Sang Pemulung Kaya

Sang Pemulung Kaya
Bab 32. Membantu tanpa Motif


__ADS_3

[Ding]


Misi :


-Merubah 10 Manusia Sampah : (2/10)


"User berhasil merubah 2 orang Manusia Sampah menjadi manusia yang lebih baik" Notifikasi dari sistem.


Andi tak pernah menyangka apa yang dilakukannya karena merasa iba, dan sedikit bersalah pada Intan, dianggap sebagai pencapaian misi oleh sistem.


"Naiklah" Pinta Andi pada keduanya untuk masuk ke dalam mobil Brio miliknya.


Keduanya pun masuk ke dalam mobil melalui pintu belakang, dan keduanya duduk di kursi belakang.


Andi pun Masuk, dan duduk di balik kemudinya.


"Kalian menganggap aku sopir pribadi kalian?" Tanya Andi menyindir.


Lalu Rossi menyikut tubuh intan agar pindah ke kursi depan.


Akhirnya Intan pun pindah ke kursi depan, disamping Andi.


"Ada tempat yang ingin kalian datangi terlebih dahulu?, " Tanya Andi membuat keduanya mulai khawatir.


"Memangnya, kamu akan membawa kami ke mana saat ini" Tanya keduanya kompak.


"Aku mau membawa kalian ke apartemen milikku, memangnya mau ke mana lagi?, Bukannya kamu bilang, aku adalah Pemangsa kalian?" Ucap Andi menyindir Intan.


"Baiklah,," Jawab Intan sambil menghembuskan nafasnya cukup panjang.


"Aku terlebih dahulu, ingin ke Rumah sakit Ibu dan ayahku di rawat." Ucap Intan lirih.


"Aku ingin kamu melunasi pembayaran biaya perawatan Orang tuaku, selama setahun ke depan, serta tunggakan pembayaran yang masih tersisa beberapa bulan" Pinta Intan,, terlihat lebih tenang dengan kata-katanya.


"Kamu selalu seperti ini?" Tanya Andi pada intan.


"Maksudmu?" Tanya Intan tak paham.


"Kamu akan menjadi lebih siap dan tenang menerima kenyataan pahit,, selama pertukaran nya sesuai dengan harapanmu?" Tanya Andi meremehkan Intan.


"Menurutmu aku harus bersikap bagaimana lagi?, dengan segala keterbatasan yang aku miliki saat ini,, aku hanyalah sapi perah untuk orang yang ingin memanfaatkan diriku " Jawabnya sambil menahan sakit di hatinya.


Andi hanya diam tak merespon setelah Intan mengucapkan jawabannya.

__ADS_1


"Kamu tanyakan saja, berapa banyak uang yang harus ku bayar untuk biaya perawatan selama satu tahun ke depan, serta hutang mu kepada rumah sakit?" Pinta Andi, menyuruh Intan segera menanyakannya pada bagian keuangan rumah sakit.


Intan pun berjalan diikuti oleh Rossi menuju bagian keuangan untuk menanyakan semua yang diperintahkan Andi. Dan Andi pun terlihat menelepon seseorang.


"Pihak rumah sakit sudah menjumlahkan kira-kira biaya yang harus di bayarkan kurang lebih sebanyak ini" Ucap Intan, sembari memberikan sebuah kertas perkiraan pembiayaan perawatan Orang tuanya selama satu tahun beserta tunggakan adalah sebesar 460 juta.


"Ayo kita bayar semuanya." Ujar Andi sambil berjalan ke Loket pembayaran Rumah Sakit ini.


"Aku ingin membayar lunas untuk semua pembiayaan pasien ini selama 1 tahun ke depan" Ucap Andi pada petugas, sembari memberikan Data pembayaran atas nama Orang tuanya Intan.


"Juga, Aku ingin menaikkan kelas perawatan untuk Pasien ini ke kelas VIP. Kira-kira berapa biaya yang harus aku bayar?" Tanya Andi pada Petugas, yang terlihat sedikit tak percaya.


"Maaf tuan, anda tahu berapa banyak pembiayaan dengan fasilitas VIP per bulannya?" Tanya Petugas Bagian keuangan ini.


"Jumlahkan saja, aku tak butuh penjelasan" Jawab Andi kesal.


"Baik tuan,, maafkan saya" Jawab si petugas, melihat orang yang akan membayar terlihat kesal.


Karena, ketika ada seorang pegawai rumah sakit, baik itu dokter, perawat atau siapapun yang masih terikat kontrak kerja dengan rumah sakit, dan dia bisa mempromosikan supaya pasien atau wali pasien ke kelas yang lebih tinggi. Apalagi ke kelas VIP.


Maka akan ada fee yang akan didapatkan oleh sang promotor yang merekomendasikan peningkatan kelas tersebut.


