Sang Pemulung Kaya

Sang Pemulung Kaya
Bab 53. Musuh dalam Selimut


__ADS_3

"cerai dengan Ruben?" Tanya ibunya, kaget.


"Ruben yang menceraikan mu?" Tanya ibunya memastikan ketidak percayaan nya.


"Benar Bu. Dia yang menandatangani surat perceraian lebih dulu" Ucap Bu Syifa menjelaskan yang dia ketahui tentang proses Ruben menceraikan dirinya.


Karena Bu Syifa tidak tahu, karena memang Bu Syifa tidak pernah mengetahui, bagaimana cara Andi untuk membuat Ruben hingga bersedia untuk menceraikan dirinya.


"Hanya saja, ada yang mau aku bicarakan dengan kalian Bu, Pak" Ucap Bu Syifa kepada kedua orangtuanya, yang saat ini sedang duduk di ruang tamu.


Andi dan Bu Syifa duduk berdampingan sedangkan orang tuanya duduk di kursi yang ada di sebrang meja.


"Tentang apa sayang?" Tanya ibunya, penasaran.


Ayahnya diam saja, walaupun sudah mengetahui apa yang mau anaknya sampaikan.


"Aku mau menikah lagi malam ini juga" Ucap Bu Syifa, dengan wajah salah tingkah nya.


Sebenarnya Andi sudah menawarkan dirinya untuk menyampaikan niatnya, agar Andi saja yang mengatakan maksud dan tujuannya datang ke sini.


Tapi Bu Syifa ingin dia sendiri lah yang mengatakan masalah ini pada ibunya.


"Menikah lagi?. Dengan siapa sayang?" Tanya ibunya tak mengerti karena sedang memikirkan sesuatu.


"Bukankah kamu harus menunggu dulu beberapa bulan untuk menikah lagi." Ucap ibunya mengingatkan anak nya ini.


"Aku,, Ruben tak pernah memberikan aku nafkah batin dari awal kami menikah Bu " Ujar Bu Syifa terlihat sedikit ragu ketika akan menjelaskan alasan perceraian tanpa masa menunggu, setelah dirinya tahu dari Andi, jika ada alasan seperti ini dalam perceraian.


"Tidak pernah menyentuhmu?" Gumam ibunya, sembari mulai menangis bahagia.


"Ibu selalu berdoa, agar kamu di selamatkan dari para penjahat seperti Ruben" Ucap Ibunya.


"Ternyata, tuhan mendengar do'a ibu sayang.." Lanjutnya menjelaskan, jika selama ini ibunya Bu Syifa tak pernah berhenti mendo'akan anaknya supaya anaknya selalu dijaga dari orang-orang yang jahat.


"Kamu mau menikah dengan siapa nak?" Tanya ibunya penasaran.


"Dengan Andi" Jawab Bu Syifa.


"Andi?, Andi mana?, Mantan mu dulu?" Tanya ibunya menebak.


Bu Syifa hanya menggelengkan kepalanya. Sembari melirik orang yang ada di sampingnya.


"Saya Bu. Saya yang ingin menikahi anak ibu, yaitu Syifa" Ujar Andi dengan ucapan yang sangat tegas.


Ibunya tak menjawab apapun, bahkan tak berkata apapun, malah melirik kepada suaminya.


Suaminya pun, malah memberikan kode terserah.


"Bukannya Syifa terlalu tua untukmu anak muda?" Ucap Ibunya bertanya pada Andi.


"Tapi aku menyukainya Bu" Jawab Andi meyakinkan.


"Rumah tangga itu tak cukup dengan rasa suka saja, anak muda" ucap Ibunya memberikan petuah pada Andi.


Andi hanya tersenyum simpul mendengar jawaban bijaksana dari calon mertuanya ini.


"Seharusnya, kalimat ini ibu ucapkan juga ketika Ruben memaksa anak ibu untuk menjadikan Syifa sebagai istrinya" Ujar Andi.


