
"sudah, tak usah bersujud lagi. Malah aku lebih suka bila kamu bersujud membelakangi ku" Ucap Andi dengan wajah senyum sinis nya.
Marsa pun sangat mengerti dengan maksud ucapan Andi.
Dia pun, langsung melakukan apa yang di inginkan Andi tanpa malu-malu.
Bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan oleh penikmat kepada pecinta seperti yang mereka berdua lakukan.
Sudah tak ada aturan dan batasan yang bisa menghalanginya.
Marsa rela di perlakukan seperti apapun oleh orang sebaik Andi. karena Andi berhak melakukan apapun pada diri Marsa.
Juga Marsa pun sangat berharap dirinya bisa memberikan apa yang Andi inginkan dan yang Andi butuhkan.
"Terimakasih tuan,, atas semuanya" Ucap Marsa sedikit melihat ke arah Andi yang ada di belakang tubuhnya.
Marsa tak berani melihat ke arah Andi dengan jelas. Bukan karena malu, tapi Marsa takut tamu yang di antarkan oleh Andi, keluar dari ruang tamunya, jika dia menengok.
***
"Sekarang kamu pergi ke alamat ini saja. Ini Kunci rumahku, kamu tinggal di sana dulu sementara. Kamu istirahat saja di sana, sepertinya, aku akan agak malam datang ke rumah itu" Ucap Andi pada Marsa, setelah semua dokumen kebebasan dirinya ada di tangannya.
"Sepertinya Rara akan datang sebentar lagi," Batin Andi setelah Marsa pergi meninggalkan dirinya di ruangan yang aromanya sudah dipenuhi oleh aroma khas hormon laki-laki dan perempuan.
"Tok,,tok,,tok" suara ketukan pintu.
Anwar pun membuka pintu dari dalam.
"Masuklah" Ucap Andi singkat, meminta Rara untuk masuk ke dalam.
Rara datang dengan baju kaos tangan pendek yang pas dengan tubuhnya,serta celana jeans panjang.
"Sepertinya dia takut aku melakukan "hal itu" secara paksa lagi padanya" batin Andi, karena Andi melihat sabuk yang ada di pinggang celana jeans-nya.
"Tok,,tok,,tok,," Ada suara ketukan pintu.
"Bukalah" Pinta Andi pada Rara, yang langsung menuruti perintah Andi.
Rara kaget ketika melihat orang dibalik pintu itu. Yang tak lain adalah kakaknya sendiri.
"Kenapa kamu di sini dik?, Dan kenapa kamu bisa kenal dengan Pak Andi ?" Tanya Ruben beruntun pada adiknya.
Rara hanya diam tak menjawab, karena dia bingung harus menjawab dengan jawaban apa.
__ADS_1
"Dia tamu ku Ruben. Aku tak tahu dia adalah adikmu" Ucap Andi berbohong pada Ruben.
"Untuk apa anda memanggil adikku tuan ?" Tanya Ruben penasaran.
"Kira-kira untuk apa, aku memanggil wanita cantik dan semok seperti dia?" Jawab Andi asal.
"Maksudmu tuan?" Jawab Ruben sangat tersinggung.
"Buka bajumu Rara" Pinta Andi pada Rara.
"Apa maksudmu tuan?, Kamu tak bisa sembarangan memerintahkan adikku" Ucap Ruben masih berusaha sopan di tengah emosinya.
"Lalu, kamu mau apa?, Kamu mau melihat aku melakukannya di hadapanmu?. Aku baik-baik saja, tapi kamu tanya saja dulu adikmu. Apakah dia setuju?" Tanya Andi semakin seperti psikopat.
Di Sebabkan oleh pasangan kakak beradik ini lah, tak tahu sudah berapa anak gadis orang yang mereka jebak, agar bisa menjadi sapi perah untuk mereka selama ini.
Ternyata semua yang Andi lakukan hari ini adalah. Sebuah penghakiman, "mata bayar mata, gigi bayar gigi". Andi tak peduli bila seluruh dunia tak bisa melihat. Karena kenyataannya, dengan mata pun, tetap saja masih banyak orang yang tak bisa melihat mana salah dan benar.
"Aku akan menghukum kalian, dengan cara yang biasa kalian lakukan" Batin Andi kejam.
"Jangan karena kamu kaya dan kenal dengan pak Beny. Kamu bisa bertindak seenaknya pada adikku!" Teriak Ruben mengancam.
"Apa yang mau kamu lakukan padaku?" Tanya Andi meremehkan.
"Rara, Kamu kemari!"Perintah Andi pada Rara.
"Apa yang kamu lakukan Ra?" Tanya Ruben heran.
