
"Saya sudah ada di Kantor Penjualan pak?" Ucap Andi pada Pak Roy di telepon.
"Iya pak, saya sebentar lagi sampai ke sana." Jawab Pak Roy terlihat panik karena keterlambatannya.
Sebuah mobil sedan Corolla Altis pun terlihat memasuki pelataran parkir kantor pemasaran perumahan.
"Aku kira siapa?, Hebat,, Mobilnya sudah ganti saja?" Canda Andi pada Pak Roy.
"Berkat Pak Andi, saya jadi bisa memiliki semua ini" Ujar Pak Roy terlihat sangat berterimakasih.
"Siapa kedua wanita cantik ini pak?" Tanya Pak Roy menanyakan kedua wanita yang berdiri dibelakang Andi.
"Mereka lah calon pemilik Rumah yang akan ku beli hari ini " Jawab Andi Santai.
"Pemilik rumah?" gumam keduanya berbarengan, karena tak paham dengan maksud ucapan Andi.
Pak Roy pun sangat cepat tanggap dengan yang Andi maksudkan.
Pak Roy khawatir Andi sedang tak punya banyak waktu hari ini, karena terlihat sangat terburu-buru, karena melihat sikap Andi yang langsung membahas tentang rumah yang di pesannya.
"Silahkan masuk ke ruangan dulu pak" Ajak Pak Roy sopan mengajak Andi dan kedua perempuan yang bersamanya.
Setelah Andi memilih beberapa tipe rumah dua lantai Yang dirasanya cocok untuk kedua wanita ini.
"Bagaimana dengan rumah ini?" Tanya Andi pada Intan, sembari memperlihatkan gambar rumah dengan spesifikasi eksterior dan interiornya.
"Kamu serius,, akan membelikan kita rumah?" Tanya Intan masih menolak percaya.
"Tentu saja, kalian sudah terikat perjanjian lisan denganku. kalian masih mau mangkir dengan semua perjanjian lisan kita?" Tanya Andi pada keduanya.
Keduanya diam tak bisa menjawab.
Di luar kelakuan jahatnya Andi padanya, Intan sangat berterimakasih dan merasa senang dengan semua yang telah dilakukan Andi kepada nya dan kedua orang tuanya.
Intan dan Rossi hanya masih merasa ragu dengan tujuannya Andi, atas semua maksud dari kebaikan Andi sejauh ini.
Mereka serasa menjadi orang yang akan menerima hukuman mati. Yang mana, biasanya akan diperlakukan sebaik mungkin, karena ini akan menjadi hal menyenangkan terakhir yang diberikan.
"Terserah kamu saja tuan" Jawab intan setelah berpikir lama.
Intan terlihat pasrah dengan nasib dirinya ke depannya.
__ADS_1
Intan hanya berharap, perawatan Orang tuanya terjamin, semoga dia masih di beri kesempatan untuk menyaksikan mereka kembali pulih.
"Yang ini saja Pak" Ujar Andi singkat.
"Ok pak,, akan saya urus secepatnya." Jawab pak Roy sigap seperti biasanya ketika melayani Andi.
"Mau kita lihat dulu ke lokasi tuan?, Rumah yang telah dibeli bisa langsung di tempati hari ini juga. Bila tuan ingin segera menempatinya." Ujar Pak Roy memberi info pada semuanya.
"Iya pak,, hari ini akan mereka tempati langsung, saya minta bapak urus barang-barang yang mereka perlukan. Nanti Bapak kordinasikan dengan mereka saja" Perintah Andi pada pak Roy, mempercayakan perihal kelengkapan rumah untuk Intan dan Rossi.
"Kalian ikut dengan pak Roy saja langsung, Untuk menempati Rumah baru kalian" Ucapnya datar.
Keduanya hanya mengangguk bingung, menuruti apa yang Andi katakan.
"Pak untuk pembayarannya nanti saya transfer ke rekening bapak saja" Ucap Andi membuat Pak Roy terlihat senang.
"Iya baik tuan,, anda tak usah khawatir,, semua permintaan anda akan saya kerjakan sebaik dan secepatnya" Jawab Pak Roy sangat yakin.
"Mana No. Rekening mu?" Tanya Andi pada Intan.
"Rekening untuk apa?" Tanya Intan.
Karena Intan mulai mengerti, jika Andi sudah mulai kesal dengan sikapnya yang ribet.
Akhirnya Intan memberikan nomor rekeningnya pada Andi.