"Jika karena cinta saja tak cukup, kenapa dulu kalian mengizinkan Syifa menikah kepada orang yang bahkan kalian benci" tanya Andi membalikkan pertanyaan sulit kepada ibunya Bu Syifa.


"Hanya, karena aku lebih muda dan terlihat seperti masih anak-anak. Anda mulai mempermasalahkan nya?" Ucap Andi mulai menyindir kedua calon mertuanya ini.


"Bukan seperti itu nak Andi. Ibu hanya khawatir, jika anak ibu satu-satunya ini, harus kembali menjalani kehidupan yang tak pernah membagikannya" Ucap ibunya menjelaskan penolakan nya.


"Saya datang ke sini atas permintaan anak ibu, Syifa." Ucap Andi mulai menjelaskan sebab Dirinya datang ke rumah ini.


"Dan ketika saya melamar dirinya. Dia meminta saya untuk meminta restu pada anda berdua " Lanjut Andi menjelaskan berubah sesopan mungkin.


"Jadi, secara tidak langsung. Anak ibu lah Syifa, yang menginginkan saya untuk melamarnya" Ucap Andi mengakhiri penjelasannya.


Kedua orangtuanya pun melirik ke arah Bu Syifa.


"Apakah seperti itu sayang?" Tanya ibunya, sedikit tak mengerti.


Bu Syifa hanya mengangguk, mengiyakan apa yang di tuduhkan Andi pada dirinya.


"Karena, dia adalah orang yang sudah membebaskan aku dari neraka itu Bu" Ujar Bu Syifa mulai menjelaskan alasannya mau dinikahi oleh Andi.


"Aku akan berhutang Budi pada dirinya seumur hidupku Bu. Hanya dengan cara menikahinya saja aku bisa membalas kebaikannya Bu" Lanjut Bu Syifa menjelaskan pada ibunya.


Sang Ibu hanya terdiam kebingungan, karena keputusan anaknya ini.


"Ibu setuju saja sayang. Hanya saja, Ibu ingin Syifa tinggal di sini" Pinta ibunya, sambil melirik pada Andi.


"Kenapa harus di sini?, Bukan kah rumah ini sebentar lagi di sita?" Ucap Andi tak mengerti.


Karena, Andi melihat ada tanda pemberi Tahuan penyitaan di depan rumah ini.


"Oh tentang itu, paman-paman mu akan datang malam ini, untuk membayar hutang rumah ini. Jadi kedepannya, Setidaknya kita bisa menyicil pada paman-paman mu, tidak usah pada Bank. " Ujar ibunya, terlihat terpaksa.


"Kenapa ibu masih percaya pada mereka?, Bukankah hidup ku hancur pun, karena ulah mereka?" Ucap Bu Syifa terdengar dengan suara yang sedikit meninggi.

__ADS_1


Ibu dan ayahnya hanya bisa terdiam tak menjawab seperti biasanya. karena hidupnya dipenuhi rasa bersalah pada anaknya selama ini.


"Aku sedang tak tertarik berurusan dengan mereka Bu" Ucap Bu Syifa terlihat sangat berubah raut wajahnya.


"Tapi, saat ini mereka adalah sesepuh keluarga besar kita sayang" Ucap Ibunya terlihat masih membela mereka.


"Jadi, termasuk setelah mengorbankan diriku pun. Kalian berdua masih akan menghormati mereka dengan alasan bahwa yang mereka lakukan untuk kebaikan keluarga besar? " Tanya Bu Syifa mulai kesal dengan sikap kedua orang tuanya.


"Bukan begitu sayang, Kita adalah bagian dari keluarga ini." Ayahnya mulai melerai kesalahpahaman ini.


"Bu, sudah biarkan saja. Fokus saja pada tujuan kita sebelumnya" Ucap Andi kepada Bu Syifa, Andi mulai ikut sedikit kesal sebenarnya.


Orang tua Bu Syifa sepertinya terlalu lama mendapatkan tekanan dari keluarga besarnya selama ini.


