Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 13 : Putra Mahkota Baru


__ADS_3


Kematian Nathaniel memicu polemik baru di kerajaan. Xavier kini naik sebagai putra mahkota Zinnia sesuai hukum yang berlaku yang mana kenaikkannya mendapat banyak kritikan pedas dari parlemen yang menganggap dirinya tak pantas jadi raja. Parlemen menganggap bahwa Xavier lebih suka bersenang-senang ketimbang mengerjakan tugasnya selaku pangeran. Mereka juga menganggap bahwa kinerja Xavier tak sebagus kakaknya dulu, ditambah lagi Xavier yang masih sangat muda dan dianggap kurang 'sopan' terhadap para anggota parlemen sangat berbanding terbalik dengan kakaknya.


Sama halnya dengan Xavier yang kehidupannya sedikit banyak berubah, jujur ia sangat takut akan masa depannya. Ia sama sekali tak pernah berpikir untuk jadi raja. Seperti tak ada waktu untuk berduka, tugas-tugas kerajaan yang tiap hari terus menerus mengalir membuat anak berumur 13 tahun ini sibuk setiap harinya. Sikap dan cara orang-orang di sekitar memandangnya kini tak lagi sama, seperti ada tembok yang membuat mereka semakin enggan untuk mendekatinya, padahal Xavier ingin berteman dengan semua orang. Begitu pula dengan bagaimana staf istana yang kini memperlakukannya dengan sangat 'berhati-hati'. Pribadi cerianya yang secerah matahari itu lambat laun berubah.


Di luar kegiatannya pergi bersekolah, Xavier kini memilih untuk lebih banyak diam dan berkutat dengan buku-bukunya. Entah itu di kamarnya, ruang belajarnya, ataupun perpustakaan istana.



"Yang Mulia." Ketuk Liam di luar pintu ruang kerja Xavier.


"Masuk." Ucap Xavier


"Ini jadwal anda untuk satu minggu ke depan." Ucap Liam sambil menyodorkan berkas tersebut.


Xavier tak berucap apapun, ia mengambil berkas tersebut dan lantas membacanya.


"Yang Mulia, seperti yang anda tahu Raja Arthur akan mengadakan jumpa pers dengan banyak awak media besok dan-"


"Aku tidak akan hadir. Katakan itu pada ayah." Sanggah Xavier bahkan sebelum Liam menyelesaikan ucapannya.


Liam terdiam, ia tahu bahwa Xavier seharusnya hadir di jumpa pers tersebut.


"Baik, Yang Mulia."


Keesokkan harinya jumpa pers pun dilaksanakan di gedung parlemen. Sudah banyak reporter dan awak media lainnya yang menunggu. Raja Arthur dan staf lainnya masih bersiap di ruang tunggu.


"Xavier tidak hadir?" Tanya Raja Arthur.


"Tidak, Yang Mulia." Jawab Elthon.

__ADS_1


"Anak itu... Seharusnya dia ada di sebelahku untuk saat-saat seperti ini. Bagaimana rakyat dapat mengenal dan percaya calon pemimpinnya kalau begini." Ucap Raja Arthur yang sedikit kesal.


"Yang Mulia, semuanya sudah siap."


"Baiklah, kita mulai."


Raja Arthur memasuki ruangan. Setiap orang di ruangan tersebut pun berdiri memberi hormat. Disusul dengan kilatan dari cahaya kamera para reporter yang tengah mengambil gambar. Raja Arthur kini berdiri di podium untuk memberikan pernyataan resmi kerajaan dan pidatonya mengenai peristiwa kemarin.



"Selamat siang warga Zinnia yang terhormat. Publik dikejutkan dengan suara sebuah ledakan yang datang dari perairan Laut Nirvana. Kawasan teritorial Zinnia berhasil dimasuki secara ilegal oleh negara Calendula. Mereka mengirim 3 buah kapal perang dan 6 pesawat tempur. Militer kami berhasil membuat kapal perang mereka mundur dari perairan kita, namun sayangnya, kejadian tidak terduga dilakukan oleh pesawat tempur mereka. Mereka mengejar dan mengapit pesawat tempur 01 milik Zinnia yang saat itu ditumpangi oleh putra saya, Pangeran Nathaniel Ashton Rayton. Kejar-kejaran tersebut membuat pesawatnya terjatuh dan meledak di tempat. Karena kejadian ini Pangeran Nathaniel dinyatakan gugur saat bertugas dengan gelar terhormat. Pihak Zinnia telah mencoba untuk berdiskusi secara diplomatis dengan Calendula, tapi mereka memilih bungkam. Tak ada satu kata maaf ataupun perasaan bersalah yang mereka sampaikan. Atas kejadian ini..."