"Aku pergi duluan ya,, kalian ikut saja dengan pak Roy. Dia akan memenuhi semua kebutuhan yang kalian inginkan, jika ada beberapa hal yang kebetulan kalian butuhkan" Ucap Andi sebelum dia pergi meninggalkan mereka.
Tak selang beberapa lama Andi pergi, terdengar Notifikasi di Smartphone milik Intan.
"Telah diterima uang sebesar 500 juta. dari No. Rekening 32****" informasi yang tertulis di layar smartphone milik Intan.
Tubuh Intan serasa tak bertulang. Karena seumur hidupnya, dalam rekeningnya tak pernah memiliki uang sebesar ini.
Dan Intan sangat mengetahuinya, siapa yang telah mengirimkan uang ini.
Hatinya semakin tak jelas dalam menilai Andi. Apakah dia tetap harus membencinya karena kebiadaban sikapnya yang lalu. Atau dia harus mulai berdamai dengan dirinya dan mulai memaafkan Andi. Tapi sikap itu, akan membuat dirinya serasa menjual dirinya pada Andi.
Saat ini, dia merasa jika sikap simpati dan empati nya seolah terbeli oleh uang dan semua kebaikan yang telah diberikan Andi padanya.
Setelah pergolakan dalam hatinya terus berperang, dimana kejahatan yang dilakukan Andi padanya itu nyata. Tapi juga, kebaikannya Andi pun juga adalah nyata.
__ADS_1
Akhirnya intan berkesimpulan, mungkin ini cara Tuhan mengirimkan penolong untuk hidupnya, yaitu seorang penolong yang pastinya jauh dari sempurna.
Mungkin Tuhan ingin agar dirinya, tetap menganggap sang bahwa Tuhan lah sebagai penolong utamanya.
Mereka berdua pun ikut dengan Pak Roy menuju lokasi rumah yang akan mereka tempati ke depannya.
"Mbak berdua,, temannya Pak Andi?" Tanya Pak membuka obrolan.
"Bukan pak" jawab intan bingung, karena dia tahu akan ada pertanyaan selanjutnya.
"Lalu?" Lanjut tanya pak Roy.
"Dia adalah orang yang kebetulan menolong kami" Jawab Intan asal, karena intan tak ingin menceritakan kisah detailnya.
"Tak heran,, pak Andi tuh orangnya memang baik,, dia memang suka menolong orang" Ucap Pak Roy memuji Andi.
"Bapak sudah lama kenal dengan Andi" Tanya Intan menyebutkan nama Andi biasa saja, karena Andi tak ada di depannya.
"Disebut sudah lama mengenal, tidak juga Mbak. Tapi saya cukup mengenalnya.
Walaupun terkadang, sedikit bingung juga dengan sikap pak Andi yang tak konsisten" Jawab Pak Roy.
"Tak konsisten, bagaimana pak?" Tanya Intan penasaran, dia ingin tahu lebih banyak tentang siapa dan seperti apa andi sebenarnya.
"Ya,,, terkadang dia terlihat polos, seperti anak-anak. Tapi, ada saatnya dia terlihat jadi orang yang berbeda di lain waktu" Jawab Pak Roy heran.
"Maklum lah mbak. Namanya juga orang kaya, terkadang sikapnya berubah hitungan detik, dan terkadang bertindak semaunya" Lanjut pak Roy menjelaskan sifat Andi yang dia simpulkan selama ini.
Intan sepakat dengan penilaian Pak Roy terhadap Andi untuk sikap anehnya yang ini.
"Memangnya dia orang yang sangat kaya pak?" Lanjut tanya Intan, ingin tahu seberapa kayanya Andi.
Karena dia cukup heran, dengan caranya Menghamburkan uang sebanyak itu, seolah hal itu adalah hal biasa saja baginya.
"Untuk pertanyaan mbak yang ini,, saya pasti menjawab 'iya', karena Pak Andi pasti seorang yang kaya raya. Tapi, sekaya apakah dia,, saya juga tak tahu mbak" Jawab Pak Roy diplomatis.
Karena memang pak Roy tak tahu persis Andi sekaya apa. Karena sikap orang-orang kaya yang pernah dia temui dalam bisnis ini,,tak ada yang se-absurd Andi dalam menggunakan kekayaannya.
Rossi yang sedari awal duduk di kursi belakang, dia hanya menyimak obrolan antara Intan dan Pak Roy, terdiam menebak-nebak siapakah Andi sebenarnya.
...****************...
__ADS_1