Sehingga mental dan kejiwaan mereka berdua, telah terdoktrin menjadi tak mampu untuk menentang semua keputusan sesepuh-sesepuh di keluarga nya.


"Aku datang ke sini, hanya ingin melamar dan menikahi putri Bapak" Ucap Andi pada ayahnya Bu Syifa.


"Sebaiknya kita tunggu mereka datang terlebih dahulu, mereka sebentar lagi akan sampai" Ujar ibunya meminta Andi dan Bu Syifa untuk menunggu mereka.


"Baiklah Bu, jika Izin untuk Syifa ada pada mereka".Ucap Andi menyindir mereka sebagai orang tua yang seolah tak memiliki kuasa untuk memutuskan apapun.


Tak lama setelah pembicaraan mereka di tengah ruang tamu rumah ini.


Orang-orang yang ditunggu pun akhirnya tiba.


Terlihat ada dua mobil mewah masuk ke pelataran Rumah orang tuanya Bu Syifa.


"Sepertinya, Kakek dan paman-paman mu sudah tiba". Ucap Ibunya pada Bu Syifa.


Ayah dan ibunya terlihat langsung berjalan keluar untuk menyambut mereka.


"Selamat datang Ayah" Ucap ayahnya Bu Syifa pada kakek nya Bu Syifa, terlihat sangat hormat.


"Selamat datang Kak" Ucapnya lagi pada Kakak-kakaknya.


Terlihat ekspresi sombong di wajah mereka semua.


Hanya wajah Kakeknya saja, yang terlihat sedikit normal.


"Cucuku, kamu ada di rumah?. Suamimu sudah mulai mengizinkan mu untuk menemui keluarga mu?" Tanya kakek nya terlihat sedih.


"Kakek, bagaimana kabar kakek?" Tanya Bu Syifa mengalihkan pertanyaan kakek nya ini, sembari menghampiri lalu memeluknya.


Bu Syifa memang cukup dekat dengan kakeknya ini.


Bahkan kakeknya termasuk orang yang menentang ketika semua tetua atau anak-anaknya memutuskan supaya Syifa menikah dengan Ruben saat itu.


Karena pada saat itu, kebetulan ada masalah internal yang terjadi di tubuh keluarga besar Astari ini.


"Siapa yang akan meminjamkan uang sebesar itu pada kita?" Tanya Pak Ruslan Astari pada ayahnya.


Ayahnya hanya terdiam tak menjawab, seperti sedang ada sesuatu yang ditutupi olehnya.


"Sebenarnya, bukan meminjamkan uang, tapi mereka ingin membeli rumah ini" Ucap salah satu kakak Pak Ruslan memberi tahukan.


"Maksud kakak?" Tanya Pak Ruslan tak mengerti.


"Rumah ini, sudah tak mungkin bisa kamu lunasi hutangnya." Ujar Kakak tertuanya ini.


"Jadi, kami bermaksud memberikan jalan padamu untuk bisa melunasi hutang mu itu" Lanjut Kakak yang lain.


"Tapi, ini adalah rumah milik istriku kak. Ibunya Syifa, aku tak punya hak untuk melepaskan rumah ini" Ujar pak Ruslan sedikit kesal.


"Dan sebab Kenapa aku sampai menjaminkan rumah ini. Bukankah kalian yang menggunakan uang nya?" Tanya Pak Ruslan semakin emosi.


"Tapi, walaupun kami yang menggunakan nya. Itu semua untuk kebaikan keluarga besar ini" Jawab kakak nya berkilah.


"Jadi, maksud kalian?, Kalian yang berhutang, aku yang harus membayarnya?" Tanya Pak Ruslan, tak percaya Kenapa kakak-kakaknya Setega ini pada dirinya.


"Ayah, Kenapa kamu diam saja selama ini?. " Tanya Pak Ruslan meminta penjelasan atas sikap tak adil padanya selama ini.


"Maafkan aku,, Ruslan," Ucap ayahnya singkat.


