
Bunga-bunga zinnia sudah bermekaran bersamaan dengan datangnya musim semi. Hangatnya mentari sudah dapat dirasakan di Zinnia. Cuaca yang terbilang sejuk tetapi hangat menjadikan musim semi sebagai musim favorit banyak orang.
Karena cuacanya yang hangat, kini orang-orang tak perlu lagi memakai pakaian tebal untuk menghalau angin dingin. Cuaca yang pas untuk pergi berpiknik. Tak sedikit juga beberapa daerah di Zinnia yang mengadakan festival musim semi.
"Hei Louis, apa kau sudah pernah ke atap?" Tanya Xavier yang memecah keheningan waktu makan siang mereka.
"Atap? Maksudmu rooftop?" Tanya balik Louis sembari memasukkan sendok makan yang berisi potongan daging ayam.
"Kurasa adikku pernah ke sana untuk kegiatan ekskulnya. Aku sendiri sih belum pernah."
"Wah... apa hanya aku yang tidak tahu tentang atap sekolah ini? Bahkan setelah 4 tahun lebih bersekolah di sini."
"Kau sibuk Yang Mulia." Ejek Louis.
Makanan di nampan makan siang mereka kini sudah habis. Tibalah saatnya untuk makan hidangan penutup. Xavier melahap puding buah yang disajikan oleh kantin sekolah. Berbeda dengan Louis yang lebih memilih memakan dua buah macaron.
"Kau ingin ke sana?"
"Hah?"
"Ke rooftop sekolah, aku akan tanya adikku nanti karena biasanya pintu ke atap dikunci dan kau harus mencari penjaga sekolah."
"Memangnya boleh?"
Louis yang mendengar pertanyaan itu sedikit kesal dibuatnya, apa temannya ini lupa bahwa dia orang ketiga yang paling dihormati di negeri ini, jika hanya sekadar untuk ke atap sekolah siapa pula yang akan melarangnya?
"Hei siapa pula yang akan menentangmu di sini? Hanya orang bernyawa ganda yang berani melarang mu perkara hanya pergi ke atap sekolah."
"Ahahaha benar juga." Ucap Xavier sembari menyengir dan menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Tunggu saja di tangga lantai atas selepas pulang sekolah, aku akan cari adikku dulu, siapa tahu dia tahu penjaga sekolah yang memegang kuncinya."
"Oke."
Setelah bel pulang sekolah berdering seperti janji mereka tadi, Xavier langsung menuju ke tangga lantai paling atas. Tapi tampaknya pintu menuju atap tidak terkunci atau mungkin memang sudah ada yang masuk lebih dulu. Xavier langsung saja menuju ke luar dari pintu yang menganga sedikit itu.
Kosong. Tidak ada siapapun di sini. Dari atap ini dia bisa melihat lapangan bola di bawah dan ruang kelas di gedung seberang. Tempatnya cukup sejuk dan nyaman. Di sebelah kanannya ada sebuah tangga yang cukup pendek untuk menuju ke bangunan yang lebih tinggi.
'Wah kemana aja aku baru tahu tempat seperti ini' Ucap batinnya.
Xavier pun berjalan melihat-lihat sekitar agar lebih familiar dengan tempat tersebut. Hanya ada sebuah bangku panjang dan dua bolah basket yang entah punya siapa tertinggal di sini. Dan tiba-tiba saat Xavier hendak mengambil bola basket tadi,
"HOAHHHH~"
__ADS_1
Terdengar suara seseorang yang baru saja menguap dan terbangun dari tidurnya. Xavier mencari-cari sumber suara tersebut, dan tiba-tiba saja muncul kepala seorang gadis berambut pirang dari bangunan yang lebih tinggi tadi. Hal itu cukup membuat Xavier terkejut. Gadis tersebut kemudian berdiri. Kedua mata mereka bertemu dan keduanya pun terkejut bersamaan.
"MAU APA KAU?!" Teriak gadis tadi sambil menunjuk-nunjuk Xavier.
".....Aku hanya mampir." Jawab Xavier kebingungan.
Gadis tadi menilik-nilik wajah Xavier dari kejauhan, "Mukanya tampak tidak asing." Ujarnya dalam hati.
"AH! Kau Xavier, si pangeran itu rupanya." Lalu gadis itu turun melalui tangga hingga kini mereka hanya terpaut beberapa langkah.
"Ya, itu aku dan kau... Mukamu tak asing, kau juga temannya Eveline, kan?"
"Oh masih ingat ternyata, ya aku Oliver. Ada apa seorang pangeran sepertimu pergi jauh-jauh ke atap?"
"Kan sudah aku bilang aku hanya mampir karena penasaran. Kau sendiri?"
"Oh! Ahahaha aku ketiduran di sini."
"....sedari tadi?"
"Ya." Oliver mengangguk. "Kenapa? Emangnya gak boleh? Emangnya atap sekolah ini punyamu?"
Sebentar, secara administrasi sih ya memang sekolah ini punya keluarga kerajaan, yang bisa dibilang ya punya Xavier juga.
"Ya kurang lebih memang milik keluargaku."
'Duh salah ngomong ya' Batin Oliver.
Tak selang beberapa lama, dua orang lainnya datang, yang tidak lain adalah Louis dan Eveline.
"Ya, soalnya udah ada yang masuk." Sahut Xavier.
