
Hari ulang tahun ke-18 Xavier semakin dekat, dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya kali ini pihak istana berencana mengadakan pesta ulang tahun untuk Xavier atas izin Raja Arthur. Tema pesta kali ini adalah pesta topeng, masquerade, di mana para tamu yang datang akan memakai topeng hingga sang pemilik acara melepas topengnya.
Undangan pun disebarkan kepada para bangsawan dan tamu-tamu lainnya, termasuk teman-teman Xavier tentunya.
"Kau sudah menerima undangannya?" Tanya Xavier kepada Louis.
"Tentu saja sudah kawan." Jawab Louis sambil mengacungkan jempol.
"Sampai jumpa di pesta ku kalau begitu."
Sama halnya dengan Louis, Eveline juga akan datang ke pesta malam itu. Eveline sedang bersiap di kamarnya. Ia memilih mengenakan gaun bernuansa hitam-putih berbahan sutra. Ditambah dengan sarung tangan renda berwarna hitam. Untuk gaya rambutnya ia memilih gaya Halo Updo, kemudian menambahkan beberapa ornamen seperti bunga dan jepit rambut di kepangan yang ia buat.
"Kau sudah siap? Ayo berangkat mobilnya sudah siap." Ajak Louis dari luar kamar Eveline.
"Sebentar... Aku sedang mencari topengku." Jawab Eveline.
"Cepatlah!"
"Iya iya ini sudah."
Louis sendiri mengenakan setelan jas berwarna coklat tua rapih, tak lupa ia pun membawa kado yang sebenarnya bukan seberapa bagi Xavier. Mereka kini pergi menuju Istana Cassania dengan mobil pribadi Kelurga Gilbert.
Di sisi lain Oliver sudah siap untuk berangkat menuju pesta. Ia mengenakan gaun panjang berbahan organza berwarna putih yang demgan renda bunga di bagian dadanya. Gaun yang memberikannya kesan simpel namun elegan. Untuk gaya rambutnya ia memilih untuk menggerai rambut pirangnya itu dengan gaya rambut Waterfall Braid. Oliver pun pergi bersama sang ayah menggunakan mobil pribadi mereka. Malam ini ia siap tuk' berpesta.
Di istana, sebelum para tamu yang hadir diminta untuk menunjukkan undangan mereka dan melakukan pengecekan keamanan seduai protokol istana. Di pintu masuk pun disediakan topeng bagi mereka yang tak membawa. Suasana pesta sangat terasa di dalam. Aula istana sudah dihadiri oleh para tamu udangan yang hadir mengenakan pakaian terbaik mereka. Kado-kado yang menggunung tak lain adalah milik Xavier, pemberian dari para tamu undangan. Tak lengkap jika kita tak membicarakan tentang menu jamuannya. Makanan yang disediakan pun sangat beragam. Tak ketinggalan tentunya tersedia kue lemon kesukaan Xavier.
Beberapa saat kemudian acara utama yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Xavier menuruni tangga yang langsung menghubungkan bagian dalam istana dengan aula. Tepuk tangan meriah diberikan oleh para hadirin. Malam itu Xavier mengenakan setelan bergaya morning suits berwarna biru navy dengan setangkai bunga Zinnia di saku jasnya.
Acara dibuka dengan sambutan Raja Arthur dan beberapa patah kata ucapan selamat datang dari Xavier. Pesta disambut dengan ucapan Raja Arthur yang mengajak semua tamu undangan bersulang,
"Untuk kebahagiaan, kesehatan dan kejayaan, semoga kau berumur panjang Xavier. Hidup pangeran Xavier!" Ucap Raja Arthur sembari mengangkat gelas anggur miliknya.
"Hidup pangeran Xavier!!!"
"Tuan-tuan dan nona-nona, silahkan nikmati pestanya!" Ucap Xavier sambil mengangkat gelasnya yang berisi minuman anggur tuk bersulang. Dan seperti kalian tahu, ia tak benar-benar meminum anggur tersebut karena alergi yang dimilikinya.
Setelahnya Xavier pun mengenakan topeng yang ia bawa. Rangkaian acara yang pertama adalah pesta dansa. Di sini tamu undangan bisa berdansa tanpa harus mengetahui identitas dari pasangan dansa mereka.
Xavier yang sedari tadi masih sibuk menyambut tamu-tamu bangsawan yang hadir kini berusaha berbaur dengan yang lain di tengah keramaian pesta dansa. Dilihatnya sosok wanita yang mengenakan gaun berwarna ungu.