"Kamu keluar saja kak"jawab Rara, dengan mata sembabnya.
"Dia bukan seseorang yang bisa kita lawan kak" lanjut Rara terlihat pasrah.
Melihat tingkah adiknya yang seolah pasrah tak berdaya. Membuat sisi heroik Seorang kakak yang sangat sayang sekali kepada adik satu-satunya ini meluap.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada adikku berengsek?" Teriak Ruben mendekat untuk meraih kerah baju Andi.
Tapi, sesaat ketika tangannya akan meraih Andi. Dia merasa ada Serangan di dua Titik tubuhnya, yaitu perut dan kakinya.
Ruben pun tak bisa menggunakan kemampuan reflek tubuhnya, karena Serangan tak normal ini.
"Buk" suara perut Ruben terpukul, dia merasa organ dalamnya berpindah posisi. Dan langsung mengeluarkan darah segar yang tak berhenti dari mulut dan hidungnya.
Walaupun, pertarungan ini baru dimulai dan belum ditentukan, siapa yang akan menang.
__ADS_1
Tapi, perasaan Ruben mengetahuinya,, jika pertarungan ini sudah selesai.
Ruben baru menyadari, jika seluruh tubuhnya kehilangan tenaganya, dan keseimbangannya limbung setelah terkena pukulan yang hanya satu kali di terima tubuh kuat Ruben.
Ruben sekarang akhirnya tahu, alasan Kenapa Andi dihormati, bukan hanya karena kekayaannya tapi juga karena kekuatannya.
Bahkan, Ternyata kekuatan orang ini adalah alasan kenapa pak Beny memerintahkan untuk menghormatinya.
Kurang lebih seperti itulah pergolakan batin yang ada pikiran nya Ruben.
Padahal bos nya, Beny menghormati Andi dikarenakan hanya karena Andi datang bersama Letnan Kosman saat itu, dan juga Andi sangat dekat dengan wanita keturunan dari Klan Aslan.
"Saran ku, Kamu pejamkan saja matamu.
Karena pemandangan di ruangan ini, sebentar lagi akan jadi pemandangan yang tak pantas dilihat oleh seorang kakak" Ucap Andi datar.
Andi pun merasa aneh, perasaan kejamnya ini datang lagi.
"Buka semua hal yang menutupi tubuhmu!" Perintah Andi pada Rara. Yang mana Rara tak bisa menolaknya.
"Saran ku, telingamu pun tutup juga. Karena suara adikmu cukup keras ketika di siksa oleh 'adikku' " Ujar Andi layaknya psikopat.
"Kalian sekarang bisa membayangkan, bagaimana orang-orang yang kalian jebak dan ancam dengan cara seperti ini. Mereka pun sama persis, dengan keadaan kalian saat ini." Sindir Andi pada kedua kakak beradik ini.
"Aku mohon tuan, adikku tak bersalah" Ucap Ruben dengan tersengal-sengal karena dadanya serasa hancur.
"Aku yang sering memaksa dirinya untuk menjebak teman-temannya selama ini, untuk aku jadikan wanita penghibur" lanjutnya berusaha supaya Andi mengampuni Rara.
"Kenapa, kamu meminta ampun Ruben?, Adikmu pun rela melakukannya" Ucap Andi pada Ruben yang merasa aneh dengan kata-katanya Andi.
"Lagian ini bukan pertama kalinya, aku memaksa adikmu, untuk melakukan hal seperti ini" lanjut Andi mengatakan hal kejam ini, seperti hal biasa baginya.
Ruben akhirnya mengerti. Ternyata, orang yang memperkosa adiknya sebelumnya adalah Andi juga.
"Jadi, kamu orang yang memperkosa adikku sebelumnya?" Tanya Ruben tak percaya.
"Iya tuan Ruben "Jawabnya singkat.
"Tapi, tidak untuk hari ini. Aku hanya menelepon dirinya tanpa paksaan." Lanjut Andi menjelaskan rencana tindakan kejamnya pada kakak calon korbannya.
"Adikmu bisa saja untuk tak datang hari ini. Tapi dia tetap datang juga, kamu lihat sendiri kan?" Ucap Andi pada Ruben, ingin menyindir Ruben, jika adiknya pun adalah seorang wanita murahan.
Ruben tak pernah menyangka jika dirinya yang kejam dan tanpa ampun ketika menjerat wanita-wanita baik ataupun polos supaya dijadikan wanita penghibur.
__ADS_1
Pada akhirnya dia mengalami hal yang lebih buruk hari ini. Dimana dirinya harus menyaksikan bagaimana adik tersayangnya akan digagahi, tanpa bisa menolak apalagi untuk melawan.
Bersambung,,,,