisi yang pas untuk memulainya.


Andi mulai mencoba menekan kepala petani yang diajaknya pelan-pelan untuk menerobos masuk mendobrak pertahanan alami yang diberikan Tuhan pada ladang milik istrinya ini.


"Krek" suara lembut dari sebuah 'pagar' yang ada di jalur masuk ladang milik istrinya, yang mulai melebar mengikuti ukuran petani yang masuk tersebut.


"Andi" lenguh Bu Syifa sedikit terlihat meringis kesakitan dan terlihat air mata mengalir di sisi pipinya.


"Maafkan aku sayang, Tahan sebentar" Ucap Andi pada istrinya yang tetesan air mata tangisannya cukup deras.


"Akan kau hentikan saja sayang, jika memang sesakit itu" ujar Andi, khawatir istrinya akan kesakitan.


"Tidak sayang, kamu lanjutkan saja" Jawab istrinya.


"Aku tak menangis karena sakit, tapi karena saat ini, aku sangat bahagia sayang" Lanjutnya sambil menarik tengkuk Andi, lalu mulai berpagutan untuk mengalihkan rasa sakit yang sedang di rasakan nya.


Andi tak tahan di rangsang seperti itu oleh istrinya ini.


Andi mulai mempercepat pelebaran jalur ke ladangnya ini dengan kecepatan yang konstan.


Agar istrinya mulai terbiasa dengan rasa sakitnya.


setelah rasa sakitnya mulai di dominasi oleh pembajakan dari cangkul sang petani ke area ladang milik istrinya ini.


Andi langsung mulai melakukan gerakan ' tindih bohong' supaya sang petani bisa keluar masuk ladang milik istrinya ini dengan bebas.


"Sayang,, sayang,, " Suara Lenguhan dan ******* permintaan ampun dari istrinya saja yang terus terulang dan tak Andi hiraukan.


Andi terus melanjutkan gerakan 'tak pedulinya' semakin cepat.


Tak tahu sudah berapa kali, istrinya mengalami panen raya di ladang sempit miliknya ini, karena cangkulan yang dilakukan oleh petani ini.


Dan yang terakhir, yaitu saat ini, karena Andi sudah mulai merasa ada kedutaan di tubuh petani yang saat ini sedang bekerja di dalam ladang ini.


Dengan semua kekuatan yang tersisa, Andi melakukan gerakan membajak nya dengan lebih pelan dan mencoba menikmati pijatan-pijatan keras dan lembut dari ladang sempit milik istrinya ini.


Tak lama setelah pijatan hangat dari ladang sempit Yang ada di tubuh istrinya ini.


Andi pun tanpa ragu mulai menyiramkan air benih-benih dan pupuk cinta miliknya ke ladang istrinya ini.


Andi mengakhiri malam pertamanya dengan cumbuan cinta dan sayang dari petani hebat yang dibawanya pada seluruh ladang istrinya.

__ADS_1


Sang petani, masih terlihat betah tak mau keluar dari dalam ladang milik istrinya.


"Terimakasih Cinta ku," Ucap keduanya dalam hatinya masing-masing.


__ADS_2