"Bolehkah aku berdansa denganmu, nona?” Ucap Xavier sambal membungkuk dan menyilangkan satu tangannya di depan dada.
"Tentu." Balas wanita itu.
Dengan iringan lagu yang dibawakan oleh para pemain musik istana mereka berdansa, menari layaknya sepasang kelopak bunga yang menari ketika terjatuh tertiup angin. Kini Xavier dan wanita misterius itu menjadi pusat perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, wanita misterius itu wanita pertama yanh Xavier ajal berdansa malam itu.
Seperti halnya pesta pada umumnya, terdapat tipe orang yang lebih tertarik dengan makanan yang disajikan dibanding dengan mengikuti acara utamanya, bukan begitu? Di sinilah Oliver yang tengah melakukan wisata kulinernya. Ia sibuk mencicipi kudapan yang ada.
"Kau sendirian saja, nona?" Ucap seorang pemuda kepada Oliver.
"Apa terlihat ada orang lain selain aku di sini?' Jawab Oliver sinis.
“Haha, kau memang suka makan Oliver." Ucap pemuda itu.
"Bagaimana kau bisa tahu nama ku?" Tanya Oliver kebingungan.
“Aku sangat menghapalmu Oliver. Ini aku, Louis." Louis terkekeh.
"Kak Louis! Ku kira siapa.”
"Tak berdansa?" Taya Louis penasaran.
"Jujur saja aku tak mahir berdansa.” Bisik Oliver
"Aku pun." Ucap Louis yang kemudian disusul dengan gelak tawa keduanya.
Mereka pun berakhir dengan menyantap hidangan yang ada bersama dibarengi dengan obrolan ringan keduanya.
Musik yang dimainkan saat itu berubah menjadi musik bertempo pelan, sehingga dapat meningkatkan intimasi pedansa saat berdansa dengan pasangannya.
__ADS_1
"Kau sangat mahir dalam berdansa, nona." Puji Xavier.
"Aku pernah mempelajarinya saat kecil dahulu." Ucap wanita itu.
“Begitu rupanya."
"Sebuah kehormatan bisa berdansa dengamu, Yang Mulia.”
"Aku juga, Eveline.” Rupanya Xavier sudah mengetahuinya dari awal, itulah mengapa ia mengajak Eveline tuk berdansa.
“Oh Xavier… Tapi bagaimana bisa?” Tanya Eveline yang jelas merasa bahwa penyamarannya dengan mengenakan topeng sudahlah sempurna.
"Matamu. Tak ada orang lain yang memilik mata amethyst seindah dirimu, Eveline."
Percayalah gadis mana yang tak berdebar jantungnya ketika dipuji seperti itu. Apalagi kini jarak mereka bahkan tak sampai satu langkah dari satu sama lain. Sangat dekat.
Eveline tertegun, ia jadi teringat dengan perkataan Xavier tempo hari. Entah Xavier hanya bercanda ataupun serius, kata-katanya sukses membuat Eveline memikirkannya berhari-hari.
"Kau terlalu memujiku Yang Mulia." Ucap Eveline yang tersipu malu. Xavier ikut tersenyum dibuatnya. Tanpa sadar alunan lagu yang dimainkan sudah berhenti. Kini para penari pun saling membungkuk memberi hormat kepada pasangan dansa mereka.
"Ingin ku tunjukkan sesuatu yang menarik?" Tawar Xavier kepada Eveline.
“Apa itu Yang Mulia? Tanya Eveline.
“Ikuti aku.”
Mereka berdua pun berjalan beriringan keluar dari kerumunan lantai dansa. Xavier berjalan di depan menunjukkan arah di istana yang begitu asing bagi Eveline. Dibukanya pintu berbahan kayu dengan banyak tumbuhan yang menjalar di bagian dinding sebelahnya.
Mereka berdua kini masuk melewati dinding tersebut. Layaknya tempat persembunyian, tempat tersebut sangatlah misterius. Dilihatnya banyak sekali tanaman dan sebuah air mancur serta sebuah ayunan. Berbagai bunga mengelilingi air mancur tersebut, sangat cantik. Di seberang air macur tampak sebuah paviliun berwarna keemasan.
"Ini taman rahasia ibuku." Ucap Xavier memecah keheningan.