"Selama ini, kamu dan keluargamu yang selalu menanggung semua hal atas keserakahan ku dan kakak-kakak mu" Ucap Pak Astari terlihat menyesal.


"Apa maksud ayah?, Ini bukan tentang kami serakah atau tidak. Tapi yang kami putuskan selama ini, adalah cara terbaik untuk menyelamatkan keluarga kita" Ucap kakak keduanya membela diri.


"Sudahlah, kalian tidak usah berbohong lagi. Aku sangat mengenal siapa kalian. Aku ini ayahmu" Ucap pak Astari kepada anak-anaknya ini.


"Apa maksud ayah?" Tanya anak pertamanya ini.


"Aku akan menjual seluruh aset keluarga besar kita. Dan mengakhiri penderitaan yang terlalu lamu aku tanggung di masa tua ku ini" Ucap pak Astari, membuat anak-anaknya sangat terkejut.


"Kamu tak bisa melakukan itu semau mu ayah. Kami di sini adalah sebagai tetua keluarga ini. Jadi penjualan apapun tak akan sah jika tanpa izin kami" Ucap anak pertamanya, yang mulai terdengar seperti orang lain.


"Lalu, mau kalian apa?" Tanya pak Astari pada anak ke 1 sampai dengan ke 3 nya.


"Baiklah, karena ayah memang tak pernah mempercayai kami sedikit pun selama ini.


Jadi kami pun akan melakukan hal yang sama pada mu,, Ayah" Ucap anak pertamanya dengan senyum liciknya.

__ADS_1


"Maksudmu?" Giliran pak Astari yang saat ini, tak mengerti maksud anak-anaknya.


"Kamu kira pertemuan malam ini, hanya tentang pelelangan rumah menantu tercinta mu saja?" Tanya anak pertamanya.


"Kami pun akan menjual semua aset keluarga kita kepada Pak Beny malam ini" Ucapnya Jujur, mereka sudah tak takut ketahuan rencana busuknya selama ini.


"Jadi, selama ini semua kejadian menyedihkan yang terjadi adalah karena kalian?" Tanya Pak Astari, terlihat emosi.


"Maafkan kami ayah. Salah sendiri, kenapa kamu tak pernah mempercayai kami. Jadi untuk apa kami, harus menuruti semua perintah mu" Ujar anak ke duanya menjawab pertanyaan Ayah nya sendiri dengan nada tak hormat.


Di tengah perdebatan mereka, datanglah sebuah mobil mewah berwarna hitam.


"Itu sepertinya pak Beny" Ucap anak pertamanya Pak Astari terlihat tersenyum melihat Mobil yang sekarang tiba.


"Aku ingin ikut ke toilet Bu" Pinta Andi meminta izin pada Bu Syifa.


Mobil itu pun berhenti, lalu anak buahnya membukakan pintu belakang mobil mewah itu.


"Selamat malam Pak" Ucap anak-anaknya menyalami orang yang datang ini. Yang tak lain adalah Pak Beny, ketua dari Zona Utara Klan Serigala Bulan.


Ayah dan kakeknya pun ikut menyalami orang berpengaruh ini.


Sekalipun saat ini Pak Astari sadar sedang di jebak oleh anak-anaknya.


Tapi, dia tak mungkin bertindak gegabah di depan orang yang saat ini menjadi pimpinan dari Klan Srigala Bulan di Zona Utara ini.


"Silahkan masuk pak." Ucap kakak-kakaknya menawarkan Pak Beny untuk masuk dengan sopan, seolah ini adalah rumah mereka.


Pak Astari dan ayahnya Bu Syifa hanya bisa menahan emosi nya melihat kelakuan orang-orang jahat ini.


"Langsung saja. Waktu ku tak banyak" Ucap pak Beny pada anak pertamanya Pak Astari.


"Baiklah tuan, ini surat-suratnya" Jawab Anak pertamanya pak Astari mengeluarkan semua surat dari aset-aset keluarga nya, yang sudah di pindah Nama menjadi milik merek bertiga.