"Loh, Oliver kamu di sini? Dari tadi dicariin Profesor Archie selama jam pelajaran, ternyata orangnya gak masuk kelas dan malah di sini?" Omel Eveline.
"Hehehe aku ketiduran setelah makan siang di sini." Kemudian mata Oliver melirik ke kanan dan kiri.
"Kalian sendiri kenapa ke sini? Ini tempat persembunyianku tahu!"
"Eyy- suka-suka dong, lagipula ini tempat umum." Jelas Louis.
Bibir Oliver mengkerucut. Xavier hanya senyum-senyum sendiri mendengarnya.
"Tapi tempat ini memang nyaman, bukan begitu Xavier? Terlebih lagi sejuk dan jarang ada orang ke sini." Tanya Louis.
"Benar, kalo tidak nyaman mana mungkin Oliver bisa tertidur begitu nyenyak dan melewatkan dua jam pelajaran." Ledek Xavier.
"HEI!!!"
"AHAHAHAHA." Mereka semua tertawa. Tak ada yang tahu sejak kapan mereka berempat menjadi dekat seperti ini.
__ADS_1
Setelah perbincangan di atap tadi, mereka berempat sepakat menjadikan atap sekolah sebagai tempat nongkrong bareng mereka. Kemudian mereka memutuskan untuk pulang, Oliver pun tak lupa mengambil tas dan barang-barangnya yang masih tertinggal di kelas. Kini Xavier dan Louis berjalan di lorong lantai satu dan hendak menuju ke gerbang depan, namun tiba-tiba saja terdengar suara ledakan. Suaranya sangat jauh, namun sangat jelas terdengar.
Orang-orang yang masih berada di sekolah pun panik dan berlarian keluar. Para pengawal Xavier yang selalu berada di sekitarnya pun buru-buru mengawalnya keluar dari gedung.
"Eveline.... Eveline masih di dalam. Aku harus mencarinya!" Ucap Louis yang langsung berlari lagi ke dalam mencari adiknya itu.
"Hati-hati Louis!" Teriak Xavier memperingatkan.
"Yang Mulia, lebih baik anda segera masuk ke dalam mobil dan pulang ke istana. Saya akan mencari tahu dari mana asal ledakan tadi."
"Baiklah."
Xavier pun bergegas untuk kembali ke istana, di mana setidaknya ia aman di sana. Ketika ia sampai di istana, keamanan sudah diperketat. Lantas ia langsung berlari dan mencari ayahnya untuk mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi.
"Di mana ayah??!!" Tanya Xavier yang setengah teriak.
"P-Paduka raja ada di ruang monitor." Ucap salah satu pelayan istana sambil terbata-bata.
Benar saja ayahnya ada di ruang monitor bawah tanah. Ruangan itu berisikan banyak sekali komputer, yang gunanya memang untuk memonitor apa yang terjadi di Zinnia. Dari mulai keadaan lalu lintas, bandara, dermaga, stasiun, daerah pegunungan, hutan dan juga laut, serta daerah-daerah yang memang dilakukan pengawasan.
"Ayah apa yang terjadi?" Tanya Xavier yang baru saja masuk ke ruangan. Dilihatnya Nathaniel pun sudah ada di sana.
"Keadaan darurat. Calendula mengirim kapal perang mereka masuk ke Laut Nirwana."
Xavier terdiam, suasananya sangat tegang. Raut wajah ayahnya terlihat sangat serius memperhatikan layar di depannya itu.
"Terus beri mereka peringatan, keluarkan dulu kapal pengawas. Kita lihat reaksi mereka." Ucap Raja Arthur kepada operator di sana.
"Yang Mulia, mereka masih tidak mau mundur."
"Yang Mulia, ada dua buah kapal lain yang sudah melalui perbatasan perairan kita."
Situasi macam apa ini. Kenapa tiba-tiba Calendula mengirim kapal perang mereka? Bukan hanya satu, melainkan tiga sekaligus?!
"Siapkan militer kita dan kirimkan kapal perang. Naikkan statusnya menjadi darurat."
"Baik, Yang Mulia."
Kemudian bel peringatan pun ditekan, suara alarm pun berbunyi.
"YANG MULIA ADA PESAWAT TEMPUR YANG TERDETEKSI DI RADAR KITA." Semua orang di sana terkejut bukan main, benarkah negara mereka akan berperang kembali?
"Calendula.... Benar-benar ya kalian. Siapkan pesawat tempur, suruh mereka untuk siaga-.... Kita berperang."
Raja Arthur kini keluar dari ruang monitor, langkahnya diikuti oleh Nathaniel dari belakang,
"Elthon terus pantau apa yang terjadi, saya akan bersiap ke lapangan."
"T-Tapi Yang Mulia-"
Raja Arthur bergegas menuju ruang berganti pakaian pribadinya dengan Elthon yang mengekor dari belakang, ia kemudian berganti pakaian mengenakan seragam militernya. Hanya ada tiga kondisi di mana anggota kerajaan laki-laki dapat mengenakan seragam militer mereka. Pertama ketika upacara pernikahan, kemudian acara formal, dan terakhir ketika berperang.
__ADS_1
"Elthon, hubungi awak media dan beri tahu mereka situasi terkini!" Ucap Raja Arthur dengan tegas.
"Baik, Yang Mulia."