"Apa tak apa jika Yang Mulia menunjukkannya pada ku?” Tanya Eveline.
“Tak apa, dan ya jangan panggil aku ‘Yang Mulia' ketika hanya kita berdua.”
Eveline yang mendengar itu hanya sekadar mengangguk. Ia kemudian melepas topeng yang sedari tadi ia kenakan untuk melihat pemandangan di sana lebih jelas. Ia dibuat kagum dengan interior paviliun yang sangat megah dan indah.
"Mau melihat yang lebih menarik?" Tanpa menunggu jawaban dari Eveline kini Xavier berjalan menuju ke sebuah tempat di mana terdapat tuas listrik. Diturunkannya tuas listrik tersebut, dan seketika semua lampu yang mengelilingi taman bunga dan paviliun di sana menyala. Lampu-lampu yang menyala benar-benar indah, layaknya miliaran bintang di langit malam.
Xavier tersenyum, "Ini hadiah dari ayahku kepada mendiang ibuku. Ibuku dulu sangat menyukai bunga dan hal-hal berbau astronomi. Ibu sangat senang ketika dapat melihat bintang. Namun karena sekarang sangat sulit untuk melihat bintang di langit malam, akhirnya ayah membuat tempat seperti ini. Tempat ini juga yang menjadi tempat ibu beristirahat dan mencari ketenangan.” Jelas Xavier.
Eveline dibuatnya terpana dengan penjelasan Xavier, ia tak menyangka paduka raja sangatlah romantis.
"Paduka raja sangatlah romantis, aku yakin Yang Mulia Ratu sangat menyukai tempat ini." Ujar Eveline.
"Sangat.”
Di bawah sinar bulan kini mereka berdua berjalan mengelilingi taman bunga. Xavier berjalan satu langkah di belakang sang pujaan hati, dibiarkannya Eveline melihat-lihat hingga ia puas. Bahkan hanya dengan berjalan bersama begini sudah membuat Xavier sangat senang.
Setelah lelah berjalan, mereka berdua beristirahat di sebuah bangku panjang di dekat air mancur.
"Eveline..." Panggil Xavier yang kini duduk menghadap Eveline.
"Hm??" Tanya Eveline sembari sedikit memiringkan kepalanya.
“Tentang ucapanku tempo hari Aku tak bercanda. Aku menyukaimu.”
Eveline tak tahu haru apa saat itu. Matanya membelalak tak percaya. 'Seorang pangeran menyukaiku?' Ucap Eveline dalam benaknya.
“Aku tahu ini terlalu tiba-tiba, tapi tentang tawaranku itu serius. Kau tahu maksudku, kan?”
Hanya diam di antara keduanya.
"Aku menginginkanmu menjadi ratu ku. Aku memilih mu."
Demi tuhan, entah keberanian macam apa yang merasuki Xavier malam itu.
Eveline masih berpikir dan memproses semuanya. Seorang pangeran sudah menyatakan perasaan padanya. Eveline juga mempunyai perasaan kepada Xavier, namun bukan berarti ia bisa serta merta mengatakan iya begitu saja. Menjadi ratu? Eveline bahkan tak pernah memimpikannya.
"Aku juga mempunyai rasa pada mu, tapi rasanya ini tak benar. Aku tak pernah berpikir untuk menjadi ratu negeri ini." Jelas Eveline.
"Tapi kenapa? Maksudku, aku ini pangeran dan kau tahu aku akan menjadi raja. Kau bisa menikah denganku, aku mengerti, tentu saja bukan sekarang. Di masa depan nanti, kau bisa menjadi ratuku, hidup nyaman sebagai bangsawan. Kau juga putri dari keluarga bangsawan, kita pasangan yang cocok, bukan begitu?"
"Aku tak bisa Xavier. Jika aku menjadi ratu, bagaimana cita-cita ku? Aku ingin mempelajari tentang sejarah dunia, mengelilingi negeri, bukan sekadar berdiri di sampingmu dan melambaikan tangan dengan gaun yang berat layaknya boneka bodoh."
"Bodoh? Maksudmu menjadi ratu adalah hal bodoh?"
__ADS_1
"Bukan begitu Xavier... Aku hanya ingin kebebasan, kebebasan atas hidupku, untuk memilih apa yang akan dan tidak akan ku lakukan, tanpa asa yang harus mengaturnya setiap hari dan menjadi pusat perhatian banyak orang."