Pak Astari hanya bisa memegang dadanya yang terasa seolah jantung nya ingin copot melihat kelakuan anak-anaknya pada dirinya di masa tuanya ini.


"Baiklah, aku akan membayar semua nya sesuai dengan harga yang sudah kita sepakati" Ujar Pak Beny, sembari mulai menandatangani surat penjualan seluruh aset keluarga Astari ini.


Sesaat Pak Beny akan melakukannya, smartphone nya berdering dari nomor penting.


Lalu, dia pun menerima panggilan tersebut, lalu terlihat berbicara sangat sopan kepada orang yang menelpon Dirinya itu.


semua orang yang ada di ruangan ini tak ada yang berani bersuara ketika Pak Beny sedang berbicara dengan Client pentingnya ini.


"Baiklah tuan. Aku akan melakukannya sesuai keinginan tuan" Ucap Pak Beny mengakhiri panggilan teleponnya.


"Baiklah, kita lanjutkan prosesnya" Ucap Pak Beny kepada semua orang yang ada di ruangan ini.


Setelah selesai proses jual beli seluruh aset-aset dari keluarga Astari.


Pak Beny pun mulai bertanya pada Bu Syifa.


"Sepertinya aku pernah melihat mu?, Bukannya kamu istrinya Beny?, Ketua distrik daerah ini?" Tanya pak Beny membuat semuanya mulai ketakutan.


Karena mereka tak pernah berpikir, jika sekilas pak Beny akan mengenali Syifa.


"Iya tuan. Tapi kami sudah bercerai" Jawab Bu Syifa pada Beny.


Paman-paman nya sangat kaget mendengarnya. Mereka takut terseret jika Ruben ataupun Beny tersinggung karena kelakuan keponakannya ini.


"Apa kamu bilang, bercerai?. Kenapa kamu sampai diceraikan oleh nya?, Lebih baik kamu segera meminta maaf padanya" Ucap pamannya beruntun.


"Siapa kamu, berani-beraninya memerintah ku?" Tanya Syifa dengan wajah jijiknya pada Semua pamannya ini.


"Keponakan tak tahu sopan santun" Teriak pamannya terlihat akan menghampiri Syifa.


"Berhenti." Ucap Beny berteriak.


"Urusanku dengan kalian, sudah selesai.


Lebih baik kalian pergi dari tanah yang sudah jadi milikku ini" Ucap Beny mengusir semuanya.


"Maafkan kami tuan. Kami akan segera pergi.


Perihal kelakuan dengan keluarga Astari, kamu bertiga sudah tak ada urusan, ataupun ikatan dengan mereka tuan" Ucap anak pertama ayahnya menjelaskan, karena takut terseret oleh kemarahan orang-orang dari klan serigala bulan.


"Sudah kubilang, kalian pergi saja semuanya" Ujar Pak Beny semakin kesal.


"Kecuali kalian bertiga, kalian tak boleh meninggalkan tempat ini" Ucap Beny tegas.


Paman-paman nya langsung segera pergi, setelah melihat Beny terlihat sangat kesal kepada mereka semua.


Mereka semakin takut terseret masalah yang ditimbulkan oleh keponakannya itu.


"Baik. Tuan. Kami mohon undur diri. Kami benar-benar sudah tak ada hubungan apapun dengan mereka".Ucap paman-paman Jahatnya itu.


Setelah mereka pergi, Andi pun terlihat keluar dari toilet.


Lalu masuk ke ruang tengah tanpa terlihat canggung, sekalipun ada seorang pemimpin Klan Srigala Bulan di Zona Utara ini sedang duduk.


Ayahnya dan kakek nya serta ibunya Syifa terlihat sangat terkejut melihat ke tidak sopan an Andi pada Pak Beny.

__ADS_1


"Maafkan aku pak Beny, jadi mengganggu bisnis mu malam ini." Ucap Andi meminta maaf pada pak Beny.


...****************...


__ADS_2