Sebuah Kisah Dari Zinnia

Sebuah Kisah Dari Zinnia
Bagian 23 : Morning After Wedding


__ADS_3

Cahaya mentari pagi masuk melalui kaca jendela, mengintip kedua insan yang masih pulas tertidur di balik selimut mereka. Suara burung-burung berkicau dari halaman samping istana memperintahkan mereka tuk' bangun.


Sudah pukul 7.30 sekarang, Liam, sang pengawal mengetuk pintu kamar Xavier.


"Yang Mulia apa anda sudah bangun?"


Xavier menggeliat dari tempatnya, "Ya..." balasnya.


"Baiklah, air mandi anda akan siap dalam lima belas menit." Timpal Liam.


Xavier membuka matanya, ia melihat Oliver yang masih terlelap di dekapannya. Tangannya hampir mati rasa.


Tangannya membelai halus anak rambut di wajah Oliver, "Cantiknya–"


"Oliver..." Ucapnya pelan dengan suaranya yang masih serak seusai bangun tidur.


Oliver hanya mengernyitkan keningnya dan dengan mata yang masih tertutup ia membalas pelan, "Hmm???"


"Waktunya bangun." Ucap Xavier.


"Hmm 5 menit lagi–"


"Kita ada janji untuk wawancara dengan salah satu majalah bukan, waktunya bangun." Ucapnya ulang.



Oliver membuka matanya, mendapati Xavier yang tengah menatapnya sedari tadi. Ia tak percaya posisi tidurnya masih sama sedari semalam, hanya berjarak sangat dekat dengan wajah Xavier.


"OKE, AKU BANGUN." Oliver terperanjat dan mengubah posisinya menjadi duduk, sejujurnya ia hanya malu karena wajahnya yang sangat dekat dengan Xavier.


"Bersiaplah, para pelayan akan masuk untuk mempersiapkan bajumu."


Kemudian Xavier pergi ke dalam kamar mandi, dan benar saja beberapa pelayan masuk dan membawakan mereka pakaian yang harus mereka kenakan hari ini.


"Terima kasih." Ujar Oliver kepada para pelayan sebelum mereka pergi dari kamarnya.


Para pelayan membalasnya, "Dengan senang hati, Yang Mulia."


'Apa aku benar-benar menjadi seorang putri?' Batin Oliver.


Oliver melangkah mendekati rak baju yang dibawa para pelayan itu, dilihatnya pakaian-pakaian dengan label yang tergantung dan bertuliskan waktu memakainya.


"Untuk sesi wawancara, untuk acara makan siang dengan perdana menteri, untuk acara minum teh sore bersama Women Health Community– Acara minum teh? Women Health Community? Organisasi apa itu?" Ucap Oliver pada dirinya sendiri.


"Itu organisasi yang didirikan ibu."


"OHH!" Oliver tersentak kaget karena tiba-tiba Xavier berdiri di belakangnya bertelanjang dada dan hanya berbalutkan anduk yang menutupinya dari pinggang hingga ke lutut.


"Aku sudah selesai, mandi sana."


"B-Baiklah..."


Sekarang giliran Oliver yang membersihkan dirinya. Tak beberapa lama pintu kamar Xavier diketuk, "Yang Mulia?"


"Siapa?"

__ADS_1


"Aku, Liam."


"Masuklah." Seperti biasa, Liam datang untuk membantu Xavier berpakaian. Pria ini sangat telaten untuk menata gaya Xavier.


"Bagaimana tidur anda, Yang Mulia?" Ucap Liam sembari membenarkan kemeja yang Xavier pakai.


"Tidurku sangat lelap. Aku benar-benar lelah menyambut tamu seharian kemarin."


"Syukurlah jika Yang Mulia tidur dengan lelap." Timpal Liam.


"Bagaimana dengan Oliver? Apa dia sudah menerima jadwalnya untuk hari ini?"


"Sudah, Yang Mulia. Elia sudah mengurus semua jadwal dan baju yang harus dikenakan Tuan Putri hari ini."


Xavier mengangguk. Ia sudah selesai berpakaian.


"Lewat sini Yang Mulia, pihak majalah sudah menunggu anda di ruang pertemuan." Ucap Liam menunjukkan jalan.


.


.


.


.



"Tak bisakah aku pakai baju yang biasa aku pakai saja? Mengapa harus repot begini sih!" Rengek Oliver.


"Pangeran Xavier sudah menunggu anda, Yang Mulia." Jelas Elia


Kini Oliver pun bergegas turuan menuju ruangan yang dimaksud, sudah hadir banyak staf majalah yang telah siap mewawancarai mereka berdua.


"Hormat kami, Yang Mulia." Ucap seisi ruangan ketika Xavier masuk ke dalam ruangan dan disusul oleh Oliver yang datang tak beberapa lama setelahnya.


"Baiklah kita bisa mulai wawancaranya." Ucap Xavier sembari tersenyum.


.


.


.


.



