
"Jika alasan ibu karena usia atau ibu lebih tua dariku. Dan jika itu tidak masalah bagiku, Apakah Aku bisa menikahi ibu?" Tanya Andi, membuat Bu Syifa tak percaya dengan telinganya saat ini.
"Apa Andi?, " Tanya Bu Syifa ingin memastikan dengan apa yang baru saja di dengar oleh telinga miliknya.
"Ibu sangat jelas dengan yang aku katakan barusan" Ucap Andi, tak mau mengulang perkataannya.
Andi bisa tak peduli, dan tak akan grogi ketika hanya sekedar bicara dengan perempuan lainnya.
Bahkan terkadang, Andi bisa sangat tega melakukan hal di luar nalar orang normal sekalipun.
Tapi semua itu tak berlaku, jika sudah berhubungan dengan orang yang di sukai dan dicintainya dengan hati.
Saat ini, itu semua terjadi pada Andi.
Lidahnya terasa kelu, tak mampu mengutarakan apa yang ada di hatinya kepada Bu Syifa.
"Sudah ndi. Jangan bercanda. Ibu sedang tidak tertarik di kerjai oleh anak muda seperti mu" Ucap Bu Syifa terlihat moodnya berubah.
"Ya sudah Bu. Anggap saja, aku tak pernah mengatakan apapun" Ucap Andi singkat.
Akhirnya, Keduanya hanya diam. Tak ada yang mau memulai untuk bicara.
"Ibu bahagia?" Tanya Andi memecahkan kesunyian yang disebabkan oleh pertanyaan Andi sebelumnya.
"Dalam hal?" Tanya Bu Syifa tak menoleh, masih tetap memandang jalanan lewat kaca mobil, yang sebenarnya tak dia perhatikan.
"Rumah tangga ibu?" Tanya Andi, mulai berani menanyakan masalah pribadi gurunya ini.
Bu Syifa tak menjawab. Walaupun tak ada kesan marah ataupun tersinggung yang terlihat di wajahnya.
"Itu bukan sebuah rumah tangga" Jawabnya singkat, jawaban yang terasa sangat tak jelas.
Tapi, nada pengucapan kalimat itu, cukup membuat Andi memahami betapa dalamnya penderitaan dan beban Bu Syifa selama ini.
"Suamimu punya kelainan?" Tanya Andi asal.
Bu Syifa pun menoleh melihat Andi, karena komentar asalnya itu.
"Kamu tahu dari mana ?" Tanya Bu Syifa.
"Aku hanya asal menebak Bu. Maafkan aku jika tebakanku ternyata benar" Jawab Andi seolah tak sengaja menebak.
__ADS_1
"Aku kira, kamu memang mengetahuinya" Ujar Bu Syifa, terlihat menyesal karena terpancing mengatakan kenyataan tentang keadaan suaminya.
"Bukannya dia Orang berpengaruh, dan ditakuti semua orang di seantero kota ini?" Ucap Andi, mulai ingin menggali lebih dalam.
"Masa, dia punya kelainan?" Tanya Andi seolah terlihat kaget.
"Seandainya kamu lebih dewasa ndi. Ibu akan menceritakan segalanya padamu." Ucap Bu Syifa, masih menganggap andi sebagai murid kecilnya.
"Cerita hidupku terlalu miris untuk didengar oleh anak semuda kamu"Lanjutnya menjelaskan alasannya tak bisa menceritakan cerita ini pada Andi.
"Harus berusia berapa, untuk diakui dewasa oleh Bu Syifa Athalia?" Tanya Andi menyindirnya.
"Atau, jika usia ku terlalu masih muda. Harus pengalaman apa yang pernah ku lakukan terlebih dulu, untuk sekedar dianggap dewasa oleh Bu Syifa?" Lanjut Andi bertanya.
Bu Syifa hanya diam tak menjawab di sindir seperti itu oleh muridnya.
"Kenapa kamu terlihat ingin sekali mengetahui masalah Ibu sih ndi?" Tanya Bu Syifa merasa janggal dengan muridnya, yang setahun lalu masih terlihat polos.
"Karena aku ingin membantu ibu. Bagaimana aku bisa membantu ibu, jika Maslahnya saja aku tak mengetahuinya" Jawab Andi beralasan.
Bu Syifa hanya diam, karena alasan Andi masuk akal. Hanya saja di pikirannya, apa yang bisa dilakukan oleh anak seusianya Andi dalam masalah sebesar ini, dan masalahnya pun keterkaitannya bukan dengan orang biasa-biasa saja.
"Suami ibu itu, Ruben Stun?" Tanya Andi, mulai kehabisan kesabaran nya untuk membuat Bu Syifa menerima dirinya untuk membantu dirinya.
