
Bu Syifa tak pernah mengira, jika Andi lah orang yang akan mengenalkan dirinya kepada kenikmatan dunia yang sudah lama dirindukannya.
Pria ini yang akan memanaskan tempat tidurnya setiap malam.
Bu Syifa tak pernah bermimpi akan mengabdikan hidupnya pada Andi.
Seorang anak polos yang dia sayangi dan pernah dia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.
Hidup memang selalu mempunyai kejutan yang tak bisa di prediksi siapapun.
Bu Syifa sangat bersyukur Andi bisa menjadi suaminya.
Orang yang telah menyelamatkan dirinya dan seluruh keluarganya dari kemiskinan yang seharusnya mereka hadapi saat ini.
Bu Syifa tak pernah berpikir sedikit pun, Jika masa ini akan datang menjadi bagian dari kisah hidupnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Andi, yang melihat istrinya yang tubuhnya hanya berselimut sprei tipis untuk menutupi tubuh indahnya.
Bu Syifa terlihat duduk memegang lututnya dengan tatapan kosong.
Bu Syifa terlihat kaget, mendengar suara dari pertanyaan Andi.
"Tidak sayang,, aku hanya sedang mensyukuri hidupku saat ini" Ucapnya menjawab pertanyaan Andi.
"Kamu bahagia kan menjadi istriku?" Tanya Andi pada istri nya ini.
"Tentu saja sayang. Malah terlampau bahagia, karena semua hal yang sudah kamu berikan" Ujar Bu Syifa, sungguh-sungguh.
"Hanya saja, apa yang sudah dan akan ku lakukan untuk membahagiakan mu sayang?" Tanya Bu Syifa terlihat cemberut, karena rasa khawatir yang ada di hatinya saat ini.
"Kamu tidak usah berpikir berlebihan. Cukup jadi istri cantik untuk ku, jadi istri baik untuk ku, dan jadi istri binal hanya untuk ku saja, di setiap malam yang akan kita lewati bersama" Jawab Andi asal.
"Apa sih kamu?" Ujar Bu Syifa malu.
"Aku sudah tua ndi. Aku takut kamu cepat bosan padaku" Ucapnya lagi, mengutarakan kekhawatiran nya.
"Terus jika kamu tua, memangnya kenapa?. Aku tinggal menikah lagi saja" Ujar Andi asal.
"Kok kamu ngomong seperti itu?" Tanya Bu Syifa kecewa.
"Terus,, yang membuat kamu takut tua apa?, Kemampuan fisik mu, fisik cantik mu?" Tanya Andi pada Bu Syifa.
__ADS_1
"Jika kamu menganggap itu adalah alasanku menikahi mu. Mudahkan, aku tinggal menikah lagi saja. Karena, fisik bisa dengan mudah digantikan oleh yang lain" lanjut Andi menjelaskan.
"Aku menikahi mu bukan karena alasan itu semua, semua itu bukanlah sebagai motif dasar rasa cinta dan sayangku padamu selama ini" ujar Andi meyakinkan.
"Walaupun aku tak bisa berjanji untuk setia.
Karena makna setia untuk setiap orang berbeda sayang" lanjut Andi mulai mendoktrin istrinya ini.
"Kita nikmati saja momen ini sayang" ujarnya membuat obrolan lebih santai.
"Jika ke depannya aku memang tak sesuai untukmu sebagai suami. Kamu bisa meninggalkan aku kapan saja" Ucap Andi tegas.
"Kok kamu ngomong ngawur sayang?" Sergah Bu Syifa tak suka.
"Hanya saja, yang pasti aku berjanji padamu, tidak akan pernah meninggalkan mu ataupun melepaskan mu sampai kapanpun. Terkecuali jika kamu yang ingin pergi atau lepas dariku" Lanjutnya Andi berjanji pada Bu Syifa.
"Terimakasih sayang" Ucap Bu Syifa, sembari memeluk Andi lalu mengecup bibir suaminya ini.
"Kamu mau lagi?" Tanya Andi.
Bu Syifa terdiam malu untuk menjawab, Bu Syifa merasa bagian intimnya terasa sedikit gatal lagi, seakan ingin di garuk oleh Andi dari dalam.
Kegiatan semalam pun terulang lagi, mengawali pagi hari pertama pasangan suami-istri ini.