"Berita pagi ini. Pernikahan kerajaan terbaik dekade ini telah selesai diselenggarakan. Pernikahan Putra mahkota, Pangeran Xavier menjadi buah bibir masyarakat Zinnia. Semenjak pengumuman pertunangan mereka di musim semi 6 bulan yang lalu, Tuan Putri Oliver telah menyita banyak perhatian masyarakat. Karena baru pertama kali dalam sejarah, calon putri mahkota datang dari kalangan rakyat biasa. Seperti yang kita tahu, Tuan Putri Oliver Luxia de Mauren datang dari keluarga bangsawan kelas rendah. Sungguh sangat mengejut....-"


"Cihh, apa ini masuk akal? Xavier memilih istrinya dari kalangan bangsawan rendahan? Bahkan ia bukan dari bangsawan kelas I?! Dunia benar-benar sudah gila." Ucap Tuan Morgan yang menonton berita pagi itu sembari meminum secangkir kopi paginya.


Putrinya, Eveline kala itu baru saja selesai sarapan. Ia baru saja kembali dari luar negeri untuk menghabiskan liburan musim dinginnya. "Ayah... Sudahlah, mereka sudah menikah dan tampaknya mereka pasangan serasi."


"Bukankah ia sahabat mu dulu, Eveline?"

__ADS_1


"Maksud ayah Tuan Putri?"


"Siapapun ia."


"Ya, kami satu kelas hingga kelas 3 sekolah menengah yah. Aku tak pernah bertemu dengannya lagi setelah lulus, hanya berbalas surel saja."


"Lagipula apa yang dia dan keluarganya miliki? Kau.... Lebih segala-galanya dari dia, Eveline."


Melihat sahabatnya sendiri menikah dengan seseorang yang pernah menyatakan cinta padanya dulu membuat dada Eveline sedikit sesak. Perasaan sesal tentu ada dalam hatinya, tapi apa boleh buat ia sendiri yang menolak Xavier dulu.


Tak berapa lama, Louis turun dari lantai atas, "Kak! Sudah mau berangkat?" Ujwr Eveline.


"Ya, aku ada jadwal praktek hari ini." Benar, Louis sudah menjadi seorang dokter muda yang disegani karena kepintarannya di rumah sakit tempatnya kini bekerja.


"Baiklah, hati-hati di jalan!" Ucap Eveline.


Sekilas Louis melihat berita tentang Oliver dan Xavier di TV ruang tengah, "Bukan mimpi rupanya." Ucapnya sembari mengencangkan ikat tali sepatunya.


"Aku berangkat!" Ucap Louis.


.


.


.


.


"Kalian berdua terbilang sudah cukup lama saling mengenal, kalau boleh tahu apa perbedaan dari satu sama lain sebelum dan sesudah menikah?"


"Kurasa belum saatnya aku menilai, apalagi ini baru hari pertama bagi kami sebagai pasangan." Ucap Xavier.


"Kalau menurut Tuan Putri Oliver?"


"Sejak hari pertama aku mengenalnya, ia masih tetap sama dan ku harap akan selalu seperti itu."


Reporter tersebut mengangguk, "Kabar bahwa Tuan Putri Oliver adalah putri mahkota pertama yang datang dari keluarga bangsawan biasa sudah menyebar di seluruh negeri, apa tanggapan Yang Mulia dan apa saja program Yang Mulia untuk ke depannya?"


Oliver melirik Xavier untuk sesaat, Xavier hanya bisa menggenggam tangan Oliver lebih erat kala itu. "Tentu saja hal itu menjadi suatu angin baru untuk keluarga kerajaan, tapi saya harap hal tersebut tidak menghalangi saya untuk menjadi lebih dekat dengan rakyat. Dan kedepannya, saya mohon bantuan dari seluruh rakyat Zinnia. Saya hanya bisa berjanji selama saya masih menjadi putri kalian semua, saya akan melaksanakan tugas sebagai putri mahkota dengan sepenuh hati dan tentu mendukung Xavier yang kini menjadi suami saya menjalankan tugasnya. Terima kasih." Oliver mengakhiri perkataannya dengan senyuman lega.


"Baiklah kalau begitu, pertanyaan terakhir sekaligus pertanyaan yang banyak ditanyakan masyarakat terutama di internet. Kapan nih masyarakat bisa melihat pangeran atau putri kecil penerus Pangeran Xavier?"


Xavier dan Oliver tertawa berbarengan, mereka saling menatap canggung dan bingung memberi jawaban karena faktanya jangankan anak, mereka berdua belum "tidur" bersama.


"Untuk itu tentunya tergantung kesiapan Oliver, dia yang akan mengadung 9 bulan dan lebih merasakan dampak pasca melahirkan. Saya tak masalah kapan saja asalkan Oliver sudah siap lahir batin. Bukan begitu, sayang?"


'Sayang?!?!?!?' batin Oliver berteriak.


"AHAHAHA tentu saja." Tawa Oliver canggung.


"Baiklah kita akhiri sesi wawancara hari ini, terima kasih atas kerja samanya Yang Mulia. Hormat kami."


Jadwal mereka pagi ini berjalan lancar. Pihak majalah sudah keluar dari ruangan, Oliver pun melepaskan genggaman Xavier yang sudah membuat tangannya berkeringat sedari awal. "Kau mahir juga menjawab pertanyaan." Ujar Xavier.


"Kau lupa, aku lulusan ilmu komunikasi terbaik dari universitas terbaik Zinnia. Setidaknya aku punya keahlian tanya jawab yang baik." Jelas Oliver.

__ADS_1


Xavier menaikkan kedua alisnya dan mengangguk, "Boleh juga."


__ADS_2