
Masih di aula utama. Pasangan kerajaan ini berdansa dengan sangat anggun, bak sepasang burung yang menari. Diiringi musik yang semakin lama semakin cepat pula temponya.
Sesekali keduanya saling tersenyum kepada satu sama lain. Mereka menyukai atmosfer ini.
Oliver berputar dan terus berputar. Tangannya berayun ke kiri maupun kanan. Langkahnya mengimbangi langkah Xavier. Sesekali Xavier mengangkat tubuhnya ke udara dan memutarkan kembali tubuhnya. Tak pernah terpikirkan bahwa berdansa seperti ini sangat menyenangkan.
Kegiatan dansa diakhiri dengan keduanya yang saling berhadapan dengan amat dekat dan kedua tangan yang masih saling terpaut. Semua yang hadir kala itu memberikan tepuk tangan mereka dengan meriah. Semua orang bersorak gembira melihat chemistry pangeran dan putri mereka.
Sebagai penanda akhir dari pertunjukan, Xavier mengecup punggung tangan Oliver.
"Kerja bagus, Oliver." Bisik Xavier sembari menggandeng Oliver kelur dari lantai dansa.
Oliver hanya melirik sekilas ke arahnya dan tersenyum bangga.
Pesta dansa belum lah usai, ini baru permulaan. Tibalah saatnya para bangsawan muda berdansa dan mencari pasangan mereka. Musik yang lebih meriah pun dimainkan.
Sembari menyaksikan, Oliver mengajak Xavier untuk mencicipi hidangan yang ada. Oliver sangat suka dengan makanan manis, itulah kenapa sekarang ia mengajak Xavier ke bagian kue serta hidangan penutup.
"INI SANGAT ENAK!" Seru Oliver yang tangannya penuh memegang kue mangkuk rasa lemon.
"Enak bukan? Ini kue favoritku, kue lemon." Ucap Xavier
"Hm" Oliver mengangguk.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada beberapa bangsawan tua yang sedari tadi memandangi mereka dengan tatapan yang seolah mengawasi mereka.
"Apa mereka memandangi kita sedari tadi atau ini hanya perasaanku saja?" Bisik Oliver pada Xavier.
"Biarkan saja, anggap saja mereka tidak ada. Ini hari spesial mu, angkat dagumu dan berjalanlah dengan wibawa." Jawab Xavier.
"Kau tak nyaman? Kalau tak nyaman lebih baik kita pergi dari sini. Ingin minum wine?"
Oliver mengangguk, ia lebih baik menghindar daripada terus-terusan mendapat tatapan tak enak.
Bisik-bisik terdengar, "Bukankah dia si putri bangsawan rendahan?",
"Ku dengar ayahnya hanyalah sekretaris di kementrian.",
"Dia sama sekali tak elegan seperti kita.",
"Mau jadi apa negeri ini dengan ratu seperti dia.",
Meski sudah menjauh dari tempat mereka, samar-samar Oliver masih bisa mendengar perkataan jahat yang dilontarkan kepadanya. Wajah cerianya berubah menjadi sedikit cemberut.
"Tak usah didengar." Ucap Xavier yang menyadari hal tersebut.
"Anggap angin lewat, mereka tak bisa apa-apa." Sambungnya.
"T-Tapi..."
"Ssshh- sekarang senyum, kita akan bertemu ayahmu." Ujar Xavier
__ADS_1
Oliver tertegun, "Ayah?!"
Benar saja, Oliver melihat ayahnya berdiri di kejauhan. Ia sudah sangat rindu dengan sang ayah.
"Ayah!" Seru Oliver sembari berlari memeluk ayahnya.
"Oliver! Maksudku– tuan putri." Ucap Tuan Eden.
"AYAH, jangan memanggilku begitu ah." Ucap Oliver kesal.
"HA-HA-HA baiklah putriku yang manis...."
"Selamat malam, ayah." Ujar Xavier.
"Hormat saya, Yang Mulia. Selamat malam." Balas Tuan Eden.
"Bagaimana kabar mu?" Sambung Xavier.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit kangen dengan putri kecilku." Jawab Tuan Eden.
"Eeeyyy masa sedikit doang sih ayah?" Ucap Oliver.
"Lalu harus sebesar apa? Sebesar ini? Atau ini?" Tuan Eden menjawab dengan memperagakan bentuk bulat besar dengan tangannya.
"AYAH!!"
"Baiklah baik, ayah sangat merindukanmu Oliver. Kemarilah." Tuan Eden membuka tangannya untuk kembali memeluk Oliver.
Bagaimanapun, di mata sang ayah Oliver tetaplah putri kecil Keluarga de Mauren.