"Kalian tak tidur semalaman?" Tanya Ibu mertuanya pada Andi dan Syifa yang baru turun dari tingkat atas.
Andi terlihat sangat malu di candai seperti itu oleh mertuanya ini.
"Ibu apa sih?" Kilah Syifa dengan wajah malunya.
"Ayo sayang kita segera makan, kalian belum makan dari semalam" Ucap ibunya mengajak Andi dan Syifa untuk segera makan.
Banyak sekali masakan yang dihidangkan di meja besar ini.
"Terimakasih Bu" Jawab Andi sembari duduk di salah satu kursi yang ada.
"Ayah dan kakek ke mana Bu?" Tanya Syifa yang duduk di samping suaminya ini.
"Ayahmu dan Kakek mu, mereka pergi menemui panggilan keluarga inti. Takut paman-paman mu merubah cerita yang tidak benar kepada keluarga inti" Ucap ibunya memberi tahukan kemana mereka pergi.
"Bu, Kenapa kita harus selalu peduli dengan keluarga yang tak pernah menolong kita sekali pun?" Tanya Syifa kesal.
__ADS_1
"Ayah dan kakek mu, suka tidak suka. Merek berdua bagian dari keluarga besar ini sayang" Ucap ibunya Mencoba meredakan kekesalan anaknya ini.
"Apa hebatnya keluarga besar ini?, Hanya kumpulan para penjilat dan para pengecut" Ucap Syifa lagi.
"Hussh,, tak boleh bicara seperti itu Syifa. Ayah dan kakek mu juga kan bagian dari keluarga ini" Sergah ibunya mengingatkan anaknya ini.
"Termasuk yah dan kakek juga" Ucap Syifa asal.
Ibunya hanya menggelengkan kepalanya, melihat sikap anak perempuannya ini.
Walaupun di Lubuk hatinya, Sang ibu sangat setuju sekali dengan pernyataan Syifa ini.
Andi hanya terdiam tak ikut bicara, dia hanya makan makanan yang disajikan mertuanya dengan tenang.
"Oh iya. Tadi kakek mu, meminta pesan ini untuk disampaikan pada mu Syifa" Ujar ibunya teringat pesan suami dan mertuanya itu.
"Pesan apa Bu?" Tanya Syifa penasaran.
"Soal aset-aset dan perusahaan yang akan diatasnamakan atas nama kamu. Supaya ke depannya tak ribet, Kakek mu minta seluruh aset di atas namakan atas nama ayahmu" Ucap ibunya polos, menyampaikan semua pesan dari mertuanya itu.
"Semua aset itu adalah milik Andi Bu. Aku tak punya hak untuk ikut menentukan bagaimana aset-aset ini akan di kelola" Jawab Syifa tak enak dengan sikap kakek nya, yang terkesan tak tahu malu.
"Termasuk rumah ini, sekarang adalah milik Andi Bu. Semalam tadi, kita sudah jatuh miskin jika tak ada Andi yang menolong kita.
Kok Kakek kepikiran untuk berpikir hal seperti itu" Ucap Syifa sedikit kesal dan malu kepada Andi atas sikap Kakeknya.
Ibunya terdiam, karena baru terpikirkan olehnya, jika yang dikatakan Syifa benar adanya.
Saat ini mereka semua adalah orang yang sedang menumpang di rumah milik Andi.
"Maafkan pikiran ibu ndi. Ibu benar-benar tak terpikirkan akan semua itu" Ujar ibunya meminta maaf.
"Tidak apa-apa Bu" Jawab Andi santai.
"Aku akan pergi dengan Andi. Jika Kakek dan ayah sudah kembali. Tolong ibu katakan semuanya pada mereka, seperti yang barusan kita bahas" Ucap Syifa pada ibunya.
"Kamu tak usah seperti itu. Aku akan setuju dengan usulan kakek mu, jika kamu memang menyetujui nya" Ucap Andi ingin mencairkan suasana saat ini.
"Tidak, apa yang bisa kakek dan ayahku lakukan,? Jika memang mereka berdua cukup kompeten untuk memegang sebuah tanggung jawab besar. Seprtinya Ibu dan aku, tak akan mengalami kesedihan yang sangat panjang selama ini" Ucapnya mulai terisak.
"Sudah tak usah dibahas lagi" Ujar Andi meminta Syifa untuk berhenti.
__ADS_1
...****************...