Xavier hanya menghembuskan napas sembari menundukkan kepalanya. Ia sebenarnya sudah siap perasaannya ditolak, namun rasanya tetaplah sakit. Benar kata Eveline, fakta bahwa ia sendiri tak mempunyai kebebasan atas dirinya sendiri membuat hatinya tambah pilu. Fakta bahwa jalan hidupnya telah diatur sedemikian rupa.
Xavier mengangguk, “Kebebasan ya.... Benar, aku tak mungkin tega mengekangmu dengan aturan-aturan konyol istana bodoh ini..." Xavier menggeleng pelan "Kau berhak bebas dan meraih semua mimpi-mimpimu. Tak seperti aku ini, yang lebih mirip burung dalam sangkar.”
"Bukan begitu maksudku-... Yang jelas... A-Aku tak mungkin bisa menjadi ratu. Tak 'kan pernah.”
Xavier yang mendengar hal tersebut hanya terdiam.
“Maafkan aku, Yang Mulia." Eveline menunduk malu.
Xavier menggeleng pelan.
Tanpa sepatah kata Xavier pun pergi meninggalkan Eveline yang masih terduduk di bangku panjang tadi seorang diri. Ia hanya butuh waktu untuk sendiri.
"Apa aku salah ngomong ya?” Batin Eveline.
.
.
.
.
Xavier melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan pavilun. Dalam hatinya ia ingin buru-buru meninggalkan tempat itu, sungguh. Ia berjalan melewati lorong-lorong istana untuk menuju kembali ke aula. Langkahnya terhenti ketika bahunya tak sengaja menabrak seorang wanita.
"KALAU JALAN HATI-HATI DONG!" Ucap wanita tersebut.
Xavier yang mendengarnya tak ambil pusing, ia hanya meminta maaf dengan suara pelan yang bahkan hampir tak terdengar.
"Maaf nona."
"Tunggu sebentar..." Ucap wanita tadi.
"Xavier! Oh maksudku Yang Mulia-" Ucap wanita tadi.
Xavier yang sedari tadi hanya melihat ke bawah pun mengangkat kepalanya dan melihat wajah wanita itu. Dilihat sosok berambut pirang yang sangat familiar baginya.
"Oliver..." Ucapnya lirih.
"Oh maafkan aku atas ucapan tak pantasku tadi, Yang Mulia." Ujar Oliver sembari sedikit membungkuk.
"Tak apa, tak perlu minta maaf aku sendiri yang salah karena tak hati-hati saat berjalan-"
"SEBENTAR- Xavier kau menangis?!" Ucap Oliver memotong ucapan Xavier.
"Aku?? Haha tidak, mataku hanya kelilipan barusan hahaha" Ujar Xavier sedikit canggung. Ia pun buru-buru mengusap kedua matanya.
"Oh begitukah.."
"Kau sendiri mengapa ada di sini? Bukannya di aula? Apa pestanya membosankan?" Tanya Xavier.
"Oh aku sedang mencari toilet." Jelas Oliver.
"Ohh begitu... toiletnya di sebelah sana." Sahut Xavier sembari mengarahkan jarinya ke arah di mana toilet berada.
"Terima kasih." Oliver pun melangkahkan kakinya untuk pergi ke toilet melanjutkan urusannya, namun selang beberapa detik Xavier kembali memanggilnya,
"Oliver tunggu!" Panggil Xavier.
"Ya?" Oliver berbalik.
"Soal ini, jangan beri tahu siapapun."
Setelah berkata seperti itu, Xavier pergi meninggalkan Oliver lebih dulu. Oliver yang mendengarnya hanya terdiam dilanda kebingungan. Soal apa yang dimaksud Xavier? Soal dirinya yang bertemu Xavier di lorong saat hendak mencari toilet, atau soal dirinya yang melihat Xavier dengan mata yang berkaca-kaca?
"Eyy- apa pula maksudnya itu, bikin bingung saja."
.
.
.
.
Xavier kembali ke aula istana. Pesta masih ramai saat itu, karena puncak utama pesta belumlah dimulai. Yaitu perayaan potong kue yang akan dilakukan Xavier.
Bukankah tak lengkap jika pesta ulang tahun tanpa acara potong kue?
"Yang Mulia, kuenya sudah siap." Ucap Liam.
__ADS_1
"Baiklah, kita mulai puncak acaranya" Sahut Xavier.