Para reporter dan wartawan yang mendengar langsung bersiap mencatat pernyataan resmi Raja Arthur.



"Zinnia dengan resmi memutus semua bentuk kerja sama dengan Calendula baik dalam bidang politik dan ekonomi secara sepihak, memboikot produk impor dari Calendula dan melarang siapapun warga negara Zinnia untuk pergi, menetap, bekerja, dan mengambil pendidikan di Calendula. Serta dengan tegas kami melarang siapapun pihak Calendula untuk menginjakkan kakinya kembali di tanah Zinnia. Terima kasih."


Begitulah pernyataan resmi yang dibuat Raja Arthur. Sesi tanya-jawab pun dibuka untuk awak media.


"Hingga saat ini kami belum mengetahui motif jelasnya karena pihak Calendula memilih bungkam, kami berspekulasi bahwa mereka berusaha untuk membunuh raja." Ucap Raja Arthur.


Semua yang mendengar tercengang. Ada masalah apa sebenarnya?


"Yang Mulia apakah dengan begini Calendula sebenarnya ingin berperang kembali dengan Zinnia?"


"Apakah ada pertikaian politik yang belum terselaikan dari masa lampau?"


"Apa Zinnia tak akan dirugikan dengan memutus semua kerja sama?"


"Bukankah ini termasuk percobaan pembunuhan terhadap raja?"

__ADS_1


"Apa ada hukumannya?-"


Pertanyaan-pertanyaan awak media yang tak henti-henti dilontarkan.


"Tolong tenang!" Ujar kepala staf istana yang berhasil membuat keadaan kembali menjadi kondusif.


"Saya, Raja Arthur, tidak akan membiarkan perang terjadi lagi di daratan Zinnia. Merekalah yang terlebih dulu bertindak, Zinnia tak akan dirugikan hanya karena memutus kerja sama dengan negara pengkhianat. Kami akan terus meningkatkan keamaan rakyat dan kekuatan militer sehingga rakyat tak perlu merasa risau. Apa yang Calendula lakukan sudah merugikan diri mereka sendiri dan membuat luka mendalam bagi keluarga kerajaan. Mereka salah dalam memilih musuh."


"Lalu bagaimana dengan perasaan Pangeran Xavier yang kini naik menjadi putra mahkota?"


"Mengapa Pangeran Xavier tidak ikut hari ini?"


Kembali lagi dengan pertanyaan yang tak henti ini.


"Tentunya ia sangat berduka. Kami semua berduka dan bersedih karena kehilangan sosok yang sudah ada lama dalam hidup kami secara tiba-tiba. Xavier masihlah belia, tapi bukan berarti dia tak bisa apa-apa. Ia sangat cerdas dan kompeten. Saya harap rakyat bisa mulai mempercayainya sebagaimana kalian mempercayai Pangeran Nathaniel dulu. Terima kasih." Ucap Raja Arthur.


"Yang Mulia, lalu di mana Pangeran Xavier sekarang?"


"Yang Mulia kapan Pangeran Xavier akan muncul di acara resmi?"


"Yang Mulia-"


Raja Arthur yang selesai dengan pernyataannya pun turun dari podium dan bergegas kembali ke ruang tunggu, meski para reporter dan wartawan masih tak henti-hentinya melontarkan pertanyaan tak berujung itu. Dirasanya pernyataan tersebut sudah cukup untuk hari ini. Sudah pening kepala Raja Arthur dibuatnya. Ia hanya ingin segera kembali ke istana.


"Betapa melelahkan." Ucap Raja Arthur sembari menghela napas.


"Bagaimana dengan penyelidikannya?" Tanya Raja Arthur.


"Nihil Yang Mulia, Calendula masih memilih bungkam."


"Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Apa hanya dengan begitu mereka pikir Zinnia akan runtuh? Dasar bodoh."

__ADS_1


"Yang Mulia, maaf bila saya lancang, tapi bagaimana dengan keadaan Pangeran Xavier? Dia pasti tertekan." Ujar Elthon


"Xavier... anak itu... apa yang harus aku lakukan padanya? Meski belum dewasa, dia bukan lahi anak-anak. Cepat atau lambat dia pasti akan mengerti."


__ADS_2