Dan pegawai ini bermaksud, akan memasukkan peningkatan kelas pasien ini atas nama rekomendasinya, dia tak bisa membayangkan berapa fee yang akan dia dapatkan setiap bulannya selama setahun ke depan.


"Perkiraan pembiayaan untuk kelas VIP/bulan adalah sebesar 500 juta. Jadi untuk 1 tahun adalah sekitar 6 Miliar/tahun tuan" Jawab si pegawai sopan.


"Oh iya tuan,, silahkan tuan." Jawab petugas yang sempat tergagap, memberikan kartu kecil yang bertuliskan No. Rek resmi Rumah Sakit dan simbol BARCODE pembayaran.


Andi pun, mulai mengarahkan fitur Scanning yang ada di Aplikasi Bank miliknya ke Barcode pembayaran.


[Ting]


Suara Notifikasi terdengar, menandakan jika Transfer telah sukses dilakukan.


Kaki si petugas pun sedikit terasa lemas, karena hal yang dia ragukan beberapa saat lalu, tentang apakah orang didepannya ini mampu membayar atau tidak. Terbukti salah.


"Aku sudah membayar semuanya" Ucap Andi kepada si petugas.


"Iya, tuan,, terimakasih banyak tuan."Jawab si petugas kepada Andi yang sedikit tak mengerti kenapa petugas itu mengucapkan terimakasih.


"Iya,, sama-sama" jawab Andi asal.


Andi tak tahu, bila dalam pembayaran yang sudah dia lunasi. Ada fee yang akan didapatkan oleh si petugas tersebut, makanya secara tak sadar dia mengungkapkan terimakasih pada Andi.

__ADS_1


Andi pun bermaksud mencari Intan dan Rossi yang ternyata berada di belakangnya.


Mereka berdua terlihat bengong tak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah Andi membayar pembiayaan sebesar itu sesantai itu.


"Kenapa kalian melihat ku seperti itu?" Tanya Andi tak nyaman dengan kelakuan dua wanita ini.


"Kamu mau menjadikan aku apa?" Tanya mereka berdua berbarengan. Andi tak paham, dengan maksud pertanyaan mereka.


"Menjadikan kalian untuk apa?, Aku belum punya ide,," Jawab Andi Asal.


"Kamu pasti ingin menjual organ tubuhku kan?" Tanya Intan pasrah.


"Kenapa aku harus menjualnya?" Tanya Andi masih tak mengerti.


"Tak mungkin kamu mau mengeluarkan uang sebanyak itu, tanpa tujuan apapun?" Tanya intan lagi pada Andi.


"Sudah tak usah kamu pikirkan apa tujuanku.


Sekarang urus saja, kepindahan perawatan orang tuamu. Pergi sana!" Jawab Andi mengusir intan.


Andi mulai paham, Kenapa mereka merasa kaget dengan apa yang mereka saksikan barusan.


Mereka berdua, dan mungkin banyak lagi Orang-orang di luar sana, yang sudah tak percaya dengan kebaikan siapapun.


Mereka sudah terlalu lama meyakini bahwa di dunia ini, yang ada hanya pertukaran yang setara.


"Picik sekali pikiran mereka" Gumam Andi sambil memperhatikan keduanya pergi mengikuti petugas yang akan mengurus kepindahan perawatan Orang tuanya Intan.


"Maafkan aku intan. Aku tahu, kelakuan binatang ku yang terkadang datang tak bisa ku tahan, dan kecenderungan ini kebetulan memilihmu sebagai korbannya" Batin Andi menyesali kelakuannya.


" Aku pasti akan membayar untuk penghinaan ku pada mu saat itu. Mungkin, semua ini tak akan cukup membayar semua kesalahan yang telah ku lakukan padamu" Batin terdalam Andi meminta maaf pada intan.


~Dalam Mobil Brio~


"Kamu butuh eksperimen untuk sebuah penelitian ilegal kan?" Tanya intan mulai ngawur, karena pikirannya tak bisa untuk tidak berpikir liar.


"Aku mohon, aku rela melakukannya setelah aku melihat perkembangan kesehatan Orang tuaku kembali normal. Setidaknya aku bisa tenang ketika aku akan meninggalkan mereka" Ucap Intan tiba-tiba memohon pada Andi.


"Aku rela, biarkan aku melayani semua permintaan aneh-aneh mu saja. sampai keadaan orang tuaku pulih terlebih dulu tuan." Lanjutnya masih memohon.


"Iya tuan,, biar aku saja yang menjadi kelinci percobaan penelitian mu. Biarkan Intan menyaksikan orang tuanya sadar terlebih dahulu" Sambung Rossi, bersedia berkorban untuk intan.


Sepertinya kepedulian Rossi pada Intan, bukanlah kebohongan. Karena tak semua teman dekat ataupun sahabat bersedia mati untuk temannya itu.

__ADS_1


"Kalian bicara apa?" Tanya Andi pusing dengan sikap dramatis Intan dan Rossi ini.


...****************...


__ADS_2