"Aku bukan hanya mengenalnya, aku juga bisa membuatmu bebas darinya" Ucap Andi pada Bu Syifa dengan cara bicara yang sudah berubah.
Andi sudah tak terlihat seperti Andi beberapa menit yang lalu.
Sekarang Bu Syifa merasa muridnya menjadi orang yang sangat berbeda sekali dengan murid polosnya beberapa menit yang lalu.
"Memang apa yang bisa kamu lakukan kepada penjahat besar, seperti Ruben?" Tanya Bu Syifa mulai terpaksa percaya pada Andi yang sepertinya memang mengenal Ruben.
Tapi sekalipun percaya mengenalnya, bukan berarti Bu Syifa bisa percaya pada Andi, yang mengaku bisa membantu Masalah nya sedari beberapa tahun ke belakang.
Bahkan saudara dan keluarga besarnya pun, tak ada yang mampu. atau lebih tepatnya, tak ada yang berani menyelesaikan masalah ini, Karena semuanya sangat takut kepada Ruben.
"Kita taruhan saja. Toh ibu tidak akan dirugikan apapun dengan taruhan ini" Ucap Andi, mulai memancing Bu Syifa supaya masuk ke dalam rencananya.
"Taruhan seperti apa?" Tanya Bu Syifa, dia merasa aneh dengan lawan bicaranya ini.
Bu Syifa merasa, jika Andi memang memiliki cara untuk menyelesaikan masalahnya.
__ADS_1
"Jika aku bisa menyelesaikan masalah ibu.
Seperti yang ibu harapkan. Maka aku ingin ibu mengabulkan 1 permintaan ku, bagaimana?" Tanya Andi memaksa Bu Syifa supaya terikat dengan dirinya dalam sebuah janji.
"Jika aku gagal, maka aku akan menjadi supir ibu selama satu tahun tanpa bayaran.
Bagaimana, ibu tak rugi apapun kan?" Lanjutnya menjanjikan sesuatu yang keuntungannya ada di pihak Bu Syifa semuanya.
"Kamu belum tahu siapa Ruben sebenarnya ndi" Ujar Bu Syifa, mulai khawatir dengan Andi yang sepertinya memang serius ingin membantu Masalahnya.
Bu Syifa cukup terharu dengan niatan Andi untuk menolongnya.
Karena bahkan keluarganya sendiri pun, tak ada yang berani memberikan sikap untuk masalahnya ini.
"Aku sangat tahu siapa Ruben Bu. Dia orang yang saat ini sedang terluka, dan sedang di rawat di rumah sakit kota. Jika tak percaya, kamu cari tahu saja informasinya" Ujar Andi mulai mencari cara, supaya Bu Syifa mau tak mau mulai percaya pada Andi.
Bu Syifa terdiam sesaat, lalu mulai mengeluarkan smartphone miliknya.
Dan mengirim pesan pada seseorang yang dianggapnya pasti sangat tahu tentang keadaan suaminya itu.
Dia terlihat sedang menunggu balasan dari seseorang yang dia tanya via pesan.
Lalu terlihat Bu Syifa seperti mendapat balasan dari orang yang dia tanya sebelumnya.
Setelah membaca pesan itu. Bu Syifa langsung melirik kepada Andi yang masih terus mengemudi tanpa tujuan.
Jika Bu Syifa menyadari nya, sebenarnya selama ini, Andi hanya berputar-putar di jalur jalan yang tak akan sampai ke tujuan yang diberikan oleh Bu Syifa sebelumnya.
"Dari mana kamu bisa tahu?, Jika Ruben sedang terluka parah dan dirawat.? Tanya Bu Syifa, mulai tak bisa untuk tidak percaya pada anak muridnya yang bernama Andi ini.
"Jawab dulu. Taruhan kita, ibu mau tidak berjanji mengabulkan 1 permintaan ku, Seandainya aku berhasil menyelesaikan masalah ibu?" Ucap Andi masih memaksanya untuk bertaruh dengannya.
Bu Syifa pun sedikit menghela nafas, dia gak bingung menghadapi anak muridnya ini.
Padahal dimatanya dulu, Andi adalah anak yang sangat sederhana, jauh dari sikap rumit seperti saat ini.
Tapi mungkin, waktu terkadang bisa merubah seseorang 180⁰ dalam waktu singkat.
"Baiklah. Ibu menerimanya" Jawab Bu Syifa menyetujuinya.
"Akhirnya, kamu masuk juga ke dalam rencana ku. Wahai istri masa depan ku" Batin Andi merasa sudah pasti akan memiliki Bu Syifa sebagai istrinya.
__ADS_1
...****************...