"Tentu saja sudah, sembari melihat kalian berdansa tadi." Kekeh Tuan Eden.
"Ayahhh–" rengek Oliver.
"Kenapa, nak?"
"Aku ingin pulang." Lirih Oliver.
Tuan Eden terkejut mendengar perkataan tersebut, matanya juga diam-diam melirik Xavier. Banyak pertanyaan datang di benaknya, namun akan jadi tak sopan jika ia menanyakan semuanya. "Apakah anaknya diperlakukan baik di sini?", "Apa suaminya memperlakukan Oliver dengan baik?" Dan masih banyak pertanyaan lainnya.
Setelah menikah, Oliver belum pernah pulang kembali atau sekadar berkunjung sekalipun ke rumahnya. Karena ada satu peraturan tak tertulis bahwa mereka yang sudah menikah dengan anggota kerajaan tak bisa seenaknya pulang ke rumah orang tua mereka. Pulang kembali ke rumah orang tua mereka hanya akan menjadi pertanda buruk bahwa ada sesuatu tak beres terjadi di dalam istana. Kecuali jika memang diizinkan oleh Paduka Raja atau hal khusus lainnya.
"A-Ahh haha bukan kah di sini lebih nyaman? Bukan begitu Oliver?" Tanya Tuan Eden untuk mencairkan suasana canggung tersebut.
Oliver hanya diam,
Tuan Eden pun hanya bisa menepuk-nepuk pucuk kepala putrinya, "Tak boleh begitu sayang... kau sudah menikah. Beradalah di sisi suamimu, temani dia, kau mengerti hm?" Ucap Tuan Eden menenangkan.
Oliver mengangguk pelan, perasaannya campur aduk. Ia belum sepenuhnya terbiasa dengan kehidupan kerajaan.
"Meski begitu, pintu rumah kita selalu terbuka menyambutmu pulang. Ingat selalu itu Oliver." Sambung Tuan Eden.
"Baik ayah." Oliver kembali memeluk ayahnya, seolah tak ingin lepas dan tak ada lagi hari esok.
__ADS_1
"Tapi ayah janji harus selalu jaga kesehatan, jika terjadi apa-apa cepat hubungi aku dan jangan terlalu sering lembur yah– janji?" Omel Oliver.
Tuan Eden mengangguk, nyatanya Oliver masih tetap saja seperti dulu. "Iya... Ayah janji." Tuan Eden dan Oliver pun saling mengaitkan jari kelingking mereka, sama seperti saat Oliver kecil dulu, ketika Oliver berjanji untuk tidak menyisakan makanan di piringnya dulu.
Di samping mereka, masih setia Xavier memperhatikan mereka berdua.
'Kapan ya terakhir kali aku bisa seperti ini juga dengan ayah?' batinnya.
Di kejauhan, Xavier melihat sosok yang familiar di matanya. Sepasang kakak adik berambut hitam legam yang menjadi sahabatnya dulu di bangku sekolah.
'Louis? Eveline?'
"Ayah, aku izin untuk menemui tamu lainnya." Ujar Xavier.
"Oh– tentu saja, silahkan."
Xavier berjalan ke arah mereka. Tampaknya mereka hanya datang berdua, karena ia tak melihat kehadiran ayah mereka, Tuan Morgan.
"Louis! Eveline!" Panggil Xavier.
"Hormat kami Yang Mulia."
"Hormat kami Yang Mulia." Ucap keduanya bersamaan.
Tanpa aba-aba Xavier memeluk Louis, ia kangen betul dengan sahabat karibnya ini.
"Kemana saja kau?" Ucapnya Xavier semangat.
"Aku sibuk dengan studiku, Xavier."
"Senang bisa kembali melihatmu di sini."
"Begitu pula aku."
"Di mana Oliver?" Tanya Eveline penasaran.
"Ah dia sedang bertemu dengan ayahnya. Kalian sudah makan?" Tanya Xavier kembali.
"Belum." Jawab Eveline.
"Tenang saja, kalau lapar kami akan makan." Ucap Louis.
Mereka bertiga kini hanya berbincang-bincang ringan, membicarakan kesibukan mereka akhir-akhir ini. Disambung dengan candaan-candaan ringan untuk mencairkan suasana.
"Kak Louis? Eveline?" Ucap Oliver tak percaya.
Berbeda dengan Xavier yang sempat bertemu Eveline beberapa waktu lalu, Oliver sama sekali tak pernah melihat mereka lagi setelah menikah.
__ADS_1
"Oliver!" Ucap Eveline yang kemudian memeluknya hangat.
"Sudah lama sekali sejak kita berkumpul seperti ini, wahhh aku tak percaya ini." Seru Oliver.